
Situasi yang kacau akhirnya mencapai puncak. Fira yang tidak tahan pun, berdiri meninggalkan makanan yang tersisa. Seketika, aku teringat semua kejadian belakangan ini. Di mana sebuah kenyataan pahit memaksaku mengikuti alur jauh lebih dalam. Pada intinya, aku tidak sebodoh itu untuk tidak menyadari maksud keluargaku meminta pulang.
......................
Sebelum ini, aku juga sempat pulang di sela-sela rutinitas pekerjaan. Kabar buruk terdengar ke telingaku yang mengharuskanku kembali ke rumah.
Setelah sekian lama, mama jatuh sakit dan harus dirawat beberapa hari. Seperti biasa, awalnya mereka mengelak dan berkata, “tidak ada apa-apa.” Tapi masalah kemudian bertambah rumit saat beliau keceplosan dan berkata, “ini mungkin akan menjadi permintaan terakhirku.”
Seketika aku melotot, meraih tangannya dan menegur, “jangan berkata seperti itu!”
Mama diam sejenak, menatap ke arah papa. Kontak mata yang terjadi saat itu berakhir dengan canggung. Papa memalingkan muka dengan raut wajah sendu, dan mama membuka pembahasan dengan mata berkaca-kaca.
“Hidupku mungkin tidak akan lama lagi!” ujar mama.
Seketika, aku menoleh ke arah papa, akhirnya mengerti maksud kontak mata yang sebelumnya terjadi. Tapi di situ, aku masih berusaha tidak mempercayainya.
“Tidak usah bicara yang tidak-tidak!” tegurku lagi.
Di luar dugaan, mama mengambil hasil pemeriksaan dan membentangkannya, tepat di depan wajahku.
“Lihat baik-baik!” serunya.
Aku meraihnya dengan tangan gemetar, memeriksa tiap dokumen dengan teliti.
Seketika, aku menoleh ke arah papa, merasa sangat terpukul. Tak perlu banyak waktu bagiku untuk menyadari; kondisi beliau yang memang sudah mengkhawatirkan. Hasil rontgen, pemeriksaan menyeluruh, hingga diagnosis akhir menunjukkan; beliau mengidap kanker stadium awal.
“Bagaimana bisa?” tanyaku, seraya meneteskan air mata, “bukankah semuanya sudah berakhir?” lanjutku.
Aku semakin merasa sedih menyaksikan papa hanya diam. Dalam hati, aku meratapi nasib mama yang begitu malang. Bahkan setelah mengorbankan kesempurnaannya sebagai seorang wanita pun, penyakit yang sama lagi-lagi menjangkiti beliau.
......................
Beberapa tahun lalu, mama menjalani operasi pengangkatan rahim, akibat kanker ganas. Mimpinya untuk memiliki keturunan lagi pun, harus benar-benar terkubur setelah dua kali mengalami keguguran. Bahkan tak cuman rahim, sekarang bagian kewanitaan lain mungkin saja akan direnggut lagi.
“Untungnya, semua itu terdiagnosa dengan cepat, sehingga operasi pengangkatan bisa segera dilakukan,” ujarnya, “sekarang, kamu tahu kan, kalau mama benar-benar sudah sakit-sakitan? Tolong jangan biarkan mamamu ini mati dalam keadaan begini. Belum sempat melihatmu menikah!” imbuhnya.
Yang bisa kulakukan hanyalah menangis, merasa benar-benar tidak berdaya. Selain tidak bisa membuatnya sembuh, aku juga kurang percaya diri bisa mengabulkan permintaan itu.
“Fokus dulu sama pengobatan, baru pikirkan yang lain!” seruku.
“Mama ingin punya cucu, Lang!”
Sambil menggenggam tanganku, beliau memohon dengan suara bergetar dan linangan air mata.
“Yang penting sekarang, mama sehat dulu!” ujarku, “percuma punya cucu kalau nggak bisa gendong dan ajak jalan-jalan,” lanjutku, beralasan.
__ADS_1
......................
Kurasa, pernyataan itu mereka anggap sebagai bentuk persetujuan, sehingga melakukan lagi acara semacam ini.
Begitu sadar, aku segera menarik tangan gadis itu.
“Lepaskan!” serunya.
Fira memberontak, tetap berusaha meninggalkan ruangan. Kepalaku yang tak juga jernih masih saja menimbang-nimbang.
Waktu merupakan rahasia Sang Pencipta. Manusia memang bisa berencana, tetapi takdir-lah yang menentukan segalanya. Entah mengapa, aku merasa akan benar-benar menyesalinya, jika melewatkan kesempatan ini selamanya.
“Aku akan mengantarmu pulang!” seruku, tetap mempertahankan tangannya.
“Tidak perlu!”
Fira seketika menepis tanganku dan berjalan semakin cepat. Aku segera mengikuti dari belakang dengan perasaan campur aduk.
Dia tak mengatakan sepatah kata apa pun, dan aku hanya mengikuti tanpa membuka obrolan. Dalam perang dingin itu, tiba-tiba saja gadis itu tergelincir, tepat di depan tangga. Untungnya, aku berhasil menangkapnya sebelum jatuh. Terlambat sepersekian detik saja, sesuatu yang sangat buruk pasti akan terjadi.
Aku menghela napas, merasa sangat lega. Fira terus menatapku hingga membuatku merasa canggung. Seketika, aku melepaskannya, tetapi dia hampir saja terjatuh lagi yang membuat hal serupa terulang lagi.
“Bisakah kamu berdiri?” tanyaku.
Fira mencoba melakukannya, tetapi dia hanya mampu mengerang. Akhirnya, aku membawanya kembali ke meja makan dan membantunya melepas sepatu.
“Mana yang sakit?” tanyaku.
Fira hanya diam menatapku, menunjuk kaki kirinya.
Dengan hati-hati, aku mulai memeriksa, sembari menggelengkan kepala. Benar saja, memar merah terlihat di kaki kirinya yang putih dan mulus.
“Kelihatannya terkilir,” gumamku, mencoba memeriksa lebih teliti.
Namun, Fira memukul kepalaku saat aku baru menyentuh sedikit.
“Ish, sakit!” serunya, “kamu mau membunuhku, ya?” lanjutnya.
Seketika aku melotot, mengangkat tangan memanggil pelayan. Awalnya, aku berencana menanyakan soal P3K. Tapi karena Fira terus mengoceh, akhirnya tidak jadi.
Sebagai gantinya, aku menanyakan harga makanan yang sudah dipesan, tetapi lagi-lagi semua itu sudah dibayar lunas.
......................
“Hey!” panggil Fira.
__ADS_1
“Kalau aku mau membunuhmu, untuk apa tadi aku menolong?” sahutku.
Fira hanya mendeham, tak menjawab. Hal itu membuatku bertanya lagi, “bukankah itu salahmu sendiri, tiba-tiba saja pergi?”
“Habisnya kamu ngomongnya kayak gitu!”
Fira masih ngeyel.
“Kayak gimana?” tanyaku.
“Kayak cowok nggak setia!” tudingnya.
“Setia itu bukan omongan, tapi tindakan!” jawabku.
Aku segera jongkok, siap menggendongnya. Akan tetapi, gadis itu mengabaikanku.
“Aku bisa jalan sendiri!” serunya, berusaha berdiri dengan tertatih-tatih.
Aku hanya senyum, tak beranjak dari posisiku. Masih sambil jongkok, aku bertanya dengan santai, “tahu kasus jembatan layang beberapa tahun lalu, tidak?”
Aku menoleh, lagi-lagi melihatnya berusaha berdiri.
Karena masih saja fokus, aku pun melanjutkan cerita, “kepalanya terbentur, lalu menggelinding mengenai anak tangga, sampai akhirnya pecah saat mengenai tangga ke-tujuh. Tingginya mungkin tidak segini, tetapi anak tangganya tetap saja banyak.”
Aku menoleh lagi.
Fira yang menatap anak tangga menengguk ludah. Sejenak tubuhnya mematung. Sepertinya rencanaku berhasil.
“Ngapain nakut-nakutin, sih?!” omelnya.
“Aku ini polisi, ingat?” jawabku, “aku cuman ngomongin fakta, kok!” lanjutku, memeberikan isyarat supaya dia naik saja ke punggungku.
Fira menggeleng, masih saja menolak.
“Yang ada tambah jatuh!” Fira.
Tak kehabisan akal, aku pun berkata, "seenggaknya, kemungkinan selamat kamu lebih tinggi. Kalaupun mati, kamu juga nggak bakal mati sendirian!"
Aku menepuk-nepuk pundak lagi, mempertahankan posisi jongkok.
Pada akhirnya, gadis itu pun menggelayut di belakangku. Kedua tangannya terkalung di leher, dan tubuhnya sudah tersandar di punggung.
Tapi sebelum benar-benar setuju, dia berkata, "aku akan membunuhmu kalau kamu macam-macam!"
Sambil menenteng sepatunya, aku pun menjawab, "tidak akan!" lalu berdiri dan mulai berjalan menuruni tangga.
__ADS_1
Tiba-tiba saja, Fira menepuk kepalaku. Sepertinya dia kesal, tetapi aku tak mengerti alasannya. Sementara para pelayan hanya memberi salam perpisahan, karena semua pesanan sudah dibayar.