Kotak Merah

Kotak Merah
School Box


__ADS_3

Bel berdering lantang. Jam istirahat yang lamanya cuman setengah jam, terasa bagaikan oasis di padang tandus. Ingin rasanya mendinginkan kepala yang sudah hampir mendidih ini.


Gara-gara memikirkan rumitnya aljabar dan phytagoras, sebentar lagi rambutku pasti akan segera rontok, seperti foto orang yang menemukan rumus tersebut.


Aku tahu, beliau pasti orang-orang yang sangat pintar. Tapi terkadang aku berpikir, kenapa mereka harus menemukan semua ini? I mean, kalau saja tidak ada yang pernah menemukannya, aku pasti tidak akan disuruh mengerjakan soal-soal sulit ini. Walaupun harus mengalami kemunduran zaman yang signifikan, kupikir itu sepadan.


Sayangnya, semua orang menginginkan anak yang pintar. Demikian pula ayah-ibuku. Alhasil, dikirimlah aku ke tempat menyebalkan ini. Karena kesal, ku coret saja buku paket ini dan memberinya kacamata.


Sepenuhnya aku sadar kegiatan ini adalah suatu bentuk vandalisme dan mungkin tidak menghargai pengarang buku. Tapi hari ini sepertinya silau. Supaya makin keren, ku tambah lagi rambut mohawk agar terlihat seperti anak punk.


Sebenarnya aku tidak terlalu paham musik barat, apalagi latar belakangnya. Yang kutahu, orang-orang menganggapnya keren, sehingga sugesti itu pun, kuterima mentah-mentah. Sambil menunjukkan karya seni itu, aku tertawa geli.


Rupanya, aku mendapatkan teman sebangku yang satu frekuensi. Bahkan, dia juga menambahkan beberapa coretan lagi, yang membuat gambar itu jadi semakin konyol. Sayang karena terlalu menarik perhatian, aktivitas itu pun, membuat guru mapel jadi marah.


Sambil melempar penghapus, beliau bertanya dengan nada kesal, “apakah ada yang lucu?”


Dengan gugup, temanku menjawab, “t-tidak, pak!”


Guru mapel yang masih marah berjalan mendekat. Aku segera membalik halaman tugas, supaya aksi jahil kami tidak ketahuan.


Ia terus saja memarahi kami sepanjang sisa pelajaran. Telingaku rasanya sudah panas. Tapi sebuah adegan konyol tiba-tiba terjadi, ketika temanku dinasihati guru mapel.


......................


“Jangan diulangi lagi!” tegur beliau.


Secara tak terduga temanku justru menjawab, “saya nggak janji!”


Seketika, hadiah jitakan pun, mendarat di kepalanya.


“Kalau kepepet gimana, pak? Masak harus nahan ketawa?” kelitnya.


“Emangnya, tujuan kamu berangkat ke sekolah apa?” tanya guru mapel.


“Ngabisin uang saku,” jawabnya.


Mantap, orang jujur emang nggak ada obat.


Sebagai teman sebangku pun, aku dibuat takjub dengan isi kepalanya. Kurasa, waktu kecil dia jatuh dari gendongan, atau tali pusarnya terlambat dipotong. Makanya terkadang eror.


Namanya Ahmad, jadi ku beri saja dia julukan, Mat Eror. Karena Mat, terkadang aku jadi meragukan pilihanku sendiri.


Aku memilih tempat ini, karena nilaiku cukup bagus. Mereka bilang, hanya orang-orang dengan nem unggul saja yang diterima. Nyatanya, makhluk-makhluk ireguler macam ini tetap saja berhamburan di mana-mana. Tapi justru itu yang membuatnya menarik.


Menjadi siswa yang rajin belakangan terasa membosankan, sehingga membuatku memilih bergabung bersama anak-anak badung. Sebagai permulaan, kami menenteng tas menuju perpustakaan lama.


Tembok di sana tidak terlalu tinggi, serta tak banyak siswa mau pun, guru wira-wiri. Jam terakhir adalah pelajaran biologi, sementara guru yang mengajar sedang cuti, karena keracunan gulali. Itu artinya, tidak ada gunanya berlama-lama di tempat ini. Sejujurnya, aku tidak begitu perduli.


Pelajaran kosong tidaklah semenyebalkan itu. Lagipula, tidak ada hal lain yang ingin kukerjakan. Hanya saja, mereka menjanjikan sesuatu yang lebih menarik, ketimbang tetap tinggal di dalam kelas.


Why not? Selagi itu menarik, kenapa tidak?


Di luar dugaan, tempat yang mereka tunjukkan rupanya benar-benar menyenangkan. Bahkan, aku mulai kecanduan game online bergenre ¹FPS. Ya, mereka membawaku ke sebuah warnet.


Sejak hari itu, aku jadi jarang langsung kembali ke rumah, sepulang dari sekolah. Bahkan kalau punya uang jajan lebih, aku juga mulai suka membolos.


Permainan online dilakukan oleh individu dengan individu yang lain, sehingga membuat permainan genre yang satu ini begitu menarik. Sayangnya, beberapa orang mulai berpikir terlalu pragmatis, sehingga bermunculan cheat yang akhirnya merusak keseimbangan permainan. Minatku terhadap komputer juga berkembang dari situ.

__ADS_1


Adanya cheat membuatku tertantang melakukan hal yang sama. Bahkan, aku juga mulai belajar koding hanya demi memuaskan hasrat menjadi jago tanpa usaha. Tapi ujung-ujungnya, kesenangan bermain malah jadi berkurang, karena melakukan hal serupa. Akhirnya, aku beralih ke genre ²MOBA.


......................


“Lu ngerokok, Mat?” tanyaku, menengok biling sebelah.


Aku memakai nomor 9, sedangkan Mat menggunakan nomor 8. Saat itu sedang loading game, makanya aku melihatnya untuk menghabiskan waktu.


“Kenapa?” sahut Mat.


“Emangnya enak, ya?” tanyaku lagi.


“Lu rasain aja sendiri, nih!”


Mat menyodorkan sebungkus rokok.


Bungkusnya berwarna putih dengan tulisan dua inisial yang terkenal. Tapi ketika dibuka, rupanya isinya rokok merk tidak jelas, plagiat Gudang Suram. Isinya pun, tinggal dua batang. Kalau tidak salah, harganya cuman 500 rupiah per-batangnya.


“Rokok apaan, nih ilegal, ya?” tanyaku.


“Mau ilegal kek, intelektual kek, ireguler kek, asal ngebul gue nggak peduli!” Mat.


“Nggak usah ngegas juga kali, kan gue cuman nanya!”


Aku mengambil satu batang, serta meminjam korek api. Pelan-pelan, kuemut bagian filter. Rasanya manis seperti permen gratisan, tapi membuatku seperti mau muntah.


Aku merasa, baru saja melakukan sebuah dosa besar. Kalau ketahuan, aku pasti akan dihajar habis-habisan. Seumur hidup, aku tidak pernah merokok. Begitu pula orang tuaku. Mereka semua punya kesadaran diri yang tinggi akan kesehatan.


Aku menarik lagi rokok itu, mengendusnya beberapa kali. Bau tembakau yang tercium sangat mencurigakan. Itu membuatku sedikit ragu. Akan tetapi, tetap ku bakar ujung rokok.


“Mana, nggak keluar asep, Mat?”


“Lu isep kagak?” tanya Mat.


“Emang harus diisep, ya?” jawabku.


“Lu kira lampu Aladin, digosok doang nongol asep? Knalpot tuh, tinggal digas keluar asep!” Mat.


“Kan, gue cuman nanya!”


“Begituan lo tanyain, napa kagak sekalian lo tanyain ae, duren kudu dikupas apa kaga?!”


“Emang kalau nggak dikupas dulu, bisa dimakan?”


“Bisa, lu telen dah tuh, ama kulit-kulitnya!”


“Ye, gitu!”


“Udah cepetan isep, palingan batuk!” ujar Mat.


Chalenge accepted!


Sambil menghisap, kubakar rokok itu penuh rasa percaya diri.


“Uhuk, uhuk!”


“Kan?”

__ADS_1


Mat tertawa puas.


“Anj*r beneran keluar asep!” seruku.


“Ya iyalah, masak keluar saham!” sahut Mat.


“Buset, kek tahu ae lo!” balasku.


Aku mencoba menghisapnya lagi. Tapi lagi-lagi terbatuk-batuk.


"Uhuk, uhuk!"


"Cupu lu!" ledek Mat Eror, terus saja tertawa terbahak-bahak.


......................


Sehari setelah itu, aku membeli dua bungkus rokok, hanya untuk belajar menghisapnya. Pantang bagiku melarikan diri dari sesuatu yang sudah kumulai.


Seminggu sesudahnya, barulah aku mulai terbiasa. Mat juga mulai memperlihatkan trik-trik lain yang membuatku berpikir, merokok itu ternyata ada seninya juga. Meskipun hal itu tidak ada gunanya.


Menghembuskan lewat hidung, menyedot lagi setelah menghembuskannya, membuat asap berbentuk bundar, hingga keluar asap lewat pantat. Hm, yang ini sepertinya berlebihan.


Secara pribadi, aku tidak terlalu menikmati semua itu. Walaupun sekarang juga bisa sedikit freestyle. Salto sambil ngerokok dan keluar lewat... i'm sorry, it's a joke.


But the fact was, oksigen yang menyehatkan saja gratis, kenapa harus beli asap?


Tapi mereka selalu mengolok-olok kalau aku tidak ikut merokok.


......................


Pagi sebelum pergi ke sekolah, kami selalu nongkrong di warung dekat terminal. Di sana, mereka akan bersantai-santai, sampai mepet bel masuk. Sambil menghabiskan beberapa batang rokok tentunya. Aku benar-benar malu, karena pernah berpikir tindakan ini keren.


Hari itu adalah hari Jum'at. Aku tidak akan pernah melupakannya, karena di hari itulah perkelahian pertama dalam hidupku terjadi.


...----------------...


¹ First Person Shooter, genre permainan video yang berpusat pada senjata dan pertarungan berbasis senjata lainnya dalam perspektif orang pertama. Artinya, pemain mengalami aksi melalui sudut pandang protagonis.


Begini contohnya,


...v...


...v...


...v...



² multiplayer online battle arena, adalah sebuah subgenre dari permainan video strategi yang bermula sebagai subgenre strategi waktu nyata.


*Dalam permainan ini seorang pemain mengendalikan satu karakter dalam sebuah tim yang bertarung melawan tim pemain lainnya.


Begini contohnya,


...v...


...v...

__ADS_1


...v...



__ADS_2