Kotak Merah

Kotak Merah
Box 25 : 3 Million


__ADS_3

Setang jepit kekinian, ban mengkilap, serta velg jari-jari memukau ala anak racing. Sambil melaju sok gagah, aku senyum-senyum sendiri karena semua orang memperhatikanku.


Bisa bawa pulang berapa cabe-cabean, kalau benda ini kubawa pulang, ya?


Sepanjang perjalanan, hal bodoh itu terus saja kupikirkan.


......................


Sampai di kos-kosan, Roni langsung memberondong pertanyaan. Ia menginginkan testimoni soal motor kebanggaannya, tapi kujawab seolah-olah tak perduli. Padahal iri setengah mati. Ingin rasanya kukatakan kalau ia sama sekali tidak pantas memakainya, tapi itu hanya akan membuatku kelihatan menyedihkan.


Aku berpindah menghadap komputer. Ku pasang headset, dan lagu-lagu DJ langsung menggelegar ke telinga. Suaranya yang serak-serak banjir, akhirnya tidak kedengaran. Kuputuskan mempelajari kasus ini dari awal lagi. Makin lama, makin bosan telinga ini mendengar kisah jumawa-nya bersama motor kesayangan.


Barusan Rian, kemarin Yanto, sebelumnya Alex, dan sebelumnya lagi Anwar. Selain Alex, pelaku pembunuhan ketiga orang itu belum juga ditemukan.


Jangan lupakan pula gadis Rusia yang memiliki akun medsos bernama Rose Williams. Dia mungkin tidak mati, tapi kasusnya juga berhubungan erat dengan situs itu.


......................


Sebenarnya, ada apa dengan Redbox?


Hipotesisku, Rian adalah pembunuh Yanto, dan Gilang adalah pembunuh Rian. Dia mungkin berencana menjadikanku kambing hitam, memanfaatkan situasi menyudutkan ini.


Besar kemungkinan, Rian membunuh Yanto. Menjadikan jari-jarinya menjadi isi kotak berharga ratusan dolar. Mengetahui hal ini, Gilang tidak mungkin tinggal diam. Apa lagi, dia sendiri bilang, “dia sudah menganggap Yanto sebagai ayah.” Atau mungkin juga, Gilang sangat benci band d’nasiv, makanya membunuhnya?


Persetanlah dengan alasan mereka!


The problem was, kenapa dia membantuku membersihkan nama, kalau tujuannya memang demikian? Ataukah ini hanya siasat?


Mungkin aku memang harus menyelidiki Anwar terlebih dahulu, karena kasusnya-lah yang paling aneh. Sampai detik ini, petunjuk soal kematiannya masih berselimut kabut.


Jangankan pelaku, isi premium box yang ia unggah saja masih abu-abu. Boneka beruang. Terkadang juga barbie. Tapi semuanya memilki bercak darah yang hanya bisa dipastikan menggunakan cairan khusus. Tak jelas darah siapa yang ada di situ. Orang-orang bilang sih, itu adalah darah anak kecil.


Ku tatap bukti kedua. Sebuah plastik bening yang lebarnya hanya beberapa senti. Aku tak yakin soal ukuran pastinya. Tapi dari penelusuran, lebarnya tak lebih dari dua jengkal. Sama seperti boneka sebelumnya, tersembunyi bukti terselubung berupa bekas sidik jari manusia. Melihat ukurannya, bisa dipastikan bahwa, sidik jari itu milik orang dewasa. Tapi lagi-lagi tak jelas siapa pemiliknya.


I know, semua informasi ini sangat prematur. Itu benar-benar membuatku sangat menyesal.


Aku harusnya lebih perduli. Kejadian demi kejadian yang terjadi ternyata saling terikat satu sama lain. Jika saja aku lebih tertarik sejak awal, semuanya mungkin tak akan menggantung seburuk ini. Bosan rasanya mengulang ini. Mereka semua juga pastinya telah mengetahuinya.


Ku putuskan membuka video kiriman Argus kemarin. Tapi rupanya hal itu hanya membuat semakin jengkel.


Ini benar-benar sangat bodoh!


Apa yang ku anggap bukti utama, ternyata hanya video pendek, merekam aktivitas dua orang pria dan seorang gadis kecil. Mereka sungguh tak melakukan apa pun. Hanya berbincang sebentar, kemudian menaiki mobil bagus.


Sejenis sedan berwarna hitam, dengan logo mengkilat yang kelihatan sangat jelas. Kurasa pabrikan Korea. Mobil berharga miring, tapi memiliki harga suku cadang selangit. Mereka hanya pergi begitu saja sebagaimana durasi video yang tak sampai 2 menit.


......................


“Sial, dia membodohiku!”


Aku berdiri, mencopot headset dan enyah dari hadapan komputer.


Kalau tetap duduk, aku mungkin akan menghancurkan layar monitor, dan menyesalinya seumur hidup.


“Kenapa?” tanya Roni.


“Cuman kesal sendiri!” jawabku, “aku pergi keluar sebentar, ya!” lanjutku.

__ADS_1


“Jangan seenaknya! Tugas kami mengawasimu, ingat?” Roni.


“Aku cuman mau menenangkan diri sebentar, kok!”


“Bener, ya awas kalau macam-macam!”


Aku melambaikan tangan, pergi dai ruangan. Duduk di ponakan, merenungi sesuatu yang tak jelas seperti gelandangan.


Jam sudah menunjukkan pukul sembilan. Tapi Roni belum beranjak, padahal biasanya jam tujuh saja sudah uring-uringan. Aku yakin, sebentar lagi dia akan datang.


Sialnya, aku dan jari bodohku sempat berulah. Ini pasti akan menjadi malam yang berdarah-darah.


Masa bodohlah!


Aku mendesah, hanyut semakin dalam di kegelapan malam.


Pikiranku benar-benar kacau. Tidak ada ide busuk lagi. Saking stresnya ponsel yang bergetar pun, nyaris tidak kusadari.


Mau ngapain, nih bocah?


Layar di ponselku menampilkan gambar telepon dan foto Lisa. Tapi segera menghilang saat aku mencoba mengangkatnya. Rupanya gadis itu sudah mencoba melakukan panggilan sebanyak enam kali.


Merasa penasaran, segera ku telepon balik.


......................


“Ha-“


“Bang Dim! Abang ngapain lagi, sih?”


Belum juga menyapa, gadis itu langsung menyerobot.


“Ada orang nyariin, tuh! Minta ganti rugi katanya!”


“Itu pasti penipuan, bawa motor, jemput abang cepet!”


“Udah malem, Ayah nggak mungkin ngasih izin. Asli yang bener aja, deh bang! Ibu udah keluar uang 3 juta buat nebus abang, lho!”


“Kata siapa?”


“Ish, kalau nggak gitu, mana mungkin abang dikeluarin?”


“Mereka bi-“


Panggilan tiba-tiba diputus begitu saja.


“Dasar adik kurang ajar!”


Kepala rasanya benar-benar mendidih. Ingin rasanya membanting ponsel saat itu juga.


But, wait a second!


Kalau benar ditebus, kenapa mereka masih menyiksaku? Kenapa terus menyuruh ini itu?


Kulihat Roni melambaikan tangan, pergi mengendarai motornya begitu saja. Di belakangnya, Gilang jalan menuju ke arahku. Aku segera memalingkan muka, merasa sangat muak.


Tubuhku bergidik, udara dingin seketika berembus dari segala penjuru. Suara hiruk pikuk dunia luar yang menyebalkan, tiba-tiba terasa senyap.

__ADS_1


Pikiranku menjadi semakin tak karuan. Aku merasa seperti habis mencuri rambutan tetangga, lalu tiba-tiba sang pemilik masuk ke rumahku tanpa permisi.


Sungguh, kenapa intuisiku hanya akurat pada saat seperti ini?


Aku masih merasakan hawa kehadiran Roni, tapi suara motornya pergi menjauh, terdengar sangat jelas. Ingin rasanya memastikan itu, tapi dia langsung menegur sebelum sempat menengok.


“Apa maksudmu siang tadi?!” Gilang.


Aku berbalik, medapati wajahnya yang jengkel, berdiri di depan pintu. Tampangnya sudah seperti induk ayam yang kehilangan anaknya. Dan seperti dugaan, Roni sudah pergi.


Aku heran, kenapa orang yang salah justru selalu kelihatan lebih menyeramkan daripada mereka yang benar?


“Kalian sendiri, bagaimana?”


“Aku bertanya duluan, jawab dulu pertanyaanku!”


“Ini bukan mengantre bensin, tidak perduli siapa yang duluan!” jawabku, “apa yang kalian rencanakan? Atau jangan-jangan, justru kalianlah pelakunya?” imbuhku.


“Hah, kau sudah gila, ya?” ujar Gilang.


Aku mendecak. Kurasa dia benar. Mereka jelas-jelas menyembunyikan banyak hal, tapi aku masih saja mau diajak bekerja sama.


“Kalian pikir ini menyenangkan?” tanyaku.


“Dengar, itu adalah kasus penting, rahasia negara! Aku tidak mungkin mengatakan itu kepada warga sipil!” Gilang beralasan.


“Oh, ya? Terus kenapa divisi cybercrime sepertimu mendapat perintah menangani kasus pembunuhan?”


“Kamu ini kenapa? Dari dulu tetap pecundang!” tudingnya, “apa nuranimu sudah benar-benar mati? Kami kehilangan orang yang berharga, tidak bisakah membantu sedikit saja?” tambahnya.


Omong kosong!


“Apakah uang 3 juta tidak cukup membantu?” jawabku.


“Apa maksudmu?” Gilang.


“Kalian meminta tebusan pada keluargaku, lalu memaksaku membantu, pecundang sekali pun, bisa marah kalau terlalu diremehkan!”


Gilang hanya diam, terlihat sangat terpukul. Entah itu hanya sandiwara atau apa, sepertinya dia tidak tahu. Tapi aku tidak perduli. Di mataku, mereka semua sama saja.


“Kalian juga mendatangi rumah untuk meminta ganti rugi, bukan? Sesuka itukah kalian dengan uang haram? Cepat katakan padaku, berapa lagi yang ingin kalian min-“


Seketika, bogem mentah mendarat di wajahku. Tubuhku terlempar tak kuasa menahan tenaga Gilang. Dia benar-benar memukul dengan sangat keras, sampai-sampai suaranya membuat tetangga sebelah keluar dari kamar.


“Sekali lagi kudengar kau mengatakan itu, kuhancurkan seluruh wajahmu!” ancamnya.


Sesuatu yang asin terasa di lidahku. Kurasa itu adalah darah. Rasanya benar-benar amis. Begitu meludah, rupanya benda berwarna merah itu benar-benar keluar. Aku tidak terlalu terkejut. Waktu SMP juga sering mengalami ini.


“Apakah tidak apa-apa, memukul warga sipil begitu saja?” tanyaku.


Rasa asin di mulut mengumpul lagi, membuatku meludah sekali lagi. Aku pasti terlihat sengaja melakukannya, tapi aku tidak perduli. Walaupun dianggap memprovokasi.


“Cukup! Kalau tidak mau membantu diam, tidak usah memperkeruh keadaan!” serunya, menarik kerah bajuku, “sampai kapan pun, kamu hanyalah pecundang!” imbuhnya.


Setelah mengatakan itu dia pun, pergi. Tetangga yang melihat adegan itu buru-buru masuk. Ketakutan melihat atribut yang dikenakan Gilang. Aku berusaha bangkit dengan sisa-sisa tenaga yang ada. Lagipula semakin lama, wajahku mulai terasa sakit.


Memangnya, tahu apa dia tentangku?

__ADS_1


Walaupun apa yang dia katakan hanyalah kritik yang jujur, bagiku itu benar-benar sangat mengherankan.


__ADS_2