Kotak Merah

Kotak Merah
Box 20 : Lisa


__ADS_3

..."You have slain, an enemy!"...


"Mampus!"


Aku berteriak-teriak seperti orang kesurupan, kemudian kusadari seseorang sedang menontonku bermain.


Azunyan, itulah nickname yang dia pakai di dalam game.


Dasar cewek wibu!


"Kok kamu main game, sih bang?"


Chat itu tiba-tiba masuk ditengah permainan.


^^^"Kamu sendiri ngapain nontonin abang main? Ingat, kamu sebentar lagi kelas 12!" balasku.^^^


"Ye, Lisa mah, udah pulang sekolah!"


^^^"Ya udah, belajar sana, kerjain PR kek, apa kek, kamu bakalan dimarahin ayah kalau terus-terusan main game!"^^^


"Kayak nggak tahu adatnya aja," balasnya.


Aku menggeleng, paham bahwa beliau memang tak menyukai perubahan zaman. Akan tetapi, adik siapa ini? Siapa yang mengajarinya melawan orang tua?


"Memangnya di kantor polisi ada wifi gratis, bang?" tulisnya lagi.


Si Uler Kadut!


Aku tak butuh yang namanya wifi gratis. Semua yang gratisan hanya membuat emosi.


Dasar mental gratisan!


^^^"Siapa bilang abang ada di kantor polisi?"^^^


Lagian ini adik kayak senang sekali lihat abangnya di penjara.


"Terus sekarang abang ada di mana?"


^^^"Kos-kosan, lah! Dimana lagi?"^^^


^^^....^^^


Tak terasa, beberapa menit telah berlalu, dan pertandingan akhirnya berakhir. Lisa tidak lagi membalas chat, bahkan terlihat sudah offline.


Itu sedikit aneh. Biasanya dia akan langsung mabar dan pamer skill, kalau kebetulan ketemu.


Kuharap dia mau mendengar nasihatku untuk berhenti main game. Lebih baik nonton drakor, lihat-lihat boyband, atau nonton anime seperti kebiasaannya di rumah.


Selama itu bukan penyakit akut bernama, "game," yang mereka sangat benci, kurasa dia tak akan diperlakukan sepertiku.


......................


Hari semakin sore, dan permainan semakin terasa membosankan. Sudah terlalu banyak bocah yang mulai ikut campur, sehingga emosiku jadi memburuk. Kuputuskan menyudahi permainan, dan mematikan komputer.


Hari ini, mereka juga tidak terlalu banyak protes. Mungkin, ledakan emosi siang tadi penyebabnya. Aku bukannya tak mau serius, hanya saja pikiranku terlalu kacau untuk bekerja sebagaimana tuntutan mereka.


Nanti malam mungkin aku baru mulai mencari informasi lagi.

__ADS_1


Aku berdiri, bermaksud meminta izin Roni mengambil rehat. Tapi seseorang mengetuk pintu sebelum rencana ini berjalan.


Siapa itu? Tidak mungkin Gilang.


Jatahnya mengawasi adalah pagi sampai siang. Lagipula dia tak pernah mengetuk pintu, kecuali dikunci dari dalam.


"Ya, sebentar!" seruku.


"Dimas?!"


Aku terdiam, kaget melihat kedatangan mereka. Pintu bahkan baru saja terbuka, tapi pikiranku rasanya membeku.


Masih memakai baju dinas; batik biru kombinasi putih, dipadu kerudung merah. Jam tangan tua melingkar di lengannya, serta memakai sepatu hak pendek berwarna hitam, yang kelihatan kotor.


Kurasa, ia berjalan sampai ke sini. Itu artinya, dia tidak ikut. Tidak mungkin dia membiarkannya naik angkutan umum sendiri.


"Ayah tidak ikut, bu?"


Kutengok keluar untuk memastikannya, lalu seorang gadis bergegas masuk.


"Kami sudah ijin, kok!" sahut Lisa, gadis yang nyelonong masuk tadi.


Dia adalah adikku satu-satunya.


"Abang nggak tanya kamu!" ketusku.


"Kamu beneran disini, Dim?"


Mata ibu berkaca-kaca.


Jangan salah paham!


Aku sama sekali tidak sedang membanggakan kenakalan, malahan aku orang yang paling ingin melihatnya bahagia. Sayangnya, semua tak pernah berjalan sebagaimana keinginan.


Keberadaanku di rumah pun, justru membuatnya semakin sering uring-uringan. Mungkin, karena itulah ayah tidak pernah keberatan dengan keputusanku hidup sendiri.


"No, mom! This is just hologram, the real Dimas was die 40 years ago!" candaku, berharap mereka tak terlalu serius menyikapi problematika hidupku.


"Abangmu ngomong apa, Lis?" tanya ibu.


"Dia bilang, panu di punggungnya kumat, bu!" jawab Lisa.


Ibu menatapku, dan kulihat Lisa tertawa. Dia sama sekali tak merasakan ketegangan akan nasib kakaknya sendiri. Semua mungkin tak pernah menganggap ini serius, sama seperti bagaimana caraku menyikapi masa depan.


"Masuklah!" ajakku.


Bukannya menerima tawaranku, mereka malah terpaku. Aku menengok ke belakang, dimana sosok yang pastinya mereka anggap asing tiba-tiba saja berdiri di sudut ruangan. Roni.


Pantas, wajah mereka kelihatan pucat seperti baru saja melihat setan.


"Kurasa aku akan menunggu di luar!" ucapnya.


Roni langsung berjalan. Sambil menepuk pundakku, dia bergegas keluar dan menutup pintu. Untungnya, dia punya sikap tenggang rasanya yang besar. Hal-hal bersifat pribadi pastinya akan segera kami bahas, dan itu merupakan ranah yang tidak sewajarnya dia campuri.


"Kamu tidak depenjara, Dim?" tanya Ibu, tiba-tiba.


"Astaga, ibu pengennya, Dimas ditahan?" balasku.

__ADS_1


"Bukan begitu ..."


"Kan, Dimas udah bilang, itu cuman salah paham. Kalian saja yang tidak memberi kesempatan," potongku, "sudahlah, bu! Lebih baik kita bicarakan soal perkembangan Lisa?" alihku.


"Kamu harus dengar ini, Dim dia semakin parah belakangan ini!"


Pembahasan beralih, persis seperti ke mana kuarahkan. Ibu mulai duduk, memilih posisi seperti biasanya saat ia berkunjung.


Lisa menyangkal, dan kami mulai membicarakan hal-hal tak perlu. Perasaanku yang tidak enak tidak terlalu kupikirkan, karena belakangan ini semuanya terasa demikian. Sampai kemudian, beliau menginjak salah satu topik selalu berusaha kuhindari. Aku benar-benar menyesal tidak mencoba untuk perduli.


"Kamu sendiri bagaimana, Dim?" tanyanya, merubah lagi arah pembicaraan.


"Bagaimana apanya, kan Dimas sudah jelasin," jawabku, "Dimas disuruh membantu penyelidikan," tambahku.


"Bagaimana dengan kuliahmu, habis ini?!" bentaknya.


"Kuliah, ya? Kalau Lisa mungkin cocok masuk kedokteran."


"Dimas!"


"Apa itu perlu dibahas?!" tanyaku, kemudian kulihat beliau mengangguk.


Aku menarik napas panjang, mempersiapkan kata-kata. Adu argumen panjang bakalan terjadi. Ini pasti akan menjadi seperti sidang perceraian, tapi cepat atau lambat aku harus membicarakan ini.


"Kuliah bukan satu-satunya cara menuju masa depan, bu," lanjutku.


"Apa maksudmu?!"


"Pimpinan software, pendiri medsos, mereka semua juga tidak lulus kuliah, tapi mereka masih bisa sukses," ujarku.


"Lalu kau berpikir, kau akan menjadi seperti mereka?" tanyanya, "kamu cuman membatasi sesuatu yang bisa kamu kerjakan dengan memilih ini," imbuhnya.


Beliau sangat benar. Beberapa orang hanya melihat sisi mudah orang lain tanpa pernah berpikir, betapa keras mereka berusaha. Tak banyak pekerjaan bagus yang bisa dipilih hanya dengan bermodal ijazah SMA. Aku membandingkan diriku dengan orang-orang yang memiliki visi, sementara aku hanya pemalas. Tapi aku sudah menduga ini.


"Kembali ke kampus, selesaikan kuliahmu!" perintahnya, "kami akan hubungi beberapa kenalan untuk memasukanmu setelah kamu lulus," lanjutnya.


Gagasan menyedihkan. Aku tahu tak ada yang bisa diharapkan dariku, tapi tak berarti aku butuh dikasihani. Aku hanya ingin menjadi diriku, tanpa perlu membebani siapapun. Sudah cukup aku mengecewakan diriku dan semua orang.


"Ini yang paling Dimas benci," kataku, "Dimas bisa hidup mandiri, kok!" lanjutku.


"Kalau begitu buktikan!" tantangnya, "jika kau bisa mendapatkan penghasilan minimal UMR, ibu akan pertimbangkan untuk membiarkanmu," lanjutnya.


Aku hanya terkekeh. Tantangan bagiku hanyalah omong kosong. Aku bukan siapa-siapa, tak ingin menjadi apa-apa, dan tak butuh apa pun, lagi.


Semua yang kubutuhkan sudah ada di hadapan, lantas apa lagi yang perlu kubuktikan?


Aku heran, kenapa mereka begitu suka menyarankan kegiatan bodoh bernama, "kuliah," ini? Apa menyenangkannya aktivitas ini? Jika memang itu seru, kenapa tidak mereka saja yang berangkat?


"Biarkan Dimas hidup tenang, bu," pintaku, "tanpa tekanan, mengalir seperti air, lalu hanyut dan menghilang," imbuhku.


"Kedengarannya itu seperti eek?" sahut Lisa, menggumam.


Hey, mulut!


Mataku seketika melotot. Entah siapa yang mengajarinya seperti itu, padahal dulunya dia cukup manis seperti kebanyakan adik.


Sungguh, kenapa dia bisa begitu jujur?

__ADS_1


__ADS_2