
Jika aku menolak bekerja sama, aku akan dintuntut. Tapi kalau aku bekerja sama, beberapa minggu ke depan pasti menyebalkan. Sialnya, menolaknya bakal membuat hidupku semakin berantakan.
Aku akan memiliki catatan riwayat kriminal yang membuat masa depanku semakin suram, belum tuntutan yang memberatkan keluarga. Walaupun berkata bebas memilih, kurasa aku tidak punya pilihan.
Choice, something i hate little more than anything!
Sejak dulu, aku membenci pilihan, apalagi keduanya sama-sama buruk. Kuliah atau kerja, menikah atau menikmati hidup, tidur atau tidak dapat uang. Semua itu bodoh, persis seperti sekarang ini.
Andai saja pistol itu meledak, semua ini pasti sudah berakhir.
......................
"Jadi, apa keputusanmu?" tanya Gilang.
Aku manarik napas, berharap adanya pilihan ketiga, seperti yang biasa kupilih. Aku tak suka kuliah, tapi malas bekerja, sehingga memilih menganggur. Aku tak perduli dengan yang namanya pasangan, tapi tak bisa menikmati hidupku seperti orang normal. Untung ada game, jadi aku tak terlalu bosan walau hidup mengurung diri. Aku suka tidur, tapi tak ingin bermasalah dengan finansial. Jalan keluarnya sederhana, aku punya komputer. Begitu banyak cara mendapatkan uang tanpa perlu keluar rumah.
Sungguh menyebalkan. Sudah lama aku tak terjepit diantara dua pilihan memaksa. Sejujurnya, aku benci memilih sesuatu yang tak jelas, karena akan membuatku kelihatan bodoh, tapi apa mau dikata?
"Pertama, segera selesaikan urusan kalian dengan laptopku, aku berencana memberikan itu pada adikku," kataku, "kedua berikan keluargaku alasan masuk akal agar laptop itu tak langsung dibuang ayah," lanjutku.
"Maksudmu?" tanya Gilang.
"Kalian pasti akan menahan ini sebagai bukti, bukan?" balasku.
"Katakan saja keputusanmu!" Gilang.
"Apa lagi? Aku pasti akan membantu semampuku."
"Bukan semampumu, tapi sampai kasus ini selesai!"
"Baiklah, tapi pertama, selesaikan dulu tuntutanku!"
Gilang mengangguk, mengulurkan tangan, dan aku meraihnya. Rekannya yang kurus kemudian mengeluarkan sebuah surat bermaterai. Isinya sederhana, hanya sebuah jaminan agar aku mengikuti prosedur penyelidikan sampai selesai.
Selesai menandatangi itu, mereka pun, meninggalkanku selama 2 hari begitu saja. Semuanya kemudian berlalu begitu cepat, sampai-sampai kupikir semua itu hanya mimpi.
Kasur tipis sederhana, bantal kotor bau jigong, serta ruangan sempit yang kurindukan. Satu-satunya yang berharga hanyalah seperangkat komputer canggih, dan meja yang menyangganya tetap aman.
*E**verything still save*!"
Sungguh, tak pernah kusangka melihatnya lagi akan terasa se-membahagiakan ini.
......................
__ADS_1
Aku berkacak pinggang, mendesah di depan pintu. Pergi ke loundry adalah pekerjaan pertama yang kulakakan, setelah dibebaskan.
Selimut sudah tidak tersisa, pakaian tinggal sehelai, celana dan kolor pun, tinggal yang sedang kukenakan. Itu juga sudah beberapa hari tak dicuci.
Kuharap mereka tak banyak mengoceh, walau ini sudah melewati jatah pengambilan.
Sungguh, mataku rasanya berat. Dua malam menginap di hotel prodeo bukanlah pengalaman yang menyenangkan. Makanan dan minuman di sana mungkin tersedia secara gratis, rasanya pun, lumayan. Namun, bila dibandingkan dengan kebebasan dan fasilitas yang kukorbankan, itu tidak sepadan. Sampai kapan pun, aku tak akan mau kembali ke sana.
Tombol power kutekan. Kipas segera menyala kencang. Dengung suara mesin komputer pun, terdengar. Rasanya sudah lama sekali, tak kudengar suara itu.
Sambil menunggu, kubereskan cucian kering di pojokan. Malam ini malam yang panjang. Aku tak perduli walau esok ajal menjemput. Targetku saat ini adalah, memenangkan setidaknya 10 permainan. Aku sangat merindukan game kesayanganku.
......................
Tak terasa, waktu menyenangkan hampir berlalu. Obat tetes mata pun, tersisa tak seberapa. Punggung rasanya sangat kaku, dan beberapa tetesan terbukti sudah tidak efektif lagi.
Kutatap riwayat pertandingan yang membuatku begitu puas. Senang rasanya bisa kembali ke kehidupan. Ada banyak pekerjaan yang menungguku esok hari, dan kasur butut yang kurindukan ada di hadapanku. Kuputuskan mematikan komputer dan segera berbaring.
Tomorrow must be wonderfull day!
Aku menggulung diri dalam selimut makin rapat. Kuharap, malam tak pernah berlalu, atau sang pagi tak ingin menampakkan diri. Dengan demikian, niscaya istirahatku akan berjalan lebih panjang.
......................
Aku melirik sebentar, kemudian meringkuk lagi.
Sangat menyebalkan!
Orang-orang menyuruh untuk menjalani hari lebih baik dari sebelumnya, tapi hari ini selalu berjalan lebih menyebalkan dari kemarin.
"Lima menit lagi!" tawarku.
"Bangun sekarang, atau ku-format hardisk komputermu!" ancamnya.
Lama-lama bisa gila. Mereka mulai mengancamku dengan sesuatu yang sangat kutakuti, bahkan melebihi kematian.
Tak perduli seberapa pulas tidur nyenyak yang sedang kujalani, mataku akan langsung melotot kalau mendengar kalimat horor itu.
"Berani melakukan itu, aku akan bunuh kalian semua, lalu kemudian bunuh diri!" ancamku balik.
Dia hanya tertawa.
Hampir saja aku lupa tentang statusku; saksi dalam pengawasan. Entah apa saja yang kulewatkan belakangan ini. Aku hanya beberapa bulan mengurung diri, tapi tiba-tiba saja selera humor semua orang mendadak turun drastis.
__ADS_1
"Apa tidak masalah?" tanyaku, seraya menguap.
Mataku berkaca-kaca, akibat fenomena pagi yang menyebalkan. Kuambil obat tetes mata di dalam laci, karena mataku benar-benar kering. Walau tak mengenakan kacamata, aku selalu merasa ada yang tak beres dengannya.
"Apanya?" balasnya, petugas yang mempunyai bekas luka.
Kalau tidak salah namanya Gilang. Mereka semua memanggilnya sedikit lebih hormat karena dia dikenal rajin dan berdedikasi tinggi.
Kudengar, dia juga memiliki beberapa prestasi yang sedang dipertimbangkan oleh atasannya.
"Promosimu," kataku.
"Itu hanya rencana pimpinan, bawahan sepertiku hanya bisa menunggu keputusan," jawabnya, "daripada membahas itu, katakan soal perkembanganmu!" lanjutnya.
"Kopi dulu, baru bicara!" ujarku.
"Yaudah, sana beli!"
Gilang menyodorkan selembar uang puluhan ribu, membuatku garuk-garuk kepala. Aku tahu, jumlah itu sudah cukup untuk dua gelas kopi, tapi tidak sepadan dengan ujian yang harus kulalui.
Aku harus berjalan beberapa puluh meter, belum bahaya polusi. Siapa tahu ada tawuran di luar sana. Aku tak bisa membayangkan terjebak diantara tawuran, sambil menenteng dua gelas kopi panas. Berita bagusnya, aku mungkin akan selamat dengan menyiramkan kopi itu ke muka mereka, tapi tujuan utamaku untuk meminum salah satu minuman terbaik di dunia akan binasa. Biar kupertegas. Aku bukannya malas, hanya saja pasti akan lebih aman kalau yang berangkat polisi saja.
"Punggung saya sakit, Pak kepala saya juga pusing! Saya sudah begadang semalaman, sebentar lagi juga ibu kos akan kesini," ocehku, "kalian tahu sendiri, betapa menyebalkan orang itu. Kecuali kalau kamu mau menghiburnya selagi saya pergi, sih saya mau saja berangkat. Asal kau tahu saja, saya biasanya pergi selama dua jam!" lanjutku, beralasan.
Sungguh, aku kagum dengan mereka. Bagaimana mereka membujuk wanita itu untuk tak mendepakku dari kos-kosan ini.
"Kamu pusing? Beli obat saja, tidak usah ngopi," sahut Gilang, "bahaya!" imbuhnya.
"Saya kalau pusing biasanya langsung sembuh, kalau minum kopi, Pak," ujarku, "sumpah! Ini fenomena medis yang langka!" lanjutku.
"Bilang saja kamu malas!" gerutunya, pada akhirnya mengalah.
Seperti kataku, aku bukannya malas. Terserah mau percaya atau tidak, setidaknya aku sudah memberi klarifikasi sejak awal.
Btw... perundingan Renvill kemarin, berakhir dengan kesepakatanku menerima tugas negara. Kupikir, aku akan ditempatkan di garda terdepan memerangi kejahatan. Nyatanya, mereka hanya menginginkanku menguak misteri kematian Anwar.
Sejak kali pertama melihat aksinya, aku sudah curiga kalau dia adalah pembuat masalah. Sayang, seperti biasa aku terlambat menyadari itu sampai kemudian semuanya menjadi merepotkan.
......................
Aku sebenarnya tidak berbakat menyelesaikan masalah orang lain, tapi semua orang tak bisa mengerjakan sesuatu dengan benar. Mungkin, itulah sebabnya mereka memperdaya orang kecil sepertiku untuk menjadi buruh, atau lebih tepatnya kacung.
Siapapun yang menciptakan sistem ini, kuharap beberapa ekor lalat akan jatuh di piring makan malamnya, hari ini.
__ADS_1