Kisah Kita Belum Usai

Kisah Kita Belum Usai
BAB 30


__ADS_3

Dalam kesunyian malam, dua insan masih belum bisa memejamkan matanya. Keduanya berada dalam satu ranjang, dimana Bunga menjadi pemisah antara keduanya.


Kara tak pernah berhenti bersyukur karena bisa dipertemukan lagi dengan Asha. Pencariannya selama ini telah membuahkan hasil. Dan yang paling membuat Kara bahagia hadirnya Bunga sebagai pelengkap dalam hubungannya dengan Asha.


Namun, meskipun saat ini Kara sudah berhasil membawa anak dan istrinya pulang ke rumah tetapi dia belum bisa meyakinkan Asha jika kali ini dia benar-benar bisa menjaganya.


Dua kali menikah dengan orang yang sama, tentu saja membuat Asha tidak bisa mempercayai Kara begitu saja. Luka yang selama ini dia rasakan tidak akan pernah terhapus oleh waktu. Luka itu selamanya akan tersimpan di relung hatinya.


"Sha, apakah begitu sulit untuk memaafkan semua kesalahanku sehingga kamu tidak bisa membuka hatimu untukku lagi. Aku tahu kamu melakukan semua ini karena terpaksa. Semua ini kamu lakukan demi Bunga," ucap Kara tanpa ekspresi.


Selama hampir satu bulan Asha tinggal di rumahnya, wanita yang masih berstatus istrinya itu terlihat tidak nyaman. Bahkan Asha masih menjaga jarak dengannya.

__ADS_1


"Aku sudah melupakan semuanya, tolong jangan ungkit masa lalu kita. Dan aku juga sudah memaafkanmu, jadi jangan lagi membahas masalah yang telah berlalu. Saat ini kebahagiaan Bunga adalah prioritas utama, jadi apapun akan aku lakukan untuk membuat bahagia, termasuk kembali pulang. Ya ... meskipun aku tidak bisa memastikan apakah kamu sudah berubah atau belum. Jujur aku takut jika kamu masih Kara yang dulu. Kara yang tidak bisa tegas saat mengambil keputusan. Sebagai kepala keluarga ketegasan dan kejujuran adalah faktor utama untuk memperkuat pondasi keluarga. Jika kamu masih sama seperti dulu, maaf, aku tidak bisa kembali padamu." Asha bicara panjang lebar untuk mengeluarkan unek-unek dalam hatinya.


Bukan Asha tidak mencintai Kara, tetapi dia tidak mau cintanya malah membuat Bunga dalam bahaya.


Kara yang awalnya tiduran, kini langsung bangkit dan menatap Asha dengan dengan tatapan mendalam. "Percayalah padaku jika Karina tidak akan berani menujukan wajah di hadapan kita lagi."


"Atas dasar apa kamu begitu yakin jika Karina tidak akan menunjukkan wajah di depan kita lagi? Jangan-jangan kamu telah menikahinya!" tuduh Asha tanpa mengetahui kebenaran.


Asha membuang napas kasarnya. Jika bisa berkata jujur, saat ini Asha memang sangat membutuhkan kehadiran Kara dalam hidupnya. Rasanya Asha tak sanggup menahan beban hidup yang selama ini dipikulnya. Dimana hampir setiap hari Asha mendapat pengaduan dari anaknya jika dia terus-menerus dibully oleh temannya karena tidak memiliki sosok ayah. Asha mencoba kuat, meskipun dia sendiri lemah.


"Sha, demi Bunga, maukah kamu kembali menjadi istriku seutuhnya. Menjadi satu-satunya wanita untuk ibu dari anak-anakku. Aku berjanji akan terus melindungimu hingga akhir usia ini." Kara tak pernah lelah untuk meyakinkan Asha.

__ADS_1


Padahal setiap malam keduanya membahas topik yang sama tetapi Asha belum memberikan sebuah kepastian. Asha masih terpaksa melakukan semua itu karena tidak ingin melukai hati Bunga.


"Asha ... tatap mataku dan katakan jika kamu masih mencintaiku bersedia kembali menjadi istriku lagi," pinta Kara.


Asha malah membisu tanpa kata. Dadanya berdebar sangat kencang Padahal usianya sudah tak lagi muda, tetapi dadanya masih sering berdebar jika dia berdekatan dengan Kara.


"Aku akan memberikanmu satu kesempatan. Jika pada akhirnya kamu tidak bisa melindungiku dan juga Bunga, maka tidak akan memaafkanmu kembali," ujar Asha.


Mendengar ucapan Asha, Kara merasa sangat lega. Akhirnya dia bisa kembali lagi bersama dengan Asha sebagai istri sahnya. Tentu saja Kara tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang telah berada di tengah mata..


"Asha, terima kasih."

__ADS_1


...****************...


__ADS_2