Kotak Merah

Kotak Merah
Bullet 19 : Lantai Dua


__ADS_3

Situasi di dalam mobil seketika berubah canggung. Beberapa kali melirik, aku kembali menatap jalanan. Kami sudah hampir memasuki area sekitar perumahan, tetapi keadaan tak kunjung membaik. Rasanya, ingin melompat keluar saja, mengingat apa yang sudah kukatakan.


“Kenapa mengatakan kebohongan yang sangat jelas, kamu pikir aku akan tertipu?!” omel Fira, “kenapa tiba-tiba bilang can... ish!” lanjutnya, terus saja mengoceh.


Aku mendesah, berusaha menahan amarah dan mengabaikan panas yang kurasakan di telinga. Sulit dimengerti, dia mengungkit hal tidak penting itu. Terlebih, rasa sakit akibat penolakan itu masih terasa belum pudar dari dalam diriku. Seperti yang dikatakannya, aku bahkan berharap mati saja.


“Aku cuman mengatakan yang sebenarnya,” jawabku, ketus.


“Bohong!”


Fira menoleh dan berkata lagi, “saat pertama ketemu saja nggak muji, kenapa tiba-tiba ngomong gitu?”


“Cowok tuh, nggak asal muji!”


Aku asal menjawab saja, karena sebagian diriku mulai merasa tidak perduli.


“Semua cowok yang dijodohkan sebelumnya bilang, aku cantik, kok!” sombongnya.


Sejenak menoleh, aku kembali menatap jalanan. Anehnya, ide untuk menjawab masih saja berdatangan.


“Mereka semua buaya, nggak usah didengerin!” ujarku, “lagian, emangnya itu penting? Untuk apa mempermasalahkan hal yang udah sewajarnya?” lanjutku.


“Maksud kamu?” Fira.


“Mau bagaimanapun kamu tetap cantik, jadi rasanya enggak perlu mengatakannya setiap kali ketemu,” ujarku.


Dari mana, dan sampai di mana, aku seketika melupakan semua itu. Tahu-tahu, wajah Fira memerah. Sambil memalingkan muka, gadis itu cengar-cengir. Lagi-lagi, dia mulai sibuk buka tutup dasbor.


Mengeluarkan obeng, memainkannya sebentar, lalu meletakkannya di sebelah kursi.


“A-Alasan yang masuk akal,” gumamnya, melirik sebentar, lalu kembali buang pandangan, “bisa diterima,” lanjutnya, sembari mengembalikan obeng tadi, ke dalam dasbor dan manggut-manggut tak jelas maksud.


Lagi-lagi, Fira membuka dasbor, hendak mengambil barang lain. Ia pasti berniat melakukan ritual tadi.


Tak ingin merasa semakin bingung, aku menepikan mobil dan menerkam tangan kanannya.


“Sepertinya kamu nggak paham,” gumamku.


Aku semakin mendekat, sementara dia mencoba membuka pintu dengan tangan kirinya. Kepalanya terus menjauh, tetapi dengan cepat, aku mengunci pintu melalui saklar sentral.


Sekarang dia tak bisa kemana-mana. Tinggal beberapa senti lagi, hidung kami bahkan, nyaris bersentuhan. Sambil menarik tangannya, aku mendekatkan wajah. Rupanya, lengannya sangat kecil.


“K-Kamu mau apa?”


Udara hangat berembus dari sekitar mulut Fira, membuatku merasa geli.


Semerbak aroma wangi yang kusukai terhirup, memompa jantung berdegup lebih kencang. Mata kami saling bertatapan, seolah membicarakan dengan pandangan. Tapi akhirnya, kerlingan mata cantik dan kedipan bulu mata lentiknya menyadarkanku. Tatapan mata saja tidaklah cukup.


“Sejujurnya, aku menjunjung budaya timur,” ujarku, “tapi kalau cuman ini jalan satu-satunya supaya kamu paham, mau bagaimana lagi!” lanjutku.


Fira terpaku, diam menatapku. Bibirnya yang kecil dan tebal atas, sekarang memenuhi mata. Sementara, bisikan setan terus menyemangatiku untuk mendekat.


Sambil menelan ludah, aku memiringkan kepala. Pikiranku sudah kosong, tetapi untungnya tangan kiri Fira menghantam wajahku.


“A-Aku juga tidak suka budaya barat!” serunya, “kalau menginginkan hal seperti ini, tunjukkan dulu keseriusanmu!” imbuhnya.


Memegangi muka, aku tertegun menatapnya. Rasa sakitnya mungkin tidak seberapa, tetapi malunya benar-benar menyiksa. Sisi baiknya, aku berhasil menjaga janjiku kepada Om Hadi dan masih belum melewati batas.


Bersamaan dengan itu, suara klakson terdengar dari belakang, membuat kami berdua bubar seketika. Walaupun sudah menepi, rupanya kondisi jalan masih tetap ramai. Posisi mobil tetap menghambat arus jalan, meskipun tidak sampai menimbulkan kemacetan.


“Aku suka cewek yang bisa menjaga diri,” ujarku.


Kembali ke posisi semula untuk bersiap jalan, aku tersenyum.


Sepertinya, aku benar-benar dipertemukan dengan gadis yang baik.


“Banyak sekali tipe gadis yang kamu sukai, ya?” sahut Fira, sinis.


Aku hanya menggeleng, mulai mengharapkannya menjaga kesehatan, sehebat dia menjaga dirinya hari ini. Dalam pikiran, aku terbayang mama yang memiliki begitu banyak riwayat penyakit. Tapi karena terlalu pengecut, aku hanya senyum, alih-alih mengatakannya.


Sepertinya, Fira masih kebingungan. Di sebelahku, ia memalingkan muka. Tidak ingin menjadi semakin tamak, aku segera melanjutkan perjalanan.


Banyak hal sebenarnya ingin kubicarakan, tetapi semuanya menguap, sebelum sampai di mulut. Setelah adegan itu, keadaan benar-benar menjadi sangat canggung.


Sepanjang jalan, aku hanya melirik, lalu kembali fokus menatap jalanan. Sama sepertiku, dia juga mengalihkan pandangan setiap kali aku mencoba mengatakan sesuatu. Pokoknya, kami tak bisa saling pandang lebih dari dua detik.


“Huft!”

__ADS_1


Berbarengan, kami berdua mendesah.


Seketika kami berdua menoleh, lalu saling menatap satu sama lain, kaget. Saat itu, mobil baru saja belok kanan, dan akan segera memasuki pintu gerbang komplek.


"Hahaha!"


Fira tertawa lepas, dan segera menular kepadaku.


Obrolan pertama seusai situasi canggung pun akhirnya terbuka.


“Kamu pasti sering menggombal, ya?” tebaknya.


“Mana mungkin!” jawabku, “pacaran saja hampir tidak pernah,” lanjutku.


“Pembohong!”


Fira menyilangkan tangan dan bertanya lagi, “kamu bilang, mereka semua yang bilang cantik itu buaya. Terus kalau cowok yang tiba-tiba kontak fisik, itu apa?”


“Kamu juga dijodohkan dengan orang seperti itu?” tanyaku, dibalas anggukan olehnya.


Sungguh aneh, pikirku.


"Astaga, dia pasti mesum!" ujarku, "segera jauhi dia!” lanjutku, mengomentari.


“Begitu, ya?”


Tiba-tiba saja, Fira bergeser menjauh. Bahkan sampai mepet pintu keluar.


“Kenapa tiba-tiba duduknya jauh-jauh begitu?” tanyaku.


“Jangan mendekat!” serunya, “dasar mesum!” lanjutnya.


“Hah?!”


Aku menoleh kebingungan.


“Kamu bilang sendiri, kan orang yang tiba-tiba kontak fisik itu mesum?”


Fira menatapku layaknya seekor ayam yang sedang menjaga telur.


Aku menunjuk wajahku, dan Fira spontan menangguk. Tanpa sadar, rupanya aku baru saja menggali kuburanku sendiri. Serangan mendadak itu membuatku tak mampu memberikan alibi apapun. Kalau dipikir-pikir, secara tidak sadar aku memang banyak melakukan kontak fisik. Lagi-lagi, aku tidak berhasil membuat suasana menjadi lebih baik.


......................


Keluar dari mobil, aku mengetuk kaca jendelanya.


“Cepetan turun, emangnya mau ikut aku pulang?!” seruku.


Fira langsung membuka pintu, tetapi masih saja diam.


Merasa kata-kataku terlalu kasar, aku pun bertanya lagi, "ada apa?”


“Dokter bilang, aku nggak boleh gerak,” jawab Fira.


“Nggak boleh gerak?” bingungku.


“Selama tiga hari, aku nggak boleh banyak gerak, sama rajin kompres es,” jelasnya, “kalau enggak, kakiku bisa saja diamputasi!” lanjutnya.


Merasa kaget, seketika aku melongo. Tapi di saat yang sama, semuanya jadi masuk akal.


Kenapa Fira tiba-tiba saja minta digendong, dan kenapa dia tiba-tiba rewel? Yang tak kumengerti, kenapa Om Hadi mengatakan itu, padahal cuman robek ligamen? Apakah dia mencoba membantuku?


Rasanya, itu sedikit aneh, mengingat dia juga mengatakan tipe wanita idamanku kepada Fira. Om Hadi pasti sadar, dia tidak termasuk.


Kalau memang niatnya membantu, kenapa sengaja mengatakan hal yang menciptakan jarak? Kenapa juga sebelumnya Fira rewel, bahkan berusaha mendatangiku di ruang periksa?


Maksudnya, dia bahkan terlihat sangat ketakutan saat ini. Apakah itu artinya aku masih punya kesempatan?


Merasa tak ada gunanya memikirkan semua itu, aku segera jongkok membelakangi Fira.


“Cepatlah, aku gendong sampai rumah!” seruku.


“Nggak usah! Kamu be-“


“Terus, kamu mau hidup di dalam mobilku terus?” putusku, bertahan dalam posisi jongkok.


Bagaimanapun juga, ucapan dokter kepada pasien tak akan bisa dikalahkan argumen seorang polisi. Terlihat malu-malu, Fira akhirnya naik juga ke punggungku.

__ADS_1


“Obatnya nggak ketinggalan, kan?” tanyaku, berdiri.


“Aku lupa!” jawab Fira.


Seketika, tubuhku mematung, kebingungan. Dalam posisi ini, aku tak bisa mengambilnya.


“Bagaimana aku bisa mengambilnya, coba?!” gerutuku.


“Mbak Nur!” panggil Fira.


“Iya, neng!”


Mbak Nur buru-buru menghampiri.


“Ambilin obat Fira di mobilnya Gilang, dong!” serunya, “di plastik putih!” lanjutnya.


“Baik, neng!” jawabnya.


Tiba-tiba saja, Fira senyum sinis.


“Tinggal minta tolong, gampang!” sombongnya.


Aku hanya menggeleng, menggendongnya memasuki rumah. Sebelum kelupaan, aku juga meminta Mbak Nur mengambil amplop besar di atas dasbor. Isinya adalah hasil rontgen Fira yang sebenarnya, tidak menunjukkan masalah serius.


......................


Tak cukup hanya sampai di dalam rumah, Fira meminta membawanya menaiki tangga, menuju lantai dua. Ia terus merengek sehingga membuatku tak punya banyak pilihan. Penuh perjuangan, akhirnya aku berhasil sampai di lantai di.


“Itu kamarku!”


Fira menunjuk salah satu kamar. Pintunya tertutup rapat, bertempel macam-macam stiker bunga dan hiasan bertema boneka.


“Kelihatan kayak kamar bocah TK, ya?” tanyanya lagi.  


“Nggak beda jauh sama kamarku, kok,” jawabku.


“Kamu juga nempelin stiker bunga, pas kecil?”


Dengan raut heran, Fira menatapku.


“Bukan bunga, tapi bola!” sanggahku, “gambar logo tim, jadwal pertandingan, bahkan poster pemain. Semunya masih tertempel di kamar,” imbuhku.


Mendengar penjelasanku, Fira manggut-manggut.


Sambil menggeleng tak habis pikir, aku mencoba masuk.


“Kenapa salah sangka begitu?” pikirku.


Tiba-tiba saja, Fira menjambak rambutku dan menyuruh membawa ke sofa, tepatnya di ruang tengah lantai dua.


“Siapa yang nyuruh masuk?!” omelnya.


“Terus ngapain nunjuk kamar, kalau nggak boleh masuk?”


Aku balik bertanya.


“Emang kalau nunjuk berarti harus masuk?!”


Jual beli argumen terus terjadi yang hasilnya sudah bisa ditebak.


“Baiklah, maaf!”


Ya, aku kalah.


Sambil mendesah, pecundang ini berjalan menuju sofa. Kelihatannya, tempat itu adalah ruang keluarga.


Televisi datar ukuran 34 inci terpasang di atas lemari kecil, lengkap dengan sound system. Di belakangnya, terpasang kabel langganan dan juga kabel parabola. Lantai sekitar tertutup karpet lembut berwarna merah.


Sambil menurunkan Fira, aku mengamati sebuah USB yang terpasang. Kelihatannya, dia habis menonton sesuatu. Selang beberapa saat, Mbak Nur datang menghampiri dengan membawa serta obat, serta amplop yang sebelumnya dia ambil. Sementara itu, aku membantu Fira melepas sepatu.


“Taruh di mana, neng?” tanya Mbak Nur.


“Taruh meja dulu, mbak!” jawab Fira, “mama mana?” lanjutnya.


“Keluar sebentar,” Mbak Nur.


Ia lanjut menawariku minum, tetapi aku segera menolaknya. Aku beralasan tidak akan tinggal terlalu lama, apalagi setelah mendengar kalau mamanya Fira sedang keluar. Bisa-bisa, itu akan berujung menjadi mala petaka.

__ADS_1


 


__ADS_2