
Palingan Roni, pikirku.
Tak ingin diketahui sudah berada di rumah, aku jalan mengendap-endap menuju pintu keluar.
Seperti dugaan, Roni mondar-mandir tak jelas tujuan di depan pintu. Aku hanya mengintip dari balik lubang kunci, malas membukakannya.
Sebenarnya, itu adalah perjudian besar. Bisa jadi, dia dipanggil atasan untuk meneruskan tugas memanggilku. Tapi karena masih capek, aku tak ingin berangkat lembur.
Kalau memang tugas atasan, pasti nanti dia balik lagi, pikirku, sepele.
Pokoknya selama belum ada pemanggilan yang jelas, aku memutuskan tak bergeming.
Setelah tak dibukakan pintu, akhirnya Roni menyerah, pergi begitu saja. Tanpa rasa sungkan atau bersalah, aku kembali masuk ke kamar. Tanpa pikir panjang, aku mulai malas-malasan sampai akhirnya ketiduran. Saat bangun, jam sudah menunjukkan pukul tujuh pagi. Aku langsung mandi dan berangkat kerja seperti tidak terjadi apa-apa.
......................
“Maaf kemarin ketiduran.”
Di ruang kerja, aku bahkan, masih menyempatkan diri membalas pesan Fira.
Kurasa, dia merasa kesal, karena empat buah pesan yang dia kirimkan tidak kubalas. Walaupun isinya tidak begitu penting, tetap saja itu tidak sopan.
“Kemarin lo kemana, Lang?” tanya Roni, duduk di sebelahku, “aku samperin di rumah, kok dikunci. Padahal, mobilnya udah ada,” lanjutnya.
“Emang lu dateng jam berapa?”
Aku pura-pura lupa.
“Habis pulang aku langsung ke rumah lo!” Roni.
“Oh, berarti gue pas lagi pergi makan ke luar.”
Aku masih melanjutkan modus 378, alias penipuan. Sambil terus mengetik pesan. Mau bagaimana lagi, omongannya tidak lebih penting dari masalah ini.
Setelah mengirimkan beberapa pesan permintaan maaf, akhirnya Fira membalas balik. Sedikit basa-basi dan menjelaskan keadaan kemarin, aku langsung berpamitan, karena sudah masuk jam kerja. Padahal, kami baru mulai mengobrol santai.
“Nanti sambung lagi habis pulang, ya,” tulisku.
“Chatting-an ama siapa, lu?” tanya Roni.
“Kepo lu!” jawabku, buru-buru mematikan ponsel, “kemarin, lu ngapain emang, ampe ke rumah segala?” lanjutku, mengalihkan perhatian.
“Pake nanya, yang kemarin gue WA lah, apa lagi?” sewotnya.
“Udah gue buat analisis teknikalnya, tinggal bikin laporan doang," jawabku, "oh iya semp*k lu, tuh di mo...”
Tiba-tiba, Roni berdiri, membuatku seketika menghentikan omongan.
“Pagi, Ndan!” sapanya.
Melihat semua orang bereaksi serupa, aku bergegas ikut berdiri.
......................
__ADS_1
Seorang pria paruh baya memasuki ruangan, mengenakan seragam berlambang satu bunga sudut lima. Badannya masih tegap, walaupun kerut mulai memenuhi wajahnya.
Kantung matanya boleh saja kelihatan mulai mengendur, tetapi tatapan matanya masih sangat tajam dan menusuk. Membawa beberapa berkas, Kompol Suyanto, alias Om Yanto, alias kepala satuan reskrim yang bertanggung jawab langsung kepada Kapolresta, masuk dengan langkah kaki yang begitu lantang.
Pada hakikatnya, kami semua bekerja di wilayah resort kota, tepatnya area sekitar ibukota, dan dipimpin oleh seorang Kapolresta dan Wakapolresta. Di bawahnya lagi, ada ¹Kabag dan ²Kasat.
Sebelum tergabung bersama anggota siber, aku adalah anggota identifikasi yang berfokus pada forensik data dan pencatatan. Peningkatan kejahatan siber memaksa Om Yanto mengambil langkah pembentukan unit khusus, dan menarikku dari unit identifikasi, guna menyelesaikan masalah ini secepatnya.
Sebenarnya, aku lebih kompeten menangani data, ketimbang penelusuran internet yang membutuhkan kemampuan program. Sebaliknya, orang-orang sekelilingku jauh lebih paham soal program dan jaringan, mengingat fokus mereka sejak awal memang menangani tindak kejahatan siber.
“Kamu sudah balik, Lang?” sapa Om Yanto.
“Siap, sudah, komandan!” jawabku.
“Santai saja!” serunya.
“Siap!” jawabku.
“Sorry langsung kasih tugas, bisa identifikasi video sekarang, nggak?”
“Boleh, ndan.”
“Kirimkan dia berkasnya, Ron!”
“Siap!”
Roni pura-pura membuka komputer, lalu berbisik, “yang kemarin, Lang!”
Sambil mendesah, aku mengambil laptop dari dalam tas. Pekerjaan itu sudah selesai kubereskan, kemarin, sehingga yang kulakukan tinggal presentasi.
“Jadi, pada dasarnya video itu dipotong dan di edit, tanpa mengubah keaslian meta data,” jelasku, “apa bukti ini diambil dari media sosial?” lanjutku.
“Youseube itu media sosial, bukan?”
Om Yanto balik bertanya.
“Sama saja, sih ndan!” ujarku, menunjukkan hasil analisis potong frame kemarin, “durasi pemotongan tidak begitu panjang, beberapa menit di awal, lalu sekian detik di banyak frame. Sepertinya, itu untuk kepentingan efek editan yang sifatnya cuman sekedar hiburan,” lanjutku.
Sambil memeriksa, Om Yanto menganggukkan kepala.
“Jadi begitu?” gumamnya.
“Saya menganalisis semua penumpukan pixel akibat proses editing menggunakan ³ELA, dan menyusun ulang sisa frame. Setelah diperbaiki, asal usul bukti akhirnya terlacak, ” jelasku, “video itu diambil menggunakan kamera digital kelas menengah, dan dibuat dua bulan lalu, tepatnya tanggal 16. Kesimpulannya, video asli, dan bisa dijadikan alat bukti, walaupun terdapat beberapa editan,” pungkasku.
Tiba-tiba saja, Om Yanto menatap Roni, lalu bergiliran memandangi semua orang. Tampangnya kelihatan kesal, sehingga semua orang langsung buang muka.
“Yang kemarin bilang, video ini nggak bisa dijadikan alat bukti, maju!” serunya.
Semua orang tampak tertunduk sampai akhirnya, rekan di sebelahku kananku maju. Pria itu tampak lesu, jalan dengan wajah murung.
Dagunya belah, berambut lurus, serta memiliki alis tebal. Daun telinganya yang kecil dan terlihat runcing memerah. Rupanya, dia adalah Galih.
“Push up seratus kali!” perintah Om Yanto.
__ADS_1
“Siap, komandan!”
Galih langsung mengambil posisi.
“T-Tunggu, ndan!” cegatku, “Galih mau saya suruh nyatet laporan, kasihan entar kecapean,” lanjutku, sembari mengedipkan mata.
Om Yanto menggeleng, terpaksa menyetujui permintaanku. Sementara Galih mulai mengerjakan berkas laporan. Sambil menunggu, ia mengajak keluar.
“Gimana acara kemarin, Lang?” tanyanya, “suka nggak?” lanjutnya.
Kami sedang berjalan di lorong, mengarah menuju dapur markas. Seketika, aku sadar, dia juga terlibat dalam acara perjodohan kemarin.
“Pantesan aja yang dikenalin anak orang penting,” gumamku.
“Gimana, Lang?”
Ia bertanya lagi.
“Ya, gitu lah, om,” jawabku, mengabaikan formalitas, mengingat hal yang dibicarakan bersifat pribadi.
“Kalau nggak suka, sih kebangetan!” ujarnya.
“Oh, iya video itu kasus apaan, ndan?”
Aku kembali bersikap formal, mengalihkan pembicaraan ke topik pekerjaan.
“Saya lihat, pelaku di dalam video membuka website berbahaya menggunakan anonim,” lanjutku.
“Oh, kamu udah analisis itu juga, ya?” Om Yanto.
Sesampainya di dapur, kami langsung meminta dibuatkan kopi, duduk di kursi panjang yang memang tersedia di sana.
“Saya sudah ngecek buka, tapi tidak bisa,” akuku, “di beberapa forum diskusi, dijelaskan kalau itu merupakan situs perdagangan kotak ilegal, dan diduga melanggar hukum internasional,” lanjutku.
“Emang,” jawab Om Yanto, enteng, “orang yang ada di dalam video itu ditemukan tewas dengan sejumlah indikasi penyiksaan,” lanjutnya.
“Tewas?”
“Kamu lihat video itu juga, kan? Sepertinya, dia membeli kotak yang berhubungan dengan kasus yang sekarang lagi rame.”
“Maksudnya?”
“Kamu lihat saja beritanya, nanti. Aku merasa sedang memegang ekor ular.”
Saat membahas kasus itu Om Yanto kelihatan sangat bersemangat.
Bersamaan dengan itu, OB markas membawakan kopi pesanan kami. Sambil senyum, ia menyuguhkannya, lalu bergegas pergi. Sementara itu, aku hanya termenung. Entah mengapa, firasatku menjadi buruk.
...----------------...
¹Kepala Bagian
²Kepala Satuan
__ADS_1
³Error Level Analys