Kotak Merah

Kotak Merah
Box 37 : I'm Sorry, Mom!


__ADS_3

Aku merangkak, berjalan ke arah pintu keluar. Suara kaca pecah dan beling yang jatuh berserakan, masih terus menderang. Aku terus menggedor-gedor pintu. Berharap seseorang membukanya. Atau paling tidak, ada tetangga yang mau datang. Aku benar-benar sudah tidak punya lagi tenaga yang cukup untuk berdiri.


Tak hanya lemas, seluruh tubuhku pun, rasanya sakit. Mungkin ini semua adalah karma. Selama ini aku selalu berpikir, tetangga hanyalah benalu yang mengganggu. Jadi saat melihat mereka pun, aku hanya senyum.


Sama sekali tidak pernah terbesit sebuah pikiran untuk berbuat baik, padahal hanya merekalah yang bisa diandalkan dalam keadaan seperti sekarang ini. Walaupun terkadang menyapa sekedarnya, akan tetapi, frekuensi kejadian itu sangat jarang terjadi.


“Jadi, kami cuman dibutuhkan saat seperti ini saja, ya?”


Kuyakin saat ini mereka semua pasti mengeluh, atau mungkin saja sedang berkata demikian.


I don’t deserve to complain, thats so gready!


Manusia sebagai mahluk sosial adalah makhluk yang berhubungan secara timbal-balik, atau dengan kata lain menjunjung tinggi asas give and take. When you never give, don't expect to get anything, ever!


Suara mendesing terdengar lagi. Sesuatu menghujam punggung dan mengoyak kulitku dengan begitu mudah. Bahkan sepertinya, benda itu sudah menembus daging.


Sambil memegangi perut, aku terus menggedor pintu. Persetan dengan give, i want take it right now! Just ask give, whenever you want, later! Punggung rasanya sudah seperti terbakar. Rasanya benar-benar panas dan semakin nyeri tiap detiknya.


“Tolong! Tolong!” seruku.


Suara langkah kaki terdengar dari kejauhan. Semakin lama suara itu semakin keras, pertanda seseorang sedang berjalan mendekat. Tak lama, sepasang sendal jepit berwarna merah jambu menyembul dari sela-sela pintu, membuatku menutup mulut rapat-rapat.


Aku sempat berpikir, ini mungkin saja jebakan. Bahkan sempat berniat bersembunyi, tetapi warna sendal itu kelihatan janggal. Saat ini, orang-orang itu juga berada di balik jendela.


Tok! Tok! Tok!


Pintu berdetuk terdengar, pertanda sosok itu sudah berdiri di belakang pintu.


“Permisi!” serunya, dengan suara yang lembut dan terdengar begitu sopan, “permisi!” sambungnya, meninggikan nada bicara, karena aku tidak merespon.


Kurasa, dia tetangga sebelah. Suaranya membuatku cukup yakin. Berkat dia, sosok misterius yang menodongkan senjata dari balik jendela pun, pergi dengan terburu-buru.


“T-Tolong saya, mbak!” pintaku.


“Apakah terjadi sesuatu, saya mendengar suara kaca pecah dan ledakan?” tanyanya.


“A-Aw...”


Aku mencoba mengatakan banyak hal, tapi rasa sakit ini membuatku hanya bisa mengerang.


“Ada apa, mas?”

__ADS_1


Wanita itu mengetuk pintu semakin kencang, sementara aku terdiam memegangi perut yang terasa basah.


...


Beberapa saat sebelumnya.


Ketika diam seperti yang mereka minta, tiba-tiba saja salah seorang pria misterius mengeluarkan sesuatu. Firasatku begitu buruk, sehingga kuputuskan pergi menjauh.


Benar saja, desing peluru seketika melesat melewati pelipisku. Kalau tidak menjauh, kepalaku pasti sudah berlubang. Hembus angin yang menerpa, bahkan, membuat tubuhku mematung dan gemetar ketakutan. Aku berhasil menghindari serangan pertama, tetapi sayangnya mereka terus menembak dengan membabi buta.


Rentetan dentuman mendesing lagi, diiringi suara derang kaca yang pecah. Di antara hujan peluru itu, tiga sampai empat tembakan berhasil mengenai sasaran. Salah satunya, bahkan, melukai perut bagian kiriku.


Tubuhku jatuh tersungkur, menggelinding sampai kepalaku menghantam meja. Tubuhku sudah sempoyongan, tetapi dengan sisa-sisa keinginan hidup yang tersisa, aku merangkak dan mulai menggedor-gedor pintu keluar.


...


“K-Ka...”


Ingin rasanya menyampaikan semua informasi ini, tetapi mulutku tiba-tiba saja terasa kelu. Perutku juga mulai menimbulkan bau yang amis dan semacam cairan merembes keluar dari sana.


"Aaargh!!!"


“D-Darah?”


Aku berteriak semakin heboh.


“Mas? Ada apa, mas?” tanya gadis di luar, “aku masuk, ya, mas!” lanjutnya, berusaha membuka pintu, tetapi sayangnya terkunci.


Gagang pintu hanya naik turun dan pintu masih tetap bergeming.


“Kenapa dikunci, mas?” tanyanya lagi.


“Dobrak saja, mbak!” seruku, “saya tidak kuat berdiri lagi, sebentar lagi saya mungkin akan mati!” imbuhku, lirih.


Suara menderak mulai terdengar, dan getaran pintu yang terdorong terlihat jelas. Aku segera menyingkir dari depan pintu, karena sepertinya, dia benar-benar mencoba menjebol paksa.


“Jangan menyerah, mas!” serunya, sekali lagi mencoba mendobrak masuk, tetapi sayangnya tetap gagal, “ya ampun, bagaimana ini?” rintihnya.


Aku benar-benar menyedihkan. Bagaimana mungkin menyuruh seorang wanita mendobrak pintu? Terlebih, dia mungkin gadis yang lemah gemulai. Tapi yang bisa kulakukan hanyalah mengerang kesakitan, seraya menekan perut kiriku yang terasa bak ditusuk ribuan jarum panas. Setidaknya berusaha menutup aliran darah. Kalau begini terus, cepat atau lambat aku pasti akan mati kehabisan darah.


“Tinggalkan saja saya sendiri, mbak! Sepertinya sudah terlambat!” ucapku, lirih.

__ADS_1


Sekelebat cahaya tiba-tiba saja terlihat dari sela-sela bawah pintu. Sepertinya gadis itu menyalakan senter dengan ponselnya. Di atas lantai, tangannya melambai-lambai. Akan tetapi itu tidak terlihat seperti sebuah isyarat. Kurasa, dia sedang membersihkan lantai.


Tidak lama kemudian, cahaya itu pun lenyap. Sebagai gantinya, kedua tangannya yang putih dan mulus terlihat lagi. Rambutnya yang panjang menjuntai ke lantai.


Terlihat bola mata coklatnya yang bening mengintip dari sela-sela bawah pintu. Sebagian wajahnya yang indah tersembul, semakin membuatku yakin. Tidak salah lagi, dia adalah tetanggaku yang cantik.


“Ya ampun, kamu berdarah, mas?” tanyanya.


Aku mencoba senyum, tetapi mata gadis itu sekarang jadi berkaca-kaca.


“Nggak papa, kok, mbak! Tinggalin aja!” seruku.


“Kalau niat kamu pengen mati, ngapain minta tolong aku, sih?” tanyanya.


“Siapa juga yang pengen mati, mbak, orang ketembak?”


Lagian siapa aja, juga terserah, pikirku.


“Kalau gitu, jangan nyerah, dong! Kamu pikir aku bisa tidur nyenyak, kalau kamu mati di depan muka aku begini?” Si Gadis.


“Mau gimana lagi, pintunya kekunci,” ujarku.


“Tunggu, aku akan panggil bantuan!” serunya.


Aku meresponnya dengan anggukan.


Sambil berjalan pergi, dia memperingatkan lagi, “selagi aku pergi, pokoknya kamu jangan tidur! Kamu harus jelasin semua ini!”


Wajahnya seketika terangkat dari sela-sela pintu, tersisa sandalnya yang berwarna pink dan kelihatan imut. Tapi lambat laun, benda itu pun terlihat semakin menjauh dan hilang menembus malam. Sungguh gadis idaman. Pantas saja Si Paijo ngebet minta nomor teleponnya. Tidak cuman cantik, tetapi juga baik. Setelah ini, kurasa aku akan meminta nomornya.


......................


Tiba-tiba saja aku terbatuk. Sesuatu yang hangat mengalir ke tanganku. Rasanya benar-benar lengket dan licin. Sambil senyum, kulihat tanganku yang berlumuran darah. Air mata seketika menetes, teringat tentang ibuku.


Aku baru tahu, ternyata selama ini yang mengalir di dalam tubuhku adalah sesuatu yang begitu hangat. Tapi, kenapa bisa begitu hangat? Apakah semua manusia juga begitu? Itu sangat mengejutkan. Air mata rasanya semakin tak terbendung lagi, tertekan rasa penyesalan yang membludak.


Andaikan saja aku tahu; sesuatu yang hangat ini mengalir di dalam tubuhku, pasti aku tak akan menjadi sedingin ini. Membuka diri dan lebih mempercayai orang lain, tentu jauh lebih mudah. Sebab, jauh dalam tubuh manusia, sesuatu yang begitu hangat ini terus mengalir. Tak terkecuali kita semua.


Sayangnya, orang sepertiku harus berada di tempatnya sendiri. Sekujur tubuhku tiba-tiba saja terasa dingin. Bersamaan dengan itu, rasa pahit memenuhi tubuh. Perlahan namun menyesakkan, pandangan jadi kabur dan napas mulai tersengal-sengal. Saat telingaku mendengung, pandanganku tiba-tiba saja sudah gelap, padahal masih banyak game yang belum kutamatkan.


Maafin Dimas, bu! Maafin anakmu ini yang tumbuh menjadi seseorang, yang begitu dingin!

__ADS_1


__ADS_2