Kotak Merah

Kotak Merah
Box 10 : Goodbye Social Life!


__ADS_3

Tanganku masih terborgol, sehingga tidak bisa memakai baju. Dibumbui kekerasan, mereka memaksaku masuk mobil dan membawaku menuju kantor polisi.


Selamat tinggal kehidupan sosial!


Saat memasuki pintu gerbang, air mataku berderai. Kelulusan SMA baru saja terjadi 3 tahun lalu. Itu artinya, baru 2 tahun aku bergabung dalam kehidupan bermasyarakat. Aku bahkan masih sering berhalusinasi berangkat sekolah. Meskipun sangat membenci aktivitas belajar.


It must a dream!


Terkadang, mimpi memang berjalan panjang. Mungkin butuh sedikit waktu lagi?


Pandangan semakin buram. Itu pasti pertanda kalau aku akan segera bangun. Sampai tiba-tiba, seseorang mencolek kepalaku.


“Kamu dengar apa yang saya katakan tidak, sih?!” bentaknya.


Aku terperangah. Lagi-lagi air mata menetes. Aku tak bisa lari. Hidupku benar-benar sudah berakhir.


“Lihat ini!”


Pria itu membalik sebuah laptop, menunjukkan beberapa foto gadis cantik.


Kulitnya putih, hidungnya mancung, alis mata tebal, serta memiliki bodi seperti gitar Spanyol. Dari 1-10, aku memberinya nilai 8. Tapi sayangnya, tidak masuk kriteria idaman.


Matanya kelihatan genit, dan semua pakaian yang dia kenakan terlalu terbuka. Kurasa, dia gadis yang cukup rewel. Masalahnya adalah, kenapa dia menunjukkannya kepadaku?


“Siapa dia?” tanyaku.


“Bukankah kamu yang lebih kenal?” balasnya.


Are you kidding me?


Aku hanya plonga-plongo, menggelengkan kepala. Gadis itu bahkan memiliki mata berwarna biru kehijauan dan rambut pirang.


Mana mungkin aku mengenalnya? Meskipun begitu, aku berusaha lebih keras untuk mengingat ini. Siapa tahu, dia istri yang tidak diketahui orang tuaku?


Who knows?


“Bolehkah saya...”


“Silahkan!” putusnya.


Aku segera meraih laptop tadi dan mulai menggerakkan mouse.


Oke, itu membuatku sedikit minder. Dia memiliki tinggi badan 172 cm. Sedikit lebih tinggi dariku. Umurnya 19 tahun, berarti tidak terpaut begitu jauh.


Golongan darahnya A, sementara aku O. Aku tidak terlalu paham ilmu fengshui. Tapi aku cukup yakin tidak akan ada masalah. Aku juga tidak perduli dengan weton, sehingga tidak terlalu khawatir, meskipun dia lahir di bulan April.

__ADS_1


Moscow? No broblem! Kudengar tempat itu ada di Rusia. Paling beberapa jam saja kalau naik metro mini.


Aku menggeleng. Jelas bukan itu tujuan mereka menunjukkannya. Lantas, kenapa mereka menunjukkan ini? Riwayat penyakit, statusnya sebagai mahasiswa, hingga silsilah keluarga. Semua nama-nama itu benar-benar sulit dibaca.


This is bullshit!


Jika ini adalah acara katakan bucin, i will saya no.


“Saya benar-benar tidak mengenalnya, pak!” akuku.


Si Petugas menggeleng. Entah kenapa terlihat sangat yakin kalau aku sedang berbohong.


“Rose William’s, tidak mungkin kamu tidak tahu!”


“What?!”


Aku kembali memeriksa laptop, memeriksa lagi wajahnya yang mirip wanita di film Spider-Man. Aku segera membuka medsos dan membandingkan foto yang ada di laptop itu. Rupanya, mereka mirip.


“Kakak online?” ingatku.


“Kakak online?” sahut Si Petugas.


Tidak salah lagi. Dia adalah gadis aneh yang mencoba memecahkan masalah adiknya secara online. Kurasa, mereka dilahirkan via download.


Ia menatap datar. Tapi aku masih senyum-senyum sendiri menahan tawa.


“T-Tidak ada, pak gadis itu cuman aneh!” jawabku.


“Aneh bagaimana?” Si Petugas.


“Dia mencoba memecahkan masalah lewat forum Reddut, di mana orang-orang aneh berkumpul.”


“Menurutmu itu lucu?”


“Ya, dunia ini lucu!”


“Lucu, ya?”


Si petugas tiba-tiba berdiri. Ekspresi wajahnya berubah, membuatku mulai merasa cemas.


Benar saja, dia tiba-tiba saja menampar. Tak puas, dia juga menjambak dan membenturkan kepalaku.


“Lihat ini!”


Ia menunjukkan sebuah gambar yang terlihat buram. Itu seperti potongan rekaman CCTV yang diperbesar. Terbukti dari angka-angka penunjuk waktu di pojok gambar.

__ADS_1


“Gadis itu sekarang kritis, setelah berkomunikasi denganmu!” tudingnya, “kamu merasa memberinya saran?” lanjutnya.


Aku memeriksa lagi, jauh lebih teliti dari sebelumnya.


No way!


Empat luka tusuk yang menyebabkan pendarahan ekstrem.


Ini benar-benar gila. Ibarat dokter, aku hanya memberikannya vitamin. Cuman sekedar saran general yang biasa dikatakan tetangga ketika kita ada masalah.


Kuharap, dia hanya mengalami tifus atau penyakit umum lainnya, dan data-data ini semuanya palsu.


“Apa yang terjadi?” tanyaku.


“Adiknya menusuknya!” jawab Si Petugas.


“Bagaimana mungkin?”


“Justru kami yang penasaran, apa yang kamu sarankan kepadanya, sehingga dia menusuk kakaknya sendiri dengan membabi buta?”


Aku menggeleng, sangat keberatan bila harus diperlakukan sebagai tersangka. Lagipula, pelakunya adiknya sendiri. Apa urusannya denganku?


Pengakuannya pun, sangat tidak masuk akal. Bocah itu menikam kakaknya, karena ditakut-takuti dengan sebuah kotak pizza.


Lol!


Dunia benar-benar sudah gila. Itulah akibatnya kalau terlalu sering main game mobile. Baru kali ini aku mendengar, ada orang phobia dengan kotak pizza.


“Saya tidak pernah menyuruhnya melakukan itu, pak!”


Tanpa rasa takut, kutunjukkan rekaman percakapan kami. Itu adalah bukti yang sangat otentik. Tapi anehnya, Si Petugas menggeleng. Aku benar-benar tidak mengerti, apa masalahnya.


Kenapa semua kesialan berkumpul kepadaku?


...****************...


...Thank you for picking one, detective!


...


...Your beloved box, will send later....


...County your last 3rd wonderful day's!


...

__ADS_1


__ADS_2