Kotak Merah

Kotak Merah
Bullet 15 : Jatuh?


__ADS_3

“Bohong!” tudingnya, menyilangkan tangan, “kamu tidak tertarik kepadaku!” lanjutnya.


Sejenak aku menoleh dan menjawab, “aku setuju, sepertinya kamu memang tidak begitu menarik.”


Fira seketika melotot. Raut wajahnya sudah seperti seekor srigala. Namun, bibirnya yang manyun membuatku merasa geli.


"Kenapa wajahnya seperti itu? Kenapa rambutnya seperti itu?"


Tiba-tiba saja, aku memikirkan hal itu.


Karena kemarin disanggul, aku baru sadar kalau ternyata wajahnya begitu kecil. Mungkin saja, itu karena rambut panjangnya sekarang terurai.


Satu hal yang tidak berubah, dia benar-benar gadis yang sangat lucu. Bahkan terlalu lucu untuk bisa dijahili terlalu lama.


“Bukankah kamu yang paling merasa percaya diri?” tanyaku, tanpa sadar menggoda lagi.


“Kamu tidak akan pernah tertawa seperti tadi, kalau memang tertarik kepadaku!”


Fira menggeleng, terus memperhatikanku dengan ekspresinya yang menggemaskan.


Banyak cara terpikirkan olehku, terlebih dia berada tepat di sebelahku. Tapi, aku memilih tak melakukan apa-apa.


Aku mengangguk. Rencananya memang begitu, tetapi tubuhku seakan tak mau menuruti keputusan nalar.


“Apa aku harus melotot dan murung seperti ini terus, supaya kamu yakin?”


Tiba-tiba, aku balas menatapnya. Bahkan terus memandangi wajahnya, sembari mempertahankan muka datar, dengan terus mengemudi.


Dari sisi kanan, tiba-tiba, suara klakson menggelegar. Untungnya, aku kembali menoleh ke depan dan bermanuver dengan lihai. Kurasa, ada sesuatu yang salah dengan diriku. Sambil menggeleng, aku terus memaki diri sendiri.


"Sebenarnya, ide dari mana semua ini?" pikirku.


“Bisa nyetir nggak, woy!”


Seorang pengemudi motor memaki-maki, sembari membunyikan gas dengan kencang.


Dia terlihat sangat marah sampai-sampai ludahnya menyembur ke mana-mana.


“Kamu mau mati, ya?” omel Fira, menambah rasa pusing.


Seketika, aku menurunkan kaca jendela. Sambil mengangguk, aku segera mengucap maaf. Tapi si pengendara motor terlalu arogan dan temperamental.


Dia masih saja memaki-maki, dan mengata-ngatai seenak jidat. Sepanjang jalan, kata-kata kotor dan caci maki terus saja berbusa dari mulutnya yang jorok.


“Mentang-mentang kaya, jalan seenaknya!”


Mendengar jurus andalannya, seketika aku menepi dan bergegas keluar. Apapun itu, kesenjangan bukanlah suatu alasan menyalahkan.


......................


Harus kuakui aku memang salah. Lalai tidak memperhatikan jalan. Wajar jika dia marah, apalagi nyaris tersenggol. Yang harus dia ingat, tidak terjadi kontak sama sekali. Aku juga sudah meminta maaf, dan merasakan cukup banyak pelajaran.


Selain dimaki-maki, jantungku serasa mau copot, saat dia membunyikan klakson.

__ADS_1


“Orang mana kamu?”


Sambil mengucapkan bemacam kata-kata mutiara, dia menghampiri dan berusaha menyerang. Tak puas, dia bahkan meludah sembarangan. Merasa tidak begitu mengancam, aku masih santai. Tapi karena orang itu terus menanyakan alamat dan hal-hal semacamnya, akhirnya aku merasa tidak nyaman dan terpaksa menarik dompet.


Sungguh lucu, membuatku senyum geli. Wajahnya kelihatan berseri-seri saat aku mengambilnya. Tapi ketika aku memberikan kartu identitas, tiba-tiba saja dia tidak jadi memperpanjang urusan. Bahkan, terlihat mulai gugup dan salah tingkah. Padahal, tadinya dia sudah menyiapkan ponsel dan berpose layaknya seorang selebgram ketika sedang berada di restoran.


“Mana tingkahmu yang seperti preman?”


Ingin rasanya bertanya demikian, tetapi itu hanya membuatku terlihat seperti seorang aparat yang arogan.


“Kalau merasa dirugikan, datang saja ke alamat yang tertera!” seruku, “kenapa, tidak jadi difoto?” lanjutku, mendapati pria itu tiba-tiba saja mengantongi lagi ponselnya.


“E-Enggak, kok, pak!” jawabnya, “cuman ngecek WA doang, barusan,” imbuhnya.


Aku hanya mendeham, membiarkan alasannya yang terdengar sangat klise.


“Asal kamu tahu, ini mobil atasanku, aku sedang tugas mencari motor bodong!” kibulku.


Kuambil lagi kartu Identitas polisiku, dan memasukkannya ke dalam dompet.


Begitu menoleh, pria itu sudah lari terbirit-birit.


“Dasar, berandal!” gerutuku.


Plat nomornya sudah telat. Dia juga memakai ban tidak standar. Tidak cuman itu saja, dia juga asal menyalip.


“Kalau tidak kabur...”


Sambil menggeleng, pada akhirnya aku masuk lagi ke dalam mobil. Lagipula, aku bukan anggota Satlantas, jadi tidak punya wewenang melakukan itu.


“Mau kemana?” tanyaku, seketika mencengkeram lengannya.


Fira kelihatan cemberut, bahkan berontak dan memaksa pergi.


“Aku pasti tambah celaka, kalau tetap di mobilmu!” ujarnya.


“Benarkah, menurutku justru tidak ada yang berani macam-macam?” ujarku, “lagian, dianya nyalip sembarangan. Aku masih berada di markah garis, cuman belok dikit doang, kok!” tambahku.


Fira menggeleng. Sepertinya, gadis itu tidak sependapat.


“Dari mana kamu tahu, orang kamu aja ngelihatin muka aku terus, kok?!” tudingnya.


“Benarkah?”


Seketika, aku melepaskan tangannya. Sambil duduk, aku terus menggeser posisi, berusaha lebih dekat. Merasa cukup, aku pun menoleh, menatapnya seperti saat insiden tadi. Entah kenapa, aku merasa penasaran.


Matanya terlihat besar, alisnya kelihatan lentik. Aku yakin kemarin malam dia memakai riasan wajah, tetapi anehnya aku justru lebih tertarik melihatnya seperti ini. Padahal, jerawat di pipi kirinya kelihatan jauh lebih jelas.


Bahkan semakin memandang, telingaku jadi semakin panas tiap detiknya. Itu membuatku mulai menjauh, dan semakin jauh, sampai akhirnya membentur setir.


“Ini gawat!” gumamku, “semuanya pasti gara-gara wajahmu terlalu menarik!” lanjutku, seraya menggeleng.


Begitu sadar aku sudah mengatakan isi pikiranku begitu saja.

__ADS_1


Seketika aku memalingkan muka. Khawatirnya telingaku bisa terbakar, kalau terlalu lama memandanginya.


“Jadi ini salahku?”


Fira langsung melotot, menutup pintu dengan keras.


Sadar gadis itu masih di sebelahku, aku hanya melongo.


Tadinya kupikir, dia sudah naik darah. Tapi dengan muka tersipu, dia malah berkata, “b-benar juga, kalau begitu, itu memang salahku!”


Tiba-tiba saja, dia kembali duduk manis.


Itu membuatku nyaris tertawa terpingkal-pingkal. Tentunya aku tak berani melakukannya, sehingga hanya menggeleng. Sekali lagi, aku memandangi wajahnya. Entah mengapa, rasanya sangat menyenangkan. Bahkan, lupa akan risiko telinga terbakar.


“Bagaimana mungkin, ada gadis selucu ini?” pikirku, kali ini tak membiarkan keceplosan.


Terlihat malu, Fira tiba-tiba berkata, “cepatlah jalan, jangan melihatku terus!”


“B-Baiklah, tapi jangan menunjukkan wajahmu terlalu sering!” jawabku.


Fira memalingkan muka, tetapi aku mengubah posisi spion dalam. Dari pantulan kaca spion, aku bisa melihat senyumannya dengan jelas. Wajahnya yang tersipu terekam di sana.


Dunia serasa begitu aneh, tetapi begitu menutup pintu semuanya harus berakhir. Bagaimanapun juga, keselamatan jauh lebih penting. Sambil memasukkan persneling, aku segera mengembalikan posisi spion seperti semula.


“Sabuk pengamanannya tolong dipakai lagi!” seruku.


"Baiklah!" jawab Fira.


Tanpa sadar, aku senyum-senyum sendiri. Benar-benar semakin kacau. Kurasa ada yang aneh dengan otakku. Cuman melihatnya memakai sabuk pengaman, tiba-tiba saja perasaanku begitu senang, seakan-akan baru saja naik jabatan.


Tak ingin semakin gila, aku segera memulai perjalanan. Kuharap, aku tidak perlu pergi ke psikiater.


......................


Sesampainya di klinik, tukang parkir langsung memberikan aba-aba. Dia mengarahkan kami ke sebuah tempat kosong di pinggir jalan.


Walaupun cukup besar, tempat praktek Om Hadi tidak punya lahan parkir yang luas, sehingga pasiennya sering kali mengungsi ke jalanan.


Parahnya, di sekitar tempat prakteknya juga bertebaran macam-macam toko. Bahkan, berderet sampai di ujung jalan yang membuat area pinggir jalan jadi tempat parkir dadakan. Tak jarang, lalu lintas jadi macet, karena banyaknya kendaraan yang parkir sembarangan.


Terkadang, itu membuatku merasa; mereka semua benar-benar kurang ajar. Tapi sekarang aku sadar, aku lebih tidak tahu malu. Walaupun sadar tindakan ini tidak bisa dibenarkan, aku tetap saja memarkirkannya di tempat ini. Lebih parahnya lagi, aku bekerja di instansi yang harusnya menertibkan tindakan semacam ini.


Tak ingin memikirkannya berlarut-larut, aku segera keluar, lalu membukakan pintu dan membantu Fira. Siapa sangka, itu benar-benar obat yang sangat mujarab?


Semua pikiran tadi lenyap seketika. Sebagai gantinya, perbedaan tinggi badan yang cukup mencolok, tiba-tiba saja kurasakan, saat Fira keluar. Itu membuatku semakin curiga; aku sudah benar-benar jatuh. Kalau tidak, kenapa aku mempermasalahkan hal receh semacam ini?


“Bisa jalan, kan?” tanyaku, seraya membantunya.


Fira mulai jalan, sembari berpegangan padaku. Baru menaiki trotoar saja, wajahnya sudah meringis kesakitan.


"Bagaimana dia bisa berjalan menaiki sekitar enam anak tangga lagi?" pikirku.


Dari tepi jalan, kami masih harus menaiki tangga setinggi semeter lebih untuk sampai ruang resepsionis. Dengan keadaan kakinya, itu pasti akan sangat menyakitkan.

__ADS_1


“Mau kugendong?” tawarku, dibalas pelototan olehnya, “baiklah,” lanjutku, memapahnya seperti tadi pagi.


__ADS_2