
Sambil mendesah, aku menuruni tangga. Pikiranku benar-benar dipenuhi rasa malu dan amarah. Papa terus mengomel yang membuatku semakin ingin menghajar Roni. Sekali lagi aku tersadar, dia adalah rekan kerja yang menyebalkan.
Aku mengeluarkan mobil papa, memandangi lalu lalang yang membuatku merasakan sisi lain kehidupan. Orang-orang yang pergi menuju suatu tempat, mereka yang hanya diam, hingga suara kendaraan menderu. Masing-masing orang berusaha dengan kemampuan dan pikiran mereka sendiri. Itu membuatku tersadar sekali lagi, aku tidaklah sendirian mengarungi asam garam kehidupan.
Seperti yang kukatakan, tepat di ujung jalan ada sebuah sekolah menengah swasta yang berdiri. Setiap hari, ratusan siswa pulang pergi dari tempat itu yang membuat fokus ekonomi agak berpusat di sekitarnya.
Di jam sibuk, kemacetan bahkan, acap kali terjadi. Hal itu membuatku memeriksa trafik lalu lintas menuju perumahan Waser dan tempat praktek Om Hadi, melalui ponsel. Pasalnya, kedua tempat itu jauh lebih rawan macet ketimbang rumahku.
Sedang asyiknya memantau aktivitas masyarakat, sebuah mobil jenis sedan kelas menengah tiba-tiba menghalangi pandangan. Mobil berwarna hitam itu melenggang dengan suara yang masih sangat renyah.
Walaupun usianya sudah belasan tahun, mobil itu dirawat dua orang pemilik yang perhatian, secara estafet, sehingga masih sangat sehat. Bahkan, ¹velg two piece berbahan karbon yang terpasang, juga kelihatan sangat keren. Bagaimana tidak, demi membelinya, si pemilik harus menabung selama dua bulan lamanya.
“Gilang!”
Papa menurunkan jendela.
Hiruk pikuk dan pemandangan sekolah yang sedang kuperhatikan pun tertutupi wajahnya yang sudah seperti genderuwo. Dengan muka menyeramkan begitu, dia melotot menatapku.
Tanpa menanyakan testimoni pun, ketidakpuasan beliau terhadap mobil itu terlihat jelas.
“Baiklah, baiklah, nanti aku omeli Si Roni!” ucapku.
“Roni?” papa.
“Temenku yang dulu pernah mampir.”
“Oh, yang bawa motor sport itu?”
“Kemarin, dia pinjam mobil buat dipakai kencan,” anggukku.
Papa cuman mendeham, memperhatikan sekeliling mobil. Ekspresi wajahnya seperti mau bertanya, "ada juga yang mau pinjam mobil ini buat kencan?" membuatku merasa kesal.
“Sudah kubersihkan!” seruku, merasa tidak nyaman.
“Sepertinya begitu,” sahut papa, “baunya tidak seperti penampungan sampah, tetapi masih seperti di dekat got!” tambahnya.
“Cih!”
Aku hanya memalingkan muka, memendam rasa jengkel, karena ucapannya yang menyakitkan.
Orang-orang selalu berkomentar soal interior dan eksterior, serta mengabaikan mesin. Padahal, kedua elemen itu hanyalah masalah sepele.
“Emang, mobil papa yang paling wangi!”
Aku menepuk-nepuk talang air mobil papa, kesal.
“Nggak usah pegang-pegang, nanti rusak!” bentaknya.
Aku hanya mendecak, menatap interior mobil papa yang masih sangat bagus. Bagaimana tidak, mobil ²SUV pabrikan Jepang ini merupakan keluaran baru, dan berharga ratusan juta. Meskipun bukan merk superior, setidaknya orang tidak akan meremehkan mobil ini.
“Lagian, siapa yang nggak suka SUV?” pikirku.
Aku menggeleng, menyerah mencari celah untuk mengejek balik. Mobilku jelas kalah kelas dari segi manapun.
“Kenapa masih belum berangkat?” tanyaku.
“Kamu tidak merencanakan yang aneh-aneh, kan?”
Papa balik bertanya.
“Aneh-aneh gimana?”
__ADS_1
“Menamparnya, memukul, atau berbuat tidak pantas seperti semalam?”
“Papa udah cek bemper mobilnya belum?” tanyaku, melotot.
“Udah, kuat, kok!” angguknya, “emang kenapa?” lanjutnya, penasaran.
“Yakin? Belum dicoba, kan?”
Dengan wajah cemberut, aku menekan pedal gas, dan tetap menatapnya. Posisi gigi masih dalam keadaan netral, sehingga mobil hanya diam di tempat, meskipun suaranya sudah meraung-raung.
“M-Mau apa kamu?” tanya papa, kelihatan mulai tegang.
“Tes ketahanan bemper ke gerbang sekolah depan!” jawabku, mengendikkan kepala ke arah sekolah, “siapa tahu burik?” lanjutku, senyum.
“Serius, Lang!” seru papa.
“Oh gitu?”
Aku menggerakkan tuas ke kanan, lalu ke bawah. Ku angkat kaki kiri dari pedal kopling, sehingga mobil mulai berjalan mundur.
“Baiklah, baiklah!” teriak papa, panik.
Seketika aku menginjak pedal rem, menggeser pedal ke kiri, lalu naik. Walaupun kesal, aku kembali memajukan mobil ke posisi semula.
“Berhenti membicarakan omong kosong!” seruku.
“Papa cuman takut, kamu membuat mama sedih,” ujarnya, “hari ini, dia bangun pagi-pagi buat bikinin kamu sarapan. Mbak Tini sampai harus buat nasi dua kali, gara-gara mamamu gagal terus. Kamu tahu artinya apa, kan?”
Ia menambahkan.
“Aku mengerti!” anggukku, “Gilang ngelakuin ini juga demi mama, kok!” lanjutku.
Raut wajah papa terlihat sedih. Sepertinya, dia masih berpikir; aku melakukannya secara terpaksa. Pastinya, itu karena aku tidak mengatakan perihal ketertarikanku kepada Fira. Itu terlalu memalukan, sehingga aku tak menjelaskan apa-apa.
Papa mengangguk. Sambil melambaikan tangan, ia memajukan mobil dan berpamitan.
“Papa berangkat, ya!” ucapnya.
“Jangan lupa oleh-oleh, sepulang kerja!” sahutku, balas mengacungkan jempol. Sambil menunggu suara mobil ini stasioner.
......................
Aku mematikan mesin. Papa sudah berangkat kerja, dan sebentar lagi jam praktek Om Hadi akan dibuka. Aku sudah memastikan rute yang lancar, serta menghubungi perihal kedatanganku. Tugasku sekarang hanyalah mandi dan bersiap-siap.
Sambil masuk ke dalam rumah, aku menekan remot. Bunyi mobil dan lampu yang menyala membuatku geleng-geleng. Sulit dipungkiri, itu memang keren.
“Mobil baru emang beda,” gumamku, terkesan.
Sambil mendesah, aku bergegas masuk ke dalam rumah dan mencari handuk. Aku mungkin saja mulai berpikiran melenceng, kalau terlalu lama memandangi mobil orang.
Selesai mandi, aku langsung ganti pakaian dan bersiap-siap menjemput Fira. Akan tetapi mama menghadangku di depan mobil.
“Mau kemana kamu?” tanyanya, berkacak pinggang.
“Katanya suruh jemput Fira?”
Aku balik bertanya.
“Dengan pakaian begitu?” protesnya.
“Memangnya kenapa?”
__ADS_1
Aku menatap dari bawah sampai ke atas.
Sneakers berbahan denim, celana panjang jersey, serta hoodie hitam kombinasi putih. Semuanya kelihatan wajar.
“Kamu mau kencan apa berangkat nobar?”
Tiba-tiba saja, mama mengangkat hoodie yang kukenakan dan menarik kaos bola di baliknya.
“Kan, ketutupan jaket ma, nggak kelihatan!” protesku, “lagian, semua orang tahu kalau aku Milanisti sejati!” imbuhku.
“Milanisti sejati?!” tanya mama, sinis, “Milanisti sejati, kok beli baju kw?!” tambahnya.
“Baiklah, baiklah!” seruku, terpaksa naik lagi ke atas dan menggantinya dengan kaos lengan pendek biasa yang kubeli saat liburan ke bali, sewaktu SMA.
Saat itu, aku tetap membelinya meskipun ukurannya kebesaran, karena hanya baju itu saja yang kusukai. Ironisnya, sekarang hanya tinggal kaos bola dan ini saja yang masih muat di pakai.
Di luar, lagi-lagi inspeksi pakaian terjadi, dan kembali tidak lulus.
“Nggak ada lagi yang muat, ma!” protesku, “semua pakaian di lemari tinggal pakaian lama, sisa kaos bola doang!” tambahnya.
“Celana! Kenapa masih pakai celana training?!” omelnya.
“Nggak ada lagi, ma!” eyelku.
“Ya udah, pakai saja yang semalem!” mama.
“Nggak cocok sama sepatunya.”
“Ganti semua lah, sepatu, celana, kemeja, jas. Lebih baik pakai itu, daripada membiarkanmu pergi sekarang,” ujar mama, “oh iya, jasnya mana, Lang? Kemarin sepertinya nggak kamu bawa pulang? Itu mahal, lho!” lanjutnya.
Mendengar pertanyaan mama, aku segera membalik badan. Aku baru ingat, kemarin malam menggunakannya untuk menutupi pundak Fira. Seketika aku menggeleng. Kurasa, aku masih punya beberapa celana jeans.
Daripada menjelaskan itu, lebih baik mencari celana yang masih muat.
“Mau kemana?” tanya mama.
“Ganti celana, daripada pakai yang kemarin, jorok!” jawabku.
Mama terlihat senyum. Kurasa, dia belum curiga perihal jas yang kemarin dan tidak mempermasalahkan alasan tadi.
"Gawat!" gumamku.
Saat sedang memilih beberapa celana, tiba-tiba saja aku melihat notifikasi panggilan tidak terjawab. Di atas lemari, ponsel lampu LCD menyala yang membuatku penasaran.
“Roni?"
Aku membuka pola dan membuka riwayat panggilan.
“Tujuh kali!” heranku, mendapati banyaknya panggilan tak terjawab dari nomor yang sama.
Kurasa dia menelepon saat aku sedang mandi. Bersamaan dengan itu, jam kerja sudah dimulai. Curiga terjadi sesuatu di markas, aku langsung menelepon balik.
“Halo, Ron?!” tegurku.
“Cepetan balik, Lang!” jawab Roni.
Aku langsung mengernyitkan dahi. Sepertinya, aku meminta cuti secara resmi. Karena yang memanggil bukan atasan, itu artinya tidak ada perintah langsung. Meskipun demikian, suara Roni kedengaran sangat panik, sehingga membuatku penasaran.
...----------------...
¹Velg yang terdiri dari dua bagian terpisah, yang dirakit menjadi satu.
__ADS_1
²Sport Utility Vechile, merupakan jenis mobil yang ditujukan untuk bisa melewati berbagai medan.