
Jum’at sebenarnya hari yang pendek, bahkan paling pendek dalam seminggu. Cuman 4 jam berada di sekolah, aku tetap mendapat uang saku yang sama. Sayangnya, ada kegiatan tambahan yang membuat hari Jum’at menjadi lebih buruk ketimbang hari lainnya, yaitu Pramuka.
Pramuka adalah singkatan dari Praja Muda Karana dan merupakan organisasi atau gerakan kepanduan. Pramuka pada dasarnya memiliki tujuan untuk melatih generasi muda agar memaksimalkan setiap potensi yang ada di dalam dirinya, baik itu intelektual, spiritual, sosial, dan fisik. Tapi belakangan kegiatan itu hanyalah sebuah bentuk penindasan terselubung para senior terhadap juniornya.
Disuruh lari, makan makanan mencurigakan, hingga dimaki-maki. Yang paling menyebalkan adalah terpaksa memanggil, “kak” padahal bukan anggota saudara. Aku juga tidak yakin, mereka itu benar-benar paham tujuan utama dari kegiatan ini atau tidak. Yang kami lakukan setiap harinya hanyalah latihan dasar peraturan baris berbaris.
......................
Saat pertama kali melihatnya mungkin kalian semua berpikir itu keren, karena terlihat kompak dan bersemangat. Mereka yang bercita-cita menjadi tentara juga sangat membutuhkan pengetahuan dasar ini. Tapi orang yang tidak tertarik sepertiku selalu saja kena getahnya.
Kenapa aku harus mengasah gerakan tidak berfaedah ini setiap minggu?
Debat saja aku sampai otot kalian berhamburan. Tapi aku yakin tidak akan ada yang mau keliling komplek menggunakan gerakan itu, selama seminggu penuh.
Sudah merepotkan, menguras tenaga, belum anggapan tidak waras tetangga. Hujan nyir-nyir juga pastinya akan mengucur deras dari mulut pedas mereka. Hebatnya, turunan lain dari kegiatan ini juga sama anehnya.
Jurit malam, alias live action dari serial televisi dunia lilin misalnya. Kegiatan wajib persami ini, bahkan tidak lebih menakutkan dari rumah hantu di pasar malam. Bedanya, hantu persami bukanlah hidung belang yang suka memegang area sensitif wanita.
Kalau niatnya cuman sekedar uji nyali, kenapa tidak timpuk kepala tetangga nyir-nyir saja, coba?
Aku yakin, itu jauh lebih horor ketimbang meniru acara serba setingan itu. Menurutku, satu-satunya kegiatan yang bisa diharapkan hanyalah berkemah.
Kita tidak pernah tahu, kapan sebuah bencana dan kecelakaan datang menimpa. Suatu hari, aku mungkin harus bertahan hidup dalam keadaan yang tidak diinginkan. Kemah mengajarkan cara bertahan hidup di alam, dan pastinya sangat membantu dalam keadaan demikian. Sayangnya, acara yang seharusnya dilakukan di alam itu, malah diubah menjadi tidur di sekolah.
Hollys*it!
Tidakkah mereka mengerti, berada seharian di kelas saja sudah menjengkelkan? Kenapa tidak sekalian menginap di rumah tetangga saja, toh nyaris tidak ada bedanya?
Sampai hari ini pun, aku tidak mengerti esensi dari konsep ini. Aku heran, apakah sekolah yang memiliki sistem asrama juga melakukan kegiatan aneh ini, ya? Kalau benar, aku hanya bisa tertawa dan berharap kepala sekolahnya segera diganti.
Renungan malam, atau apalah namanya itu. Tadinya kupikir, ini akan menjadi sesuatu yang sangat menginspirasi. Ternyata mereka hanya membacakan naskah sinetron Tukang Galon Naik Begal yang tidak dipakai.
Tukang Galon Naik Begal? Yang episodenya ngalahin jumlah hutang negara itu, lho! What ever lah, who care! Just like the event!
Mereka terus saja memaksaku menangis, bahkan semakin menjengkelkan dengan kehadiran kakak kelas yang mondar-mandir. Sambil berbisik seperti preman pasar yang minta jatah, mereka membanting-banting tongkat ke tanah.
Jujur saja ya, bukannya membuat acara semakin epik, yang ada mereka kelihatan seperti topeng monyet. Aku juga cukup yakin, semua orang hanya pura-pura menangis, seperti orang-orang di sebelahku yang sesekali terdengar tertawa geli.
Menurutku, acara-acara itu harusnya diganti saja dengan sesuatu yang lebih mengedepankan tujuannya. Misalnya, pengertian tentang pertolongan pertama pada kecelakaan, cara melakukan pernapasan buatan dan CPR, atau cara menghadapi bencana alam dan peperangan.
__ADS_1
Mengajarkannya kepada generasi muda pasti akan meningkatkan keterampilan dasar medis, serta kemampuan bertahan hidup mereka. Pelajaran rambu-rambu lalu lintas dan sandi morse juga tak kalah berguna.
Sayangnya, mereka jauh lebih tertarik menggelar permainan aneh yang levelnya, bahkan tidak lebih bagus dari acara 17-an di kampungku. Duduk membuat lingkaran, menjaga air di kepala, gobak sodor, hingga tarik tambang.
......................
“Minggat aja, yuk!” ajak Mat.
“Belum absen blok, apa gunanya datang kalau nggak ke-absen?” protesku.
“Titip yang lain aja!” ujarnya.
“Minggu kemarin udah pake jurus itu, lama-lama mereka pasti curiga.”
“Bosen, nih!”
“Ya sama, tapi hari ini pokoknya selesaiin acara nggak guna ini!”
Mat mendecak, kelihatan tidak puas.
“Awas!”
Orang-orang tiba-tiba berteriak.
Entah setan apa yang merasuki tubuhku, aku tiba-tiba saja membalasnya dengan sebuah tonjokan. Padahal, tubuhnya jauh lebih besar.
Tubuhku sendiri gemetaran, apalagi saat melihat orang itu mencoba melawan balik. Namun, Mat dengan cepat ikut membantu. Beberapa kali, anak itu kena hajar olehnya. Hingga akhirnya, kakak kelas datang melerai dan memanggil guru BP. Untungnya, kami hanya mendapatkan peringatan dan diperbolehkan pulang, setelah membuat surat permintaan maaf sebanyak 15 lembar.
Anehnya, siswa yang lain tiba-tiba saja merasa takut kepadaku setelah kejadian itu. Anak yang menabrak itu pun, jadi sasaran bully Mat dan teman-temannya. Padahal aku sudah mengatakan untuk tidak lagi berurusan dengannya. Aku khawatir, lama kelamaan dia akan melapor guru BP.
Benar saja, tak lama setelahnya kami semua dipanggil ke ruang guru BP. Seseorang mengadukan perbuatan Mat kepada beliau. Kejadian ini bahkan, berbuah surat peringatan yang harus diberikan kepada orang tua kami. Jujur, aku merasa sangat bingung saat itu. Tapi untungnya, teman Mat punya ide jenius yaitu, menandatanganinya sendiri.
......................
Belakangan, diketahui pelakunya adalah teman sekelasku sendiri. Dia duduk di pojok depan dan memiliki tubuh yang tinggi. Kami semua dengan kompak mengeroyok dan memukuli dia, sampai babak belur.
Tidak sampai disitu saja, mereka juga mulai mengganti target bully. Berulang kali kukatakan untuk tidak melakukan kesalahan yang sama. Tapi tidak ada yang mau mendengarku. Mereka masih saja memintai dia uang dan menyuruhnya melakukan ini itu, sampai kenaikan kelas.
Kudengar, mereka bahkan masih saja melakukannya setelah naik kelas 8. Apalagi teman Mat juga sekelas dengan anak itu. Aku jadi lebih sering memperingatkan mereka, sampai membuat hubunganku dengan Mat menjadi renggang.
__ADS_1
Dia menuduhku pengecut dan aku membentaknya, karena tidak terima. Puncaknya, temannya ketahuan merokok dan mengadukan kami semua. Padahal saat itu aku tidak ikut sama sekali. Orang tuaku dipanggil ke sekolah, hingga membuatku merasa sangat marah.
Esoknya, aku dan anak itu bertengkar hebat. Tapi Mat membelanya. Dia dan teman-temannya tiba-tiba langsung mengeroyok. Bahkan, mereka juga mencoba melakukan perbuatan yang sama kepadaku, setelah kejadian itu.
Meminta uang, menyuruh ini itu. Sayangnya, aku terus melawan sehingga perkelahian pun, tidak terhindarkan. Saat itulah anak itu tiba-tiba datang ke kelasku.
......................
“Ayo kita lapor guru BP aja!” ajaknya.
“Ngapain?” jawabku.
“Emangnya nggak sakit, dihajar tiap hari?” tanyanya.
“Entar lama-lama juga bosen sendiri!” jawabku.
Aku ingat betul tubuhnya yang jangkung. Tidak salah lagi, dia adalah anak yang dibully Mat sejak kelas 7, anak yang juga melaporkan kami ke guru BP.
Mungkin dia berpikir, musuh kemarin adalah kawan hari ini. Tapi meskipun sekarang punya musuh yang sama, bukan berarti cara berpikir kami serupa.
Yang aku heran dulu dia berani melapor, kenapa tiba-tiba jadi pengecut?
Aku tahu gerombolan Mat dan kawan-kawan mengancamnya. Tidak mungkin pula mengalahkan mereka sendirian. Tapi bagiku, kehilangan jati diri jauh lebih menyakitkan daripada pukulan yang tidak bertenaga ini.
“Lu mau gini terus ampe lulus?” tanyanya lagi.
“Urusin aja diri lo sendiri!” jawabku.
“Kenapa, lu takut?”
“Lo sendiri?”
“G-Gue?”
“Ngasih duit, ngelakuin perintah, selama nggak diganggu nggak masalah, kan?”
“Kalau itu...”
“Kenapa tiba-tiba nyuruh gue ngadu?” putusku, “kalau nggak berani ngelawan, ya udah diem aja kayak biasanya. Nggak usah ngehasut orang lain!” lanjutku.
__ADS_1
Anak itu hanya diam.
Saat itu aku berpikir dia akan diam terus, makanya kutinggal pergi. Ternyata, dia melaporkan Mat dan teman-temannya kepada guru BP. Ya, nama anak itu adalah Gilang. Sama seperti polisi aneh itu.