Kotak Merah

Kotak Merah
Box 12 : People Die Everyday


__ADS_3

"Kenapa kamu jadi begini sih, Dim?!"


Pertanyaan ibuku membekas di benak, sekaligus menjadi misteri untuk diriku sendiri.


Sebenarnya, sejak kapan ini semua bermula?


“Dimas!” tegur Ayah.


Aku masih diam, seperti biasa menundukkan wajah. Sudah lama nada bicaranya tidak setinggi itu.


Ini adalah suatu pertanda akan terjadinya sebuah tragedi amukan, andai mereka tidak menghalangi. Aku sangat paham, betapa dia sangat membenci ini; melihat ibu sedih.


“Anda bisa terkena tuntutan KDRT, bila melakukan ini, pak!” lerai seorang petugas, buru-buru memasuki ruangan.


Ayah masih mengangkat tangan, tapi akhirnya berhasil menahan emosi. Beliau hanya berpaling, lalu pergi begitu saja.


Sebelum meninggalkan ruangan, dia sempat meninggalkan sebuah pesan yang membuat mataku terbuka lebar.


“Ayah kecewa kepadamu!”


That’s a big news!


Selama ini aku berpikir; dia tidak pernah mengharapkan sesuatu dariku. Nilaiku, pergaulanku, kehidupanku, bahkan sampai kemudian ketika aku memutuskan mengurung diri sekali pun, tak pernah kulihat dia perduli.


Pekerjaan baginya tetap nomor satu, meskipun bukan kesalahan. We know, itu tugasnya. Satu-satunya kesialan yang menimpanya adalah memiliki anak sepertiku. Tapi, tidak bisakah mereka percaya, atau setidaknya memberikanku kesempatan?


Kulihat ibu menatapku. Beliau banyak bertanya soal kondisi dan masalahku. Tapi petugas-lah yang lebih banyak menjelaskan. Aku tidak perduli lagi dengan apa yang mereka bahas, meskipun begitu banyak poin yang harus diklarifikasi.


Terserah mereka saja.


Tapi entah mengapa, aku menangis.


Tiba-tiba ibu menggenggam tanganku, sebelum pergi menyusul ayah. Air mataku semakin penuh. Aku masih saja termenung, menyadari intuisi ibuku yang begitu hebat. Bahkan, dia lebih memahami perasaan yang kurasakan.


......................


Tak lama kemudian, seorang petugas masuk. Dia adalah orang yang yang menangkapku. Aku tak akan lupa bekas luka di dahi, serta tubuh besarnya.


Dia menepuk pundakku, lalu menarik tubuhku. Perasaan yang menyesakkan dada sedikit terurai. Aku cukup berterima kasih atas itu. Jika dia tidak melakukan itu, pria menyedihkan ini mungkin akan menatap pintu keluar seharian.


“Kenapa lagi? Bukankah misi kalian sudah selesai?” tanyaku, ketus.


“Apa maksudmu?” balasnya.


“Hidupku sekarang benar-benar hancur, apa masih kurang?”


“Tidak ada yang perduli dengan hidupmu!”


Sungguh, dia tidak perlu mengatakannya begitu lantang. Aku sudah tahu semua ini.


Apakah dia pikir, semua orang pasti merasa ketakutan?


Sayangnya, adegan ditodong dengan senjata api sudah sering kulihat. Malahan, aku mulai berpikir, ini adalah ide yang bagus.


Apakah masih ada yang tersisa?

__ADS_1


Aku mendekat, memperpendek jarak wajahku dengan ujung moncong pistol. Petugas itu sedikit mundur, tapi segera kuterkam tangannya.


Dia terlihat kebingungan. Aku menarik napas dalam-dalam, berharap semua ini akan berakhir dengan cepat. Tapi ketika jari telunjuknya kutekan, dia segera mencabut paksa pistolnya.


“Apa yang coba kamu lakukan?!” bentaknya.


Rupanya, peluru sama sekali tak keluar. Aku merasa kecewa, tapi sebagian diriku juga merasa lega.


“Ternyata cuman main-main!”


“Kamu sudah gila?” Si Petugas.


“Tidak usah terkejut begitu, bukankah kalian menginginkan ini?”


“Menginginkan apa?!”


“Terus, kenapa kamu menodong degan benda itu?” tanyaku.


“Itu bukan ide yang bagus, kawan,” ucap petugas sebelumnya.


Dia mengambil pistol tadi, menaruhnya ke saku baju rekannya.


“Diam kau!”


Dasar aneh!


Aku merenung, berpikir tentang hidup yang menyebalkan ini. Sesuatu mungkin akan terjadi selagi aku masih hidup, tapi belakangan semuanya jadi terasa masa bodoh. Lagipula, apa bedanya? Toh aku juga tidak melakukan apapun.


“Dengar, seorang rekan kami baru saja mati!” serunya, “kami butuh kamu untuk menyelesaikan semua ini!” lanjutnya.


Tidakkah mereka mengerti, kalau aku sama sekali tak perduli? Orang setiap hari mati. Itu hanyalah hukum alam yang wajar. Hanya karena mereka polisi, bukan berarti mereka berhak menjadikan alibi itu sebagai sebuah gagasan untuk mengatur-atur hidup orang lain. Aku tidak ingin dijadikan alat pertanggung jawaban untuk suatu hal yang merupakan ketetapan alam.


......................


“Nenekku juga mati tahun lalu, tapi kenapa kalian tidak perduli?” tanyaku.


“Dengar ya ...”


“Aku tak mau dengar!” putusku, “kalian hanya perduli saat seseorang yang mati itu adalah orang yang kalian anggap penting, atau berhubungan dengan pekerjaan kalian. Lantas, kenapa aku harus perduli?!” lanjutku.


“Jika kamu membantu kami, semua kejahatanmu akan kami tiadakan,” bujuknya.


Itu benar-benar lawakan yang gersang. Kejahatanku hanyalah meretas sebuah situs. Kalaupun kemudian berita ini tersebar, orang-orang hanya akan berpikir, “orang ini tidak punya kerjaan!”


Maksudku, kenapa mereka mempenjarakan orang yang meretas situs tidak penting?


Kecuali kalau aku meretas situs dewasa, kemudian mengganti semua videonya dengan serial teletabis, baru masuk akal. Mereka pasti akan mulai menuntutku akibat mengganggu ketentraman bersama.


“Bongkar saja semua aibku!” tantangku.


“Kau tidak menyadari posisimu sekarang?!” ancamnya.


“Posisi apa? Paling juga penjara, atau kalian mau menjadi hakim dadakan?” tanyaku, “silahkan saja tembak kepalaku! Hidup memang tak berarti!” lanjutku, masih dengan kepala mendidih. Bahkan kuletakkan kepalaku ke atas meja, menantang mereka semua.


Itu pasti terlihat arogan, tapi aku tak perduli. Sekali seumur hidup, aku ingin menjadi seperti ini. Memuntahkan semua yang terlintas di benakku tanpa perduli batasan dan nilai-nilai masyarakat.

__ADS_1


......................


“Biar kuambil alih!”


Petugas kurus mendekat menghampiriku.


Dia berkata lagi, “kejahatanmu mungkin terlihat sepele, tapi merusak 6 komputer warnet akan membuat keluargamu menanggung biaya ganti rugi yang besar.”


“Darimana kalian ta-“


Seketika kututup mulutku, menghentikan ucapan yang kebablasan.


Dasar idiot!


Kenapa mengakui kejahatan sendiri?


Oke, aku tahu. Inilah alasan kenapa kita tak boleh mengatakan apa yang terlintas di benak kita begitu saja.


“Jika kamu membantu kami, kami akan memperbaiki semuanya,” bujuknya.


Aku menarik napas, berpikir tentang hal ini. Orang biasanya meninggalkan warisan berupa harta, bukannya masalah. Ingin sebenarnya menjadi masa bodoh seperti biasanya. Tapi tak bisa demikian, ketika kuingat wajah mereka, orang-orang yang akan mewarisi riwayat gelapku.


......................


“Kalian sungguh-sungguh akan meniadakan itu?” tanyaku.


“Itu semua tergantung prestasimu, tentu saja!” jawabnya, menunjukkan lagi laptop itu.


Aku memeriksa sebentar, mendapati gambar kotak bodoh itu lagi. Sungguh, itu hanyalah sebuah ketidaksengajaan.


Kenapa, sih mereka sangat perduli dengan itu?


“Aku tidak mau mengatakan ini lebih dari ini, aku butuh laptopku untuk menjelaskan semua ini!”


...----------------...


Beberapa jam kemudian mereka membawakan komputerku, menagih penjelasan yang kujanjikan. Aku menunjukkan kondisi tanganku yang terikat, kemudian mereka membuka ikatan itu. Setelah itu, aku bergegas menyalakan komputer.


Kubuka beberapa aplikasi, dan meminta sambungan internet. Setelah semua persiapan terpenuhi, aku pun, melakukan sebuah demonstrasi singkat.


Mereka bisa melihat dengan jelas, bagaimana sebuah software menjalankan dua buah perintah sekaligus. Satu membuat jawaban secara acak, sementara satunya lagi membuat akun palsu.


Dari dulu, Redbox sudah membatasi jumlah jawaban yang bisa di submit, tapi awalnya membiarkan jumlah akun yang bisa dipakai. Celah ini kugunakan untuk membuat sebuah perintah yang bekerja terus menerus, sampai jawaban yang benar muncul.


Biasanya, jawaban itu terdiri dari 4 sampai 5 kata. Aku telah melakukan survei mandiri. Melakukan ini bukan hal sulit, karena aku melakukannya setiap pagi. Hasilnya, sistem ini kemudian terbukti bekerja.


Aku sempat berpikir, Redbox pasti akan membatalkan pengiriman hadiah. Tapi anehnya, mereka mematuhi aturan. Upah untuk setiap kotak yang kupecahkan tetap terkirim ke rekeningku.


Kuharap, demonstrasi yang kulakukan untuk menjawab teka-teki online tak berhadiah ini bisa membuat mereka mengerti. Sebab, tak mungkin lagi kulakukan ini semua di web aslinya sekarang, setelah berbagai pembaruan yang terjadi.


......................


"Jadi, kau menggunakan itu?" tanya mereka, kecewa.


Sungguh, aku hanya merasa masa bodoh dengan mereka.

__ADS_1


__ADS_2