Kotak Merah

Kotak Merah
Second Arc : The Bullet


__ADS_3

Hari ini, akhirnya aku memutuskan cuti. Keluargaku semakin berisik dan terus saja menyuruh pulang. Sepanjang hari, mereka menelepon ke kantor sampai-sampai kepalaku jadi pusing.


Masalah apa lagi ini?


Sesampainya di rumah, mereka menyuruhku pergi ke sebuah salon. Kebetulan, rambutku sudah mulai panjang, jadi aku setuju saja. Tapi anehnya, mereka memberikan satu setel jas dan mendandaniku seperti mau kondangan.


“Ini untuk sesi foto keluarga saja, kok, mas,” jelas si pegawai.


“Oh, begitu, ya? Kalau begitu saya pinjam ruang ganti sebentar, mbak!” jawabku.


“Disini saja juga tidak apa-apa, kok, mas!” canda si pegawai.


“Ngawur!” seruku, buru-buru mengambil pakaian itu, dan masuk ke dalam sebuah ruangan kecil di belakang salon.


Si pegawai senyum, sementara aku buru-buru berganti pakaian. Tidak tahu kenapa, perasaanku benar-benar tidak enak.


Kalau cuman foto, kenapa sampai perlu melakukan persiapan seperti ini segala? Lagipula, mereka sama sekali tidak membicarakan sesi foto keluarga sama sekali.


Aku menggeleng, menghentikan semua praduga yang semakin tak jelas arahnya. Sambil membawa seragam dinas yang sebelumnya masih kupakai, aku keluar dari ruang ganti.


Malam itu, orang-orang memperhatikanku. Kurasa, itu karena setelan jas hitam mahal dengan dasi merah ini terlalu mencolok.


“Tidak cocok, ya, mbak?”


Aku bertanya kepada si pegawai yang melongo menatapku.


“Tidak, kok mas, cocok banget malahan,” jawabnya, gugup.


“Kalau begitu, kenapa semua orang memperhatikan saya?” tanyaku lagi.


“Justru karena itu.” Si pegawai.


“Lah, kenapa begitu?” tanyaku, “oh, ya bayarnya berapa, mbak?” lanjutku, karena si pegawai tak merespon.


Tapi lagi-lagi, dia bengong tak jelas sebab.


Sambil melambaikan tangan, terpaksa aku menegurnya, “mbak?”


“K-Kenapa, mas?” sahutnya.


“Tuh, kan, nggak didengerin?!” gerutuku.


“Maaf, mas, wah saya jadi menyesal sudah menikah duluan.” Si pegawai.


“Lah, emangnya kenapa, mbak? Berantem terus, ya?”


“Enggak gitu, cuman kalau nggak buru-buru, mungkin saja bisa dapet yang lebih baik.”


Si pegawai senyum menatapku.


Aku tidak tahu maksud perkataannya, tetapi kurasa pemikiran itu tidaklah patut dibenarkan.


“Kalau nggak ada masalah, bersyukur aja, mbak,” ucapku.


Si pegawai diam sesaat.


“Bener juga, ya?” ucapnya, “tadi kenapa, ya, mas?” lanjutnya, bertanya.

__ADS_1


“Eh iya, bayarnya gimana, mbak?”


Aku mengutarakan lagi maksud dan tujuan semula.


“Boleh saya lihat, KTP-nya?” jawabnya.


“SIM nggak boleh, mbak?” tanyaku.


“Boleh, kok,” jawabnya.


Aku mengeluarkan SIM dari dompet dan menunjukannya kepada si pegawai. Dia tampak memeriksa sebentar, lalu mengembalikannya.


Sambil mengambil sebuah catatan, dia pun berkata, “semua pesanan untuk pelanggan bernama Gilang Hanafi, sudah dibayar atas nama Ibu Anita.”


“Mama?” tanyaku.


“Benar, mas, salon ini langganan mama kamu,” jawab si pegawai, “dia udah ngasih ciri-ciri, anaknya yang mau datang,” lanjutnya.


“Kalau gitu, kenapa tanya KTP segala?” protesku, merasa dibodohi.


“Kepo aja pengen lihat status mas-nya. Tapi karena ngasihnya SIM, jadi nggak ketahuan, deh,” jawabnya, “jadi, masih lajang apa udah punya istri, mas?” lanjutnya.


“Kan, udah punya suami, mbak?”


“Saya punya dua ponakan perawan, mas, kali aja...”


Salah seorang pelanggan tiba-tiba mendeham. Sadar terlalu lama mengobrol, si pegawai pun pamit melanjutkan pekerjaan.


“Maaf, ya, mas!” ucapnya.


......................


Sesampainya di rumah, keadaan sangat sepi. Hanya ada Mbak Tini, asisten rumah tangga kami yang sudah enam tahun lamanya bekerja. Usianya sekarang mungkin sudah memasuki kepala tiga. Wanita itu memiliki alis mata yang tebal dan selalu tampil sederhana, tetapi tetap terlihat cantik.


Dulunya, orang-orang sering menggunjing tentang dagunya yang benjol, karena semacam tumor. Hingga pada tahun ke-duanya bekerja di tempat kami, tumor itu pun akhirnya dioperasi, sehingga wajahnya terlihat lebih cantik.


Itu semua berkat pekerjaannya yang cekatan dan sifat ramah yang selalu dia tunjukkan. Selain itu, dia juga sangat suka mengobrol. Karena itu, dia jadi gampang akrab dengan mama.


......................


Aku mengucap salam, direspon Mbak Tini dengan mengangguk. Dengan membawa kain lap, dia pergi menuju ke arah dapur, dengan terburu-burh. Aku sebenarnya hendak bertanya soal mama, tetapi dia mungkin saja sedang repot.


Sambil beristirahat di kursi depan, aku membuka ponsel dan membalas chat rekan-rekan kerja. Sebenarnya sih, isinya tidak terlalu penting; seperti meminta oleh-oleh. Tapi walaupun begitu, mereka sangat banyak membantu dalam tugas, sehingga rasanya tidak sopan kalau kuabaikan pesan ini.


......................


Selang beberapa lama, tiba-tiba saja Mbak Tini datang menegur. Kuhentikan aktivitas chatting-an ini saat itu juga.


“Lah, masih di sini, mas?” tanyanya.


“Emangnya kenapa, mbak?” balasku.


“Saya kira udah pergi.” Mbak Tini.


“Pergi? Pergi ke mana?”


“Lho, mas belum lihat surat di atas meja?”

__ADS_1


“Surat apaan, sih, mbak? Saya jadi tambah bingung.”


“Terus tadi ngapain aja?”


“Tadi? Orang dari tadi saya main HP.”


“Ealah, saya kira baca surat itu!”


Mbak Tini menunjuk sebuah kertas di atas meja yang memuat sebuah catatan.


“Jemput mama di restoran Bambu Emas, jam 7 malam. N.B Pakai mobil papa, mobil kamu nggak enak. Kuncinya tanya aja Mbak Tini!”


Begitulah yang tertulis.


Aku segera memeriksa jam di ponsel yang sudah menunjuk angka setengah tujuh lewat.


“Kenapa nggak bilang dari tadi, sih, mbak?” gerutuku.


“Saya kira, mas udah baca,” ujar Mbak Tini.


“Kunci mobil papa mana, mbak?” tanyaku lagi.


“Di lemari tengah, mas!” jawabnya.


Aku bergegas mengambil kunci itu dan mengeluarkan mobilku dari halaman, karena halaman kami memang tidak cukup luas. Setelah itu, kukeluarkan mobil milik papa dari dalam garasi dan memanasinya di luar. Semua orang tahu, aku adalah seorang polisi. Jadi, tidak akan ada yang berani mencurinya.


Sungguh hari yang sangat melelahkan!


Sambil menunggu mesin panas, ku masukkan mobilku ke dalam garasi, dan mempersiapkan sarung mobil. Karena garasi yang tidak muat untuk dua mobil sekaligus, salah satu mobil terpaksa harus mengalah dan diparkir di halaman luar. Sarung itu digunakan, supaya tidak kotor atau bermasalah akibat hujan.


Nanti biarlah mobil papa yang diluar, pikirku.


Tak terasa lima belas menit lebih sudah berlalu. Aku pasti akan terlambat. Tapi itu lebih baik daripada lupa.


“Kalau begitu, saya jalan dulu, ya, mbak!” pamitku.


“Hati-hati, mas!” jawab Mbak Tini.


"Mbak juga, jaga rumah baik-baik!" balasku.


"Tenang aja, mas!" sahutnya.


Sambil melambaikan tangan, aku bergegas pergi menuju alamat yang tertera dalam catatan. Restoran Bambu Emas.


......................


Sesampainya di sana, aku segera turun. Jam sudah menunjukkan pukul tujuh lewat sebelas menit yang artinya, aku terlambat sepuluh menit lebih. Keadaan semakin ribet karena saat bertanya pada pelayan, ternyata tidak ada reservasi atas nama Anita atau Handoko, alias mama dan papa.


“Boleh saya lihat KTP-nya, mas?” tanya seorang pelayan.


Aku benar-benar merasa heran. Kenapa hari ini banyak sekali yang menanyakan soal KTP?


Sambil memperhatikan tulisan nama restoran, aku bersiap mengambil dompet.


...----------------...


*Mulai arc ini, sudut pandangnya beralih ke Gilang.

__ADS_1


__ADS_2