
Sesampainya di resepsionis, aku meminta Fira beristirahat di ruang tunggu. Sementara, aku menarik napas di pojok kiri, dekat pintu masuk, dan pot bunga berisis anturium.
Keringat masih bercucuran. Jantung berdegup tak karuan, ngos-ngosan seperti habis lari marathon. Padahal, kami hanya naik tangga. Kurasa, aku juga harus pergi ke dokter kardio, guna memeriksakan jantung. Tapi sebelum itu, aku harus jalan menuju resepsionis, guna menuntaskan tanggung jawab.
Gambar-gambar tulang, lengkap beserta penjelasannya di sebelah kanan. Penampang kerangka manusia di depan, serta papan informasi gizi di belakang resepsionis. Setiap kali mengunjungi tempat praktek Om Hadi, barang-barang itu selalu menarik mataku.
“Permohonan periksa atas nama Gilang, kan?” tebak si petugas.
Belum sempat menyatakan maksud, si petugas sudah menyuruh menunggu.
“Eh?” heranku.
“Udah ditandain mobilnya, soalnya Pak Hadi bilang nggak pakai yang biasa,” jelas si petugas, “ditungguin dari tadi, lho, mas! Karena lama, terpaksa nomor antrenya dipakai pasien lain,” lanjutnya, senyum.
Petugas itu bernama Lina, seorang wanita muda berkacamata.
Dia sudah bekerja di sini sejak beberapa tahun belakangan.
“Oh, gitu?” gumamku, sekilas memperhatikan.
“Habis ini langsung, kok!” tenang si petugas.
“Ah, jangan gitu, mbak, kasihan pasien yang udah ngantre!” ujarku.
“Tinggal kontrol doang, kok!” jelasnya, “pasien penanganan udah duluan semua,” lanjutnya.
“Temenin pacarnya aja, tuh!”
Ia menunjuk ke arah Fira dan berkata lagi, “dari tadi ngeliatin terus, kayak macan nemu kambing!”
“P-Pacar?” kagetku.
“Pakai malu-malu segala!” godanya.
Aku menoleh ke arah Fira, gadis lucu yang segera memalingkan muka.
“Macan apaan? Kucing, kali?!” gumamku, sembari menghampirinya, “eh, makasih, mbak!” lanjutku, sembari melambaikan tangan.
“Sama-sama, mas!” jawabnya.
Di ruang tunggu, terlihat beberapa orang sedang mengantre. Terlihat salah seorang membawa tongkat bantu, dan seorang lagi dalam keadaan di gips.
Sepertinya, si petugas berkata jujur. Pasien yang butuh perawatan sudah didahulukan dan sisanya tinggal kontrol saja. Deretan kursi sebelah kiri juga terlihat kosong, membuatku merasa lega; tak harus membuat banyak orang kecewa.
“Kalian ngomongin apaan?”
Fira bertanya dengan wajah penasaran.
“Dia bilang, kita pacaran,” jawabku, datar.
“Ish, dasar!” gerutunya, membuatku seketika menoleh, “matanya belekan, apa?” lanjutnya.
Merasa ucapannya tidak sopan, aku menyentil jidatnya dan berkata, “enggak, tapi sepertinya emang nggak bisa lihat dengan jelas, makanya pakai kacamata!”
“Pantesan,” gumam Fira, balas menyikut pinggangku.
Aku hanya meringis, sementara si petugas tertawa melihat ulah kami. Sambil senyum, aku berbisik kepada Fira supaya tidak terlalu banyak ulah, sekaligus menyesal mengatakan hal itu.
Lagi-lagi, aku lupa kalau Fira tidaklah setanggap itu. Sarkasme dan satir saja lemot, aku malah memberi joke berat bertema gelap.
“Terus kamu jawab apa?” tanyanya lagi, dengan muka yang kelihatan datar.
“Jawab apaan, orang udah jelas,” jawabku.
Tiba-tiba, Fira menoleh. Tatapan wajahnya kelihatan kecewa. Aku belum paham letak kesalahanku, tetapi yang pasti keadaan mulai jadi canggung.
“Karena itu, ya, kalian kelihatan akrab?” gumamnya.
“Akrab apanya, dia bilang kamu kayak macan, makanya aku ketawa,” sahutku.
“Terus, kamu jawab apa?” Fira.
“Kamu itu bukan macan, tapi biawak!”
Sambil menggeleng, aku jalan menuju pintu keluar, menghindari tatapan kesal Fira.
Gadis itu benar-benar tidak bisa dimengerti. Kadang lucu, kadang cantik, dan terkadang membuatku merasa cemas seperti sekarang. Mengerti dan memahaminya benar-benar sesuatu yang paling sulit, di antara banyaknya hal pernah kulakukan seumur hidupku.
“Kalau dipikir-pikir, kenapa juga aku merasa kesal sendiri?” pikirku.
“Mas Gilang!” panggil si petugas, “mas!”
__ADS_1
Tiba-tiba, seseorang menepuk pundakku.
Begitu sadar, si petugas melambai-lambaikan tangan ke arahku. Walaupun merasa aneh, tanpa pikir panjang, aku bergegas menghampiri.
“Ada apa, mbak?” tanyaku.
“Kenapa nggak diajak sekalian, udah giliran, kalian!” jelas si petugas, “tuh, dipanggil Pak Hadi!” lanjutnya.
“Lang, Lang.”
Seorang pria berpakaian jas putih menggeleng di ujung lorong.
Rambutnya pendek, beralis tipis, serta memiliki kumis lebat. Mengenali matanya yang berkantung dan noda hitam di dahinya, seketika aku kelabakan mencari Fira. Aku baru sadar, rupanya sudah saatnya kami masuk. Tapi saat aku menoleh, rupanya gadis itu sudah berdiri di depan pintu.
Seketika itu, aku teringat orang yang menepuk punggungku. Ternyata, dia adalah Fira. Sambil berkacak pinggang, ia terus memperhatikan dengan tatapan kesal.
“Kenapa nggak ngomong dari tadi, mbak?!” ocehku, buru-buru menghampiri gadis itu.
Saat coba merangkul, tiba-tiba saja Fira menepis tanganku. Ia benar-benar kelihatan sangat kesal. Awalnya, itu membuatku terkejut, tetapi pada akhirnya berusaha menjelaskan dan meminta maaf, meskipun tak merasa melakukan kesalahan. Biasanya, itu efektif terhadap mama.
“Aku cuman pengen bantu doang, kok!” jelasku.
Fira cuman mendengus, tetapi akhirnya aku berhasil meyakinkannya, walaupun sepanjang perjalanan dia terus saja murung.
Bahkan, aroma wangi yang tercium dari pakaian yang dia kenakan pun, gagal membuatku merasa kegirangan. Sejujurnya, sejak dari rumahnya, aku sangat menyukai wangi parfum yang dia pakai.
Terbesit keinginan melepaskannya, agar mendung di wajahnya segera sirna. Tapi, entah mengapa, aku merasa akan menyesali seumur hidup perbuatan itu.
Seperti janjiku, kuyakinkan diri sendiri bahwa niatku hanya ingin membantu. Yang harus kupikirkan hanyalah; membawanya dengan selamat ke ruang pemeriksaan.
......................
“Duduk!” seru Om Hadi.
Sesampainya di ruang periksa, Om Hadi segera mengenakan kacamata, dan mulai menyiapkan peralatan. Sementara itu, aku membantu Fira berbaring di kasur pemeriksaan.
“Periksa langsung aja, om!” seruku, sembari melepas kedua sepatu Fira.
Dengan raut tidak yakin, Om Hadi mengangguk.
Seusai mengembalikan peralatan tadi, ia langsung jalan mendekatinya.
“Permisi sebentar, ya!” ucap Om Hadi, mulai memeriksa, “sakit tidak?” lanjutnya, sembari menggerakkan kaki Fira.
“A-Aw! Sakit, dok!” rengek Fira.
Om Hadi mengulang proses tadi ke beberapa arah lain, diiringi teriakan serupa oleh Fira.
“Sepertinya ligamen-nya robek,” ujar Om Hadi.
“Sobek?” sahutku.
“Area mata kakinya saja memar, itu artinya terjadi pendarahan dalam!” Om Hadi.
“Apa semalam kamu membasuh dengan air hangat?”
Aku menoleh ke arah Fira, direspon cengengesan olehnya. Sepertinya, dia tidak melakukan itu, sehingga membuatku merasa lega.
“Kenapa kamu menyuruhnya membasuh dengan air hangat, bukan air dingin?” omel Om Hadi.
“Aku pikir nggak sampai robek, om,” kelitku.
“Apa itu buruk, dok?” timbrung Fira.
Seketika, kami berdua menoleh. Beberapa kali, aku mengedipkan mata ke arah Om Hadi, memberinya kode untuk menakut-nakuti.
“Untuk kasus yang berat, pembengkakan bisa terjadi, akibat ligamen robek sepenuhnya,” jawab Om Hadi, usai mendapat kode dariku. Sepertinya dia setuju bekerja sama, dan menambahkan lagi, “bahian dalam kasus ekstrem, pasien bisa sampai tidak bisa menopang beban tubuh."
“Jangan bilang...”
Fira menelan ludah, kebiasaannya saat sedang panik.
Dengan wajah masam ia berkata lagi, “kaki aku nggak perlu diamputasi, kan, dok?”
Seketika, aku dan Om Hadi tertawa.
“Wah, kamu bener-bener tega, ya, Lang!” gumamnya.
“Apaan, enggak!” elakku, “orang dia jatuh pakai sepatu setinggi dua meter,” lanjutku berkelakar.
“Emangnya egrang!” protes Fira, “orang cuman delapan senti doang, kok!” lanjutnya, menambahkan.
__ADS_1
“Pakai sepatu tinggi begitu, emangnya kamu model, ya?” tanya Om Hadi.
“Enggak!”
Fira menggeleng.
“Bintang iklan?” Om Hadi.
Lagi-lagi Fira menggeleng, membuat Om Hadi lanjut bertanya, “terus kenapa pakai sepatu begituan, kalau dua-duanya bukan?”
“Ada acara keluarga, dok makanya...”
“Ah!”
Tiba-tiba, aku teringat tinggi badan Fira yang menyusut.
Saat makan malam, ujung kepalanya melewati telingaku. Tapi hari ini, tinggi maksimalnya hanya sedikit melampaui bahuku.
“Diam!” bentak Fira.
Sepertinya, dia sadar kalau aku juga mengetahui alasannya yang sebenarnya.
Aku heran, kenapa intuisinya begitu tajam dalam urusan seperti ini?
Tapi karena takut, aku hanya diam.
Merasa diabaikan, Om Hadi pun berkata, “supaya jelas, kita lakukan tes rontgen dulu!”
“Kalau gitu, aku tunggu di luar aja, ya!” pamitku pergi.
......................
Di kursi tunggu, aku membuka ponsel, karena bosan. Di sana, banyak notifikasi pesan masuk muncul, tetapi tidak banyak yang penting. Bahkan, nyaris tidak ada. Satu-satunya yang menarik pikiran hanyalah sebuah file video yang dikirimkan oleh Roni.
“Kelihatannya, ini video yang mereka ributkan,” gumamku, mulai mengunduhnya.
Untungnya, koneksi internet di kota sangat cepat sehingga tak butuh waktu lama untuk mengunduhnya.
Sambil duduk santai, aku mulai memutar video berdurasi sekitar sebelas menit itu. Isinya hanyalah aktivitas tidak jelas seseorang yang mengaku bernama Anwar.
┏━━━━━━━━━━━━━┓
11:20 ────────I⊙11:23
⇄ ◁ II ▷ ↻
┗━━━━━━━━━━━━━┛
“Itulah isi semua kotak itu, so sampai minggu depan buat tahu kelanjutan penyelidikan gue. Oke, gue creepy anwar, bye, bye!”
Itulah yang diucapkannya di penghujung video.
......................
Dark web, kotak misterius, hingga sebuah website aneh yang tidak bisa dikunjungi. Kesimpulannya, kemungkinan besar video itu asli, tetapi aktivitas yang dilakukan si perekam benar-benar tidak beres.
“Mas Gilang!” panggil Lina, alias si petugas resepsionis, “mas!!!”
Ia semakin meninggikan nada.
“Y-Ya?” sahutku.
“Hobi amat, ngalamun!” omelnya, “dipanggil, tuh!” lanjutnya, menunjuk ruang periksa.
“Oh, oke, mbak!” jawabku.
Sebelum pergi, aku buru-buru menulis pesan kalau video itu kemungkinan asli, lalu mengirimkannya pada Roni. Setelah itu, aku segera mengunci layar ponsel.
...----------------...
Fakta penting, robek ligamen!
Kompres es merupakan bagian dari standar penanganan cedera, terutama begitu terjadi cedera dan masa 2 x 24 jam sesudahnya.
Guna es ini adalah sebagai anti nyeri dan membekukan perdarahan agar tidak meluas. Bila diberi kompres panas, perdarahan malah akan semakin encer dan meluas.
Lakukan kompres es selama 15–20 menit, sebanyak 3–4 kali sehari dalam 72 jam pertama.
Jika Anda menggunakan es batu, hindari menempelkan langsung es ke kulit.
Hindari melakukan kompres es lebih dari 20 menit, karena jaringan tubuh bisa mengalami kerusakan.
__ADS_1