
Suara klakson mobil terdengar, membuat mataku seketika terbuka. Makin lama, derap langkah kaki di bawah pun, mulai semakin riuh. Aku masih mencoba tidur, tetapi segala keramaian di luar akhirnya membuatku membuka gorden.
Cahaya pagi segera memasuki ruangan. Bangunan besar, hiruk pikuk sekeliling, serta lalu lalang para siswa yang terliat begitu kecil.
Ah, aku masih ada rumah, pikirku.
Papan nama sekolah swasta itu membuatku segera tersadar. Tak lama, kenangan kemarin pun muncul di benakku. Pertemuan dengan gadis itu, menyusul masalah-masalah yang timbul. Tanpa disadari, aku mulai tersenyum hingga suara ketukan pintu menyadarkan lamunan.
“Sarapan sudah siap, mas! Ibu sama bapak udah nunggu!” serunya.
Seketika aku menoleh. Dari suaranya, aku langsung tahu. Itu adalah Mbak Tini.
“Bentar lagi, mbak saya siap-siap dulu!” jawabku.
“Kalau gitu, saya turun lagi, ya!” pamitnya.
“Oke!” sahutku.
Pandanganku segera tertuju pada kaos-kaos lamaku. Sekarang, benda-benda itu pasti sudah kekecilan, karena pertumbuhan masa ototku.
Lemari masih terbuka, tapi pilihan masih belum final juga. Alih-alih berdandan, aku justru mengingat kenangan di ruangan 3 x 3 ini. Sebelum menjadi polisi, tubuhku sangatlah kurus.
Makan sehat dengan teratur, penyesuaian porsi, hingga menu olahraga rutin, selama dua tahun. Pengorbanan itulah yang akhirnya mengubah penampilanku. Bahkan sampai sekarang, alat-alat olahraga semisal barbel dan tali masih tersimpan rapi di dalam lemari.
Aku masih ingat, mama sering mengomel, karena suara berisik yang ditimbulkan saat sedang berolahraga. Apalagi, kamarku ada di lantai dua yang membuatnya terdengar begitu keras. Meskipun tahu dia akan marah, tetapi aku selalu melakukannya. Dengan santainya aku menganggap, marah adalah caranya menunjukkan perhatian.
“Gilang!!!”
Suara teriakan mama tiba-tiba saja menggelegar.
Aku baru ingat, sudah dipanggil Mbak Tini untuk segera turun. Selain suara berisik saat aku berolahraga, terlambat makan adalah sesuatu yang tak pernah gagal membuatnya emosi.
“Sebentar, Ma!” sahutku, buru-buru mengganti pakaian. Beliau pasti akan segera menghajarku kalau sampai membuatnya menunggu lebih lama.
......................
Suara lantai tangga yang berdecit, pegangan kayu mengkilap, lukisan pemandangan sepanjang jalan yang tak berdebu, serta aroma jeruk nipis di seluruh ruangan. Seperti biasa, Mbak Tini selalu berhasil membuat kebersihan rumah kami tak kalah dengan hotel bintang lima. Tidak cuman pandai bersih-bersih, masakannya pun seenak restoran. Walaupun estetikanya tidak mencapai bintang lima, setidaknya rasa masakannya tetap istimewa.
“Nasi goreng?” tanyaku, sembari duduk.
Seperti biasa, aku mengambil posisi berseberangan dengan mama. Sementara sebagai seorang kepala keluarga, papa duduk paling ujung. Empat di antara tujuh kursi selalu saja kosong, seperti masa kecilku.
Dari dulu aku selalu penasaran, sebenarnya untuk apa membeli meja panjang itu kalau ujung-ujungnya kosong. Terlebih, kayu yang digunakan merupakan kayu jati.
Beberapa kerabat yang pernah mengunjungi kami berkata, “meja dan kursi itu pasti berharga puluhan juta.”
__ADS_1
“Bukankah lebih baik menjual dan membeli yang lebih kecil? Itu jelas-jelas lebih efisien,” pikirku, sembari menarik piring yang sudah berisi seporsi nasi goreng.
Tiba-tiba saja, sesuatu yang menarik terlihat mataku. Aroma yang begitu familiar juga ikut tercium yang membuatku seketika menatapnya.
“Mama yang masak?” tanyaku.
“Dari mana kamu tahu?” sahut papa, “rasanya sama kayak buatan Mbak Tini,” imbuhnya, seraya mencicipi masakan itu.
“Ada kulit bawang merah di dalam piringku, sementara Mbak Tini tidak pernah melakukan kesalahan semacam ini,” kelakarku.
Meskipun benar adanya, alasan itu tidak bisa dijadikan bukti utama mengingat; ada kalanya manusia melakukan kesalahan. Alasan sebenarnya ialah, tingkat kematangan bawang merah dan bawang goreng yang dimasak, serta jumlahnya.
Mama selalu memasukannya lebih banyak, sehingga aromanya lebih menyengat.
“Oh, karena itu!” sahut papa, “pantesan bentukannya berbeda, lebih...”
“Lebih apa?!” putus mama, “kemampuan memasakku memang jelek, itulah kenapa aku mempekerjakan Tini! Kalau tidak suka, tidak usah dimakan, repot amat?” lanjutnya, menggerutu.
Papa seketika terdiam, mengedipkan mata ke arahku. Kelihatannya, kami satu frekuensi untuk menjahili mama. Tapi saat beliau hendak meminta piringku, seketika aku menariknya mendekat, sembari meraih sendok.
“Siapa bilang tidak suka?” tanyaku.
“Kalau begitu, tidak usah repot-repot mengejek!” gerutunya.
Aku hanya senyum, teringat masa kecilku yang penuh warna.
......................
Masak sayur asam kurang asin, masak sop keasinan, masak sayur kangkung kemanisan. Pokoknya, masakannya memiliki cita rasa yang tidak bisa ditebak. Saking parahnya, beliau bahkan pernah menaburkan gula pasir ke ikan asin, gara-gara dianggap terlalu asin. Untungnya, itu terjadi ketika mama dan papa baru saja menikah, jadi saat itu, aku masih belum lahir.
Satu-satunya masakannya yang tidak pernah gagal ialah nasi goreng. Beliau juga selalu mengelak dengan berkata, “memang rasanya begitu,” sehingga membuatku selalu berpikir; nasi goreng adalah masakan terbaik yang ada di dunia.
Sampai hari ini pun, aku masih mengingat rasa tiap suapan masakan itu. Mungkin karena itu adalah makanan layak konsumsi pertama yang pernah kumakan. Entahlah, tetapi aku bisa jamin, akan selalu berhasil mengidentifikasikan nasi goreng buatannya.
Seiring waktu, aku baru tahu kalau sayur asem sebenarnya enak. Sop sebenarnya luar biasa, dan sayur kangkung tak kalah nikmat. Tetapi karena alasan yang pernah kusebutkan, pada akhirnya nasi goreng tetap menjadi makanan favoritku.
“Enak seperti biasanya,” gumamku, selesai beberapa suapan, “omong-omong, apa mama menginginkan sesuatu? Hari ini bukan ulang tahunku, kenapa tiba-tiba masak makanan kesukaanku dengan tangan sendiri?” lanjutku, menambahkan.
“Memangnya, apa salahnya seorang ibu memasak untuk anaknya sendiri?” ujarnya, “terlebih kamu sudah lama tidak pulang,” imbuhnya.
Aku hanya mendeham, memulai makan secepat mungkin. Semakin lama, firasatku jadi semakin buruk. Semua orang tahu, nasi goreng adalah makanan kesukaanku, apalagi buatan mama. Jadi, cuman butuh beberapa menit untuk menghabiskannya.
Sambil berdiri, aku langsung berkata, “hari ini aku belum olahraga jadi...”
“Duduk!” putus mama.
__ADS_1
“Ada sesuatu yang harus...”
“Du-duk!”
Ia menunjuk kursi tempatku baru saja menghabiskan makanan. Melihat wajahnya yang sudah seperti nenek sihir, terpaksa aku kembali duduk.
“Apa yang kamu pelajari beberapa tahun ini, sampai-sampai berani melukai anak perawan orang?” tanyanya, “jawab dengan jujur!” lanjutnya, menyudutkan.
Kedua matanya sudah melotot, membuatku seketika mendesah. Sudah kuduga, kuliah pagi.
Nasi goreng buatan mama memang tidak ada duanya, tetapi keberadaannya bagaikan buah terlarang. Bisa dipastikan, setiap kali masakan itu terhidang, masalah akan datang.
Bahkan, hal itu sudah menjadi tradisi sejak beberapa tahun ke belakang. Pokoknya tiap kali masakan itu datang, akan menyusul ceramah dan petuah yang tak pernah bisa dihadang.
“Sudah kuduga,” gumamku, “mana mungkin aku disayangi sebesar itu, sampai-sampai memasakkan itu, hanya karena sudah lama tidak berkunjung,” tambahku lirih.
“Jawab dengan keras!” seru mama, “jangan bilang kamu sudah...”
“Hentikan!” seruku.
“Ya ampun Gilang, dia itu anak wakil gubernur!”
Mama semakin heboh sendiri.
“Anakmu adalah seseorang berhati mulia yang mau menolong temannya, yang dibuli," bantahku, “kalian yang tidak paling tahu akan hal itu. Kalau orang yang paling kuandalkan saja tidak percaya, lantas siapa lagi yang mau percaya?” imbuhku, memperjelas pembelaan diri.
Sambil menatap papa, aku menambahkan lagi, “gadis itu keseleo, juga hampir berjalan puluhan meter dalam keadaan terluka. Makanya, aku menggendongnya sampai rumah, cuman itu!”
Sayangnya, beliau hanya bergeming.
Dalam keputusasaan, aku kembali melanjutkan argumentasi meskipun itu tak pernah berhasil.
“Situasi malam itu begitu rumit. Dia berbohong tentang aturan malam,” jelasku, “tante itu! Ya, seseorang melihatku sedang menggendongnya. Dia pasti...”
“Kamu menggendong gadis yang bukan istrimu di depan orang lain?” putus mama.
Seketika aku berdiri, merasa kehabisan alasan,
“Terus aku harus apa? Menuruti salah, mengabaikan salah!” keluhku.
Aku mencoba mengeluarkan jurus andalan dengan memanggil papa, menggunakan wajah memelas.
"Duduk!" seru Mama.
Aku kembali duduk, ketakutan melihatnya. Dan bukannya mendukung, papa justru berbisik, “sekarang, kamu tahu penderitaanku, wanita itu selalu menang!”
__ADS_1
Itu membuatku semakin patah semangat mengingat; mama memang selalu bertingkah berlebihan.