Kotak Merah

Kotak Merah
Bullet 3 : Kepiting Asam Manis


__ADS_3

Aku menarik napas, memikirkan kata demi kata pembelaan yang sekiranya tidak terlalu mengada-ada. Ibuku punya intuisi yang mengerikan, jadi aku tidak terlalu pandai melakukan ini.


Karena selalu ketahuan, jadi aku terbiasa berbicara apa adanya. Kondisi ini juga amat mempengaruhi karakterku yang tak banyak bicara. Sebab, beliau juga tipe orang yang akan segera paham ratusan maksud, ketika aku hanya mengatakan beberapa kalimat.


“Mm...”


Belum sempat mengatakan sesuatu, pelayan tiba-tiba saja datang dengan mendorong sebuah troli.


"Permisi!"


Sambil senyum, dia mulai meletakkan bermacam-macam hidangan. Mulai dari kepiting besar kemerahan berhias aneka toping dan sayuran, lobster, ikan, sampai sup panas yang terlihat masih mengepulkan asap. Sungguh waktu yang benar-benar tepat.


“Yang itu bawa kemari saja, mas!” seruku, melihat satu-satunya hidangan sederhana yang dibawa, yaitu nasi goreng.


“Baik, pak,” jawab Si Pelayan, memindahkan piring itu ke hadapanku.


Setelah itu, dia melanjutkannya dengan meletakkan bermacam hidangan penutup yang manis. Es krim, jus, puding, hingga sejenis roti-rotian. Saking banyaknya porsi, aku jadi tak tahu ke mana makanan itu seharusnya disuguhkan. Sebab, semua makanan itu kelihatan sangat enak.


Aku kurang menyukai makanan yang ribet semisal seafood atau steak, dan lebih suka makanan sederhana semisal nasi goreng yang tinggal makan, tetapi tetap terasa enak tanpa perlu repot memikirkan etika atau semacamnya. Sebagai gantinya, aku selalu memesan hidangan penutup yang paling menarik.


Pada saat kondisi makan bersama, orang biasanya banyak mengobrol. Jadi, aku lebih suka sesuatu yang sederhana agar cepat berakhir. Tapi kalau makanan penutup, semuanya terasa akan cepat berlalu begitu saja. Itulah kenapa, aku sangat menyukai sesuatu yang manis. Sama seperti senyum gadis di hadapanku.


“Yang itu bagi dua saja, mas!” seruku.


“Oh, baik, pak!” jawab si pelayan.


Dia mulai menurunkan hidangan, dan wajah gadis itu jadi terlihat semakin gembira. Lagi-lagi, aku terselamatkan oleh pelayan itu. Jadi sebelum pergi, aku memberinya sedikit tip dan mulai menghadap banyaknya makanan ini.


“Apa kamu mencoba mendapatkan hatiku lewat perut?” tanya Si Gadis.


“Maksudmu?”


Seketika, tanganku yang hendak meraih sendok terhenti.


“Lihat semua makanan favoritku ini!” seru Si Gadis, jelalatan melihat semua makanan, “kamu pasti sudah mencari tahu dengan baik. Tapi, apa kamu mau membuatku gendut?” lanjutnya, menggerutu.


“Memangnya kenapa, makan saja kalau memang suka,” jawabku.


“Enak saja, memangnya kamu tanggung jawab, kalau aku tidak bisa memakai gaun yang bagus seperti ini lagi?” Si Gadis melotot.


“Kenapa tidak?” jawabku, spontan.


Aku berpikir tentang membeli gaun dengan ukuran yang lebih besar. Tapi sepertinya, gadis itu punya maksud lain. Wajahnya kelihatan memerah dan salah tingkah, membuatku seketika gugup.

__ADS_1


“M-Maksudku, tinggal fitting ulang saja, kenapa jadi salah tingkah begitu?” seruku.


“S-Salah tingkah? Siapa yang salah tingkah?!” sergahnya.


“Baiklah, baiklah, mari kita makan saja, sebelum dingin,” ujarku, lanjut mengambil sendok. Mengalihkan pembicaraan yang mulai mengarah ke pada situasi canggung.


Gadis itu terus mengomel, tetapi aku menghiraukannya.


Sambil ikut mengambil seperangkat peralatan makan, gadis itu berkata, “asal kamu tahu, aku tidak salah tingkah, ya!”


Aku hanya mendesah, memperhatikan tingkahnya yang lucu saat mencoba mematahkan capit kepiting. Kurasa itu terlalu keras baginya, jadi aku inisiatif menghampiri dan membantu.


Aku segera menarik tangannya, lalu mengambil kepiting itu. Ukurannya benar-benar jauh lebih besar dari yang biasa dipesan mama. Bahkan, sedikit membuatku kesulitan. Tapi itu hanya masalah kecil.


Dengan cepat, aku segera menyelesaikannya. Setelah itu, aku memberikannya lagi ke pada gadis itu dan berniat kembali duduk. Tapi, niat baikku rupanya ditanggapi dingin.


Tiba-tiba saja, dia menggerutu, “aku bisa sendiri, kok!”


Sejenak aku terdiam. Mungkin aku memang terlalu ikut campur. Aku yang hendak kembali berbalik dan menjawab, "aku tahu,”


"Kamu memakai gaun yang terlihat sangat cantik, jadi sayang saja, kalau jadi kotor,” lanjutku, berusaha membuat rasa tidak nyamannya berkurang.


Akan tetapi, wajahnya malah semakin memerah. Itu membuatku tambah bingung.


Aku semakin merasa bersalah, dan mulai mencari klarifikasi lain. Tapi tanpa kusadari, dia malah sudah mulai makan dengan begitu lahapnya.


"Apanya yang takut gendut?" pikirku.


Kurasa, makanan adalah salah satu dari sedikitnya hal yang bisa membuat perasaan wanita berubah. Ibuku juga akan segera ceria kalau sudah makan makanan kesukaan.


Sambil menggeleng, aku duduk lagi di kursiku sendiri, bersiap menyantap makananku. Melihat wajahnya yang bahagia membuatku ingin segera ikut makan. Tapi tiba-tiba saja, dia menyodorkan sepiring kepiting yang baru berkurang sebelah capitnya itu kepadaku.


“Yang sebelahnya lagi, dong!” serunya, dengan wajah tak bersalah.


"Lah?"


Sambil mendesah, aku segera berdiri. Padahal, rasanya baru tadi kupatahkan capit itu. Sembari mematahkan capit yang satunya lagi, aku menggeleng.


Kali ini, aku melakukannya dengan sedikit sedikit kasar, karena mulai merasa kesal. Benar-benar hebat.


“Katanya bisa sendiri?!” gerutuku dalam hati.


Saat hendak memberikannya kembali, tiba-tiba saja dia berkata lagi, “sekalian kepalanya lah, ngebantu kok, setengah-setengah!”

__ADS_1


"Hah?!" seruku.


“Jangan salah sangka!” sergahnya, “kamu kelihatannya sangat menyukai gaun ini, jadi aku tidak mau kotor,” imbuhnya.


“Oh gitu, jadi, ini demi aku, ya?” sindirku.


“Tentu saja, kamu boleh bersyukur, kok!” jawabnya, santai.


Aku hanya menggeleng. Kurasa, tak ada gunanya mencoba satir.


Menggunakan alat yang tersedia di meja makan, kupecahkan cangkang kepiting itu dan membukanya secepat mungkin. Jujur, aku juga ingin segera memakan makananku, karena perutku mulai lapar.


Sambil menyajikannya seperti pramusaji, aku berkata dengan nada sarkas, “silahkan dinikmati tuan putri!” begitu pekerjaanku selesai.


“Kenapa kedengarannya kamu marah?!” Si Gadis.


Seketika aku menoleh. Di luar dugaan, kali ini sepertinya dia sedikit paham.


“Benarkah? Apa aku harus mengulanginya lagi?” tanyaku, memilih menjawabnya dengan sedikit sinis.


Akan tetapi, jawabannya benar-benar membuatku geleng-geleng kepala.


Sambil meraih kepiting itu, dia menjawab, “tidak perlu, kelamaan! Sudah sana balik saja!”


Lah, b**agaimana bisa malah dia yang marah?


Sungguh mengherankan.


Lagian, sudah tahu orangnya begini, masih saja mencoba sarkas, pikirku.


“Biarlah, lagipula aku juga tidak akan bisa makan dengan tenang, kalau melihatnya sibuk main kepiting,” gumamku.


“Apa kamu mengatakan sesuatu?” tanyanya, dengan mulut penuh.


Suaranya yang kedengaran bindeng membuatku geleng-geleng kepala.


“Jangan lupa dikunyah!” seruku.


“Memangnya aku ular?!” sergahnya.


Seketika, aku langsung tertawa. Entah mengapa, tidak bisa marah lagi kepadanya.


“Mana mungkin lah,” jawabku, “kupikir kamu trenggiling,” imbuhku lirih.

__ADS_1


Aku segera kembali ke kursiku. Kulihat, lagi-lagi gadis itu melotot. Sepertinya, dia mendengarnya. Tapi entah kenapa, wajahnya tidak kelihatan menakutkan seperti sebelumnya. Sebaliknya, aku malah merasa semakin ingin menjahili. Disamping itu, aku juga sangat berharap, tidak ada gangguan lagi.


__ADS_2