Kotak Merah

Kotak Merah
Box 15 : That was Me?


__ADS_3

"Hey!" tegur Gilang.


"Kamu masih mendengarkan?" sahut Roni.


"Aku sudah mengatakan semua yang kutahu," jawabku, "apa lagi mau kalian!?" lanjutku, seraya menggelengkan kepala.


Mereka terdiam, kemudian mulai mengerjakan laptopnya lagi. Aku tak tahu, berapa banyak data yang tersimpan. Terlebih karena mereka cukup lama menggunakan itu.


Sejujurnya, aku tak perduli. Aku hanya ingin menyelesaikan ini secepat mungkin, dan hidup yang bodoh ini tak semakin menyebalkan.


"Coba kau baca lagi detail tentang itu!" perintah Gilang.


Lagi-lagi kotak itu. Mereka terus menyuruhku memecahkannya, tetapi aku sungguh tak mengerti.


"Kotak itu sudah dipecahkan, kau hanya perlu membacanya," sahut Roni, "lagipula, kau sendiri yang memecahkannya," imbuhnya.


Aku menarik napas, mendinginkan kepala yang rasanya sudah seperti mau pecah. Selamanya, aku mungkin tak akan pernah tahu; apa yang sudah kutulis, andai mereka tak memaksaku sejauh ini.


..."Finger slice of indonesian cop."...


Holly ****! Tidak mungkin aku menulis ini!


Kucocokkan lagi nomor seri kotak, tetapi aku sudah berada di situ. Aku mengingat lagi, apa saja yang kulakukan. Lalu tertawa, tak bisa menahan rasa geli.


Ya, ini memang jawabanku, tapi tetap saja terlalu gila untuk ukuran kebetulan.


Aku tidak salah ucap karena aku memang berniat menjawab potongan jari Paijo. Namun, karena di saat yang sama tengah memesan kopi luwak, jawaban itu kemudian tercampur aduk, sampai akhirnya diperbaiki ulang oleh komputer.


......................


Jadi, aku sedang menulis potongan jari di kolom Redbox. Tinggal menambahkan lagi kata Paijo, tetapi kemudian, kutinggal ke kamar kecil sebentar. Saat kembali, aku lupa siapa nama orang konyol itu; orang yang akhirnya mati gara-gara mencoba menguak misteri situs Redbox.


Namun bukannya mencari tahu, aku malah memesan kopi instan lewat situs online. Maksudku adalah masuk ke web penjual kopi itu, tapi malah menulis di kolom yang salah.


Mungkin, inilah titik terang dari misteri bagaimana susu beruang tercipta. Tim pemasaran mereka saat itu pasti sedang nonton naga di salah satu stasiun televisi nasional kemudian terinspirasi.


I mean, "hey naga itu keren," mereka kemudian mengajukan proposal pada pihak pengiklanan, untuk memasukkan unsur itu dalam kampanyenya.


Hasilnya, cairan susu berbentuk naga masuk ke dalam botol susu bergambar beruang yang ternyata, isinya susu sapi.


Genius!


Sama seperti orang aneh yang sedang memesan kopi instan, tetapi salah mengetik di kolom jawaban Redbox. Sialnya, jawaban itu yang mereka inginkan dan hal bodoh ini menginspirasiku melakukan tindakan bodoh lain.

__ADS_1


From now on, don't do multiple thing in one times, ever!


Awalnya mungkin menarik. Tapi suatu saat semuanya hanya akan menjadi berantakan.


"Tunggu sebentar! Tadi kalian bilang soal, nyawa rekan kalian, kan?" tanyaku, tiba-tiba menghubungkan jawaban kotak itu secara ugal-ugalan, "jangan bilang, jari itu adalah milik rekan kalian itu," lanjutku, menerka.


Petunjuk terbesar kotak itu adalah potongan jari dan Samidi bukanlah pemiliknya. Sungguh, aku benar-benar tak habis pikir saat melihat mereka hanya diam. Andai saja aku tidak melakukan itu, mungkin ini semua tak akan pernah terungkap dan masalah ini tak akan pernah terjadi. Sayangnya, konsep waktu masih merupakan hukum ilmiah yang tidak bisa dipecahkan.


Back to the past still just a fiction.


Masalahnya sekarang adalah; apa hubungannya semua ini denganku?


Seperti yang kujelaskan, aku menjawab itu secara tidak sengaja.


"Lihat ini!" seru Gilang, menunjukkan laptopnya.


......................


*Mari k*ita buat ini lebih singkat.


So, bulan lalu seorang polisi bernama Yanto ditugaskan menyelidiki kasus kematian Anwar. Dia adalah orang tidak penting yang akhirnya tewas karena melakukan kegiatan yang tidak berguna. Bahkan, aku tidak mengerti kenapa mereka perduli dengan Si Anwar.


Sebenarnya, banyak kejahatan serius menunggu untuk diselesaikan, tetapi sebagian orang tidak mau tahu prioritas mana yang pantas didahulukan. Kalau sudah terlanjur disorot, mau tidak mau harus ada yang mengurusnya. Untungnya saja aku bukan polisi, sehingga tak perlu terlibat dalam urusan dilematik ini seumur hidup.


Bagaimana tidak? Yanto yang ditugaskan menyelidiki itu justru ditemukan tewas dalam keadaan termutilasi. Tubuhnya terbagi menjadi 12 bagian dan ditemukan di lokasi yang terpisah-pisah.


Sampai sekarang pun kelima potongan jarinya masih belum bisa disatukan. Bahkan, satu-satunya jejak keberadaannya yang pernah terkonfirmasi hanya satu. Itu pun berada di Rusia. Entah bagaimana, mereka menemukan kecocokkan DNA dari sampel darah yang ditemukan di rumah seorang bocah, pelaku penikaman kakak kandungnya sendiri.


That was big bulshit!


Aku sampai membaca laporan ini empat kali.


Siapa sangka, kotak yang kupecahkan ternyata terakhir kali dibuka oleh bocah sakit jiwa?


......................


"Kau terbukti melakukan kontak dengan korban yang membuatmu dicurigai," tuding Gilang.


Moncong buaya pilek!


Bagaimana potongan jari Yanto bisa dijadikan sovenir utama sebuah kotak ilegal; benda bedebah yang akhirnya kupecahkan? Kenapa juga, aku memberi nasehat pada seorang kakak yang memiliki adik gemblung; bocah sakit mental yang kemudian menikam kakaknya sendiri?


"Ini mustahil!" gumamku, "kenapa semua ini secara tak langsung mengarah padaku?" lanjutku, meracau.

__ADS_1


"Kau benar, ini memang mustahil," ucap Roni, untuk kali pertamanya sepaham denganku.


"Kau beruntung, Federasi Rusia hanya mendalami penyimpangan yang dialami pelaku," sahut Gilang, "mereka tak tahu kalau pelaku kebetulan adalah pembeli terakhir, dan kau kebetulan memecahkan itu," imbuhnya.


Itu sungguh hebat. Kebetulan aku memberinya sedikit masukan, lalu kebetulan dia melakukan sesuatu, yang... kebetulan malah memperparah kejiwaan Si Bocah. Dan kebetulannya lagi, sebuah insiden kemudian terjadi.


Kebetulan gigimu!


Pantas saja orang-orang mulai berpikir ada udang dibalik batu. Sungguh, ini semua adalah lelucon yang benar-benar keterlaluan.


Tunggu sampai mereka mendengar ini!


......................


Seorang pria mendapat kiriman video dari seseorang. Video itu ternyata video terkutuk yang membuatnya bersinggungan dengan iblis. Tanpa tahu akan hal itu, ia dikenalkan lagi seorang gadis; sesuatu yang pastinya tak bisa ia tolak begitu saja.


Tanpa pria itu sadari, gadis itu adalah jelmaan siluman ular yang tudak ingin menderita sendiri. Ia menyeret kakinya ketika akan jatuh ke lubang tak berdasar.


The punch line is, that was me!


"Tahi kucing!" umpatku, "jadi mereka belum tahu, kalau aku yang memecahkan kotak itu?" lanjutku, bertanya.


"Apa bedanya?" sahut Roni.


"Wait a minute!" ucapku, mendinginkan kepala yang sempat mendidih.


Mereka benar. Aku hanya berhubungan dengan korban, tanpa mengenal sosok pelaku sama sekali. Walau situasi yang tercipta jelas-jelas menyudutkan, tapi aku sama sekali tak memiliki motif untuk melukai korban. Bahkan, korban mempunyai riwayat penelusuran yang sangat berbahaya.


Dari data yang kupelajari, aku mungkin hanyalah salah satu yang dia mintai masukan.


"Kalau pun mereka tahu, aku yakin mereka tak akan mencurigaimu," jelas Gilang, "itu hanya akan buang-buang waktu!" imbuhnya.


"Pada intinya, kau hanya akan dituntut atas beberapa kejahatan ringan, kalau pun, tak bersedia membantu," terang Roni


"Dasar licik!" gumamku.


Aku hanya bisa menggeleng. Tak mungkin informasi ini mereka sampaikan kalau keadaan tak menjadi seperti sekarang ini. Awalnya, mereka pasti berencana menjadikan ini sebagai alat mengintimidasi, sebelum melihat reaksiku.


Ingat saat dia bilang, "ini tidak akan berhasil?" Kurasa keputusannya mengubah strategi adalah hal tepat.


Dibanding menakut-nakutiku, memberi harapan adalah sesuatu yang lebih efektif untuk membuatku mau bekerja sama.


Sungguh, kemana pembahasan ini kemudian akan mengarah, mulai kelihatan.

__ADS_1


__ADS_2