Kotak Merah

Kotak Merah
Bullet 4 : Mulutmu Harimaumu


__ADS_3

Tak terasa, jam sudah menunjukkan pukul delapan lewat. Selama itu, kami berdua hanya makan bersama dengan tenang.


Awalnya, kupikir kita sama-sama tidak perduli dengan tujuan diadakannya pertemuan ini. Tapi ternyata itu salah.


“Omong-omong, apa tujuanmu? Maju nyalon dengan dukungan ayahku, atau cuman menuruti keinginan ayahmu?”


Ia tiba-tiba saja bertanya.


Aku langsung meletakkan sendok, seketika berhenti makan. Ketika itu, aku sedang memakan hidangan penutup keduaku.


“Papa sudah menjadi anggota, jadi kupikir itu tidak mungkin,” jawabku, sedikit tersinggung.


“Aku tanya tujuanmu, kok. Malah ngebahas orang tua!” omel si gadis.


Aku menarik napas. Ingin rasanya memuntahkan amarah, tetapi kuredam semua itu, bersama hembusan napas yang bertiup gelisah.


“Aku juga tidak tahu,” jawabku, “daripada membicarakan itu, kenapa tidak membicarakan tentangmu saja?” lanjutku, lanjut makan lagi.


“Tentangku?” si gadis.


“Yap, kurasa itu lebih menarik. Lagipula, nama saja kita belum saling tahu?”


“T-Tunggu, kamu Gilang Hanafi, kan? Jangan bilang selama ini...”


Seketika aku tertawa. Ini benar-benar sangat lucu. Bahkan membuatku berhenti makan sekali lagi, padahal aku biasanya sangat fokus. Terlebih ketika sedang makan.


Bagaimana tidak? Memastikannya saja belum, gadis ini sudah berani makan bersama orang yang baru dia temui.


“Kenapa kamu ketawa, sih?” omelnya.


“Untungnya benar, tapi kalau salah orang, itu akan sangat lucu,” jawabku, “kamu tidak cemas, atau memang...”


“Memang apa?” sambarnya.


“Memang... oh iya, nama kamu siapa, btw?”


Aku segera mengalihkan pembicaraan. Tak meneruskannya, karena merasakan tekanan yang mengerikan.


Meskipun kelihatan penasaran, gadis itu pun tak bertanya. Kurasa, dia sendiri menyadari apa yang ingin kukatakan, sehingga tidak menyinggung lagi. Kami berdua sadar, tak ada gunanya meneruskan pembahasan itu.


“Safira Ananta!”


Dia menjawab dengan ketus. Kemarahan juga terlukis jelas di rautnya. Hal itu diperkuat dengan suara piring dan sendok yang berdenting. Sama sepertiku, dia juga sedang makan hidangan penutup. Aku tidak terlalu perduli, dan malah tambah mengusili.


“Safira... kupanggil Sarobo saja boleh tidak?” tanyaku.


“Hah, emangnya kenapa?!” jawab Fira, alias gadis itu.


“Karena kamu orangnya ceroboh!”


“Kalau gitu, aku panggil kamu Halambat!”


“Kenapa gitu?”


“Nama kamu kan Hanafi, terus suka terlambat, jadi Halambat.”


“Ok, gas! Jadi, Sarobo tinggal di mana?”


Aku menatapnya sedikit sinis, dan menunjukkan raut muka menantang. Dibalas pelototan tajam.


“Apaan sih, nama aku Fira!” jawabnya dengan nada kesal.


“Kan sudah deal, kamu panggil aku Brad Pitt, aku panggil Sa...”


Seketika aku menghentikan ucapan, reflek bersembunyi di balik meja.

__ADS_1


Tiba-tiba saja, Fira mengangkat gelas berisi jus dan terlihat bersiap-siap.


“Sa- apa, cepet lanjutin?!” serunya.


“Sa... midi?” jawabku, seraya berlari.


“Ish!”


Gadis itu menggebrak meja, menyilangkan tangan dengan muka cemberut. Dia kelihatan sangat marah. Tapi untungnya, dia tidak jadi meyiramku, meskipun tidak melepaskan tangannya dari gelas.


“Nama itu doa, jangan ganti-ganti sembarangan!” ujarnya, kemudian.


“Ok, aku nggak tahu kamu berpikir se-sentimen itu, sorry, ya!” ucapku, “tapi, bisa nggak, tidak siram minuman itu? Nggak baik mainin makanan, lho!” lanjutku.


“Siapa yang mainin makanan?” Fira.


“Terus, itu tangan, kenapa pegang minumannya gitu?”


Aku mengedikkan kepala ketakutan, mengarah menuju tangannya yang terus siaga pada gelas.


Menyadari maksudku, Fira menatap tangannya sendiri, lalu berkata, “oh, ini? Orang aku mau minum, kok!”


Dia lalu minum dan bersingkat kata, “tuh!”


Fira menjauhkan gelasnya. Sebagai gantinya, dia menyilangkan kedua tangan. Meskipun bukan sinyal yang baik, aku tetap mencoba memberanikan diri kembali duduk.


“Enggak usah kepedean, deh!” serunya lagi.


Sambil mengelus dada, aku segera mendekati kursi dan duduk dengan tenang. Penuh rasa takut, aku mengangguk. Sekali lagi meminta maaf. Lucunya, dia kembali meneruskan makan, walaupun sedang kesal. Itu membuatku ingin tertawa, tetapi kusembunyikan rasa geliku. Aku khawatir, bukan cuman minuman saja yang akan melayang kali ini, kalau berani tertawa. Tapi karena situasi masih canggung, aku memberanikan diri lagi untuk bertanya.


“Jadi, kenapa kamu mau datang, kamu tahu tujuan mereka, kan?”


Oh tidak, kurasa aku terlalu cepat to the point. Fira tiba-tiba menatapku dengan tatapan kesal, serta menghentikan aktivitas makan. Walaupun begitu, dia tetap menjawab.


“Aku tidak berani menolak langsung, jadi selalu datang,” jawabku, “tapi besoknya, mereka sendiri yang akan menghentikannya,” imbuhku.


“Jadi, kamu juga sering dijodoh-jodohin?”  Fira.


“Tidak juga, kok, cuman beberapa kali.”


“Jadi, kapan kamu akan menolakku?”


“Aku tidak pernah menolak," sanggahku, "pertama-tama, aku biasanya nanya gini, 'kamu mau datang ke acara seperti ini, emangnya tidak ada laki-laki yang suka kamu?” lanjutku, menjelaskan.


“Ish, sombong amat?”


Fira memalingkan muka, kelihatan sedikit risih.


“Memang aku sengaja,” jelasku, singkat.


“Terus, apa jawaban mereka?”


Ia kembali bertanya dengan antusias.


“Biasanya, sih mereka menjawab, ‘banyak,” jawabku.


“Pasti lah!” 


Fira mengangkat kepala, kelihatan cukup puas. Sebuah senyum yang kelihatan sinis juga tergambar jelas di wajahnya. Kurasa, dia memihak mereka, sebagai kaum yang sejenis.


“Nanti aku tanya lagi, 'terus kenapa kamu sukanya sama aku?” jelasku lagi, “tahu-tahu, besoknya perjodohan udah dihentikan,” lanjutku.


“Ya orang kamu ngomongnya aja gitu!” sahut Fira.


Nada bicaranya yang terdengar berempati membuatku mendecak. Ada banyak yang tidak kuceritakan, tetapi dia sepertinya sudah terlanjur menarik kesimpulan. Jadi, aku tidak mau repot-repot memberikan klarifikasi.

__ADS_1


“Gitu, ya?” gumamku, “terus, kamu juga seperti itu?” lanjutku, bertanya.


Sambil membersihkan bibirnya dari sisa makanan, dengan sebuah tisu yang ada di meja, Fira mengangkat telunjuk. Peka maksud isyarat itu, aku pun duduk. Menunggu dengan tenang.


Tak lama, dia pun menjawab, “setelah aku tolak, pasti akan ada lagi acara seperti ini. Jadi, itu percuma saja.”


“Oh gitu?” gumamku.


Aku termenung sebentar, sepakat dengan pernyataan itu.


Tidak membiarkanku asyik bersama pikiranku sendiri, Fira pun lanjut bertanya lagi, “terus kenapa kamu nggak tanyain hal yang sama?”


Aku segera menarik tangan, dengan cepat menjawab, “yang pertama, itu karena aku datang terlambat. Aku biasanya orangnya on time, jadi, aku nggak mau bikin kamu tambah kesal.”


Tiba-tiba saja, Fira mengambil ponsel, lalu menyodorkan kepadaku. Dari banyaknya menu, dia menyuruhku menyentuh aplikasi catatan.


Di situ, terdapat beberapa dokumen. Tapi dia menyuruh membuat dokumen baru.


“Tulisin kata, ‘tanggung jawab,’ dong!” serunya, menunjukkan kedua tangannya, “tanganku belepotan, sorry!” lanjutnya.


Dalam keadaan bingung, aku menulis dengan pelan-pelan, karena tidak terbiasa dengan ponselnya.


“Apa ini?”


Sambil menyelesaikan tulisan, aku memberanikan diri untuk bertanya, karena penasaran.


“Poin plus yang aku pikirkan tentang kamu!” jawabnya.


Seketika aku menoleh, terkejut mendengar jawabannya.


“Benarkah?” tanyaku, “apa tidak ada lagi yang mau kamu tambahkan? Gagah dan berwibawa, misalnya?” imbuhku, antusias.


Fira seketika melotot.


Kepalanya sedikit miring, dan bibirnya mengerucut.


Dengan ketus dia menjawab, “dasar nggak tahu malu!”


“Maaf, aku akan menulisnya juga!” seruku, tak kalah ngegas.


“Tenang aja, aku hafal semua minus kamu, kok,” ujarnya, “suka telat, kurang ajar, nggak tahu malu, pokoknya banyak! Plusnya terlalu dikit, makanya perlu dicatat biar nggak kelupaan,” imbuhnya.


“Gitu, ya?” gumamku, kesal.


Dia mengedikkan tangan, meminta ponselnya dikembalikan. Menyadari itu, aku pun segera mengembalikannya. Bagaimanapun juga, benda itu bersifat personal. Masuk ke ranah pribadi yang cukup sensitif untuk disinggung.


Aku duduk lagi dengan tenang. Kupikir, rasa penasarannya sudah kenyang. Tapi rupanya dia kembali bertanya, “terus yang kedua apa?”


Aku seketika menoleh, menatap sedikit kesal. Entah sudah berapa kali, acara makan kembali terganggu.


Untuk membalasnya, aku kembali menjahili dengan balas bertanya, “kedua?”


“Tadi kamu bilang pertama, kan?”


Fira mengernyitkan dahi kelihatan sedikit bingung.


“Hanya karena aku bilang yang pertama, memangnya itu berarti harus ada yang kedua?” balasku, “hanya karena mendapat istri pertama memangnya harus...”


Tang!


Fira tiba-tiba saja menghujamkan sendok ke atas piring. Suaranya membuat semua pegawai menatap kami, dengan wajah ketakutan.


“Baiklah, itu perumpamaan yang bodoh,” gumamku, “aku minta maaf!” lanjutku.


"Jangan pernah katakan itu, meskipun cuman bercanda, kalau kamu ingin dianggap setia!" serunya.

__ADS_1


__ADS_2