Kristal

Kristal
Episode 34


__ADS_3

Keesokan paginya, di parkiran R Entertaiment Silvy yang baru datang di datangi oleh satpam R Entertaiment.


"Bu Silvy." panggil pak satpam.


"Iya pak." kata Silvy.


"Ini buk, saya nitip surat untuk pak Raisor dong buk, boleh?" kata pak satpam sambil memberikan sebuah surat.


"Apaan sih pak, bolehlah." kata Silvy.


"Makasih ya buk Silvy." kata pak satpam.


"Sama-sama pak." kata Silvy.


"Surat apaan ini, pengadilan.." Silvy yang kaget melihat surat tersebut, langsung membukanya.


Setelah melihat isi dari surat tersebut, Silvy pun bergegas ke ruangan Raisor.


"Rai." kata Silvy.


"Iya, kenapa?" tanya Raisor.


"Jujur sama gua, elo ada masalah apa dengan Karin?" tanya Silvy.


"Karin? Enggak, kami gak papa, kena--" Raisor terdiam setelah Silvy menunjukkan surat gugatan cerai yang dia pegang.


Raisor pun membuka surat tersebut.


"Seperti yang lo lihat." kata Raisor.


"Kalian kenapa? Kenapa bisa Karin menggugat cerai elo?" tanya Silvy.


"Mungkin, dia lapar kali." kata Raisor.


"Lapar? Maksudnya?" tanya Silvy bingung.


"Ya, lapar. Orang lapar kan suka aneh-aneh kelakuannya." kata Raisor.


Seketika Silvy yang merasa aneh dengan pakaiannya Raisor. Raisor yang selalu memakai lengan pendek, tiba-tiba hari ini, dia memakai baju lengan panjang.


"Sini tangan lo." kata Silvy.


"Buat?" tanya Raisor.


"Sini." kata Silvy.


"Duduk dulu yuk." kata Raisor.


Mereka pun duduk di sofa.


"Em.., Karin berselingkuh dengan Aldi, dan mereka akan melangsungkan pernikahan." kata Raisor.


"Serius?" tanya Silvy.


"Apakah surat ini tidak bisa membuat lo percaya dengan perkataan gua?" kata Raisor.


"Bentar, Aldi? Aldi adik lo?" kata Silvy.


"Ya." kata Raisor tersenyum.


Silvy pun mendekati Raisor dan memeluknya.


"Jangan bilang, kalau barang-barang mahal yang dia pakai.." kata Silvy.


"Mm.. Itu semua dari Aldi." kata Raisor.


"Termasuk anting pemberian Sila?" tanya Silvy


"Mm.." kata Raisor.


"Terus, sekarang bagaimana Rai?" tanya Silvy.


"Gua tidak tahu, gua hanya berharap penderitaan ini adalah mimpi, dan gua ingin terbangun, karena gua tidak sanggup melewatinya." kata Raisor.


"Elo udah mencoba ngomong dengan Karin?" tanya Silvy.


"Sudah, tapi.. Gua tidak bisa bicara banyak." kata Raisor.

__ADS_1


"Karena?" tanya Silvy.


"Karena dia menjaga perasaannya Aldi. Aldi adalah orang yang cemburuan, jadi dia sangat menjaga jarak dengan gua. Padahal, dia tidak pernah melakukannya ketika dia masih bersama gua." kata Raisor.


"Salah apa gua apasih Sil?" tanya Raisor sambil meneteskan air matanya.


"Gua melakukan semua yang dia mau, dia tidak mau ini dia tidak mau itu, gua selalu menurutinya. Gua selalu sabar menghadapinya, apakah perjuangan gua tidak cukup untuk membuatnya bertahan? Segitu menjijikkannya kah gua? Sampai-sampai dia meninggalkan gua." kata Raisor.


Setelah mengobrol dengan Raisor, Silvy pun kembali ke ruangannya. Konsentrasinya terganggu karena masalah yang dihadapi oleh Raisor.


"Tsk, Apa yang harus gua lakukan ya?" kata Silvy bingung.


Di ASP Entertaiment.


"Hai semuanya." kata Rina. Rina yang sudah dekat dengan Aina dan yang lainnya, datang membawakan makanan untuk mereka.


"Nih, makan." kata Rina sambil meletakkan mie goreng yang dia bawa.


"Ih, mie goreng.." kata Dafa.


"Gak usah lo ambil, udah di belikan juga, bukannya makasih.." kata Rina.


"Ya, masa mie goreng.." kata Dafa.


"Gak usah lo ambil." kata Rina kesal.


"Kalau buat sarapan itu kan em.. nasi bungkus gitu, atau apa.. Masa mie goreng." kata Dafa.


"Beli aja sana." kata Rina kesal.


Karena melihat Rina yang sudah kesal, Dafa pun berkata "Bercanda Rin.." katanya.


"Gak usah Rin, emang gak ada otaknya, udah di kasih, malah gak menghargai." kata Arif.


"Kalau gua Rin, gak akan gua kasih." kata Sila.


"Jadian aja kalian, serasi kali.." kata Dafa.


"Jangan dengarkan mereka, mereka hanya tidak tahu caranya bercanda.." kata Dafa.


Aina pun masuk ke ruangan.


"Yah, maaf Rin. Gua lagi diet." kata Aina.


"Gak menghargai ah.." kata Sila.


"Betul tuh, padahal udah dibelikan kan.." kata Arif.


"Apaan sih, gua di suruh diet sama kak Venya loh, astaga." kata Aina.


"Kapan?" tanya Rina.


"Semalam." jawab Aina.


"Kenapa harus diet ya? Gua bukannya gak setuju dengan kak Venya, tapi kenapa semua penyanyi, itu harus diet, kenapa tidak tampil aja sesuai dengan yang terlihat, soalnya kan, mereka penyanyi bukan model." kata Dafa.


"Gampang, Agar ketika menari, Aina tidak susah, dan gak susah pilih bajunya, gitu." kata Sila.


"Semua peraturan yang di buat, pasti ada alasannya, jangan dikit-dikit bilang, ah ini, ah itu. Kalau gak ngerti diam aja, kalau gak merugikan diri kita, diam saja. Gak usah banyak bertanya lah." kata Arif.


"Dih, lo tau gak, ada orang yang mengatakan, malu bertanya, sesat di jalan. Gua bertanya karena gua tidak tahu. Walaupun tidak merugikan diri gua, ya, gua penasaran, kenapa ada hal yang kayak gitu, makanya gua bertanya." kata Dafa.


"Oh iya, Nata mana Ai?" tanya Sila ke Aina.


"Nata? Gak tahu. Gua dari rumah sih tadi." jelas Aina.


"Aina dengan Nata ada hubungan apa ya?" tanya Rina dalam hatinya.


"Em.., Sil." kata Rina.


"Iya." kata Sila.


"Em.., emang Aina sama Nata ada hubungan apa sih?" tanya Rina.


"Kami cuman teman Rin, mereka aja tuh yang suka ngasal kalau ngomong." kata Aina.


"Kasihan sekali Nata.." kata Dafa.

__ADS_1


"Kali ini gua sepakat sama elo Daf, padahal Nata sudah berjuang, namun yang diperjuangkan tidak peka." kata Arif.


"Begini Rin, Arif itu suka sama Aina, sedangkan Ai--"


"Kenapa jadi gua?" kata Arif.


"Eh, salah." kata Silvy tertawa, dan semua orang pun tertawa.


"Tapi kalau sama Arif, gua mau sih." kata Aina sambil tersenyum ke arah Arif.


"Apalagi Rif." kata Dafa.


"Apaan sih.." kata Arif memalingkan wajahnya dari Aina.


"Lah, kok salah tingkah?" kata Dafa.


"Anjir, awas lo ya Daf." kata Arif.


"Lah, kok marah.." kata Dafa.


"Anjir." kata Arif.


"Rif." panggil Aina.


"Ha?" kata Arif menoleh ke arah Aina.


"Cie.." kata Dafa. Semua orang pun tertawa melihat Arif yang salah tingkah.


"Rif, temani gua bentar yuk." kata Aina.


Arif hanya diam dan kembali memalingkan wajahnya dari Aina.


"Arif." kata Aina.


"Apasih Aina." kata Arif.


"Ih, dibentak loh." kata Dafa.


"Jahatnya.." kata Sila.


"Gua gak ada membentak ya, mulut loh Dafa." kata Arif.


"Temani gua yuk Daf." kata Aina.


"Ayok." kata Dafa.


"Eh, beneran?" kata Arif.


"Beneran lah.." kata Aina.


"Jahat banget sih Ai, kalau gua si--"


"Berisik! Ayo Ai, elo duduk aja Daf." kata Arif.


"Dih marah." kata Sila.


"Gua gak marah Sila, yuk Ai." kata Arif.


"Bentar, yok." kata Aina.


"Cie.." kata Dafa dan Sila.


"Awas kalian nanti ya." kata Arif.


"Rin, bentar ya.." kata Aina.


"Oh.. Mm.." kata Rina.


"Cie.., Rina.." kata Dafa.


"Apaan sih.." kata Rina salah tingkah.


.......


.......


... ....

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2