
Seketika aku menggeleng, memalingkan muka penuh emosi. Aku benar-benar merasa heran. Mama mungkin orang yang selalu bertindak berlebihan, tetapi papa biasanya lebih rasional.
Bagaimana mungkin dia juga berpikir seperti ini?
“Tapi kenapa?” tanya papa, “kenapa tiba-tiba kamu melakukan ini?” lanjutnya.
“Situasinya sedikit rumit, dia berbo-“
“Bukan itu, kenapa bertingkah tak seperti biasanya?” putusnya, “kenapa tiba-tiba menerima perjodohan ini?” tambahnya.
Aku menarik napas, memandangi keduanya silih berganti. Sembari menatap ke arah meja makan yang kosong, aku menjawab, “dari dulu, mama selalu menatap meja makan ini penuh kesedihan. Tapi entah kenapa, malah menolak menjualnya beberapa tahun lalu.”
Aku menatap mama dan melanjutkan perkataan, “saat itu, tamu papa datang berkunjung dan memberi harga yang bagus. Padahal, papa sudah setuju melepasnya.”
Keduanya diam saling tatap. Kurasa, mereka mulai teringat kejadian itu. Seperti hari ini, pertengkaran hebat juga terjadi.
......................
Sebelum kejadian itu, mama memutuskan memeriksakan diri, akibat keguguran kandungan untuk yang ke-tiga kalinya.
Melalui pemeriksaan, akhirnya diketahui; terdapat kista di dalam rahim mama yang juga menjadi penyebab gangguan kehamilan beliau selama ini. Bukan hanya itu saja, dokter juga menyarankan untuk segera melakukan operasi, karena sudah membahayakan nyawa.
Di tengah situasi itu, seorang tamu datang berkunjung yang berakhir dengan minatnya pada meja makan kami.
Anehnya, mama justru menolak menjual, sementara papa ngeyel menjualnya. Ketidaksepahaman mereka berakhir cekcok yang membuatku sempat membenci benda itu. Cuman gara-gara sebuah meja, mereka berdua jadi adu mulut.
......................
“Kenapa tidak dijual saja kalau cuman bikin ribut?” gumamku.
“Gilang!” bentak mama.
Aku mendesah, lagi-lagi teringat perdebatan mereka, dulu.
......................
Saat itu, aku meringkuk sendirian di pojokkan rumah. Tanpa sengaja, aku mendengar fakta kalau ternyata; meja ini merupakan perabot pertama yang dibeli papa.
Bahkan sampai ganti rumah pun, benda ini masih dipertahankan. Itu artinya, meja itu pasti punya nilai yang sangat berharga di mata mereka.
......................
“Lihat, lagi-lagi mama yang paling tidak setuju, padahal dia yang paling tidak menyukai meja ini!” gumamku, “tadi papa bilang, 'aku bukanlah jawabannya, kan?’ lalu, jawabannya apa?” lanjutku.
Mereka berdua masih diam, dan situasi semakin canggung. Aku tak bermaksud menjadi arogan, tetapi sudah terlanjur emosi.
“E...”
Papa hendak berkata sesuatu, tetapi dengan cepat aku menyela. Bukan maksudku menjadi anak yang kurang ajar, hanya saja aku sudah terlanjur kesal.
“Tadinya, aku begitu bingung, kenapa mama sangat ngotot menjodohkanku, tetapi setelah melihat semua ini, sekarang aku paham,” ujarku, “apakah papa masih belum sadar?” lanjutku.
“Cukup!” seru mama.
Aku hanya mendengus, lagi-lagi teringat masa-masa kelam itu.
......................
Ketika mama kehilangan rahim, papa adalah orang yang terlihat paling menderita. Awalnya, aku mengira semua itu adalah bukti cintanya, tetapi nyatanya itu adalah awal mula bencana.
Kenapa papa membeli meja yang begitu besar dan mahal itu, padahal awal pernikahan mereka berjalan sulit? Kenapa mama ngotot sekali menjodohkanku, padahal usiaku masih sangat muda? Kenapa papa terlihat sangat sedih, dan kenapa mama selalu murung di meja makan?
Jawabannya ternyata sederhana, tetapi juga begitu dilematik.
Papa berharap memiliki banyak anak, sehingga membeli meja itu. Mama yang merasa belum rela atas apa yang terjadi, menolak menjualnya. Apalagi papa terlihat sangat terpukul.
__ADS_1
Sementara itu, papa yang melihat mama sedih ingin menjualnya agar beliau tidak terlihat demikian. Keduanya sama-sama perduli satu sama lain, tetapi tak bisa saling jujur.
......................
“Sebegitu menyedihkannya-kah, melihat meja ini kosong, pa?” tanyaku.
Seketika papa menoleh ke arah mama. Raut wajahnya seolah bertanya-tanya, dari mana aku tahu, sehingga membuatku berkata lagi, “melihat meja besar ini, aku langsung tahu!”
“Gilang, jangan bicara lagi!” teriak mama.
Di saat bersamaan, papa mulai terisak, tak kuasa menahan tangis. Sambil memeluk mama, beliau mengucap maaf. Suara sesenggukan tangis mulai terdengar dari keduanya, sehingga membuatku hanya diam.
Keduanya akhirnya sepakat berhenti memaksaku menikah. Padahal, bagiku itu sudah tidak penting lagi.
"Kita hentikan saja semua ini, ma!" seru papa, "maaf selama ini tidak peka! Untuk menebusnya, aku akan di sisimu selamanya!" lanjutnya.
"Baiklah, mama mengerti!"
Mama menyahuti.
Aku memalingkan muka. Entah kenapa, tingkah mereka membuatku menggigil.
Setelah puas menangis, mama lalu bertanya dengan suara yang masih gemetaran, “omong-omong, kenapa kamu yang mengantar Fira?”
Aku menunjuk tisu di atas meja, dan mama langsung mengambil beberapa.
“Kemarin, mamanya bilang lagi sibuk, makanya aku menawarkan diri,” jawabku.
“Kenapa?”
Mama terlihat semakin penasaran.
“Ya, karena sakit,” jawabku santai.
Aku menarik napas, mempersiapkan kata-kata.
Selama ini, aku lebih banyak diam, sehingga sedikit gugup saat mencoba bicara panjang lebar.
“Sejak kecil, aku selalu meminta ini-itu, dan belum pernah mengabulkan permintaan kalian,” jawabku, “ini adalah permintaan pertama mama, bagaimana bisa aku menolaknya?” tambahku.
Sesuatu yang bening tiba-tiba saja meliuk layaknya seekor ular yang terusik. Dari kelopak mata mama yang mulai berkerut, cairan itu turun begitu cepat hingga menetes ke atas meja makan.
Sambil mengusap air mata itu, beliau mencoba senyum. Tapi seketika, ia menangis dan memeluk papa, seraya terus mengucap maaf.
“Andai saja aku tidak kehilangan rahim!” ucapnya.
“Hentikan, ma, itu bukan salahmu!” sahut papa, “ini semua gara-gara keinginanku memiliki banyak anak, dan tak bisa merelakannya. Gara-gara aku, kamu bahkan hampir mengorbankan anak kita,” lanjutnya.
“Maaf, pa!” mama.
“Lupakan saja semuanya, Lang!”
Papa menatap ke arahku. Ia terus berusaha menenangkan mama, tetapi beliau malah menangis semakin lantang.
Sambil senyum, aku menjawab, “kenapa tidak, ini tanggung jawabku.”
“Kamu tak perlu melakukan sesuatu, hanya karena terpaksa!” ujar papa.
“Tenang saja, aku pasti akan memberikan kalian cucu, sampai membuat meja ini penuh,” jawabku, “bahkan kalau perlu, sampai tidak kebagian kursi, sehingga kalian harus beli lagi,” lanjutku.
Mendengar perkataanku, papa senyum dan mengatakan, “memangnya, kamu mau membuat tim voli?”
Walaupun mama masih terus menangis, senyum itu membuatku merasa tenang. Setidaknya papa jauh lebih siap untuk menghibur beliau.
Saat ini, tidak ada yang bisa membuatnya kembali tersenyum, selain papa.
__ADS_1
......................
Tak terasa, setengah jam lebih mereka berdua berpelukan. Walaupun rasanya sungkan mengganggu momen itu, tetapi ayah adalah seorang perwakilan daerah. Belum lagi rasa malu kalau ada seseorang yang tiba-tiba berkunjung. Melihat pasangan bau tanah melakukan itu pastinya membuat orang lain merasa geli.
“Apakah papa hari ini libur?” tanyaku.
“Memangnya kenapa?” jawabnya.
“Ini udah jam setengah sembilan, lho!”
Aku menunjuk jam dinding.
Melihat waktu sudah mepet, seketika tampangnya menjadi panik. Ia langsung berdiri dan mencari kunci mobil yang biasanya ada di atas lemari, meninggalkan mama sampai beliau nyaris jatuh tersungkur.
“Mana kunci mobilku, kemarin kamu yang bawa, kan?” tanya papa, seraya menengadahkan tangan.
Menyadari kunci itu ada di kamar, aku bergegas pergi ke atas. Mama bisa menghajarku tanpa ampun, kalau melihatku tertawa.
Tapi tiba-tiba saja, ia bertanya dengan nada menyeramkan, “mau kemana kamu?!”
“N-Ngambilin kunci,” jawabku.
“Kamu itu harus jemput Fira!” ingat mama, “papa pakai mobil Gilang saja!” lanjutnya.
Bagai melihat petir di siang bolong, papa seketika melotot. Raut wajahnya pun, berubah masam.
Sambil berkacak pinggang, ia berteriak, “ogah!”
Suaranya yang lantang, bahkan membuat Mbak Tini yang sedang menyapu terperangah.
“Kamu tahu sendiri, kan mobil Gilang baunya seperti kotoran ayam?”
Ia menambahkan.
“Maka dari itu!” sahut mama, “kamu mau biarin perawan orang muntaber lagi, gara-gara naik kotoran ayam?” imbuhnya.
“Yang benar saja,” sahutku.
Keduanya seketika melotot, membuatku diam tak berkutik.
“Bukannya kita, udah sepakat, buat menghentikan perjodohan ini?” tanya papa, “biarkan dia menentukan jalan hidupnya sendiri, ma! Papa tahu, mama melakukan ini demi papa, kan? Tenang saja, papa akan selalu berada di sisi mama, kok!” lanjutnya.
“Siapa bilang?” sahut mama, “pokoknya, jangan sampai calon mantu kita mati di jalan, gara-gara naik sampah!” imbuhnya.
“Bukankah omongan kalian sudah keterlaluan?” sahutku.
Lagi-lagi, keduanya melotot menatapku. Wajah mereka terlihat sangat mengerikan, sampai-sampai membuatku nyaris terjatuh dari tangga.
“Kamu yang keterlaluan!” sambar papa, “bagaimana mungkin ada kaus kaki busuk, dan bungkusan nasi padang basi di dalam mobil?” tambahnya.
“Saat itu, mobilnya dipinjam buat pengintaian,” jelasku, “tugas pengintaian bisa memakan waktu berminggu-minggu. Untuk menghemat biaya, terkadang kami juga terpaksa tidur di dalam mobil,” imbuhku.
“Kalau tahu, kenapa kamu masih menggunakannya untuk menjemput seorang wanita!” sahut mama, “pokoknya, tukeran, ini menyangkut nama baik keluarga!” lanjutnya, terlalu mendramatisir.
Keduanya terus saja berdebat, tetapi pada akhirnya mama yang menang. Seperti biasa, papa hanya bisa tertunduk menerima nasib. Terpaksa, dia harus menggunakan mobilku. Sementara itu, aku bergegas mengambil kunci mobil papa.
Mobilku ada di dalam garasi, sementara mobil papa berada di halaman. Ia tak akan bisa keluar kalau aku tidak memindahkan mobilnya terlebih dahulu.
Saat hendak kembali turun, tiba-tiba saja aku mendengar suara teriakan.
“Gilang!!! Kenapa ada ****** ***** di dasbor?!”
Seketika aku terperangah. Aku baru ingat, kemarin Roni meminjam mobil untuk kencan bersama pacarnya.
"Si kampret!" gumamku, menepuk jidat.
__ADS_1