
Aku melompat dari satu forum ke forum lain, memulai tanggal hari ini sampai minggu sebelumnya, lalu kembali lagi pada tanggal kemarin.
Itu adalah jam kemelut paling akurat, dimana semua orang membicarakan orang ini. Blog aslinya mungkin sudah dihapus, tapi informasi soal ini masih hangat diperbincangkan di bawah sana.
"Ryanganesha@blogspot.com."
Nama yang alay, persis seperti wujud pendirinya. Menurutku, dia cuman tukang gali kubur gila tenar, yang sedang mencari perhatian lewat blog. Dia benar-benar salah lapak. Benda itu sudah sejak lama ditinggalkan, dan ia tak punya cukup skill untuk membangkitkan euphoria itu.
Maksudku, blog? Di saat yousube dan medsos menjamur di kalangan masyarakat, dia masih saja menggunakan sistem lawas.
Sebenarnya, apa yang dia lakukan tidak melanggar ketetapan. Dia hanya mengunggah gambar ke blog pribadinya, kemudian mengobrol di kolom komentar. Yang dia unggah pun, biasanya cuman sekedar hal-hal pertanian.
Tidak aneh sih, itu merupakan bidangnya. Yang menjadi masalah adalah; dia mencampur adukkan persoalan pribadi, akademis, serta hubungan sosial network, dalam satu wadah yang akhirnya membuat sikap menyimpangnya terekspos secara tak terkendali.
Jadi, dia kuliah di jurusan pertanian, makanya apa yang dia post kebanyakan seperti itu. Menanam kubis, singkong, singkong rasa kubis, ya pokoknya ilmu-ilmu pertanian begitu lah.
Orang pasti akan berpikir, "ini orang kayaknya pinter, rajin, terus edukatif banget," kalau lihat apa-apa saja yang dia post. Namun, itu semua akan langsung terbantahkan begitu kita membuka kolom komen.
I swear, this guy was terrible!
Kutelusuri ini seharian, dan semuanya sangat konyol. Banyak sekali pesan-pesan rasis, saling ejek, ujaran kebencian, pokoknya itu kolom komen sudah seperti arena adu jotos. Cuman, adu jotosnya itu bukan secara fisik, melainkan dalam bentuk emoticon.
Asli parah. Mereka mungkin akan dijadikan sate, kalau berani menyelam ke deep web. Mayoritas orang di sana benci (emoticon) itu. Nah, dari situ kita pasti akan langsung sadar.
"Ini orang kayaknya kurang waras!"
Dia sering sekali post pesan-pesan yang tidak seharusnya dia unggah ke blog. Masalah pribadi, rasa marah, pokoknya konsep blog yang awalnya rapi, mendadak berantakan. Dari yang semula blog edukasi, tiba-tibe berubah jadi sesuatu yang aneh.
Ibarat kata, itu orang minum rondapnya kemarin, tapi efeknya baru terjadi hari ini. Seperti itulah gambaran kasar dari Si Mat Somplak ini. Minumnya besok, maboknya sekarang.
(Kalau tidak tahu rondap itu mabokan apa, silahkan google. Itu adalah mabokan jenis paling dahsyat, dan paling eksklusif, :v)
__ADS_1
Orang semacam ini pada dasarnya tidak berbahaya, hanya saja menjijikkan. Masalahnya, dia kemudian ditemukan tewas secara tragis, ketika dia sedang dicurigai sebagai seorang box maker.
......................
Jadi, box maker pada dasarnya merupakan pekerjaan sampingan yang menyenangkan. Kita cukup membuat lima buah kotak yang nantinya kita isi dengan petunjuk-petunjuk. Setelah itu, kita tinggal mengunggah jawaban atas petunjuk-petunjuk itu ke Redbox.
Nantinya, Redbox yang akan menilai, masuk ke dalam kategori manakah kotak kita. Biasa, rare, atau premium. Kita kemudian akan diminta meletakkan kotak itu di depan pintu, setiap kali ada pemesanan. Melalui proses yang entah kejelasannya bagaiamana, kotak itu kemudian dikirimkan pada si pemesan.
Dari harga penjualan kotak, kita biasanya mendapat jatah 25%. Belum jika misteri yang kita buat cukup rumit. Kita mungkin akan mendapatkan uang itu sebanyak 5 kali, sesuai dengan jumlah maksimal pembelian kotak. Apalagi kalau dijadikan betting box, pokoknya uang pasti akan mengalir deras.
Seperti yang selalu kukatakan, terjadi perputaran uang yang sangat besar di sana (Redbox) setiap harinya. Bahkan, Redbox disebut-sebut sebagai situs ilegal paling menguntungkan, apabila kita ingin berinvestasi.
Situs ini pada dasarnya perseroan, maka ada saham di dalam tubuh perusahaan itu, yang tentunya bisa kita beli. Hanya saja tidak dijual sembarangan. Kita harus menggunakan red coin, membuka rekening melalui bank yang mereka tunjuk, serta beberapa hal rumit lagi yang wajib dipersiapkan.
Karena ini situs ilegal, maka para calon investor kebanyakan bukan orang waras. Yang berani menaruh modal di situ pasti memiliki dukungan ahli komputer yang tak sembarangan.
Nah, Si Otong ini selain box maker, juga memiliki sejumlah saham di (Redbox) sana. Kabarnya, dividen Redbox lumayan menjanjikan. Itu sebabnya harga jual saham Redbox terus naik tiap bulannya.
Masalahnya jika dia box maker, sudah pasti dia juga menciptakan mistery box, dong?
Nama, bahasa, riwayat, semuanya menunjukkan darimana dia berasal. Pastinya. misteri yang dia ciptakan tidak jauh dengan yang namanya aroma terasi. Bau-bau kearifan lokal.
Sampai detik ini, hanya ada satu kotak dengan deskripsi mendekati itu, yakni kotak yang kupecahkan.
Apa kataku?
Di (kotak) sana, terdapat petunjuk berupa borgol; sesuatu yang biasanya dimiliki polisi. Ada pula bungkus makanan yang kelihatan familiar. Itu sebenarnya bukti yang mengarah pada negara, di mana tempat kejadian berlangsung. Semua orang tahu, bungkus mie instan rasa ayam bawang itu berasal dari mana. Dan yang paling aneh; potongan jari tangan manusia.
Tidak salah lagi, dia pasti yang membuat itu (kotak yang kupecahkan.)
Jangan-jangan, dia itu pembunuh? Bagaimana caranya menyiapkan lima buah potongan jari? Dia harus membuat lima kotak, dan kelima itu isinya harus sama. Siapa yang menyediakan potongan jari di dunia ini? Lantas, mungkinkah dia juga punya hubungan dengan Anwar?
__ADS_1
Dasar sialan! Kenapa semua orang yang kelihatannya punya petunjuk harus mati, sih?
Sungguh, aku benci memikirkan semua ini.
Anwar mati gara-gara Redbox, dan kubis sawah ini juga meregang nyawa akibat situs yang sama. Ini merupakan pertanda. Semua yang berhubungan dengan situs terkutuk ini harus segera angkat kaki. Polisi yang berusaha menyelesaikan ini, pun tewas secara tak manusiawi.
Kurasa, bibit wortel itu pelakunya. Dia yang membunuh polisi itu. Aku harus menjelaskan ini pada mereka.
Namun, ketika kukatakan temuan ini, mereka sama sekali tak bergeming.
*A*pa gunanya menunggu sampai mereka berkumpul?
"Memangnya kenapa?" tanya Gilang, datar.
"Dengar, dia mungkin pembunuh rekan kalian, dan kini sudah mati!" tegasku, "kasus sudah selesai, apa lagi masalahnya?" imbuhku.
"Kau pikir kau hebat?" tuding Gilang, "kami polisi, ingat? Kemungkinan itu sudah ada dalam wacana, tapi masalah terbesarnya bukan itu," lanjutnya.
"Terus apa?" tanyaku.
"Kenapa dia membunuh, serta apa yang sebenarnya ditemukan Pak Yanto?" balas Gilang.
"Beliau meninggal saat menjalankan tugas," sahut Roni, "ini bukan sekedar pembunuhan acak, beliau tak mungkin tewas semudah itu, apalagi kalau lawannya cuman orang sipil," imbuhnya.
"Motif maksud kalian?" tanyaku, kemudian mereka mengangguk, "orang gila tak butuh motif, dan teori kalian soal orang sipil tak sepenuhnya benar!" lanjutku, kalap.
Sungguh, mereka hanya tak mengerti apa yang mereka lakukan, dengan siapa mereka berurusan, mahluk apa yang ada di sana, dan apa yang akan mereka hadapi. Tiga orang sudah mati, dan mereka semua terhubung dengan dunia bawah.
Aku setiap hari berkunjung ke sana, meninggalkan jejak-jejak yang berceran di mana-mana. Jika waktu kemudian menemukan lajurnya, maka giliran pertama adalah hal pasti yang akan kuhadapi. Aku sungguh ingin menghindari ini, tapi mereka tak perduli.
"Terserah kalian sajalah!"
__ADS_1
Aku memalingkan muka, menutup pembahasan siang itu. Persetan dengan semua ini. Pikiranku sangat kacau, dan aku butuh pelampiasan. Ingin rasanya kuhajar mereka berdua, tapi aku tak punya nyali untuk melakukan itu.
Untungnya, aku ingat tempat dimana aku bisa menghajar orang-orang tanpa perduli dengan konsekuensinya.