Kotak Merah

Kotak Merah
Box 23 : Do It by Yourself!


__ADS_3

Suara pintu dibuka terdengar. Ini sudah hampir jam 9, jadi memang sudah saatnya dia datang.


“Apakah ada kemajuan?” tanya Gilang, masuk sembari membuka jaket.


Seperti di rumah sendiri, dia mulai mengambil kursi dan duduk di sebelahku. Di belakangnya, Roni segera menyusul. Pria itu duduk di sofa, seperti tak perduli dengan perkembangan kasus.


“Kalian harus lihat ini!”


Aku mengedikkan tangan, menunjukkan sebuah tangkapan layar. Isinya berupa riwayat chat yang kebetulan kuperoleh, saat bedebah sebelumnya sedang asyik mengawasi.


Di situ, terdapat sebuah nomor dan sedikit percakapan. Kelihatannya memang cukup wajar, tapi banyak hal yang mengganjal pikiranku.


(+6282xxxxxxxxx)


Apa ini aman, pak?


^^^Tenang saja.^^^


(+6282xxxxxxxxx)


Saya percaya saja sih, yang kemarin juga tidak ada masalah.


......................


“Apa ini?” tanya Gilang.


“Kamu lihat bahasa yang mereka gunakan?” tanyaku, “lihat juga kode nomor mereka, +62!” lanjutku, menunjuk layar monitor.


“Apa itu penting?” sahut Roni.


“Kalian mencari tersangka, bukan?” tanyaku, “tangkap orang ini, dia pasti penjahat!”


“Kamu berlebihan,” jawab Gilang, sepele.


Dia segera berpaling, memandang sebelah mata riwayat pesan misterius itu. Mungkin terlihat seperti percakapan biasa di mata mereka. Tapi entah mengapa, firasatku sangat buruk. Aku yakin, ada maksud mengerikan dibalik pesan singkat itu.


“Berlebihan? Dia menatap percakap di dalam deep web selama sejam lebih, tanpa melakukan apapun!” seruku, “sumpah demi Alex, dia bedebah! Aku yakin akan hal itu!” tambahku.


“Tap-“


“Baiklah, kami akan periksa orang itu,” putus Gilang, “tapi selagi kami melakukannya, sebaiknya kamu telusuri lagi misteri kotak Anwar,” imbuhnya.


“Itu mustahil!” seruku, “ratusan orang mencobanya setiap hari, tapi tak ada yang berhasil!” lanjutku.


“Kalau begitu, jadilah yang pertama!” jawabnya, enteng.


“Gigimu!”


“Tidak usah emosi begitu, kumpulkan saja semua petunjuknya, biar nanti sisanya kami yang urus.”


“Setelah itu? Setelah aku berhasil menemukan semua itu, apa?”


“Apa lagi? Kamu bebas melakukan apa pun!”


“Kamu serius, Lang?” sergah Roni.


“Entah kenapa, aku merasa semuanya akan segera selesai, asalkan semua petunjuknya terkumpul,” ujarnya.


Sungguh, aku tak lagi bersemangat melakukan semua ini. Dia tidak mengatakan secara langsung. Tapi aku berasumsi, dia sadar bahwa aku tak akan bisa memecahkannya.


“Kalau begitu aku kembali ke markas, ini hampir lewat jam masuk!” pamit Gilang, “oh iya, apa kamu membuat mie? Baunya tercium dari rice cooker,” imbuhnya.


“Oh tidak!”


Aku buru-buru lari dan membuka mesin bodoh itu. Seperti yang kukhawatirkan, mie instan rebusanku sudah mengembang sebesar tali jemuran. Benda itu bahkan langsung hancur saat kuangkat menggunakan sendok.


Ini hebat!


Ternyata aku berbakat menjadi koki. Aku baru saja menemukan resep original baru yang tak akan terpikirkan oleh orang lain. Kunamakan masakan eksklusif itu, “Bubur Mie Instan with Cobochan Water.”


Jika tertarik membuatnya, kusarankan untuk menambahkan beberapa ekor lalat sebagai toping, dan masak itu sedikit lebih lama supaya kalian makin bersemangat. Semangat membuangnya ke selokan.

__ADS_1


Sialan!


Benda itu bahkan tak pantas disebut sampah. Perutku benar-benar sudah lapar, tapi sekarang aku harus membuka lagi sebungkus mie instan. Untungnya, hal bodoh ini tak membuatku melupakan keluh kesah.


Sungguh, apa yang mereka katakan kedengaran meragukan. Aku tak yakin apakah mereka benar-benar akan melepasku setelah semua petunjuk berhasil terkumpul. Tapi kukerahkan sisa-sisa tenagaku lagi hari ini.


Mataku bergerak secepat mungkin. Mengusut satu forum, lalu segera beralih ke forum lainnya. Entah berapa banyak yang sudah kutelusuri, dan mie goreng layak konsumsi ini tinggal tersisa satu suapan.


Deep web, Reddut, medsos, goomble, semuanya telah kucoba, tapi hasilnya begitu minim. Boneka, benda ini salah satu yang pasti. Aku tak bisa menghadirkan bukti fisik, tapi belasan foto dari berbagai sumber cukup menguatkan petunjuk satu ini.


Ketika ditetesi luminol, boneka itu ternyata menunjukkan bercak darah. Seseorang menduga itu merupakan kasus pembunuhan. Tapi tidak ada yang bisa memastikannya. Yang pasti, kotak ini harusnya istimewa. Tidak mungkin ini dijadikan premium jika isinya hanya iseng semata.


Sebuah plastik. Tak jelas apa maksud benda ini. Itu adalah petunjuk pasti kedua. Kelima kotak terbukti memiliki benda ini di dalamnya. Sama seperti bukti pertama, aku tak bisa menghadirkan bukti fisik. Tapi orang-orang percaya, plastik itu memiliki sidik jari terselubung yang hanya bisa dilihat menggunakan sinar ultraviolet.


Lagi-lagi, tidak ada yang tahu sidik jari siapa sebenarnya itu, tapi yang jelas; itu membentuk kata, “DAMN.” Sungguh kreatif. Ingin rasanya bertemu dengan Si Pembuat Kotak dan memberinya hadiah tonjokan.


Ada lagi sebuah tali. Orang-orang menyebutkan tentang tali kotor. Salah seorang yang mengaku pernah membeli kotak itu menjelaskan, dia batuk pilek selama seminggu setelah menyentuhnya. Orang-orang kemudian percaya, tali itu sengaja dilumuri bermacam bakteri penyebab penyakit.


Yang terakhir ada video tape. Asalkan aku bisa menemukan salinan video ini, maka tugasku secara otomatis berakhir. Sialnya, orang-orang yang pernah membeli kotak itu tak pernah mengupload video itu ke permukaan. Kalau pun, pernah video itu akan langsung dihapus pihak goomble.


Keterlaluan. Setelah tahu betapa berat PR, terkadang aku jadi malas mengerjakannya. Itu selalu terjadi sejak masih kecil. Maksudku, bagaimana caraku menghadirkan video itu? Bukti-bukti yang ada sekali pun, tak menunjukkan hubungan masuk akal sama sekali.


Yang bisa kulakukan hanya termenung, di depan layar memikirkan beberapa ide. Sesuatu mengatakan padaku bahwa itu sangat mudah. Tapi sebagian yang lain memperingatkanku akan masalah yang akan kuhadapi. Menciptakan forum, menelusuri forum, menanam virus, semuanya telah kucoba. Hanya ada satu cara lagi yang belum kucoba, tapi ini jelas memakan waktu.


Mau bagaimana lagi? Cara yang mudah memang biasanya tidak berhasil.


Aku menggali informasi sebanyak mungkin, mencari jejak-jejak yang bisa membawaku menemui titik terang. Sisa-sisa petunjuk yang mengapung di permukaan tak cukup untuk dijadikan bukti, sementara aku butuh data otentik. Lagi-lagi, aku harus menyelam.


@User_666


@Dean


@Evil_p


Dst...


Kini, sudah ratusan akun yang kuperiksa. Mereka semua adalah orang-orang senior, paling aktif di dunia Redbox. Riwayat mereka di dunia bawah sudah kupelajari, tapi tak satu pun, yang memiliki salinan video tape Anwar. Pikiranku semakin buntu, lalu tiba-tiba seseorang mengirimiku pesan.


“What are you looking for?”


Aku sungguh terkejut.


Bagaiaman dia bisa menyadari akan aktivitasku? Lalu kemudian kusadari, ia menanamkan virus ke komputerku. Benar-benar tidak sopan!


^^^“What are you meaning?” balasku.^^^


“You just stalking anyone, bast*rd! Are you a police?”


^^^“I just try to get lot money, lol!"^^^


^^^"Why do you think that?”^^^


“I got it! So, you want a try to solve this?”


(@Bluewheel, send you a picture.)


Orang ini tak pernah berhenti membuatku tercengang. Ia mengirimkan gambar kotak premium Anwar; sesuatu yang sedang kucoba pecahkan.


^^^“You right, 5k dollar for solve this one was ...”^^^


“I know! So, what do you need?”


^^^“I have anything, dude! Clue, picture, and many more."^^^


^^^"The last one is video tape! No body was upload that!”^^^


“Wait minute!”


......................


Tidak mungkin!

__ADS_1


Aku menjelajah seharian, menelusuri semua jejak satu-persatu. Bagaiamana aku bisa lupa, dia adalah orang yang paling tahu soal dunia bawah?


Harusnya, aku melakukan ini sejak awal.


(@bluewheel, send a pictures!)


Sebuah video berdurasi 1 menit lebih 26 detik kemudian terkirim ke komputerku. Aku benar-benar merasa bodoh. Semua ini hanya memakan waktu 5 menit andai saja aku tak merasa sok hebat.


“Everyone try it everyday, lol!"


"I dont expect anythink!”


^^^“I’m still trying yet, bro!"^^^


^^^"Just wait an announcement.”^^^


“As you wish! Remember to give me some tip, dude!”


^^^“Ofcourse, send me your adress!"^^^


^^^"Some Starbucks packages will be delivered to your door!”^^^


“Awesome, dude!"


"If you lie, wait the chicken carcass on your bed!”


Aku hanya bisa menggeleng. Kuputuskan menyimpan terlebih dahulu video itu, lalu kumainkan beberapa permainan. Sudah lama sekali rasanya aku tak menghibur diri.


Begitu sadar, beberapa jam telah berlalu, dan Roni tiba-tiba menepuk pundakku. Kebetulan permainan kala itu sangat buruk. Timku hanya berisikan anak-anak TK, sehingga kuputuskan keluar lebih awal.


“Ada apa?” tanyaku.


“Bisakah kamu membawakan ini ke markas?” suruhnya, menunjukkan sebuah laptop hitam pabrikan China.


“Bukannya itu punya Gilang?” tanyaku, kemudian ia mengangguk.


Aku berusaha mengelak, memikirkan beberapa siasat. Tapi dia segera mengulurkan sebuah kunci.


“Pakai motorku!” ucapnya.


Aku bahkan belum mengatakan apa pun. Tapi Roni terus menggeleng. Terpaksa kuambil kuncinya dan kubawa laptop itu. Aku benar-benar tak bisa mengelak dari orang ini.


“Bisa-bisanya dia lupa?!” gerutuku, “masukkan ke dalam tas!” imbuhku, bersiap-siap.


...


Sampai di markas, aku bergegas menunjukkan laptop itu, mengatakan maksud kedatanganku. Salah seorang kemudian memeriksa sebentar, sebelum menyuruhku menunggu.


Sambil menanti kedatangannya, kuputuskan membuka laptop miliknya. Aku tahu tak akan ada game kesukaanku. Tapi setidaknya ada permainan catur atau solitaire. Namun, aku justru mendapati sesuatu yang mengerikan.


“Bagamana kau membukanya?” tanya, Gilang.


“Apa ini?!” jawabku.


“Laptop itu harusnya terkunci, bagaimana kau membukanya?” Gilang.


“Bukankah dia orang itu? Orang yang kemarin kujelaskan? Apakah dia memang box maker?”


Gilang terdiam, merebut laptop itu dari tanganku. Bagaimana ia menatapku benar-benar mengganggu.


Kenapa dengannya? Kenapa dia menatapku, seolah melihat pembuat onar? Sungguh, aku merasa tak pantas diperlakukan seburuk itu, dan kuputuskan untuk pergi.


“Selamat menjalankan tugas, pak!” seruku.


“Mau kemana kau!” tegurnya, “hey!”


Sambil berbalik, ku acungkan jari tengah padanya. Walau sulit dipercaya, aku tak mungkin salah lihat. Selama ini, dia mengerjakan kasus kematian orang itu. Ia bahkan sudah mengetahui begitu banyak hal, tapi entah kenapa ia membiarkanku buang-buang waktu.


“Enough, i’m tired! Do it by yourself!” umpatku.


 

__ADS_1


__ADS_2