
You lose!
Hasil dari dua game yang kumainkan berakhir dengan kekalahan. Seperti yang sudah-sudah, melakukan sesuatu dengan kondisi perut kosong itu bukanlah ide bagus.
Perut kembali berbunyi. Kedua tanganku pun, mulai gemetaran. Pikiranku semakin tidak bisa fokus, dan kuputuskan untuk bangkit.
Namun, sesuatu di layar monitor membuatku gagal beranjak. Aku masih berada dalam in game, dan seseorang memberikanku kata-kata mutiara.
^^^Dasar noob!^^^
^^^Bisa main nggak, sih?^^^
^^^Sini aram!^^^
Kalian tahu apa artinya itu? It's time to fight!
Dengan senang hati kuladeni permintaannya. Sekali lagi, aku tenggelam dalam permainan. Tapi setelah menang pun, perasaanku tidak kunjung membaik.
Perutku masih tetap lapar, dan aku semakin malas bergerak.
Why so many mad people in the world?
Tiba-tiba, dering suara ponselku mendenting. Aku tidak terlalu banyak berharap, karena yang perhatian kepadaku hanyalah dia.
Siapa lagi yang mau mentraktirmu kalau bukan dia?
Gratis paketan 1 GB, cuman isi pulsa dua ratus ribu!
That's was, awsome! Ingin rasanya pergi ke pom bensin saat ini juga.
Kutatap lagi pesan notifikasi di layar, dan kulihat promo ojol. Biasanya, kemarahanku akan semakin menjadi-jadi. Tapi aku ingat memiliki cash back yang belum kugunakan. Mengapa tidak kuambil saja promo ini dengan menggunakan cash back itu?
That's was genius! Sekarang, aku tidak perlu lagi keluar rumah.
Aku memutuskan berbaring, mengecek pendapatan PayPol-ku yang bertambah. Kemarin 200 dollar, sekarang 202. Kalau cukup berhemat, aku masih bisa hidup sampai bulan depan. Tapi bulan berikutnya pasti akan menjadi misteri dua dunia.
Sungguh, tidak seharusnya aku begini. Tapi punggung ini selalu berat. Mataku juga serasa terbakar kalau pergi keluar rumah. Ruangan inilah satu-satunya tempat teraman di bumi. Musuhku hanyalah rasa gatal yang terkadang tiba-tiba saja muncul di kaki.
Seperti biasa aku terlalu malas untuk menggaruknya, sehingga kuputuskan menggeseknya di kasur. Sensasi panas perlahan menyembuhkan perasaan gatal itu dengan sendirinya.
Tak perlu obat, tak perlu suntik. Satu-satunya masalah yang muncul hanyalah sprei yang tiba-tiba saja menjadi hitam.
That’s was wonderful!
Gara-gara kelakuanku, aroma selimutku jadi seperti kotoran ayam. Itu artinya, sudah saatnya memberi tukang loundry rejeki nomplok.
Aku mulai bangkit. Sesuatu yang mungkin menandakan akan terjadi hujan badai. Kuputuskan membereskan semua yang perlu dicuci sekaligus. Ini adalah salah satu yang paling kubenci, selain omelan tetangga; buang-buang waktu untuk sesuatu yang tidak perlu.
Setelah semua terkumpul, masalah baru menghadangku. Bagaimana cara membawa benda ini keluar? Seseorang mungkin berpikir, aku sedang mencoba menyembunyikan mayat, karena baunya sudah seperti bangkai.
Then, aku ingat tentang pria di ujung gang. Pernah memintaku menanyakan nomor tetangga kost-ku yang cantik.
Seingatku, rumahnya dekat dengan tukang loundry, dan aku punya kartu perdana yang sebentar lagi kadaluarsa. Kenapa tidak mengundangnya ke sini saja? Langsung saja ku hubungi nomor teleponnya. Aku juga baru ingat kalau kopi instanku sudah habis.
Good idea!
Tak lama berselang pria itu pun, datang dengan mengendarai motor matic berwarna hitam. Memakai jaket levis, celana jeans sobek, dan sepatu kulit mengkilap. Dandanannya yang tidak cocok membuatku merasa geli. Apalagi rambut gondrongnya terurai, mirip seperti vokalis legendaris kesayangan kita.
“Masuk, dulu, bang! Sekalian ngopi di dalam!” ajakku.
__ADS_1
Sambil memperhatikan ke dalam, Si Argus menggeleng. Sepertinya, dia tidak tertarik mengunjungi kamarku yang berantakan. Raut wajahnya menunjukkan betapa jijiknya dia melihat ruanganku.
“Gue ada perlu habis ini!” ujarnya, meringis.
“Oh, gue ambil HP dulu, ya bang!” jawabku.
“Siap, siap, nih kopinya!”
Ia menyodorkan kopi sasetan yang aku pesan.
“Kelas! Tunggu sebentar, ya bang!”
“Oke, oke!”
Pria itu mengacungkan jempol.
Sungguh, aku jadi merasa sedikit bersalah. Dia terlihat begitu bahagia. Tapi mau bagaimana lagi, sudah terlanjur basah.
Tubuhnya jangkung, wajahnya lonjong dan agak berminyak. Sungguh penggambaran pemuda jamet kekinian. Sayangnya, aku tidak cukup memperhatikan ketika dia memperkenalkan diri. Sehingga, aku tidak bisa mengingat namanya.
Panggil saja... mm Klomang, seperti namanya yang kusimpan di dalam kontak. Apa bedanya? Toh, hari ini adalah pertemuan terakhir kami.
Aku langsung menghampirinya begitu menemukan ponsel.
“Mau langsung di save aja, apa gimana?” tanyaku.
“Kirim WA aja!” jawabnya.
“Oh, iya! Tahu repot saya kirim langsung saja tadi,” ujarku.
“Nggak papa, sekalian jalan-jalan, siapa tahu ketemu?”
“Bukan elu, Si Intan maksud gue!”
“Oh...”
Aku manggut-manggut. Rupanya gadis cantik tetanggaku itu namanya Intan.
“Sudah saya kirim, bang!” ucapku.
“Siap, kalau begitu gue langsung balik, ya!” pamitnya.
“Beneran nggak mau ngopi dulu?” tawarku, basa-basi.
“Kapan-kapan aja!” jawabnya.
“Eh, boleh nitip ini nggak, bang loundry-an?” tanyaku.
Tanpa basa-basi, aku langsung menarik karung berisi cucian kotor.
“Depan rumah gue maksudnya?” tanyanya.
“Sekalian maksudnya, tapi kalau nggak bisa juga nggak papa, kok,” anggukku.
Terlihat Si Jamet berpikir keras, seolah-olah sedang memikirkan negara. Aku heran, kenapa dia harus berpikir segala? Memangnya masih kurang baik apa lagi coba? Siapa lagi yang mau memberinya nomor?
“Oke deh, tapi entar lo ambil sendiri, ya!”
“Ya masak bawa sekampung, cuman buat ngambil begituan doang, bang? Ada-ada aja!”
__ADS_1
“Maksudnya jan, nyuruh lagi!”
“Oh, siap bang, siap!”
Langsung saja, kubawa karung itu keluar. Besar karung juga masih muat di kolong depan, sehingga tidak mengganggu perjalanan. Sambil membawa cucianku, pria itu pun, berpamitan.
Masalah terselesaikan. Sekarang aku tahu, kenapa orang-orang mencari teman. Yang perlu kulakukan sekarang tinggal mendownload aplikasi pengubah suara dan mengaktifkan kartu itu, sampai 3 hari ke depan. Ini pasti hari baikku.
...----------------...
Mendapatkan kopi gratisan membuatku jadi mager. Seperti biasa duduk di depan komputer. Aku sudah pesan makanan, jadi lebih baik membuka sosmed daripada mutar-muter. Walaupun kutahu isinya cuman orang-orang caper.
Sungguh bodoh!
At least, aku cukup paham. Tidak ada yang perduli pada akunku, atau keberadaanku di kolom komen mereka. Bahkan terkadang, aku curiga semua like itu hanyalah konspirasi. I mean, 17 adalah jumlah like terbanyak yang pernah aku peroleh. Itu pun, isinya cuman manusia-manusia jadi-jadian.
Lantas, ada apa dengan quotes sampah ini? Ratusan like dan komen memenuhi postingan omong kosong itu.
...~Adakah pria sederhana yang mau menerimaku apa adanya?~...
.
.
.
(Foto manyun, lanjut emot sedih.)
Cuih! Bacot!
Believe me! Itu cuman strategi pansos murahan yang tidak berguna. Dia bahkan bisa menemukannya di gorong-gorong, kalau cuman itu kriteria pria idaman dambaannya.
Ingin rasanya kudatangi orang yang menulis ini dan melempar poselnya ke selokan. Begitu sadar, ternyata itu akun milik anak ibu kost-ku yang masih kelas 2 SMP.
Why them display this?
Aku jadi ingin melempar CPU karena bocah itulah yang paling sering numpang wifi-an. Hanya untuk memposting curhat bucin tingkat legendaris ini. Mulutnya pun, sama julid-nya dengan Si Emak. Sungguh, kuharap dia dan Argus berjodoh.
Keduanya sama-sama menyebalkan, sehingga akan menjadi pasangan yang cukup menarik. Kalau benar terealisasi, penjual bensin eceran dekat gang juga akan mendapatkan keuntungan. Aku yakin, barang dagangannya akan laku keras. Sebab kedua pasangan itu bakalan sering bakar-bakaran.
Tok! Tok! Tok!
Sedang asyik scrolling, tiba-tiba saja suara pintu diketuk terdengar.
Itu sangat mengagetkan. Sewa kos bulan ini sudah aku bayarkan. Jadi aku masih berhak mengotori tempat ini sampai bulan depan. Biaya internet dan listrik pun, masih belum jatuh tanggal.
Ah pasti tetanggaku!
Aku lanjut scrolling, tapi suara ketukan semakin kencang.
Mungkinkah itu makanan pesananku?
Aku langsung berlari dan membuka pintu.
Tak pernah ku sangka, tubuhku ambruk. Sesuatu yang sangat kuat menarik tubuhku dan mendorongnya jatuh ke tanah.
“What the...”
“Target diamankan, siapkan mobil!”
__ADS_1
Kulihat sosok berseragam dan sebuah mobil patroli terparkir di depan sana. Aku benar-benar bingung. Seketika itu pikiranku menjadi kosong.