
Tidak salah lagi. Tubuh yang tinggi adalah buktinya. Bekas luka yang ada di wajahnya pasti ulah Mat dan kawan-kawan.
Kudengar mereka menghajarnya begitu parah. Tapi mereka semua dihajar balik oleh orang tidak dikenal. Bahkan beberapa sampai keluar dari sekolah, karena ketakutan. Anak-anak yang dikeluarkan itu juga kesulitan mencari sekolah baru. Mereka tidak pernah membahasnya. Tapi aku yakin, Gilang pasti ada hubungannya dengan insiden itu.
Kurasa dia berniat balas dendam. Kebaikannya hari ini hanyalah sekedar siasat busuk seorang psikopat. Menyiksaku pelan-pelan lalu setelah tidak berguna lagi, baru menjadikan kambing hitam dan membunuhku. Ya, itu benar-benar akan menjadi sebuah balas dendam yang sempurna. Bahkan, tubuhku sampai merinding.
Pantas saja, dia sangat membenciku sejak pertama kali bertemu. Tingkah laku Roni hari ini juga terasa masuk akal. Permasalahannya adalah, kenapa tiba-tiba saja mereka muncul?
After so long, why only now?
Kurasa itu tidaklah penting.
Psikopat sejati pasti rela menunggu sepanjang waktu. Saat melihat blunder dan celah, barulah mereka melempar dadu. Skenario ini benar-benar sangat sempurna untuk menjebakku. Orang-orang mati akibat Redbox tanpa bisa berbuat sesuatu. Tidak ada bedanya jika cuman bertambah satu. Mereka pasti tidak akan mau buang-buang waktu dan mencari tahu.
Tok! Tok! Tok!
“Kuntilanak!”
Tiba-tiba saja pintu berdetuk, padahal sudah jam delapan malam lewat. Itu membuat jiwa insinyur-ku jadi bergetar. Cetak biru sebuah desain rumah idaman seketika muncul di kepala.
Kalau aku punya rejeki lebih, kelak aku akan membangun rumah full tembok dan jendela, tanpa adanya pintu seperti game bocil legendaris itu. Biar saja keluar masuknya lewat jendela, sekalian mengasah kemampuan parkur-ku yang sangat diakui dunia. Diakui menyedihkan, tentu saja. Tidak perlu cemberut begitu.
Siapakah gerangan, orang aneh yang bertamu malam-malam begini?
Orang waras pasti menghargai waktu beristirahat orang lain.
Sungguh, perasaanku benar-benar tidak enak. Tapi aku tidak mau tetangga yang lain jadi terganggu. Itu tidak ada bedanya dengan orang aneh ini. Mau tidak mau, aku terpaksa berjalan mendekat.
......................
Sungguh menyebalkan. Harusnya aku memakai jaket. Udara malam ini begitu dingin, seakan mencoba merobek kulit. Kupercepat pekerjaan, karena rasa dingin yang begitu parah. Bahkan gagang pintu ini sudah seperti balok es.
Pintu tua kos mulai berderit, karena engsel berkarat yang tidak pernah mendapatkan perawatan. Aku setuju, suaranya memang mengganggu. Tapi aku tidak perduli. Toh, tempat ini tidak akan pernah jadi milikku, meskipun setiap bulannya ratusan ribu keluar dari dompetku.
Siluet manusia tinggi besar tiba-tiba saja berdiri di depan pintu. Sambil mengangkat tangan. Aku yakin, dia hendak mengetuk lagi. Baru setengah terbuka, langsung buru-buru kututup lagi pintu ini.
Tok! Tok! Tok!
Orang aneh itu terus saja mengetuk.
Aku benar-benar panik. Sampai-sampai, jantung berdegup cepat. Baru saja memikirkan ini seharian. Siapa sangka, kedatangannya akan begitu cepat.
“Keluarlah, aku tahu kamu di dalam!” serunya.
“Mau apa malam-malam begini, datang?” tanyaku.
__ADS_1
“Buka dulu pintunya!” Gilang.
“Enggak, jawab dulu pertanyaanku!”
“Kamu pergi buru-buru sekali tadi, makanya aku kesini,” jelasnya, “kamu nggak apa-apa, kan? Bukain pintunya, dong!” lanjutnya.
“Apa maumu? Kenapa menyiksa lalu tiba-tiba berubah pikiran?”
“Apa maksudmu?”
“Menurutmu ini menyenangkan?”
“Kau mau seperti ini semalaman? Orang-orang pasti akan terganggu!”
Gilang terlihat putus asa.
Aku terus mengintip dari lubang kunci, memikirkan pendapatnya. Aku setuju itu bukan ide yang bagus. Walaupun berhadapan dengannya sangat menyebalkan, mengganggu tetangga bukanlah tindakan terpuji. Terpaksa kubuka lagi pintu ini dan langsung menyesalinya sedetik kemudian.
Benar-benar bodoh! Apa yang ada di kepalaku? Kenapa membiarkan psikopat ini masuk begitu saja?
......................
Dengan santainya, Gilang membuka jaket dan duduk seperti biasanya. Saat ini sosoknya yang tinggi besar terlihat bagaikan monster.
“S-Sekarang katakan, apa maumu?” tanyaku, gugup.
“Uang kah, atau nyawa?” tanyaku lagi, “apapun itu, lakukan saja sekarang!” lanjutku.
Tiba-tiba, Gilang melotot. Sambil membanting sebuah amplop, dia berkata, “aku tidak butuh uangmu, itu ambil lagi saja!”
Tubuhku berkeringat dingin. Saliva yang bergerombol di mulut seketika tertelan, bersama rasa ketakutan yang menyeruak. Jika bukan materi, apakah itu berarti tujuannya memang merenggut nyawa?
Aku semakin menyesali keputusanku membuka pintu. Sambil meregangkan kedua tangan, kuhembuskan napas panjang pertanda ketetapan hati.
“Lakukanlah, dan jauhi keluargaku setelah urusanmu selesai!” seruku.
Mataku sudah terpejam, siap menerima takdir usiaku yang pendek. Dalam gelap itu, aku mendengar suara langkah kaki.
Pelan-pelan kubuka lagi kedua mataku yang terpejam. Tapi keduanya seketika kembali tertutup. Sosok Gilang yang berdiri membuatku sangat panik dan merasa tidak sanggup melihatnya.
“Punya kopi nggak?” tanyanya.
“Hah?”
Seketika mataku terbelalak. Bukannya mengeksekusi, dia malah berjalan melewatiku begitu saja.
__ADS_1
“Kenapa?”
Aku benar-benar merasa sangat bingung.
“Kenapa, ya diminum-lah masak buat mandi?!” jawab Gilang.
“Kenapa tidak kamu lakukan?” tanyaku.
“Melakukan apa? Aku tidak tertarik sama keluargamu!” Gilang.
“Bukankah kamu ke sini buat balas dendam?”
“Dendam? Dendam apaan, Nyi Pelet?”
“Nggak usah bahas acara bahela tidak menarik itu, aku tahu kamu alumni SMP-ku, kan?”
“Kenapa, aku suka backsoundnya, dendam Nyi Pelet...”
“Belum pernah ditabok Anjasmara, ya?” putusku.
“Gimana, udah tenang belum?”
Gilang senyum, membuka kopi instan milikku dengan tampang tidak berdosa. Sambil menuangkannya ke gelas dan menyalakan dispenser, dia berkata lagi, “dari dulu, kamu emang suka bercanda, kan?”
Aku semakin bingung. Kepalaku benar-benar pening memikirkan semua masalah ini.
Kenapa dia malah enak-enakan ngopi, coba?
“Kamu datang ke sini bukannya mau membunuh?” tanyaku.
“Hah?”
Saking kagetnya, Gilang langsung mematikan dispenser.
“Bukannya kamu dendam?” tanyaku lagi.
“Oh, gitu toh?” gumamnya, seraya menyalakan lagi dispenser.
Sambil membawa segelas kopi, dia duduk lagi di ruang tamu. Dengan santainya, ia berkata lagi, “kalau dipikir-pikir, itu salahku sendiri. Kenapa mengadukan kalian, padahal bukan urusanku. Aku terlalu sok pahlawan, ikut campur masalah orang lain. Dia seharusnya melaporkannya sendiri, kalau memang merasa keberatan.”
Aku semakin bingung, merasa cukup percaya diri Roni mengetahui masa lalu kami. Tindakannya hari ini menunjukkan itu.
Itu artinya, Gilang sudah menceritakan ini. Dengan kata lain, dia masih memendam rasa dendam atau paling tidak mengingat itu sebagai sebuah kenangan buruk.
“Kalau kamu ingin balas dendam, katakan saja!” seruku, “kalau kamu benci seseorang, katakan saja! Orang tidak akan tahu, selama kamu tetap diam. Diam itu emas, tapi tidak ada yang tahu keinginan orang diam,” tambahku.
__ADS_1
Tiba-tiba Gilang senyum. Pemuda tinggi besar yang hendak menyeruput kopi itu pun, tidak jadi melakukannya. Sambil menarik napas dia menggumam, “lagi-lagi kamu memberikan kata-kata yang sangat menginspirasi!”
Inspirasi apa? Dia pikir aku Mario Teluh?