
Malam harinya, Raisor yang kumpul dengan teman-temannya, mengundang mereka untuk datang ke AFE.
"Emang kami boleh datang?" tanya Stella (pemilik Rumah Sakit RakStell).
"Nanti kami datang diusir lagi?" kata Raka (suaminya Stella dan pemilik dari RakStell juga).
"Aman, kalian itu gak akan diusir, soalnya yang mengundang kalian kan gua. Nih, undangannya." kata Raisor sambil memberikan undangan.
"Wah, keren." kata Graifa (pemilik bandara GraiRis).
"Iya keren banget. Ada namanya lagi?" kata Riska (istrinya Graifa).
"Kok, kalian agak norak ya." kata Jamster (pemilik JM Studios).
JM Studios adalah sebuah perusahaan pembuat film. JM Studios berada di peringkat ke enam sebagai perusahaan film paling laris yang ada di negara Either.
"Biarlah, namanya juga senang. Daripada lo gak ada tuh, lo mengundang kami." kata Janjan (pemilik Resto Jan&Sherly).
"Eh, bodat. Asal lo tahu ya, yang berhak mengundang itu, adalah perusahaan atau agensi, yang mendapatkan undangan bewarna emas. Dan undangan itu, ada tiga. JM Studios ada di peringkat ke enam. Jadi, gua hanya dapat undangan biasa. Gua hanya boleh bawa istri, tapi masalahnya, gua udah cerai, bodat." kata Jamster.
Mereka semua pun tertawa dengan perkataan Jamster. Jamster adalah mantan suami dari Vivi. Vivi adalah seorang perancang busana, dan memiliki perusahaan bernama Vivi'S.
"Yaudah rujuk aja, untuk satu hari saja. Habis itu, cerai lagi." kata Canjan (seorang ketua Narkotika Negara Either, disingkat NNE).
"Yaudah, mau rujuk lagi gak Vi?" kata Jamster.
"Apaan sih." kata Vivi.
"Apalagi Vi, biar masuk akun gosip." kata Winzet (pemilik perusahaan WZ Music studios).
"Oh iya Zet. Btw, kalian ada dapat undangan tampil gak Zet?" tanya Raisor.
"Enggak tuh Rai, kenapa?" tanya Winzet.
"Kami gak dapat loh, katanya anak ASP semua yang tampil." kata Raisor.
"Oh ya, ya.. Wajar sih. Namanya juga ASP." kata Winzet.
"Tapi progres dari penyanyi nya ASP juga gak bagus-bagus banget loh, akhir-akhir ini. Penanggung jawabnya aja sampai diganti tuh." kata Raisor.
"Ya, gak bagus menurut ASP kan. Kalau dibandingin dengan kita? Gimana? Ya, lagian pihak penyelenggara pasti pengen acara lebih ramai dan meriah kan?" kata Winzet.
"Biarkan aja ya Zet?" kata Rangga (seorang pasukan militer dari Negara Either).
"Iya. Gua tahu sih, kalau satu aja yang tampil, gitu. Pasti gua senang banget udah. Tapi kalau gak dapat ya, gimana? Mau ngomong apa? Nikmati ajalah. Lagian kita bukan anak baru lah di entertain." kata Winzet.
"Tapi, bukannya itu agak tidak adil ya?" kata Ramstar (karyawan di Zoo Market).
Zoo Market adalah sebuah Market kedua terbesar di Negara Either.
"Yaelah Ramstar, umur loh udah kayak gini aja masih nanya soal keadilan? Itu pertanyaan anak sd. Maksimal pertanyaan itu bisa dipakai sama orang yang baru masuk kuliah lah." Winzet.
"Ya, bukan gitu. Lo harus pertanyakan dong? Masa dengan kayak gitu, lo terima-terima aja. Lo harus berani, karena sukses hanya untuk orang yang berani." kata Ramstar.
"Gini ya, ada dua orang, anggap aja namanya si A dan si B. Si A dan Si B ini bercita-cita untuk menjadi seorang pemain sepak bola, oke." kata Winzet.
"oke." ucap semua orang.
"Mereka berlatih dengan keras, pagi ke siang, ke malam. Mereka terus berlatih. Dan, pada saat mereka ikut seleksi timnas, yang ke pilih cuman si A. Pertanyaannya apakah lo bisa mengatakan bahwa itu adil?" tanya Winzet.
__ADS_1
"Ya, kalau memang dipilih secara benar dan tidak ada kecurangan, ya, bagi gua itu adil." kata Ramstar.
"Kenapa adil? Si B juga berusaha. Kenapa dia tidak terpilih. Dia beneran niat untuk menjadi pemain sepak bola, kenapa si A saja yang terpilih?" kata Winzet.
"Ya, mungkin perjuangan si A lebih keras." kata Ramstar.
"Jadi menurut lo, Si B tidak berjuang keras gitu?" kata Jamster.
"Bukan gitu." kata Ramstar.
"Gini, em., menurut gua ya. Di dunia ini, keadilan itu ada. Tapi, hanya untuk yang menang. Kenapa, karena ketika lo menang, elo tidak akan mempertanyakannya. Tapi ketika lo kalah, lo akan mempertanyakannya. Manusia itu kayak gitu, dia akan mengeluh ketika dia merasa capek, bukan karena dia lagi tidak capek. Dia akan mempertanyakan semua yang terjadi di hidupnya, saat dia terkena masalah, tapi jika tidak, dia tidak akan mempertanyakannya." jelas Jamster.
"Widih, semenjak cerai lo jadi puitis banget loh." kata Shinta (istri dari Canjan).
"Ya, gua pengen memperbaiki diri." kata Jamster.
"Ih lihat tuh Vi, udah mencoba loh dia." kata Chintya (pemain voli profesional).
"Gua pesan minum dulu ah. Nyak.. Pesan minum dong nyak." kata Vivi pergi meninggalkan mereka.
"Ih ngambek.." kata Chintya. Dia pun pergi menyusul Vivi.
Di tempat lain Aldi dan Karin yang sedang teleponan.
"Gimana yank, makanannya enak gak?" tanya Aldi.
"Enak... Penampilannya." kata Karin. Mereka berdua pun tertawa.
"Jahatnya.." kata Aldi.
"Eh, bentar. Itu buatan restonya kalian?" tanya Karin.
"Terus, kamu tahunya dari mana?" tanya Karin.
"Aku pernah nyoba. Dan ya.., gitulah." kata Aldi.
"Oh, tapi.. Itu bukannya makanan baru ya?" tanya Karin.
"Baru sih, udah keluar dari beberapa minggu yang lalu. Tapi, iklannya baru keluar sekarang." jelas Aldi.
"Berarti kamu menjebak aku dong?" kata Karin.
"Enggak loh sayang. Kan aku bilangnya bisa menghilangkan mood, bukan enak." kata Aldi.
"Ih, awas ya kalau kamu udah balik." kata Aldi.
"Uweeeee.." ejek Aldi.
"Ih, kesalnya. Astaga." kata Karin.
Aldi pun tertawa terbahak-bahak.
"Kalau kamu balik, aku gak akan mau keluar sama kamu." kata Karin.
"Ah, maaf sayang aku. Jangan gitu dong." kata Aldi.
"Pokoknya aku gak mau." kata Karin.
Di saat Aldi dan Karin teleponan, Aldi tiba-tiba saja di samperin oleh Ziya sambil menunjukkan sebuah berkas, sebagai pertanda ada yang harus dibicarakan.
__ADS_1
"Em.., yank. Nanti aku hubungi lagi ya, ada kerjaan." kata Aldi.
"Yaudah." kata Karin.
"Aduuh, penting gak Zi?" tanya Aldi. Ziya pun menjawabnya dengan mengangguk.
"Yah penting lagi. Em.., maaf ya yank. Penting soalnya." kata Aldi.
"Gak papa. Aku matiin ya, selamat kerja." Karin pun langsung mematikan teleponnya agar Aldi bisa fokus dengan kerjaannya.
Akan tetapi..
"Tsk.., dia ngambek loh." kata Aldi.
"Ada apa sih Zi? Gua kan lagi asik-asiknya teleponan sama bidadari gua." kata Aldi.
"Ya, gimana. Soalnya ini harus dibahas banget tahu." kata Ziya.
"Apaan?" kata Aldi.
"Nih, Sari menuntut kita balik." kata Ziya.
"Ha?" kata Aldi kaget.
"Ya, nih. Dia menuntut kita atas pencemaran nama baik. Karena dia menganggap bahwa kita tuntutan kita tidak mendasar. Kalau soal masalah tamparan, itu bukan sesuatu perbuatan tindak kekerasan." kata Ziya.
"Oh, begitu. Memang sih. Gua menuntutnya kan, biar gua gak bayar uang konpensasi, karena gua memecatnya sebelum kontrak habis. Tapi, karena tuntutannya membuat bidadari gua jadi ngambek. Gua tidak akan melepaskannya loh. Yang awalnya gua tidak ada niatan untuk membuatnya masuk penjara, tapi karena dia membuat bidadari gua marah. Jadi ayo bermain." kata Aldi.
"Dan lo tahu, siapa yang memberikannya pengacara?" kata Ziya.
"Siapa?" kata Aldi.
"Silvy." kata Ziya.
"Silvy? anak mana tuh?" kata Aldi.
"Sahabatnya Yani." kata Ziya.
"Em.., yang mana?" kata Aldi.
"Yani, masa lo lupa? Percuma setiap hari senin lo ke pemakamannya." kata Ziya.
"Gua tahu Yani, tapi gua tidak tahu Silvy." kata Aldi.
"Itu loh, yang nyiram lo pakai air pas pemakamannya Yani. Dan mengeluarkan hate komen di media." kata Ziya.
"Oh dia.." kata Aldi.
"Ho'oh.." kata Ziya.
"Gua biarkan dia memaki kita selama ini, hanya karena dia sahabatnya Yani. Tapi, karena gara-gara dia bidadari gua marah, jadi gua udah gak peduli loh sekarang. Maaf Yani, gua harus memberikan pelajaran buat sahabat lo yang satu itu." kata Aldi.
.......
.......
.......
...Bersambung...
__ADS_1