Kotak Merah

Kotak Merah
Box 17 : I Hate Manual Thing!


__ADS_3

Sebagian besar poin-poin permintaanku dalam perundingan kemarin telah dipenuhi. 6 komputer yang kuhancurkan langsung diatasi. Beberapa desas-desus tentangku juga segera mereka selesaikan. Hanya tersisa beberapa hal kecil kecil yang belum mereka bereskan. Itu pun, tinggal menunggu waktu terkendala serangkain prosedur.


Tunggu sebentar, kurasa aku tak menghancurkan tongkrongan para bocil sebanyak itu.


Terserah sajalah.


Anyway, semuanya benar-benar berjalan lancar, bahkan terlalu lancar sampai membuatku merasa takut. Apa yang kuhadapi ternyata bukan hal sepele. Kotak premium Anwar yang kini menjadi barang gratisan di Redbox, bahkan sudah menjadi betting box. Jumlah uang yang bisa diperoleh dari kota itu sudah mencapai lima ribu dollar lebih.


Ini gila, Redbox tak lagi mengambil potongan dari kotak itu!


Awalnya terlihat menggiurkan, tapi hanya sampai akhirnya kusadari semuanya. Sungguh, ini hayalah misi mustahil.


Ratusan, bahkan mungkin ribuan orang diluar sana berbondong-bondong berusaha memecahkan kotak itu setiap harinya. Namun, sampai sekarang pun, titik terang atas kebenarannya masih abu-abu.


Lantas, bagaimana caraku menuntaskan perjanjian ini?


Sejak awal, langkah pilihanku adalah kesalahan. Aku mungkin sedikit paham soal deep web, juga mengetahui soal Redbox, tapi kapasitasku tak sehebat yang kupikirkan.


Ibarat sepak bola, aku hanya penikmat fanatik yang hobi mengkritik semua tim, beserta pemain-pemainnya. Tapi kalau disuruh melatih sebuah kesebelasan, tim itu hanya akan jadi badut, persis seperti kondisiku sekarang ini.


Terserah sajalah!


Selagi dia tidak ada, kuputuskan meminkan satu permainan agar pikiranku mendapat sedikit pencerahan.


Sialnya, orang-orang bermain tanpa menggunakan otak mereka pagi ini. Aku hampir saja membanting komputerku, andai saja tak ada data penting yang harus kuperlihatkan. Dia juga sebentar lagi akan kembali. Sebelum sadar baru saja buang-buang waktu, aku harus kelihatan seperti sedang bekerja.


"Bagaimana perkembangannya?" tanya Gilang, membawa dua gelas kopi panas.


Aku buru-buru menutup permainan, membuka data yang mungkin bisa menghiburnya. Tubuhku sudah berkeringat dingin. Dia sekarang membawa dua gelas kopi, dan aku khawatir tak dapat jatah.


"Kurang bagus, pak," jawabku, gugup.


"Kamu sedang main game lagi, ya?!" tudingnya.


"T-Tidak, lihat saja ini!" Sambil meraih salah satu kopi, aku membalik badan.


Itu hanyalah gambar sebuah boneka beruang dalam keadaan menyedihkan. Aku tak tahu apakah itu benar atau tidak, tapi banyak forum meyakini itu sebagai salah satu petunjuk kotak premium Anwar.


"Apa itu?" tanya Gilang.


"Salah satu petunjuk," jawabku, menyeruput kopi itu.


Sudah kuduga, kopi instan warungan memang rasanya tak bisa diandalkan, tapi beberapa merek memiliki cita rasa tersendiri.


Sayangnya. selera orang ini payah. Dia memilih kopi instan dengan rasa tak jelas, persis seperti kelakuannya.


Apa yang bisa kukeluhkan? Menerima gratisan kopi di pagi hari saja sudah merupakan rejeki luar biasa yang jarang terjadi.

__ADS_1


Ia ingin memeriksa temuanku lebih cermat, tapi aku juga butuh komputerku. Kami akhirnya mengambil jalan tengah dengan mengirimkan informasi ini melalui internet.


Bukannya aku tak ingin menyelesaikan ini, hanya saja keunganku tak akan bisa bertahan tanpa adanya pemasukan.


"Apa yang kamu lakukan?" tanyanya, menatap aktivitasku mengisi survei.


"Kamu tidak pernah melihat orang mengisi angket?" tanyaku.


"Maksudku, apa gunanya itu?"


"Cari uang lah, apa lagi?"


"Kamu tidak bekerja?" tanyanya, kemudian aku mengangguk, "dasar aneh!" imbuhnya.


Jemariku seketika berhenti bekerja. Dapat kurasakan, licinnya mouse yang dipenuhi keringat, mengalir dari telapak tangan. Tak ada gunanya tersinggung, toh apa yang kujalani memang tak normal sejak awal. Seseorang hanya tak pernah menyaksikan keseharianku, sehingga apa yang kukerjakan tak pernah terasa menyimpang. Adanya seseorang melihatnya membuatku sadar, aku benar-benar memiliki masalah sosial yang berat.


"Apa kamu bangga dengan dirimu sendiri?" tanyaku.


"Kenapa? Tidak terima!?" balasnya.


"Beberapa orang merasa nyaman melakukan apa yang dia sukai, kau harus tahu itu!" ingatku, "hanya karena apa yang kamu kerjakan kelihatan berguna di mata orang lain, bukan berarti apa yang orang lain kerjakan tak ada gunanya," lanjutku.


"Mungkin benar, kecuali kamu!" ujarnya, "dengar, kalau bisa melakukan lebih, kenapa memilih tak melakukan apapun!?" lanjutnya.


Lucu sekali. Kurasa dia berbakat menjadi pelawak. Dia berusaha mengatakan kata-kata mutiara, tapi yang keluar malah ucapan sampah. Mungkin dia sengaja, aku tak begitu yakin. Setidaknya, kata-kata motivasi yang dia katakan, berhasil membuatku kian mantap. Mantap untuk tidak melakukan apa-apa.


I mean, kalau bisa tak melakukan apapun, kenapa berpikir melakukan lebih?


"Kalau mau yang instan, beli saja lagi kopi, kebetulan panyaku sudah habis," jawabku, "asal kamu tahu, yang instan itu biasanya kurang nikmat. Semua yang bagus pasti dilakukan step by step," imbuhku.


"Asal kau tahu juga, semakin kamu mengulur waktu, semakin hidupmu kacau!" ancamnya.


Seketika aku melirik, berpikir sedikit sinis tentang argumen itu. Sejujurnya, aku tak mengerti kenapa dia melakukan ini. Memiliki reputasi yang baik di kepolisian. Tapi karir cemerlang yang bisa segera dia raih tak segera diusahakan.


Aku masih ingat tempat itu. Ruangan sempit yang sejatinya digunakan untuk keperluan interogasi. Orang-orang pasti sangat tertekan berada di sana sebagaimana pengalaman pahit yang kulalui. Untungnya, aku hanya mengalami itu dua malam.


Selama menjalani serangkaian prosedur, aku banyak mendengar soal wacana kenaikan pangkatnya. Sungguh, prestasinya di markas banyak dibicarakan sekeliling, tapi yang bersangkutan kurang tertarik membahas itu.


......................


"Omong-omong, Pak Yanto itu orang seperti apa?" tanyaku, mengalihkan pembicaraan, "kalau tak mau membahasnya tak apa, cuman sedikit penasaran," imbuhku.


Aku menoleh, mendapati dirinya masih sibuk dengan laptopnya. Yang ia lakukan tak lagi mempelajari dataku.


Kemarin bilangnya bekerja di bagian cyber crime, tapi sekarang malah mempelajari kasus kematian. Sebenarnya dia ditempatkan di bagian apa, sih?


"Singkatnya, sosok ayah pengganti bagiku," jawabnya.

__ADS_1


Aku buru-buru memalingkan wajah. Kurasa, dia tak senang ada seseorang yang mengawasi pekerjaannya.


"Kenapa dia mati?" tanyaku, terus mengulik perihal sosok Yanto.


Mungkin saja, ini akan membantuku mencari bukti.


"Kalau aku tahu, aku tak mungkin meminta bantuanmu!" jawabnya, ketus.


Benar juga sih, tapi tidak perlu galak begitu.


Aku hanya bolak-balik situs tak jelas; tersesat dalam perputaran pembahasan materi yang tidak penting. Ingin rasanya memulai permainan seru yang menungguku, tapi orang ini terus mengawasiku.


Aku mulai khawatir, takut bila semua ini akan berlangsung seumur hidup. Sungguh, aku merasa tidak siap dengan ini, lalu terbesit keinginan mencari jalan pintas. Mungkin tak ada salahnya mencobanya lagi, siapa tahu ini akan berhasil.


"Waktunya gantian, kawan!" Seru Roni, membuka pintu.


"Sudah jam istirahat, ya?" sahut Gilang.


"Kamu dikasih tugas apa sama sama divisi reserse?" tanya Roni, "pak Ilham tanyain kamu terus, tuh!" imbuhnya.


"Sedang kukerja-"


"****!!!"


Mereka berdua seketika menatapku, terkejut akan suara teriakan itu.


"Ada apa?" tanya Gilang.


"Mereka mengirim virus," jawabku.


"Apa yang kau lakukan?!" tanyanya.


"Mencoba meretas Redbox," jawabku.


"Kau tidak takut komputermu rusak?" tanya Roni.


"Rusak?" balasku.


"Kita merusak komputer kantor, sama komputer warnet gara-ga-"


"Apa katamu?!" putusku.


Gilang menyikut Roni, memberinya isyarat untuk diam. Pernyataan itu terasa cukup janggal, tapi aku harus mereset komputer, melenyapkan semua virus. Sekarang aku terpaksa menginstal aplikasi satu-persatu, tapi semuanya sudah jelas; tak ada lagi jalan pintas.


Mau tidak mau, suka tidak suka, aku harus memecahkan ini secara manual.


Ini menyebalkan.

__ADS_1


Aku benci semua yang manual-manual!


....


__ADS_2