
Jika Tuhan memberkahiku umur yang panjang, aku ingin lebih mendalami seni; sesuatu yang katanya indah, tetapi butuh sudut pandang berbeda untuk menilainya. Terserah mau itu seni rupa, seni terapan, bahkan seni bela diri sekalipun. Asalkan perasaanku bisa menjadi bebas sebagaimana unsur seni itu sendiri, maka itu sudah cukup.
"Safty, first!"
Kuucap lagi kalimat berkelas itu dengan sepenuh jiwaku. Biasanya berwarna hitam, tapi terkadang warnanya merah. Poster itu akan semakin efektif dengan ilustrasi sederhana, seperti; gambar orang mengenakan helm, atau gambar sabuk pengaman. Dimanapun ada perempatan lampu merah, disitu benda itu akan terlihat.
Aku yakin, kalian pasti sudah mulai bisa menebak, benda apa itu.
......................
Kebanyakan orang menganggapnya membosankan, tetapi tidak demikian bagiku. Itu bukan hanya sekedar tanda pengingat, melainkan sesuatu yang memiliki makna yang begitu besar. Jauh lebih penting dari pada sesuatu yang coba pemerintah tanamkan dalam alam bawah sadarmu.
Kuharap semua orang mulai berpandangan luas, sehingga ideologi mengagumkan di balik himbauan mengutamakan keselamatan yang kutemukan ini, bisa dijadikan referensi semua orang. Yang tak kupercaya ialah; aku malah memilih jurusan sosiologi, selagi seni penuh filosofi itu bisa kulihat setiap hari.
Sungguh mengherankan! Semoga saja umurku panjang, dan aku bisa memulai pandangan hidup ini.
......................
Ponsel berdering lagi. Itu pasti ibu.
Siapa lagi yang mau menghubungiku?
Aku sudah lelah membahasnya. Lagipula, aku tak akan kerepotan sekalipun kiriman bulanan dihentikan.
Selama kuota masih melimpah dan kopi instan masih murah meriah, tak ada yang membuatku gentar menjalani hidup. Pagi juga masih bersinar cerah, jadi apa yang perlu kurisaukan?
Cukup ambil cemilan dan siapkan sebotol penuh obat tetes mata.
Sebentar!
Biar kuklarifikasi sebelum pikiran kalian semua semakin liar. Aku tak sedang mencoba bunuh diri dengan itu. Lagipula, bukannya mati yang ada malah, ah sudahlah. Yang jelas, aku masih belum se-putus asa itu.
Anyway, tanpa itu, mataku akan segera kepanasan akibat hobiku menatap layar. You know, kurasa beliau pasti mahluk paling cerdas di dunia ini.
Siapa lagi yang bisa menciptakan benda sehebat ini?
Sekali tetes, matamu akan langung terasa segar. Tidak banyak obat yang memberi dampak se-instan ini. Oleh karena itu, mari berterimakasih pada Sir Obatus yang sudah menemukan obat mujarab ini.
Who? Obatus?
I know, i know, namanya memang tak setenar Thomas Alpha Edison, atau Albert Enstein. Tapi jangan remehkan Obatus Theteusmathaus Sama, kalau perlu, catat di buku tahunan kalian. Siapa tahu muncul di ulangan, who know?
Setidaknya kalau benar terjadi, kalian sudah tahu, siapa orang yang menemukan obat tetes mata.
How did i know?
Well, aku pernah menjawab itu di TTS. Aku rasa aku sedikit menambah kotak tambahan, tapi jawabannya pas sekali. Anehnya, aku masih belum mendapat hadiahku, and still wait my present.
Forget it!
Pertama, mari kita cari survei. Yah, seperti biasa, kita hanya akan mendapatkan beberapa, tetapi ini lumayan. Hanya dengan mengisinya, setidaknya 5 dollar sudah kita amankan.
__ADS_1
Andai saja tidak terlalu banyak pengangguran di dunia ini, mungkin kita bisa mendapat lebih banyak. Tapi sejak awal ini memang bukan pekerjaan yang layak ditekuni.
But so far, this is better then seller, or waitress. Something i did until last month.
Tanpa perlu capek-capek kerja, kita sudah mendapatkan uang yang cukup untuk makan sehari. Sekarang tinggal mencari jatah listrik dan koneksi internet bulanan. Oh iya, jangan lupakan juga biaya kos. Itu akan menjadi horror time, kalau sampai menunggak lagi.
I swear!
Hidup dalam tekanan sering membuatku lupa, akan kehebatan internet hari ini. Begitu banyak cara mendapat uang hanya dengan menatap monitor; sesuatu yang menjadi keahlianku. Apapun yang ingin diketahui, kita tinggal bertanya tanpa khawatir dimarahi senior.
Efisien!
Tak ada lagi repot-repot keluar hanya untuk membeli sesuatu. Jika perlu, kita bahkan bisa berkenalan dengan siapapun. Aku tak perduli dengan itu, tapi yang paling kusukai adalah, inovasi.
GDA 5, God of Wear, Final Extacy, Metal Bear, kita bisa memainkan semua masterpiece itu tanpa perlu membeli konsol. Bahkan dengan komputer spek tinggi, kamu bisa mengguncang dunia hanya dengan jari-jarimu.
Yang ini mungkin berlebihan, tapi setidaknya tetanggamu akan terguncang kalau kalian terlalu bersemangat main game.
Jika kamu suka MOBA, pagi adalah waktu yang tepat untuk tancap gas. Siang sampai malam adalah waktunya bocah, jadi, bisa dipastikan kalau kalian main di jam ini, kalian tidak akan mendapatkan tank mumpuni. Yang lebih gila adalah; mereka begitu suka AFK dan tak mau berbagi creep, padahal pick support. Well, main di jam pagi akan menghindarkanmu dari mereka, kecuali nasibmu sepertiku, apes.
I mean, ada saja bocil tak tahu diri yang bolos sekolah. Bahkn terkadang membuatku merasa ingin membakar warnet, supaya mereka semua musnah dari muka bumi.
Becouse them, everyday is down rank! Untill little instropection time, i knew if that was my karma.
Jadi, apa manfaat dari tips yang kuberikan?
Nothing! Selama masih ada bocil sok keras tidak tahu diri, 5vs5 akan selalu terasa 1 vs everybody.
Sabar!
Itu sudah pasti. Empat tahun melakukan ini tentu akan menjemukan, apalagi dosen belum menganggapmu layak.
Muak rasanya mendengar kalimat motivasi itu.
Did you know?
Ternyata mahasiswa memiliki persamaan dengan fans The Reds? Mereka sama-sama mengusung slogan, "Next year!" Tahu-tahu kau mulai menapaki jalan mahasiswa abadi.
Menggelikan!
Mimpi buruk skripsi sudah membayangiku, bahkan, saat semester awal baru saja dimulai. Aku mulai berpikir, kenapa tidak cari uang saja?
And then, i did that, until two month ago.
Awalnya itu efektif. Sangat menyenangkan ketika keringatku terbayarkan. Tapi saat kupikir menemukan arti kehidupan di balik sebuah amplop gaji hasil jerih payah menjadi buruh, ternyata itu hanyalah lubang sesat menuju luka baru.
Ini semua tidak sepadan.
Menghadapi pelanggan yang membosankan setiap hari, tertekan dalam hierarki terendah piramida perusahaan. Benar-benar memuakkan!
Jenuh?
__ADS_1
Sudah pasti!
Kita hanyalah sasaran pelampiasan amarah senior. Sansak berjalan dari kesalahan yang tak kita berbuat. Semakin berusaha, kamu hanya akan semakin mendekati kenyataan. Kenyataan bila kehidupan hanyalah seonggok sampah.
Kerja, istirahat, makan, tidur, tahu-tahu sudah pagi, dan kau harus sudah siap untuk kerja lagi. Lucunya, aku selalu mengeluh saat disuruh belajar, semasa sekolah dulu.
Untuk kalian yang masih duduk di bangku penderitaan, jangan pernah remehkan ujian nasional!
Mereka hanya ingin memberikan sedikit gambaran. Cara paling realistis untuk mengatakan, "ujian sesungguhnya baru saja akan dimulai."
Sekeras apa pun perjuangan, pada akhirnya hasil yang menentukan. Jangan sampai begitu sadar, kau tak pernah belajar apapun. Apalagi masih ingin hasil terbaik.
Kau mulai membandingkan hasilmu dengan mereka yang memiliki segalanya. Sialnya, mencontek tak lagi semudah memanggil nama Si Kutu Buku yang akan segera memberimu jawaban, hanya dengan pelototan. Satu hal yang patut disyukuri, aku lebih suka menerima hasil buruk daripada mencontek. Lebih tepatnya, mereka suka tidak memberiku contekan.
Hahaha, what the hell with my life?
Like everytimes, i'm start to launging by crying.
Entah karena dorongan diri atau apa, aku juga mulai ikut-ikutan membandingkan hasil.
Awalnya mengutuk mereka yang sukses. Tapi kemudian kulihat hidup orang lain yang jauh lebih menderita. Mereka tertekan, tak bisa lari dari masalah. Tatanan hidup mereka sudah berantakan sejak awal. Ternyata, aku bukanlah satu-satunya Homo Sialansis di planet ini, tetapi kabar buruknya, itu bukanlah hal yang patut disyukuri.
Listen this!
Namanya Miya. Mungkin Parsha, aku tak terlalu ingat karena dia main di mid, jadi kami jarang bertemu. Anyway, dia adalah seniorku. Kudengar, dia sudah menekuni pekerjaan dengan upah kecil ini selama dua tahun.
Secara tak sengaja, upah kami tertukar yang membuat gajiku lebih banyak sejuta dari biasanya. Aku sempat girang bukan kepalang, karena kukira gajiku naik drastis sampat tiba-tiba, manajer teledor itu memintanya lagi dan berkata, "sorry ketuker!"
That was“kampret” moment.
Sebut saja dia Zhazk, atau Argus. Bukan maksudku rasis, hanya saja sifatnya menyebalkan seperti mereka.
Jadi singkat cerita, Si Kampret Klomang ini mengambil lagi amplop tadi dan menukarnya dengan jatah asliku. Sialnya lagi, gajiku lebih sedikit 200 ribu sebagai kompensasi, atas kelalaianku tempo hari.
It's freaking damn!
Ingat kartun yang kita tonton sejak kecil?
"Hidup memang tak adil, jadi biasakanlah!"
Itu kedengaran sangat lucu ketika aku kecil. Tapi begitu dewasa, aku tak bisa menganggap ini hanya punch line. Dari mulut bocornya, kudengar kenyataan lain. Miya ternyata adalah seorang sarjana ekonomi.
Sungguh, ini benar-benar membuatku patah semangat. Maksudku, mungkinkah aku hanya akan berakhir demikian?
Aku tahu, ini sudah terlambat untuk bimbang, tetapi tak ada kata terlambat untuk sebuah langkah besar. Sampai kapan pun, aku tak akan pernah menyesali keputusanku untuk keluar dari kampus, juga dari pekerjaanku yang menyebalkan.
Selamat tinggal dosen, teman-teman yang cuman numpang absen, jangan lupakan juga Argus. Kuharap pembukuanmu hancur, sehingga gajimu juga dipotong sepertiku!
It's must be wonderfull, tetapi sekarang aku harus berhadapan dengan ibuku yang tak berhenti menelepon sejak kemarin.
Oh ****! I hate my life!
__ADS_1