
...Thank's for picking one, detective!...
...Your beloved box will sent later....
...Count your last 3rd wonderfull day!...
....
Membacaa papan pengumuman seusai melakukan pemesanan membuatku tersenyum. Orang biasanya mengucapkan salam yang menyenangkan agar tokonya ramai, tapi tidak dengan yang satu ini.
"Apa benar, kotak itu akan tiba setelah 3 hari?" Adrian bertanya, mempertegas ketidakyakinanku pada komitmen (web itu) mereka.
Aku mencoba cuek, menyibukkan diri dengan video game sepakbola membosankan ini.
"Paling-paling juga penipuan, semua yang berasal dari deep web hanyalah hal mencurigakan," timpal Johnny.
"Mike bilang, 'seseorang akan mengirimkan itu setelah 3 hari," tuturku, "ini masih belum 3 hari. Mungkin, besok?" lanjutku, masih dengan cueknya.
Kami saling tatap, mengubah arah situasi tak menyenangkan ini, tapi (waktu) yang berikutnya datang tak lebih menyenangkan.
Puncaknya, Adrian beranjak bangkit. Sama sepertiku, mereka pasti jenuh dengan lama waktu tunggu. Johnny juga sudah membuka pintu. Kami mungkin terlalu jengah.
Bila ada yang kusesali, itu hanyalah soal tantangan Mike yang terancam gagal.
Aku tak berusaha menahan mereka, malahan tak habis pikir dengan pikiranku sendiri. Kenapa juga aku rela mengeluarkan uang 50 dolar, hanya untuk menanggapi tantangan tidak berbobot ini? Lagipula, apa menariknya kotak idiot itu? Toh, Mike sendiri tak berhasil memecahkannya. Sialnya, menjadi asumtif selalu menyiksamu saat kejadian mengkhianati prediksi.
"Dave! Dave! Kau harus lihat ini!" Adrian yang kupikir telah pulang memanggilku.
Suaranya kedengaran cukup jauh. Itu artinya aku harus bangkit.
Menyebalkan!
Permainan tengah seru-serunya kala itu, tapi suaranya yang cempreng membuatku gila.
"Apa?! Anjingku berdiri di depan rumah lagi, atau kakakku yang mengacau?" ketusku.
"Lebih buruk dari itu!" jawabnya.
Lebih buruk? Selain keduanya? Aku berpikir keras tentang ini, (hal yang yang mungkin dianggap buruk olehnya,) tapi sampai di depan pintu pun, tak kutemukan sesuatu.
Adrian menepi memberiku jalan, tapi wajahnya kelihatan aneh. Kutengok Johnny, berharap tahu sesuatu. Namun, keadaan malah makin rumit.
Mereka saling tatap, mengecualikanku, dan hanya meninggalkan kesan tidak nyaman. Aku menggerakkan dagu, mencoba berimprovisasi dalam komunikasi bisu ini, tapi Adrian malah meniruku. Ini membuatku berharap lagi padanya.
Yeah, i know! That's my mistake.
Si Jangkung itu mengendikkan bahu, sama sekali tidak memberikan solusi. Okay, never expect anything else from him, Dave! Ever!
Sebenarnya, mudah bertanya, "ada apa?" tapi tak kulakukan. Saat kulihat ada sebuah kotak aneh di depan pintu, it's too late. Harusnya aku merasa aneh karena mereka terus menatap keluar dari tadi.
****! They tried to scare me.
"Johnny?! Kau tak bisa menakut-nakutiku dengan benda bodoh itu," tudingku.
"Gundulmu! Aku tak pernah meletakkan kotak keparat itu di sana!"
"Kau, Adrian?"
"Aku bersumpah tak melakukan hal idiot itu, Dave!"
"Baiklah, baiklah, kotak ini secara ajaib berada di depan pintu begitu saja, luar biasa!"
__ADS_1
"Apa yang kau harapkan?! Seseorang akan datang dan meminta tanda tanganmu, sama seperti kurir jual beli online?!"
Johnny nampak kesal. Wajahnya kelihatan tolol saat sedang marah, persis seperti saat itu.
"Tak ada jejak kedatangan seseorang. Kalian berdiri di depan pintu, dan sebuah kotak berada di sana. Sempurna!"
"Kau menuduh kami melakukan sesuatu?!"
"Hentikan John! Ini tidak membantu sama sekali!"
Adrian menahan Johnny, membuatku terlihat seperti pembuat onar. That's a bad joke. Big bulshit! Tunggu sampai kupermalukan kalian semua, pikirku.
"Mari kita buka, kurasa ini kotak yang kita tunggu!" ujarku, berjalan mendekati kotak itu.
Mereka semua hanya diam, menonton bagaimana aku memungutnya. Sungguh, aku mungkin penggerutu, tapi tak sebanyak hari itu. Mereka benar-benar kelewatan kali ini.
Kurasa, aku harus berpikir ulang tentang devinisi teman. Bahkan setelah mengatakan apa yang ingin mereka dengar pun, ekspresi mereka tetap menyebalkan.
Selanjutnya apa? Salah satu bakalan mulai menakut-nakuti?
"Hentikan, Dave! Kotak itu mencurigakan!" cegah Adrian.
"Adrian benar Dave, kita bahkan tak tahu bagaimana itu bisa di sana!" sahut Johnny.
Lihat? Apa kataku? Mereka semua memiliki kemampuan akting yang payah!
Aku semakin menggerutu di dalam pikiran. Narasi mereka bodoh, tapi aku harus mengikutinya. Terpaksa, kubawa paket itu ke dalam rumah. Aku bisa melihat alamat rumah tertulis dengan jelas di sana (di bagian atas kotak) tertutup kertas coklat.
Tercatat dengan tinta merah, beralas kertas putih yang direkatkan dengan lem. Kurasa mereka cukup berlebihan. Bau lemnya benar-benar tajam.
Nomor rumah, domisili, semuanya berantakan. Mereka harusnya menulisnya (alamat) sebelum lem mengering.
Maybe Johny? His writing was ugly, just as a kindergarthen kid.
Mereka berdua saling tatap lalu mengangguk bersamaan.
Itu membuatku lega. Kepalaku dipenuhi pikiran menjahili balik. Jika mereka akhirnya tidak ikut, semuanya hanya akan menjadi sia-sia.
Aku heran, mereka yang membuat prank, kenapa aku yang harus membujuk?
......................
Hmm, kotak yang mengerikan. Semacam noda darah berada di setiap pojokan. Ini akan memberi tekanan mental, andai saja bukan tipuan. Kulihat ekspresi mereka, tapi mereka benar-benar datar. Aku tak pernah melihat komitmen jahil se-serius ini sebelumnya.
"Apa itu darah asli?" komen Adrian.
"Hentikan itu, Adrian! Kau menakutiku!" Johnny.
Ini kian memuakkan. Mereka masih saja sambung-sinambung drama bodoh mereka, tapi aku harus menunggu. Mereka masih belum menunjukkan tanda-tanda lengah.
Wait my revenge, pikirku.
"Coba kita lihat! Mm... sebuah kertas kosong? Ini sangat tipis, sepertinya mencurigakan. Terus..."
"Woy, Dave! Lihat!"
"Benda menjijikkan apa itu?"
"Ini..."
A chunk? Of a finger? No way! Mereka pandai sekali. Apa mereka memesan properti ini dari internet?
__ADS_1
Tapi, kulit ini...
Aroma ini...
Wait! Kalau dipikir-pikir, kenapa Hunter diam sekali? Tidak mungkin juga Adrian menyuruhnya menulis. Dia bahkan tak bisa mengeja nama Bu Margareth dengan benar. Maybe...
"D-Dave! Letakkan itu sekarang juga!" teriak Adrian.
Kutatap keduanya menjauh, mepet sampai ke dinding. Johnny tampak terus menggeleng, menatapku begitu ketakutan.
Okey! Kali ini akting mereka semakin bagus.
"Tak perlu cemas, kawan!"
"Kau gila! Kau memegang potongan jari manusia dengan tangan telanjang!"
"Ini cuman mainan! Lihat? Li..."
Aku memaku, menjatuhkan potongan telunjuk itu. Seekor belatung merayap ke tanganku, membuatku melompat ketakutan. Kami bertiga berhamburan, meninggalkan semua kegilaan itu di sana (kamarku). Baunya benar-benar busuk, mengikuti kemana pun aku, bahkan sampai di toilet.
Aku mencoba muntah, tapi kulihat Hunter berdiam dipojokan. Big horrible. Hunter hanya melakukan itu ketika dia ketakutan, dan itu terakhir kali terjadi dua tahun lalu. Saat itu tetangga kami Pak Bill, mengamuk membawa tongkat baseball karena Hunter merusak halamannya.
Something for you to remember, Hunter is a big pitbull.
Hari itu, kami menutupnya lagi dan bersumpah, "tak ada lagi membeli sesuatu, dari dark web. Tak akan pernah!"
...
..."Enter your answer, detective! Don't forget to prepare your box, and put on doorstep!"...
^^^"Just take that f*cking box, from my home! Bas*ard!!!"^^^
..."We think, you didn't enter the correct answer."...
^^^"Shut up, and do something with that stupid thing!"^^^
..."Please, make you sure with your answer!"...
^^^"I don't care, b*stard!!!"^^^
..."Are you sure with your answer?"...
..."Yes!" "No!"...
..."Just click whenever you want!"...
..........
Somehow, kotak itu benar-benar lenyap dari rumahku. Aku terlalu takut untuk perduli tentang kotaknya, tapi kurasa sekitar 12 jam kemudian itu (kotak) hilang. Yang kuperdulikan sekarang, bagaimana cara melenyapkan traumaku.
Aku jadi sering kehilangan ***** makan, terutama dari kotak makan siang. Itu benar-benar mengerikan. Jantungku jadi berdetak cepat jika aku melihat kotak, sekalipun kotak itu hanyalah kotak obat.
I warning you, don't show any box like to me! Ini lebih buruk daripada dikejar banci di hari minggu. I swear!
...
P.S.
Memangnya kenapa kalau di hari Senin?
Who care? All fool's, including you,sir!
__ADS_1
She scared me, and i just revenge her! When i open my eyes, i saw a bloody knife on my hand.