Kisah Kita Belum Usai

Kisah Kita Belum Usai
BAB 25


__ADS_3

Tak ada yang bisa berkutik lagi saat Kara menyuruh satpam di rumahnya untuk mengantarkan dokumen penting beserta bukti jika Asha dan dirinya adalah pasangan suami istri.


Pak RT membaca dengan detail semua bukti yang diserahkan oleh Kara. Pria itu tidak menyangka jika Asha adalah benar-benar Istrinya Kara. Karena selama ini pak RT tidak mengetahui status Asha yang sebenarnya, dia pun langsung meminta maaf pada Asha.


"Asha ... maafkan kami semua yang tidak mengetahui jika kamu adalah seorang istri sah yang sedang hilang. Saya sebagai RT benar-benar minta maaf karena tidak mengetahui akan hal ini." Pak RT menyesali ketidaktahuannya jika Asha ternyata mempunyai suami.


"Tidak apa-apa, Pak. Semua ini juga salah saya yang memang menyembunyikan status saya," balas Asha.


"Sekarang sudah jelas kan Pak, jika Asha bukanlah wanita seperti yang dituduhkan? Jika masih ada yang menuduh Asha wanita tidak benar dan menyebut anak saya adalah anak haram, maka saya tidak akan tidak akan segan-segan untuk membawa masalah ini ke jalur hukum karena telah mencemarkan nama baik keluarga saya!" Lagi-lagi Kara melayangkan ancamannya.


"Iya, Pak. Saya selaku ketua RT di kompleks ini benar-benar meminta maaf atas warga-warga saya yang telah memberikan tuduhan tidak benar pada Asha," ucap Pak RT.


Setelah melihat bukti jika Asha adalah istri dari Askara, Pak RT dan rombongan pun berpamitan untuk membubarkan diri. Tentu saja sebagai ketua RT dia merasa malu karena tidak pernah mencaritahu kebenaran tentang Asha dan tiba-tiba datang untuk mendemonya.

__ADS_1


"Sekarang ambil barang-barang milik Bunga dan kita langsung kembali pulang. Aku tidak akan mengizinkan kamu untuk tinggal ditempat ini lagi," ujar Kara.


"Jika aku pulang ke rumahmu, lalu bagaimana dengan semua pelangganku, Ra? Bisa-bisa mereka semua kabur."


"Untuk apa kamu masih memikirkan para pelanggan? Setelah kamu pulang ke rumahku, aku tidak akan mengizinkan kamu untuk bekerja. Tugas kamu hanya mengurus aku dan Bunga."


"Tapi Ra ... "


Kara tidak ingin mendengarkan apapun alasan Asha karena saat ini yang dia inginkan hanyalah membawa Asha pulang ke rumah dan merajut lagi kisah mereka yang sempat menghilang. Dan setelah ini Kara tidak akan melepaskan dan membiarkan Asha untuk pergi meninggalkan dirinya lagi. Apapun yang terjadi, Kara akan tetap mempertahankan Asha.


Hidup bahagia bersama dengan kedua orang tua adalah impian terbesar Bunga. Dan kini semua mimpi itu sudah ada di depan mata. Seorang ayah yang dirindukan, kini bisa disentuh, bisa ditatap, bisa dicium bahkan bisa dipeluk. Bukan kekayaan ayahnya yang membuat Bunga bahagia, tetapi cinta dan kasih seorang ayahlah yang membuat Bunga jauh lebih bahagia.


Malam ini seperti biasa, Bunga akan tidur di tengah-tengah antara Kara dan Asha. Bocah kecil itu terus menurut menanyakan alasan mengapa ayah dan ibunya berpisah sehingga menyebabkan dirinya tidak memiliki seorang ayah. Kara dan Asha tidak bisa memberikan jawaban akan pertanyaan buah hatinya yang terus-menerus menguliti perpisahan mereka berdua.

__ADS_1


"Ayah .... Bunda ... mengapa kalian tidak menjawab pertanyaan Bunga?" Bocah kecil itu terus mendesak kedua orang tuanya agar segera memberi jawaban atas pertanyaannya.


"Em ... itu hanya kesalahpahaman aja, Sayang. Tapi jika Ayah tahu saat itu Bunda sedang mengandungmu, ayah akab berusaha lebih keras untuk bisa menemukan Bundamu. Maafkan ayah jika selama ini kamu menderita karena tidak ada ayah disampingmu," ucap Kara sambil membelai rambut Bunga yang saat ini tidur beralaskan lengannya.


"Bukan Bunga yang menderita, tapi Bunda yang selama ini menderita, Yah. Siang dam malam Bunda selalu bekerja untuk Bunga. Jika ayah ingin meminta maaf, meminta maaflah sama Bunda," celoteh Bunga.


"Iya, Sayang. Ayah akan meminta maaf sama Bunda kamu, tapi apakah Bunda mau memaafkan ayah karena telah membuatnya menderita?"


"Jika ayah bersungguh-sungguh meminta maaf kepada Bunda, pasti Bunda akan memaafkan Ayah. Iya kan Bunda?" Bunga meminta persetujuan dari Bundanya. "Kan Bunda yang mengatakan jika kita harus memaafkan seseorang yang telah meminta maaf kepada kita," lanjut Bunga lagi.


Asha hanya bisa menelan kasar sampai banyak karena tidak bisa berkata apa-apa lagi Anaknya terlalu pintar. Dengan helaan nafas panjang, Asha pun mengiyakan ucapan anaknya.


"Iya, Sayang. Bunda sudah memaafkan Ayah kamu."

__ADS_1


..........


__ADS_2