
Begitu suara mobil sudah stasioner, aku segera mematikan mesin. Sementara itu, Fira masih tetap diam di dalam mobil dengan wajah yang ketakutan. Situasi menjadi semakin canggung tatkala gadis itu tiba-tiba saja memandangiku dengan tatapan memelas.
Tak ingin berada dalam situasi itu, aku segera turun dan menghampirinya dari luar.
“Buka pintunya!” seruku.
Saat membuka pintu, dia terlihat mengusap kedua bahunya sendiri. Sepertinya, gadis itu kedinginan.
Tanpa pikir panjang, aku langsung membuka jas dan memakaikan itu kepadanya. Yang membuatku tidak nyaman, gadis itu terus menatapku dengan tatapan penuh arti.
“Ini benar-benar tidak beres,” pikirku, sembari berbalik.
Bermaksud menggendongnya lagi seperti di restoran, aku segera jongkok dan meletakkan kedua tangan di belakang.
“Apa?” tanya Fira.
“Kamu mau jalan dengan keadaan kaki seperti itu?” balasku.
“Jadi, kamu cuman berbohong?” Fira.
“Bohong?”
Seketika aku menoleh. Aku benar-benar tak paham, di mana letak kebohongan dari perkataanku, dan kenapa dia marah. Tapi karena tak ingin buang-buang tenaga, aku tidak memberikan klarifikasi dan tetap bertahan di posisi itu.
“Aku cuman tidak mau kamu celaka!” ujarku.
Perlahan, aku merasakan tangan Fira merangkul pundakku. Tubuhnya mulai bersandar yang membuatku semakin menguatkan diri.
“Dasar licik!” gerutunya.
Seketika aku tertegun. Walau berkata demikian, nyatanya gadis itu tetap mau naik ke punggungku. Hal itu benar-benar mengusik benak, tetapi rasa khawatirku rupanya jauh lebih besar.
“Tidak ada yang ketinggalan, kan?” tanyaku, sembari berdiri.
Sejenak Fira memeriksa lalu menjawab, “tidak.”
“Tas?” tanyaku, memastikan.
“Dari awal tidak bawa,” jawab Fira.
“Tidak bawa?” tanyaku, kaget, “bagaimana kamu pulang, kalau aku tidak datang?” lanjutku bertanya.
“Kan, masih ada HP,” jawabnya santai, “aku yakin kamu akan datang, kok. Kalau pun tidak, aku pasti akan memberimu pelajaran,” lanjutnya.
Seketika aku terdiam, rasanya tak ada gunanya berdebat dengannya.
“HP?”
Lagi-lagi, aku menanyakan barang yang sekiranya rawan ketinggalan.
“Nih!”
Dari belakang, Fira memperlihatkan ponselnya tepat di depan wajahku.
Terlihat gambar latar belakang seorang aktor dan beberapa notifikasi pesan. Tapi, dia segera menariknya lagi, sehingga membuatku menanyakan benda lain.
“Sepatu?”
__ADS_1
Gadis itu memainkan kedua kakinya, supaya aku melihatnya sendiri dan menjawab, “aku sudah memakainya.”
“Baiklah,” gumamku, mulai berjalan menuju jalan raya.
Tiba-tiba saja, Fira menarik lengannya dengan kuat, sehingga membuat leherku tercekik.
“Tutup dulu pintunya!” serunya.
Seketika aku menoleh dan mendapati pintu dalam keadaan terbuka.
“Oh, iya!”
Aku langsung berbalik dan segera menguncinya dengan remot.
“Dasar pelupa!” omel Fira.
Aku hanya bisa terdiam. Rasanya benar-benar ironi. Bermaksud mengingatkan supaya tidak kelupaan, malah aku sendiri yang lupa.
Tak ingin merasa malu lebih dari itu, aku segera berjalan menembus malam, sembari menggendongnya.
......................
Sepinya malam dan udara dingin yang menusuk mulai mengusik benak. Tak seperti saat di restoran, perasaan yang aneh tiba-tiba mulai menyeruak. Aku semakin khawatir dengan pandangan orang lain dan merasa sedikit malu.
Dilihat dari sudut mana pun, menggendong seorang gadis di malam hari jelas bukanlah hal yang lazim dilakukan. Akan tetapi, aku tetap berpikir positif dan lebih mencemaskan keadaan Fira. Toh, tidak ada orang sepanjang jalan.
“Kenapa kamu mengatakan itu?” tanya Fira, tiba-tiba.
“Itu?” sahutku.
“Semua hal-hal sombong yang kamu katakan kepada gadis-gadis itu, kenapa kamu mengatakan semua itu?” jelasnya lebih rinci.
“Semua kata-katamu kedengaran seperti itu jadi...”
“Tidak, tidak! Apa menurutmu aku ini sombong?” putusku.
Pertigaan yang tadi disebutkan sudah terlihat. Itu artinya, aku hanya perlu belok ke kiri dan mencari rumah yang dimaksud. Posisi kedatangan kami sekarang terbalik, sehingga arah yang harus diambil pun demikian. Tapi, aku tak langsung meneruskan langkah.
Angin yang terasa hangat tiba-tiba saja berhembus di dekat telingaku. Merasa geli, aku sontak menjauhkan kepala dan menoleh. Rupanya, Fira menurunkan kepalanya dan membuang napas di dekat sana. Akibatnya, wajah kami nyaris bersentuhan yang membuatku sejenak menghentikan langkah.
Sambil mengalihkan pandangan, gadis itu menjawab, “t-tidak!” mengungkapkan jawaban yang tertahan beberapa saat.
Di saat yang sama, aku juga reflek menatap ke depan. Situasi seketika berubah canggung hingga membuat pegangan tanganku melemah, serta membuat tubuh gadis itu turun. Karena merasa dia mulai usil di belakang sana, aku segera memperbaiki posisi tangan dan mengangkat tubuhnya kembali ke atas.
“Aaa!” jerit Fira, “jangan dimainin, dong!” lanjutnya, mengomel.
“S-Sorry!” ucapku, kebingungan mendengar suara jeritannya yang terdengar begitu manis.
Wajahku rasanya mulai panas, dada ini juga terasa aneh. Ingin rasanya mendengar lagi suara itu, sehingga sempat membuatku ingin bertindak usil. Tapi, semua segera kuhentikan.
“Apa yang sedang kupikirkan?!” pikirku.
Sambil mulai melangkah kembali, aku pun menjawab pertanyaan yang sebelumnya dia ajukan. Berusaha mengubah keadaan canggung ini.
"Menurutku, pada akhirnya kita sendirilah yang akan menjalani semuanya," ujarku, "karena itu, aku memilih menanyakan itu," lanjutku.
"Apa hubungannya?" tanya Fira.
__ADS_1
"Kalau dari awal saja tidak suka, kenapa harus dipaksa?" sahutku.
"Tapi, nggak seharusnya kamu mengatakannya dengan cara seperti itu," ujar Fira, "kamu membuat dirimu sendiri jadi kelihatan buruk!" tambahnya.
"Kalau begitu, aku memang harus menjauhi mereka."
"Kok, gitu?"
"Apa yang terlihat tidak mewakili keseluruhan. Apa yang dikatakan belum tentu kebenaran," ujarku, "aku hanya mengatakan dua hal, tetapi mereka sudah berhenti mencari tahu dan menarik kesimpulan sendiri. Lantas, untuk apa membuat sebuah hubungan dengan seseorang yang tak mau mencoba mengenalku?" lanjutku.
Fira hanya diam. Selang beberapa saat, dia menunjuk ke depan dan berteriak, "belok, belok, jangan lurus!”
Lengan Fira tiba-tiba mencekik leherku, membuatku seketika berhenti. Seketika aku sadar, hampir saja salah mengambil jalan.
Di saat yang sama, tiba-tiba saja sebuah mobil berbelok arah, masuk menuju komplek yang disebutkan Fira. Seketika aku menoleh, tetapi Fira langsung menyembunyikan wajahnya.
“Katanya mobil nggak boleh masuk?” tudingku.
“Diam!” bentak Fira, dengan nada ketakutan.
Mobil yang barusan melewati kami tiba-tiba saja berhenti. Karena satu arah, mau tidak mau aku harus berjalan mendekat. Tapi lagi-lagi, Fira berteriak.
“Jangan bergerak!”
Gadis itu menarik leherku dari belakang yang membuatku terpaksa menurut.
“Apakah mereka orang jahat?” tanyaku.
“Pokonya diam!” serunya.
“Bisakah kamu berhenti mencekik leherku?” protesku.
Dari kejauhan, terlihat seseorang turun dari mobil. Tidak cuman itu saja, orang itu juga mulai berjalan mendekat. Aku menoleh, menatap Fira yang semakin ketakutan menyembunyikan wajahnya. Melihat reaksinya, aku mulai menyiapkan beberapa rencana. Bagaimanapun juga, aku adalah seorang polisi. Dia tak akan bisa selamat begitu saja jika memang memiliki niatan buruk.
Akan tetapi, rupanya orang yang mendekat adalah seorang wanita. Anehnya, Fira masih saja terlihat ketakutan yang membuatku tetap waspada. Hanya karena dia seorang wanita, bukan berarti tidak mungkin dia mencelakai.
Wanita itu semakin mendekat. Rok pendek dan kemeja kantor yang dia kenakan sekarang terlihat jelas. Rambutnya pendek sebahu, berwajah oval, serta dagu yang panjang. Aku sudah menandai ciri-cirinya kalau nantinya terjadi hal yang buruk.
Tapi rupanya, wanita malah melambaikan tangan dan menyapa, “Fira?”
Seketika aku menoleh ke belakang, di mana Fira yang sedari tadi menyembunyikan wajah akhirnya mau menampakkan batang hidungnya.
“Eh, baru pulang, tante?” jawab Fira, cengengesan.
“Oh, jadi ini cowok yang mau mama kamu kenalin?” tanya wanita itu.
Tak bisa menjawab, Fira hanya senyum. Melihat ekspresinya, aku segera menyadari kalau dia sedang merasa tidak nyaman.
“Kenapa digendong begitu?” tanyanya lagi.
“Oh ini?”
Fira tiba-tiba berusaha turun, tetapi segera kutahan.
“Dia jatuh tante, kakinya terkilir!”
Aku mewakili Fira menjawab, seraya melotot ke arah gadis itu, supaya tidak jadi turun.
__ADS_1
Sok galak, aku berbisik kepadanya, "diam aja!"