Kotak Merah

Kotak Merah
Box 34 : Is This Real?


__ADS_3

Tak terasa, jam sudah menunjukkan pukul 2 dini hari. Tapi mataku masih menolak terpejam. Kepala terus saja berkutat dengan masalah, sehingga kuputuskan bangun lagi. Sesuatu yang membuatku jengkel ialah; terbangun di jam tanggung seperti ini selalu saja membuat perut keroncongan. Orang-orang bilang, makan dini hari itu tidak menyehatkan, jadi kuputuskan minum saja.


Setelah menengguk segelas air putih, aku kembali berbaring di atas kasur dan menyetel musik klasik. Sudah kuduga, cara ini gagal. Rasa kantuk tetap belum mau menampakkan diri. Oh iya, aku ingat punya obat tidur yang pernah kubeli tahun lalu. Mungkin saja itu belum kadaluarsa, tapi kuputuskan mengosongkan pikiran dan melakukan meditasi ringan. Bukannya takut keracunan, aku hanya tidak mau kecanduan dan menjadi ketergantungan.


......................


Ketika bangun, tubuhku terasa sangat aneh. Tanganku bahkan sempat tidak bisa digerakkan, sehingga membuatku sangat panik dan berlari kesana-kemari, seperti orang kesurupan. Kupikir tanganku patah, tetapi setelah beberapa menit, untungnya keduanya bergerak lagi.


Syukurlah, ternyata memang cuman kesemutan biasa Benar-benar pagi yang menegangkan. Bisa tidur adalah sesuatu yang melegakan, tetapi di saat yang sama juga menakutkan. Terkadang, aku takut tidak bisa bangun lagi, atau sesuatu terjadi ketika aku sedang tidur. Hm, meditasi sepertinya jurus yang ampuh. Tapi sebaiknya, posisi tidur juga harus diperhatikan.


Write it well in your diary book!


Sikutku masih sedikit ngilu gara-gara kesemutan tadi pagi. Itu membuatku merasa risih untuk bermain game. Tapi mungkin saja ini tidak berlangsung lama, jadi kuputuskan menyalakan komputer.


Sambil membuat kopi, aku menengok kamar mandi sebentar. Kurasa itu ide yang buruk. Kemarin aku sudah mandi, jadi skip saja hari ini. Untuk jaga-jaga, aku mencium badanku sendiri.


Hm, tidak masalah!


Aku menganggukkan kepala. Sedikit bau memang. Tapi itu masih cukup aman, karena lalat belum mati saat menempel tubuhku. No problemo, kambing saja tetap enak, walaupun baunya amit-amit.


......................


Saat kembali, kulihat komputer sudah menyala. Sayangnya, sikutku masih ngilu. Terpaksa aku hanya membuka media sosial agar beban yang diterimanya tidak terlalu berat.


Sesutu yang pertama kali nongol di sana ialah permintaan pertemanan dan pemberitahuan grup jual beli online yang kuikuti.


Aku tidak terlalu perduli dengan pertemanan dunia maya, sehingga kuabaikan saja semua itu. Sayangnya, aku salah pencet dan malah masuk ke grup lawak itu. Mau bagaimana lagi sikutku masih kaku, jadi tidak usah terlalu banyak marah-marah.


Aku heran, banyak sekali orang-orang menjual HP Siomay. Tapi yang lebih mengherankan adalah; komentar orang-orang yang sangat tidak rasional. Mereka benar-benar sangat lucu. Kurasa waktu kecil orang-orang ini pernah pipis di celana tetangga, makanya urat malu mereka setipis kertas.


Di keterangan saja Si Penjual sudah menuliskan BU, kenapa masih saja ada ngeyel **. Ya kalau masih sama-sama ponsel. Yang ini vapor dan helm standar pabrikan.


Sekalian saja ** ****** ***** bekas, atau pembalut basah!

__ADS_1


Bahkan saking konyolnya, aku sampai bertanya pada diriku sendiri.


Sebenarnya aku di mana? Kenapa ada yang jualan burung di lapak jual beli ponsel?


Kurasa aku tidak akan kaget kalau ada yang melelang tuyul, atau mengobral jenglot di grup ini.


Itulah sebabnya, aku selalu menyebut grup ini lawak. Bahkan walaupun cuman sebentar, aku sudah merasa sangat puas. Puas menahan murka dan rasa ingin membakar dunia.


Very stupid day!


Tanganku bahkan sudah siap di tombol log out. Tapi sesuatu membuatku mengurungkan niat itu. Ternyata ada seseorang yang mengirim pesan. Sambil menarik napas, kuurungkan niatku untuk keluar.


Aku mencoba mempersiapkan diri, kalau-kalau isi pesan itu mencubit hati. Sudah kebal rasanya mendapat caci maki. Daya tahanku sudah sudah sekuat besi, akan tetapi, sesuatu yang berbeda terjadi.


Dari namanya saja, aku tahu kami tidak saling mengikuti. Fotonya pun, terlihat minta diupili. 'GilangNak Penyayangnbaikhati.'


Haruskah aku mulai berdiri dan menyumpahi? Sungguh hari yang sangat membagongi!


^^^“Hapus semua yang ada di komputermu sekarang juga!”^^^


Baiklah, cukup dengan resolusi “i” yang menyebalkan ini.


......................


Pesan itu ditulis jam empat pagi. Itu artinya, hanya beberapa jam sebelum aku tertidur lagi. Entah apa maksud sebenarnya dia menulis ini. Tapi yang jelas dia adalah Gilang, tidak salah lagi.


Beberapa foto masa mudanya terpampang di koleksi foto profil lamanya dan juga di galeri. Posenya benar-benar menggelikan, persis seperti seorang banci. Kalau aku, pasti akan merasa sangat malu, sampai-sampai mau bunuh diri.


Tunggu sebentar, kenapa masih berakhiran i?


What ever-lah!


Sebuah informasi baru, ternyata Gilang itu anak alay. Nanti kalau ke sini, aku akan menjadikan ini sebagai bahan rosting-an. Tapi ngomong-omong, sampai hari berganti petang pun, si Kadal Rawa itu tidak menampakkan batang hidungnya. Hal itu membuatku merasa curiga pada pesan itu.

__ADS_1


Aku mencoba menghubunginya balik. Tapi akun itu sudah tidak bisa lagi dihubungi. Semua foto-foto dan informasi yang tertera lenyap. Tersisa tanda gembok dan indikasi kalau akun itu sudah dihapus. Bahkan, pesan yang dia kirimkan pun, hilang bagaikan ditelan bumi.


Apakah terjadi sesuatu?


Aku benar-benar mulai merasa cemas.


Kemarin, dia baru saja membawa video yang kupikir, hanyalah sebuah ulah iseng semata. Dengan wajah senang dia berkata, 'itu adalah bukti penting.’ Hal itu membuatku tergelitik mencermatinya sekali lagi.


Sayangnya, itu terlalu sulit untuk otakku yang isinya hanya DOTB dan Mobilentut. Walaupun begitu, aku nekat saja masuk ke situs Redbox dan menjelajah ke kotak Anwar yang sekarang sudah dijadikan betting box.


Tanpa persiapan apa pun, aku mulai menuliskan jawaban layaknya bocah caper yang sedang ditanyai oleh guru cantik. Tidak usah diragukan lagi, semua jawaban itu salah. Tersisa satu kesempatan terakhir, sebelum Redbox memblokir akun, beserta ip adressku, dan tidak memperbolehkanku membuat jawaban, sampai dua puluh empat jam ke depan. Tapi di kesempatan terakhir sebuah keajaiban terjadi.


...“Congratulations!”...


Layar tiba-tiba berkedip dan memperlihatkan tulisan itu.


Aku terperangah, melongo tak percaya. Forum tiba-tiba saja ramai dengan komentar-komentar iri. Bibir rasanya kaku, tidak mau berhenti senyum. Pandangan yang sebelumnya jelas pun, tiba-tiba serasa kabur.


Ingin rasanya berteriak dengan keras, tapi itu pasti membuatku mendapatkan teguran dari para tetangga menyebalkan itu. Suara keyboard dan mouse yang beradu masih terus mendetuk.


Sekali lagi kuperiksa keadaan kotak. Kucubit pipiku setiap kali melihat tanda yang tertera. Berapa kali pun melihat, tetap saja statusnya sudah terpecahkan. Itu artinya, aku benar-benar baru saja memenangkan uang sebesar 5.213 USD.


Is this real?


Aku masih tidak percaya, mereka menghubungi dan meminta nomor rekeningku. Kedua tanganku, bahkan, sampai gemetaran. Kaki melompat riang, tak bisa diam di pangkuan. Tanpa rasa sungkan, kuisi data diri dan semua yang mereka butuhkan, seperti biasanya ketika baru saja memecahkan sebuah kotak.


Mungkin, ini adalah pencapaian terbesar dalam hidupku.


Sambil berdiri, terus kuisi kolom-kolom itu hingga penuh.


Siapa yang perduli soal informasi pribadi. Sepanjang hidup, aku tak pernah merasa memenangkan sesuatu, tetapi rasanya hari ini semuanya berakhir. Aku memenangkan sebuah betting box, kotak yang tiap harinya dijadikan taruhan makhluk-makhluk kurang kerjaan.


Mungkinkah ini yang orang-orang bilang, kejatuhan durian beserta gerobaknya?

__ADS_1


I’m sorry, lupakan ibarat ngawur itu!


 


__ADS_2