Kotak Merah

Kotak Merah
Box 13 : Look at Them Face!


__ADS_3

Mereka mempermasalahkan hal yang tak pernah dipikirkan orang lain, menangkap orang paling tak berguna di dunia, dan kelihatannya mereka ingin orang itu melakukan sesuatu.


Dasar amatiran, setidaknya sebentar lagi mereka akan menyerah!


......................


"Itu tidak mungkin!" ujar polisi yang memiliki bekas luka di dahi itu.


Aku sedikit terkejut, karena merasa, dia membaca pikiranku. Tapi wajahnya tidak menunjukkan itu.


Apa sebenarnya isi tengkorak mereka, sampai begitu keras kepala?


"Saya sudah mengatakan segalanya, terserah kalian mau percaya atau tidak," ujarku.


"Kamu mungkin bisa memecahkan banyak kotak dengan alat itu, tapi tidak dengan yang satu tadi," sangkalnya.


Aku mencoba menahan tawa. Selain tidak sopan, itu amat berbahaya. Hanya saja, ini terlalu menggelikan. Mereka sedang berpikir kalau aku menyelesaikan kotak yang jumlahnya puluhan, bahkan ratusan bila dijumlahkan dengan kotak yang juga Argus pecahkan, di waktu yang sama.


Lucu sekali!


Andai saja mereka bukan polisi, mungkin sudah kusuruh mereka untuk cuci muka.


Maybe, they just drunk? Who know's?


"Kau belum melihat kotak yang kami maksud, bukan?" tanyanya.


Aku menggeleng. Bukan maksudku menjawab pertanyaan mereka, walau itu mewakili keadaan. Tapi, apa yang sedang mereka pikirkan benar-benar membuatku muak.


Apa lagi yang mereka coba buktikan dariku?


"Katakan padaku, apa kau memasukkan kata Indonesian, dalam program boot-mu?" tanyanya.


“Tidak, maksudku entahlah. Aku hanya memasukkan kata-kata yang ada dalam kamus, lalu membuat mesin yang bisa mengeluarkan itu secara tersusun,” jawabku, “just be a word, that's all!" lanjutku, sok bule.


"Kau pasti mengurangi jumlah kata agar program itu tak terlalu boros kalimat, bukan?" Si Petugas.


"Mungkin, tapi aku hanya melakukan itu berdasarkan frekuensi."


"Kita buktikan sekarang!"


Si Petugas mengambil alih komputerku, mengotak-atik salah satu aplikasi kemudian tersenyum. Dia membongkar program, melakukan pencarian kata, "indonesian" dengan bantuan perintah ctrl + f.


Itu sedikit mengejutkan. Tidak kusangka dia sedikit menguasai koding. Dia benar. Tak ada kata itu dalam program kata-kata yang kusetel. Lagipula, siapa orang luar negeri yang akan menggukanakan kata itu?


"Terus kenapa?" tanyaku.


"Periksa kotak itu!" perintahnya.


Aku menggeleng, masuk ke situs Redbox menggunakan jaringan mereka. Sungguh, benakku masih tak habis pikir dengan level kengeyelan orang-orang ini. Kubuka nomor seri kotak yang mereka tunjukkan, dan kupelajari secepat mungkin.


Sebuah borgol berkarat, kunci kecil, (kemungkinan untuk membuka borgol itu) serta bungkus makanan yang kelihatan familiar. Semuanya merupakan petunjuk yang ada di dalam kotak tadi. Namun semua itu hanya pelengkap. Sebuah plastik bening tertutup rapat itulah petunjuk utamanya, potongan jari.


Aku terdiam, tiba-tiba merasa familiar dengan ini semua. Tidak seperti yang mereka perlihatkan padaku, aku hanya membaca itu sebatas ringkasan semata.


Ya, tepat setelah keparat itu mengirimiku video.


Gara-gara dia aku jadi mengunjungi Redbox, mendapat pesan dari gadis itu, dan yang paling parah adalah ini semua. Persetan dengan hubungan antar manusia. Sungguh, tak ada satu pun, hal baik dengan melakukan ini semakin sering.


Remember this! From now on, don't trust strange euphoria.

__ADS_1


Saat itu, aku tengah membaca peraturan tentang Redbox, penasaran akan asal muasal video yang dia kirimkan. Di sana, kutemukan fakta akan adanya perputaran uang yang tak masuk akal. Orang-orang membeli ini, hanya untuk merasakan sensasi ketakutan.


Kalian bisa mencarinya keyword ini, "unboxing deep web," maka akan muncul begitu banyak artikel dan video yang mengulas tentang aktivitas membuka kotak tak berguna itu.


Singkat cerita, aku mengunjungi Redbox, mencoba membuka satu. Akan tetapi gagal menyelesaikannya. Semua itu hanya terlalu sulit.


Empat kotak kupelajari, belasan rincian kuperiksa, puluhan jawaban kutuliskan, dan ratusan menit kuhabiskan. Akan tetapi, tetap saja tak ada yang terjadi.


Aku sempat berpikir, sampai lebaran monyet pun, tidak mungkin kutemukan jawabannya. Lalu kemudian kutemukan itu; kotak dengan rincian yang sama dengan yang mereka tunjukkan. Tapi aku juga mengunjungi sebuah website asing saat itu. Di sana, aku mencoba memesan kopi luwak eksklusif dengan harga miring.


Sungguh, bisakah aku berhenti melakukan hal bodoh?


Siapa yang mau memesan kopi asal negeri sendiri lewat situs asing?


Pria kurang kerjaan ini hanya berharap, orang luar bisa mengeluarkan cita rasa nikmat itu dalam bentuk instant coffee. Tahu-tahu, semua itu terjadi begitu saja.


Ketika aku menyadari sedang mencoba menuliskan kata, “Indonesian luwak coffee” di kolom yang salah. Kotak terpecahkan, lalu mereka mengirimiku pesan untuk mencantumkan nomor rekening, untuk melakukan penarikan hadiah.


......................


"Sumpah, itu hanya kebetulan!" jelasku.


"Jangan main-main, kau!" bentaknya.


Ingin rasanya kumaki mereka dan bertanya, "apa aku kelihatan sedang memegang konsol? Atau aktivitasku kedegeran seperti sedang memilih hero?!"


Sungguh, apa yang sedang kulakukan hanyalah bersikap jujur seperti apa yang mereka harapkan. Tapi mereka malah mengacungkan senjata api padaku.


"Sumpah! Saat itu aku lupa mengetik di kolom answer Redbox, yang harusnya mencari kopi murah," jelasku, "No body expect this! Siapa sangka aku malah memecahkan sebuah kotak? Lalu kemudian, mulai terpikirkan olehku untuk meretas Redbox, membuat aplikasi gila itu," lanjutku, menerangkan.


I know that was mistake, but they do not have deserve to do this.


Mereka tak menggubris alibi itu, dan malah semakin menekanku. Aku semakin putus asa. Tapi aku tidak boleh berhenti berpikir. Petunjuknya sudah terlihat. Tinggal jawaban apa yang masuk akal.


"Samsul!" seruku.


"Samsul?"


"Itu adalah potongan jari Samsul!"


"Hah?"


"You know, someone who try to fix Redbox," jelasku, asal ceplos, "i mean, kudengar dia mati dalam keadaan tubuh tidak utuh. Mungkin itu dia?" imbuhku.


"Maksudmu Alex?" tanyanya.


"Mungkin, aku tak ingat namanya, tapi kurasa jawaban itu masuk akal," jawabku.


Tiba-tiba, mereka saling pandang. Salah seorang mulai mengotak-atik laptop tadi, lalu menunjukkan sesuatu.


Ya ampun, hal bodoh apa lagi ini?


Aku menatap sebentar, kemudian berpaling, karena apa yang mereka perlihatkan sangat mengganggu.


Itu adalah foto-foto kematian seseorang tanpa sensor.


Dada sampai perut pria malang itu terbuka. Kondisi organ dalamnya terburai keluar. Wajahnya pun, hancur tak berbentuk. Parahnya lagi, matanya bolong, sampai-sampai uratnya berhamburan keluar.


Aku bergidik, mual tak karuan, padahal hanya sekilas melihatnya. Sungguh, apa tujuan mereka memperlihatkan gambar menjijikkan ini?

__ADS_1


"****, why you show this?!" protesku.


"Jika yang kau maksud adalah dia, maka prediksimu salah," jawabnya.


"Who care? Keep that for your dinner!" makiku.


Mereka benar-benar tidak waras! Kenapa dengan mereka? Apa yang membuat mereka begitu senang melakukan perundungan ini? Lagipula, apa yang mereka tunjukkan tidak masuk akal!


Pertama, detail tentang gadis Rusia tadi. Kedua, gambar barusan, dan jangan lupakan tentang Alex. Orang permukaan tak ada yang perduli akan nasibnya. Bahkan orang-orang se-negaranya sendiri.


Percaya atau tidak, kasusnya hanya ramai diperbincangkan di dunia bawah. Dan yang paling aneh, bagaimana mereka tahu, aku adalah orang yang memecahkan kotak itu, sesuatu yang bahkan tidak aku sadari?


......................


"Siapa sebenarnya kalian?" tanyaku.


Mereka saling tatap, kelihatan lebih tenang. Pistol yang mengarah padaku pun, sudah tersarung kembali.


Dia benar-benar bodoh! Kenapa mengacungkan pistol kosong itu?


Aku menggeleng saat itu, padahal sama bodohnya.


Kenapa juga aku mengangkat tangan, padahal tahu kalau pistol itu sebenarnya kosong? Lagipula, kemana perginya keberanianku tadi? Kenapa aku tiba-tiba takut mati lagi?


Kurasa ini menjawab pertanyaan tentang, bagaimana sebuah harapan membuat dampak yang besar.


"Namaku adalah Roni, dan dia adalah rekanku, Gilang," kenal polisi kurus itu, seraya menunjuk rekannya yang memiliki bekas luka di dahi.


Harus kuakui, pria itu benar-benar gagah. Meskipun memiliki bekas luka. Tubuhnya tinggi, posturnya pun tegap, ditunjang rambut hitam yang lurusnya sudah seperti jalan tol Palimanan.


"Kami berdua adalah anggota divisi Cyber Crime, dan ditugaskan melakukan penyidikan kasus internasional," terangnya lagi.


"Maksudnya?!" sergahku.


"Foto yang barusan kamu lihat adalah data milik FBI," jelasnya, "sementara yang kau lihat pertama adalah data milik federasi Rusia," imbuhnya.


Aku menggeleng, meragukan argumen konyol itu mentah-mentah. Mereka tak mungkin menyuruh cecunguk ini menyelesaikan sebuah kasus.


I mean, look at them face! Terutama Si Kurus itu.


Dasar orang-orang halu!


Sejak kapan mabuk kecubung itu dilegalkan di negeri ini?


Eratta, aktivitas itu memang sejak awal tak pernah dinyatakan sesuatu yang ilegal secara mutlak, jadi mereka tidak salah.


"Gadis yang kau buat sekarat, dia adalah anak pejabat Rusia!"


Roni berusaha menakut-nakuti.


Aku sebenarnya lebih suka memanggilnya Worm, tapi kurasa ada doa di balik namanya yang tak ingin kuingat. Demi menghargai kedua orang tuanya, kumohon jangan bully dia, walaupun penampilannya benar-benar seperti orang cacingan.


"Dan yang barusan adalah warga negara Amerika!" sahut Gilang, polisi gagah yang berulang kali menodongku dengan senapan.


Yang satu ini, pasti terlalu banyak menonton film aksi dengan rating jeblok, sehingga ambisinya main tembak-tembakan jadi tak terkendali.


Yang lebih menakutkannya lagi, dia tak berhenti menatapku. Selain terobsesi main tembak-tembakan, jangan-jangan dia juga suka terong-terongan.


Yang aneh, wajahnya tiba-tiba terasa familiar. Nama Gilang juga mengganjal pikiran.

__ADS_1


“Jangan-jangan...”


Aku segera menggelengkan kepala, karena ini semua terlalu tidak masuk akal.


__ADS_2