
Aku tidak bisa berkata-kata, sadar letak kesalahan nasihatku. Tetap tak habis pikir berapa kali pun, mengaduk simulasi di benak.
Kenapa hal itu kemudian digunakan secara harfiah, untuk mempermainkan trauma adiknya?
Sebagian dari diriku sepakat, nasehat itu memang petaka. Tapi maksudku tidak-lah begitu. Mereka tidak bisa seenaknya menjadikan perspeksi itu menjadi unsur pidana.
"Ini konyol!" gerutuku.
Petugas diam menatapku. Asumsi unggul dalam kasus ini semakin menipis, dan perasaanku semakin memburuk. Saliva di dalam mulut terkumpul. Reaksinya benar-benar datar.
Aku sama sekali tidak ingin mendengar apa pun, tapi mereka memperlihatkan beberapa data. Itu benar-benar gila. Sesuatu yang bodoh pasti akan dimulai kembali. Dia mempersiapkan sesuatu dengan laptop tadi.
"Tahu apa ini?" tanyanya.
Sambil menggeleng, kutatap layar monitor.
Dia menggebrak meja. Ini terasa seperti adegan klise yang biasa kulihat di televisi, saat seorang polisi menginterogasi maling ayam.
Why, he do this?
I mean, aku sedang memperhatikan layar monitor di sini. Kenapa melakukan hal yang mengganggu fokus? Apakah mereka benar-benar serius saat bertanya kepadaku, tahu apa ini?
Aku menarik napas. Memperhatikan gambar kotak, penampang web bedebah, serta rincian data-data. Sejujurnya, aku tidak ingin melihatnya. Ke mana ini semua berujung, dan apa sangkut pautnya. Hal itu bisa diterka sejak kali pertama melihatnya.
Tidak salah lagi, itu adalah riwayat peretasan situs Redbox yang pernah aku lakukan. Tapi, apa yang mereka rencanakan dengan itu? Apa hubungannya kotak-kotak gratisan itu dengan kasus ini?
"Aku ingin kamu mengecek lagi, kotak dengan nomor seri 12B117HG!" ujar Si Petugas.
Aku mengelus kening. Kuakui memecahkan begitu banyak kotak gratisan, dan itu mungkin salah satunya. Masalahnya, mereka menginginkanku mengingat salah satu yang sebenarnya tidak pernah kupecahkan. Itu semua hanyalah kotak gratisan yang dahulunya tidak diperdulikan.
Meanwhile, aplikasi robot yang memecahkan semua itu.
"Saya meminta laptop di rumah saya!" seruku.
"Untuk apa?" tanya Si Petugas.
"Saya akan demonstrasikan bagaimana saya memecahkan kotak-kotak itu."
"Kenapa tidak melakukannya sekarang saja?"
"Semua alatnya ada di komputer saya!"
Si Petugas melotot. Itu pasti karena nada suaraku terlalu tinggi. Dia terlihat tidak menyukainya, beruntung seorang petugas membuka pintu. Entah apa yang akan dia lakukan kalau dia tidak datang.
"Izin, keluarga saksi datang, Pak!" ucapnya.
"Kami masih dalam proses interogasi sekarang!" seru Si Petugas, "tidak bisakah kalian mengatasinya?" lanjutnya.
"Siap, masalahnya mereka membuat keributan!" jawab petugas tadi.
Mereka bangkit, berunding cukup alot sampai kemudian pergi bersamaan.
Mereka baru saja mengatakan keluarga saksi?
__ADS_1
Entah kenapa, tubuhku gemetaran. Melihat perkembangan kasus aku yakin statusku bukanlah pelaku, atau setidaknya untuk saat ini.
Apanya yang untung, bahkan ini baru awal dari kesialan!
......................
Pikiranku mulai semakin liar. Ingin rasanya kabur dan pergi sejauh mungkin. Apalagi saat kudengar suara itu.
Cempreng seperti knalpot bocor. Tapi menggelegar bak petir di siang bolong. Tidak ada wanita lain dengan suara seperti itu, selain dia.
Tubuhku semakin lemas saat suara yang berat dan sedikit serak, saling sahut-menyahut. Mereka sudah di depan pintu. Terindikasi dari suara langkah kaki yang terhenti. Aku segera bersembunyi di bawah meja. Tapi dia memanggil namaku.
"Dimas!!!” bentaknya, “apa meringkuk di bawah meja itu maksudnya bersembunyi!?" lanjutnya.
"Tidak, bu Dimas cuman ngambil uang Dimas yang jatuh," kibulku.
"Duduk sekarang juga!" perintahnya, "ada banyak hal yang ingin kami tanyakan!" lanjutnya, dengan nada emosi yang melengking tinggi.
Terpaksa, aku kembali duduk. Aku benar-benar tidak bisa mengelak. Dua orang yang paling tak ingin kutemui menatapku dengan wajah menyeramkan.
"Waktu kalian 15 menit, silahkan gunakan sebaik mungkin!" ucap salah seorang petugas, membuka malam paling horor dalam hidupku.
Somebody, please kill me right now!
Kepala rasanya berat, tidak bisa lagi memikirkan apa-apa. Kuharap, seseorang mau berbaik hati mengabulkan permintaanku.
"Kamu benar-benar sudah melempar tahi ke mukaku!" bentaknya, sosok paling belakang.
Pria itu menyilang tangan, seraya memasuki ruangan. Aku sempat menoleh, tapi seketika membuang arah pandangan. Pola pikirku yang ugal-ugalan, mulai memikirkan berbagai skenario mencekam. Terlebih, situasi tiba-tiba hening.
Bahunya masih kelihatan lebar walau langkahnya sudah tak segesit dulu. Sungguh, tubuhnya masih kelihatan besar, padahal tinggi kami sudah sepantaran.
Kurasa, memiliki anak sepertiku memberinya tekanan terlalu besar. Keriput di wajahnya yang semakin banyak mengindikasikan itu.
Setiap tahun, garis-garis di wajahnya semakin parah. Bukannya tidak menghormati, aku hanya tidak menyukai bagaimana dia selalu tidak sependapat. Dan sosok wanita di sebelahnya pun, terlihat sangat menderita.
Mengenakan kacamata bulat, serta masih memakai seragam dinas. Tanda lahir di bibir atasnya adalah ciri khasnya. Seperti yang orang-orang katakan, dia sangat cerewet.
Meskipun sering merasa kesal, pada akhirnya aku tidak pernah mampu membencinya. Sebaliknya, dia adalah orang yang paling kusayangi.
Sambil melepas kacamatanya yang basah air mata, wanita itu menggenggam tanganku. Bisa kurasakan, tangannya yang kurus gemetaran. Itu membuatku merasa sangat terguncang.
Aku benar-benar sangat tidak berguna.
"Apa yang kamu lakukan sampai-sampai ditangkap polisi, Dim?" tanyanya, "mau ditaruh dimana muka kami?! Jawab!!!" lanjutnnya, membentak.
"This is not like your think, mom, cuman salah paham doang, kok!"
"Salah paham mbahmu! Berapa kali ibu bilang, berhenti sok-sok bahasa Inggris!"
"Ini semua karena kamu terlalu memanjakannya," sahut ayah," lihat kelakukannya sekarang, dia pasti keracunan game!" imbuhnya.
"Kenapa menyalahkan ibu? Anakmu tuh, tidak bisa diatur!"
__ADS_1
"Anakmu!"
"Dimana-mana ribut!" sahutku, "lagipula semua hobi memang tidak berguna, mau bagaimana lagi?" lanjutku, menggumam.
Mereka berdua menoleh, menatapku penuh amarah. Ayahku seketika mendatangiku, mendaratkan sebuah gamparan. Dia juga mulai menendang, memukul, hingga akhirnya ibu meredakan amarahnya.
"Ini, nih kelakuan anakmu, selalu saja membantah!" maki ayah.
Aku hanya diam, walaupun tidak merasa mengatakan hal yang salah. Apanya yang keracunan game? Memangnya makanan basi? Mereka memang selalu ribut, dan semua hobi tidak ada gunanya.
Itu adalah fakta, rumusan masalah yang bisa dipelajari, serta memiliki rujukan yang akurat. No debat!
Andai masih kuliah, tesis ini mungkin saja akan kupertimbangkan untuk dijadikan landasan skripsi. Tenis, sepak bola, basket, semuanya tidak lebih dari sekedar buang-buang tenaga.
I mean, kenapa tidak sekalian jadi buruh pabrik saja, kalau sekedar ingin berkeringat?
Tidak hanya memiliki tubuh atletis dambaan, kita juga mendapat uang dari pekerjaan itu. Belum ilmu dasar yang kita dapatkan. Bandingkan saja dengan aktivitas olah raga.
Apa kita bisa menambal genteng yang bocor dengan tendangan bebas? Atau mengganti pagar yang rusak dengan pagar betis? Tidak, bukan?
Aku tahu, caraku membandingkan memang tidak sehat, tapi tetap saja hal-hal itu tidak punya fungsi makro lain, selain menyehatkan tubuh.
Oke, gerakan seperti smash pada mantan yang menyebalkan, atau slam dunk ke arah maling jemuran mungkin berguna. Tapi selain itu, nyaris tidak ada faedah yang bisa kita peroleh dari aktivitas olahraga.
Gaya-gaya ciamik seperti Cristiano Ronaldo, atau Leonel Messi sekali pun, tak bisa kalian terapkan di dunia nyata.
Mau ngapain? Giring kubis gelondongan? Hattrick ke penggorengan? Atau tendang salto kepala tetangga?
Bukannya membuat girang fans, yang ada mati digebuki.
How about martial art?
Karate, taekwondo, silat, kungfu, thai boxing, semua itu mungkin terlihat keren, tapi tidak terlalu berguna menurutku. Maksudku, penjahat jaman now lebih suka menggunakan senjata api.
Andai kata, kita berlatih sampai menjadi nomor wahid dengan gelar sabuk hitam. Kuda-kudamu sudah semaksimal Jet Lee. Gayamu sudah lincah seperti Jacky Chan, dan pukulanmu sudah seganas Mohamad Ali. Tapi kalau sekali dor nyawamu melayang, apa gunanya?
Menurutku, wajib militer jauh lebih masuk akal jika konsepmu adalah mempertahan diri. Kamu juga bisa ikut membela negara dengan menjalankan program mulia itu.
Setuju?
Saya tidak!
Asal kalian tahu, beberapa orang bahkan memikirkan kayu seolah-olah memikirkan negara. Tapi kenapa hanya hobiku saja yang dianggap sebelah mata?
Sungguh, bukan maksudku merendahkan mereka, apalagi menghina. Aku hanya merasa tidak diperlakukan adil oleh dunia.
"Selalu saja begitu, memangnya ada yang tidak kamu keluhkan di dunia ini!?" tanya Ayah.
Aku meliriknya berpikir soal argumen lain. Dia pasti hanya akan menganggapku kurang ajar kalau menjawab. Jadi aku hanya diam.
Semua hal di dunia ini memang menyebalkan, terutama pasangan yang suruh menyuruh mematikan panggilan telepon, dan suap-suapan di depan umum. Jangan lupa juga mereka yang suka bilang, "pakai uangmu dulu, ya!"
Mereka hanya pendusta.
__ADS_1
I hate them all, and the world that let them live!