
"Kenapa kamu jadi begini sih, Dim?!"
Entah kenapa, tiba-tiba saja aku jadi teringat pesan ibuku sebelumnya.
...****************...
Ketika kecil, aku sebenarnya hanyalah bocah yang normal. Menyukai belajar di luar, serta merasa senang kalau berhasil menjawab pertanyaan guru. Lebih-lebih kalau habis itu disuruh langsung pulang.
Aku pasti akan berjalan dengan congkak, seolah-olah mahluk paling cerdas di alam semesta mau lewat. Sungguh, aku tak pernah berpikir menjadi seperti sekarang ini.
Masa SMP merupakan titik balik perubahan hidup. Anak pintar yang dahulu banyak teman, kini ditinggalkan. Mereka lebih tertarik pada Si Bandel yang tak berhenti membuat ulah.
Aku mengubah diriku sebagaimana lingkungan menuntut itu. Menjadi penurut di masa itu hanya akan membuatku menjadi target perundungan. Awalnya terasa asyik, tapi kemudian kusadari; that was not me.
Bolos sekolah, melawan guru, menjahili teman sekelas, bergurau di jam pelajaran, hingga berkelahi. Bahkan, aku pernah menjadi pelaku perundungan. Sekeliling yang seolah mendukung membuatku merasa begitu kuat. Sampai kemudian sesuatu mengubah segalanya.
Kalau tidak salah, "kena satu, cukup satu saja yang menanggung kesalahan semua orang."
Begitulah yang mereka katakan saat memaksaku ikut merokok, di WC siswa. Itu adalah semboyan yang sangat mengagumkan. Tapi hanya ketika pertama kali kudengar. Nyatanya, itu hanyalah sebatas omong kosong.
Siapapun pencetusnya, kuharap neraka adalah masa depannya.
Jujur aku tidak suka merokok, bahkan terbatuk-batuk saat melakukannya. Tapi itu terasa sangat keren. Kami tertawa cukup keras, lalu saat aku berhenti dan memutuskan kembali ke kelas, seseorang dengan ceroboh masih berada di sana. Ketika jam pelajaran sudah dimulai.
Tahu apa yang terjadi kemudian?
Seorang guru menemukannya sedang asyik ngudud ria sendirian. Dia dihukum merokok setengah bungkus rokok kretek sekaligus.
Lucu sekali!
Siapapun dia, kurasa dia lupa membawa otaknya ke sekolah. Aku tertawa paling keras sampai keesokan harinya, guru BP memanggil namaku di tengah pelajaran jam pertama.
Anak kingkong! Mana ideologi yang kalian katakan? Mana persatuan dan persahabatan sejati yang selalu kalian bicarakan?
__ADS_1
Yang terjadi kemudian hanyalah saling tunjuk tak mau diadili. Untuk kali pertama dalam hidupnya, ayahku harus datang ke sekolah membicarakan prestasi menyedihkan ini. Dan itu bukan yang terakhir.
Aku memendam rasa kesal pada beberapa orang selepas itu. Kami jadi sering ribut sampai tak jarang berkelahi. Lagi-lagi ayahku dipanggil, bahkan diberi peringatan keras kali ini.
Bukan berarti mereka tak cukup tegas, berbagai hukuman telah mereka terapkan. Namun, keadaan justru semakin memburuk karena sekolah menjadi sesuatu yang semakin kubenci.
Perkelahian menciptakan dendam, dan dendam begitu mudah merembet sampai mereka mulai menyerangku secara berkelompok. Dari situ aku belajar; bagaimana tidak enaknya menjadi korban perundungan.
Sampai pada suatu titik, sekolah akhirnya menyerah dan meminta orangtua memindahkanku. Singkat cerita aku pindah sekolah, sesuatu yang selalu kukenang sebagai langkah perubahan besar dalam hidupku.
......................
Di sana, aku kesulitan bersosialisasi dan lebih sering menyendiri. Hal pertama yang kupelajari dari lingkungan baruku ialah; hubungan antar manusia ternyata busuk, layaknya bangkai.
Orang-orang hanya berpura-pura baik di depan saja. Di belakang, mereka juaranya menjelek-jelekkan. Belum lagi yang omongannya selalu berubah-ubah seperti kipas angin.
Kadang ke kiri, kanan, atas, bawah, pokoknya asalkan dirinya aman, fakta bahwa matahari terbit dari timur pun, rela mereka putar balikkan.
I hope somebody burn them!
Dimana pun, ada perkumpulan, di situ pasti ada omongan tak perlu. Aku mulai merasa akan menjadi sesuatu yang mengerikan jika memaksakan diri bergabung, sehingga kuputuskan menarik diri pelan-pelan.
Tak banyak bicara, tutup mata dan telinga, jauhi kerumunan. Yang kuinginkan hanyalah lulus, lalu tanpa terasa setahun berlalu begitu saja.
Lucunya, aku menginginkan masuk ke sekolah negeri, padahal nilaiku pas-pasan.
Aku hanya berharap, "orang-orang dengan pikiran cerdas tak akan berbuat seperti yang biasanya kulihat."
Ibuku berulang kali menanyakan ke mana tujuanku berikutnya, tapi jawabanku tak pernah berubah. Siapa sangka, keesokan harinya aku benar-benar diterima di sekolah itu.
Ternyata, standar sekolah negeri itu cetek.
Namaku benar-benar ada di daftar penerimaan siswa baru. Kurasa, aku hanya perlu menjalani hariku seperti biasa. Berangkat di jam mepet, terkadang bolos sekolah, serta menjadi sebagaimana yang selalu kulakukan. Malas-malasan menerima pelajaran.
__ADS_1
Sungguh, semuanya masih baik-baik saja sampai kemudian seorang siswi mengadukanku yang kelihatan memakai seragam, tapi tidak berangkat. Panggilan pertama guru BK akhirnya datang, dan aku mendatanginya seolah tak terjadi apa-apa.
Ini cuman hal biasa, mereka pasti tak akan terlalu terkejut lagi. Eh, ternyata malah aku sendiri yang dibuat terkejut.
"Saya sebenarnya cuman kasihan sama ibu kamu yang memohon-mohon supaya kami menerimamu. Sekarang saya menyesal!"
Begitulah yang dia ucapkan.
Seharusnya aku tahu, tak mungkin aku diterima begitu saja.
Sungguh, perasaanku terasa campur aduk. Mereka menyalahkanku, tapi aku merasa dibohongi. Aku begitu marah, sampai kemudian untuk kali pertama dalam hidupku, aku memaki ibuku sendiri, padahal jelas-jelas aku tak berbuat sesuatu yang mulia.
Untuk kali pertama dalam hidupnya pula, ayah menggunakan hukuman fisik; cara yang sebenarnya ia benci.
"Jika kau laki-laki, kau harusnya melindungi, bukannya membuat wanita menangis, apalagi ibumu sendiri!"
Aku begitu terkejut. Beliau tak banyak bicara, tapi sekalinya mengatakan sesuatu, itu menjadi ingatan jangka panjang yang selalu tertanam di benakku. Sayangnya, watak bukanlah hal yang mudah diubah. Kepribadian yang tertutup tak kuperbaiki, rutinitas bolos masih kujalani walau intensitas tindakan itu semakin berkurang tiap harinya.
Namun, aku membayar ketidakhadiranku kemarin, dengan mendengar pelajaran paling fokus keesokan harinya. Berkatnya, tiap tahun aku berhasil naik kelas, walau dengan skor akademis dan absensi di ujung tanduk.
Menyedihkan?
Tidak juga!
Nilaiku boleh saja selalu pas-pasan, akan tetapi ujian nasional menjadi momentum pamungkas. Aku hanya belajar seminggu, tapi nilaiku mengalahkan mereka yang les siang malam. SKS, alias sistem kebut semalam, nyatanya berhasil padaku.
Tanpa memohon belas kasih seperti sebelumnya, aku bahkan diterima menjadi mahasiswa salah satu universitas negeri. Ini cukup membanggakan. Sampai kemudian, kudengar kenyataan bahwa mereka mungkin tak akan sanggup menyekolahkan adikku setinggi diriku.
Lucu sekali. Tapi entah kenapa aku tidak bisa tertawa. Saat itulah kemudian aku jadi ingin berulah lagi.
......................
Kurasa, aku memang hanya anak bandel. Itu adalah takdir, sesuatu yang menyalahi kodrat untuk dilawan.
__ADS_1