Kotak Merah

Kotak Merah
Box 28 : Melilitus Law


__ADS_3

Kata menganiaya merujuk pada sebuah tindakan sewenang-wenang. Sebagian lebih spesifik lagi menyatakan tindakan menyiksa dan menyakiti, sebagai bagiannya. Tapi sebagai seorang pecinta damai, tentunya hal itu bertentangan dengan prinsip hidupku.


Lantas, apakah kata itu sebenarnya merujuk pada suatu tindakan lain? Sesuatu yang mendekati, atau ungkapan atas perbuatanku?


Bagiku sendiri, kata itu masih menjadi sebuah misteri. Tapi sebagai seorang yang pernah belajar ilmu dasar sosial, masalah ini seharusnya bisa dipecahkan.


Karena sesuatu yang kupelajari sepanjang hidupku dan cukup berani ku pertanggungjawaban hanyalah ilmu sosial, tentunya pendekatan yang akan ku ambil adalah ilmu sosiologi. Tapi sebelumnya, kuingatkan kepada kalian semua agar tidak menerapkan teori ini sembarangan. Tidak ada rumusan dasar yang jelas, atau studi mumpuni yang memperkuat hukum ini. Semua ini hanyalah teori asal-asalan yang kuterapkan sendiri, tanpa mendalami materi apa pun. Bahkan, ahli pendukung gagasan ini pun, memiliki riwayat mencurigakan.


Seorang ahli senam akrobatik bernama Hermanus Melilitus yang pensiun dini akibat jongkok di kloset duduk, pernah mengatakan kepadaku; suatu masalah itu tercipta akibat adanya konflik.


Kebenaran teorinya tak pernah bisa dibuktikan karena bukunya yang berjudul, "How to / the Pecel" tidak pernah dipublikasikan. Karirnya sendiri pun, terbilang pendek, akibat makan pecel lele yang sudah basi. Secara tidak sengaja, aku menemukan tulisan kasarnya yang ditolak penerbit, karena isinya yang tidak bermutu.


Sampai di sini, harusnya kalian semakin paham kalau rumusan yang kugunakan, bahkan ditemukan oleh mahluk yang bimbang menentukan judul karyanya sendiri, serta jauh dari bidangnya sendiri. Tapi kalau masih ngeyel menerapkannya, silahkan tanggung sendiri risikonya.


Anyways, aku setuju. Masalah erat kaitannya dengan konflik. Konflik sosial juga mengakibatkan penyimpangan sebagaimana saat ini terjadi. Dengan kata lain, masalah yang kuhadapi sekarang juga memiliki faktor dasar, yakni konflik.


Lantas, di manakah letak konflik itu sebenarnya?


Untuk menjawab itu, terlebih dahulu kita harus menemukan interaksi. Sebab, konflik itu tak akan pernah muncul, tanpa adanya interaksi. Pada halaman ke 8 di dalam bukunya yang tidak pernah dipublikasikan tersebut, Titanus juga menyinggung perihal interaksi yang mengakibatkan terjadinya konflik.

__ADS_1


Seperti yang pernah kukatakan, ada tiga masa yang mengharuskanku melakukan interaksi sosial. Pertama, belakangan ini. Redbox, serta masalah-masalah lain yang memaksaku menciptakan forum.


Di dalam forum itu, aku banyak melakukan interaksi dunia maya. Tapi kurasa, interaksi itu tidak menimbulkan konflik yang menjurus kepada penganiayaan, atau sesuatu yang mendekati. Kalaupun ada, itu hanyalah permasalahan kecil semisal, sarkasme atau pandangan pragmatisku. Pertemuanku dengan Gilang dan Roni juga terjadi di masa ini. Namun, sekali lagi tidak ada konflik yang menjurus pada penganiayaan.


Sampai di sini, aku mulai curiga dengan kemungkinan lain, yakni pengalihan isu. Dengan diangkatnya topik penganiayaan, keberadaan kasus pemerasan yang menimpa keluargaku, akan menjadi samar.


Cukup masuk akal, tapi bagaimana kalau kata penganiayaan ini bukanlah sesuatu yang menjurus, atau sekedar pengalihan isu seperti dugaanku? Melainkan sesuatu yang memiliki makna lebih harfiah?


Mundur lagi ke masa kuliah dan dunia kerja, lagi-lagi interaksi sosial terpaksa harus kulakukan. Sebagai seorang pelayan, aku dituntut memiliki kemampuan pelayanan publik yang memadai. Walaupun tak pernah sanggup mencapai kriteria itu, tetap saja banyak interaksi yang terjadi.


Akan tetapi, konflik yang terjadi kebanyakan bersifat akademis, senioritas, serta hierarkisme. Personal view, ketidakpuasan, hingga komplain merupakan bagian di dalamnya.


Satu-satunya produk paling berbahaya hanyalah amarah dan rasa tidak percaya, yang tidak mengarah kepada tindakan penganiayaan.


......................


Perutku berbunyi lantang. Rupanya, menggunakan akal itu menguras banyak energi. Sambil menyalakan rice cooker, kubuka akun medsos dan mulai mencari informasi tentang sekolahku dulu. Jika ada tempat lain yang memaksaku berinteraksi, itu adalah sekolah. Di sana, banyak hal pernah terjadi. Khusunya SMP.


Bisa dibilang, itu adalah masa kenakalan remaja terparah dalam sejarah kehidupanku. Banyak yang bilang, masa SMA itu masa-masa terbaik. Tapi aku tak banyak melakukan interaksi di masa SMA, sehingga yang kurasakan hanya seperti numpang minum.

__ADS_1


Konflik terberat yang terjadi di masa itu hanyalah kekecewaan dan kerja keras bagai kuda. Dengan kata lain, satu-satunya masa yang memerlukan kajian mendalam adalah SMP.


Aku semakin jauh memeriksa. Sambil meraih mie instan dari dalam lemari, kulihat foto-foto lama tahun ajaran pertamaku di SMP. Kelas 7D dengan wakil kelas pria tua berambut putih. Foto itu diambil di depan tangga, serta dijadikan latar belakang kalender tahunan. Halaman pastinya di bulan Oktober.


Kami semua berjejer rapi tanpa kehadiranku yang saat itu bolos sekolah. Di dalam foto itu, kulihat sosok pemuda bertubuh paling tinggi.


Seketika, mie instan yang hendak kuambil terjatuh. Sel-sel di kepalaku tiba-tiba bereaksi. Sengatan neuron menyambar memori lama yang tidak pernah dipakai lagi. Semua itu terkubur bersama seluruh ingatan kelam yang selalu berusaha untuk kulupakan.


Aku mencoba mengingat lagi semua ilmu dasar yang kupelajari, serta buku pedoman hukum Melilitus yang melegenda. Sayangnya, karyanya hanya memuat tutorial makan pecel lele, dan tidak bisa digunakan untuk menjawab masalah serius ini. Langkah-langkah dasar yang tertulis sama sekali tidak bisa dijadikan referensi.


Sekujur tubuh mulai gemetar, merangkai kemungkinan paling mengerikan. Semua ini terlalu masuk akal untuk bisa disangkal. Bahkan, semakin relevan bila dihubungkan dengan perilaku Roni.


Jika dia merasa bersimpati kepada Gilang dan tetap menghargai hak-hakku, maka dia tidak akan pernah berkata, "kamu pantas menerimanya." Kata-kata itu terlalu provokatif dan terkesan memicu permasalahan baru.


Dia seharusnya mengatakan, "itu hanyalah hal sepele," atau sesuatu yang tidak menyudutkan salah satu pihak dengan begitu kentara. Dengan demikian kemungkinan menghindari tuntutan balik yang mungkin saja kulayangkan. Akibat uang 3 juta permintaan ganti rugi kepada keluargaku yang tidak masuk akal itu, akan semakin besar.


Sebaliknya, mengatakan sesuatu yang begitu provokatif menunjukkan, seberapa besar porsi keberpihakannya kepada Gilang. Serta menjadi tolak ukur yang jelas, seberapa tidak perdulinya dia kepadaku. Parameter ini bahkan seolah menyatakan, persetan denganku.


Dalam kondisi yang buruk, aku bisa saja melayangkan gugatan balik saat itu juga. Tapi setelah melihat foto ini, alasan ke-tidak berpihakkannya menjadi bisa dimaklumi. Kata-katanya bahkan, menjadi sangat pantas diucapkan. Di saat yang sama, itu menjadi tamparan yang amat keras bagiku.

__ADS_1


Sebenarnya, tidak banyak kebatilan yang kulakukan. Itu berbanding lurus dengan sedikitnya kebajikan yang kulakukan. Tapi sekalinya melakukannya, itu menjadi sesuatu yang menggelinding bagaikan bola es. Hal sepele yang selama ini kupandang sebelah mata, rupanya menjelma menjadi masalah yang besarnya tak terkira.


Halaman terakhir hukum Melilitus mengatakan, apa yang kita tabur itulah yang kita tuai. Perumpamaan itu benar-benar harus dicamkan dan direnungkan dengan hati. Penyesalan akan selalu datang belakangan, dan tak pernah bisa kembali. Jika sudah benar-benar terlambat, semunya tak akan bisa diperbaiki lagi.


__ADS_2