
“Kau tahu, aku ini orangnya canggung, makanya tidak bisa bisa bicara dengan benar,” ujar Gilang, “Roni pasti salah sangka dan menganggapmu orang yang jahat,” lanjutnya.
“Emangnya itu salah, ya?” jawabku.
“Bener juga, kamu orang yang sangat menyebalkan.” Gilang.
Aku benar-benar bingung bagaimana menjawab kritik jujur ini. Haruskah aku bertanya mbah goomble? I mean, dia mengatakannya dengan begitu santai dan semua perbuatanku di masa lalu adalah salah. Tapi kenyataan tidak ada namaku di antara anak-anak yang dia adukan membuatku bertanya-tanya.
Apakah sebenarnya, dia tidak membenciku?
Aku menggeleng. Jelas itu tidak mungkin.
Kalau dia tidak membenciku, kenapa dia bilang aku menyebalkan?
Kontradiksi ini terlalu sulit untuk bisa kumengerti. Walaupun begitu, aku curiga dia tidak membenciku separah mereka.
......................
“Buka amplop itu!”
Sambil menyeduh kopinya lagi, Gilang mengedikkan kepala ke arah amplop tadi. Warnanya coklat terang dan berukuran cukup besar. Sebenarnya aku merasa canggung melakukan ini. Sebab, benda itu dia banting begitu keras. Tapi sesuatu yang ada di dalam amplop itu biasanya mengandung vitamin A. Jadi apa salahnya cuci mata sebentar?
Benar saja, isinya kertas merah kesukaan semua orang. Jumlahnya ada 30 lembar, genap dengan total uang yang mereka minta dari keluargaku.
“Ini...”
“Uangmu! Aku kembalikan tanpa kurang seperak pun!” sambar Gilang.
“Kenapa kamu melakukan ini?” tanyaku.
“Yang haus akan materi hanya segilintir oknum, kamu harus tahu itu!” tudingnya.
Aku tambah merasa bersalah. Rasanya, begitu banyak hal bodoh yang sudah kulakukan. Kepalaku benar-benar sudah mencapai batasan untuk memproses semua ini. Hitam dan putih terasa bagaikan abu-abu di mataku. Semuanya terlalu samar untuk diidentifikasi dengan benar.
“Kalau semua yang kupikirkan salah, terus apa maumu?” tanyaku.
“Entahlah, aku sendiri bingung,” jawab Gilang, “aku tahu kamu pasti sangat bingung. Kurasa, caraku meminta bantuan kurang tepat, karena semua masalah ini,” lanjutnya.
“Aku sama sekali tidak mengerti!”
Dengan jujur, kuutarakan pendapatku tentang omongannya yang sangat ribet, berputar-putar dan tidak efisien.
“Aku kehilangan orang yang berharga dalam hidupku dan kamu adalah satu-satunya petunjuk, ” ungkapnya.
Aku menarik napas menghentikan semua proses berpikir yang tidak perlu. Sekarang aku tahu apa yang dia inginkan, terlepas dari rasa tidak senang akan peran bodoh ini.
__ADS_1
Dari awal, kasus Anwar adalah masalah yang ingin dia pecahkan. Keinginannya mengungkap itu sudah dia utarakan sejak pertemuan pertama. Namun, aku terlalu banyak berpikir, sehingga gagal menyadari hal sederhana ini.
There is an easy one, why choose the hard one?
Rasa percayaku kepada sesama pasti sudah sangat tipis. Aku sangat benci tantangan, tapi entah kenapa selalu saja memilih jalan yang ribet.
......................
“Kemarilah, ada sesuatu yang belum sempat kutunjukkan!” seruku, duduk di depan komputer.
Tombol power kunyalakan, karena layarnya sudah hitam. Aku tidak tahu kalau itu cuman berada di mode tidur. Tapi mau bagaimana lagi? Tombol restart sudah terlanjur kutekan.
“Memangnya ada apa?” tanya Gilang.
“Aku mendapatkan sesuatu dari kenalanku, tapi tidak usah terlalu berharap. Benda itu bisa saja sebuah tipuan,” jelasku.
Akhirnya komputer kembali menyala. Gilang terlihat agak kepo dengan wallpaper game yang kupasang. Walaupun hasrat pamerku tergelitik, aku sedang tidak punya waktu sehingga segera masuk ke file hardisk.
Di sana-lah tempatku menyimpan video itu. Kiriman Argus tempo hari yang berdurasi sangat pendek.
“Isinya hanya gambar dua orang pria dan seorang anak kecil, menaiki mobil!” jelasku, memutar video itu.
“Bisakah kau hentikan videonya sebentar?!” pinta Gilang.
“Mundurkan sedikit!” serunya lagi.
“Ada apa?” tanyaku, bingung.
Gilang tiba-tiba saja mengeluarkan laptop dan berkata, “bisakah kau kirimkan video itu kepadaku?”
“Kenapa?”
“Kumohon lakukan saja, ini adalah petunjuk yang sangat penting!”
Aku menggeleng. Di bawah meja tempatku meletakkan PC, terdapat sebuah laci. Di sana aku menyimpan flashdisk yang dulunya kugunakan untuk tujuan perkuliahan yang sangat menyebalkan. Tanganku bahkan sempat terhenti, terkenang beberapa tugas yang belum sempat kutunjukkan.
Mungkinkah aku merasa menyesal?
Kubuang perasaan sentimental tidak berguna ini jauh-jauh.
Dengan flashdisk itu, aku segera mengcopy file video tadi dan menaruhnya ke dalam salah satu folder. Hanya dalam hitungan detik, proses itu pun selesai begitu saja.
"Ini!" seruku, mencabut flashdisk itu. Setelah melakukan proses eject.
“Aku akan memindahkannya dulu se-“
__ADS_1
“Sudahlah bawa saja, toh aku tidak menggunakannya lagi!” putusku.
Gilang terlihat bimbang. Kurasa, dia orang yang cukup peka. Tapi aku segera meyakinkannya.
"Benda ini benar-benar sudah tidak kubutuhkan lagi," yakinku.
“Terimakasih kawan, aku akan segera menganalisanya!” angguk Gilang.
Aku hanya melongo. Baru kali ini dia memanggilku "kawan." Dengan sangat terburu-buru, dia bergegas pergi.
Yang paling membuatku bingung ialah, durasi dan resolusi video itu benar-benar sangat buruk.
Mungkinkah aku terlalu cepat menilai?
Tiba-tiba, Gilang masuk lagi dan berkata, “oh iya, maaf aku menyebutmu pecundang. Sebenarnya aku tahu, kamu tidak seperti itu! Kalau begitu aku pamit dulu, ya!”
......................
Tiba-tiba, dadaku terasa sesak. Bibirku tersenyum sangat lebar. Aku benar-benar tidak menyukai perasaan ini, karena mataku jadi lembab.
Mungkinkah aku merasa terharu?
Aku selalu menganggap bahwa diriku benar-benar seorang pecundang dan apa yang dia katakan hanyalah teguran lisan, yang tak sanggup kukatakan kepada diri sendiri.
......................
Aku membuka pintu, memperhatikannya dari kejauhan. Kali ini, Gilang benar-benar pergi. Kupikir tidak ada yang benar-benar menarik di dunia ini selain game, ternyata pendapat itu tidak sepenuhnya benar.
Walaupun tidak ada yang bisa mengalahkannya dari tangga puncak terfavorit, setidaknya ada hal lain yang menarik minatku. Tanpa kusadari, aku mulai mencari tahu tentang kasus Anwar. Bahkan mengetiknya di mesin pencarian.
Kurasa ada yang salah dengan otakku. Aku merasa seperti emak-emak yang baru mengenal internet dan ngeyel mencari dompet, yang hilang lewat doogle. Tapi anehnya, hasil pencarian justru menunjukkan hasil yang sangat mengejutkan. Bahkan, informasi yang kuterima jauh lebih lengkap dibandingkan menyelam berminggu-minggu lewat dark web.
Its work?
Siapa sangka, sosok Anwar adalah seorang influencer yang memiliki beberapa fan fanatik.
Orang-orang itu bahkan, membuat forum untuk mendiskusikan kematiannya dan terus aktif sejak kematiannya diumumkan.
How could it be?
Aku benar-benar merasa sangat frustasi. Andai saja kulakukan ini dari awal.
Walaupun tidak ada yang mempublikasikan isi kotak itu, setidaknya informasi-informasi kematiannya dirangkum dengan sangat runtut. Kalau saja melihat ini lebih cepat, aku pasti tidak perlu salah sangka.
Aku curiga seseorang sudah mengutukku. Kurasa, aku harus pergi ke rumah Roy Kimochi dan melakukan ritual buang sial. Mandi kembang tujuh rupa, ruwatan, lalu menanyakan kurma-kurma masa lalu. Maksudku karma, whatever-lah. Acara itu konyol dan serba settingan.
__ADS_1