Kristal

Kristal
Episode 43


__ADS_3

Vivi yang duduk termenung di dekat ruangan ICU, tiba-tiba di datangi oleh mamanya Jamster.


"Ngapain kamu di sini?" tanya mamanya Jamster.


"Tante, saya cuman--" perkataannya Vivi terhenti karena mamanya Jamster langsung menyela.


"Cuman apa? Jangan-jangan anak saya kayak gini, itu gara-gara kamu? Belum puas kamu sudah meninggalkannya? Ha! Vivi." kata mamanya Jamster.


"Ma, udah dong. Ini rumah sakit, gak baik." kata papanya Jamster mencoba menenangkan istrinya.


Amir (penasehat dari komunitas Bintang Star Nine9) mendatangi mamanya Jamster untuk menjelaskan yang sebenarnya terjadi.


Ailys (penasehat dari komunitas Bintang Star Nine9 dan sekaligus istri dari Amir) pun menyuruh Raisor dan yang lainnya untuk membeli beberapa makanan dan minuman.


Tidak beberapa lama, sekretaris dari JM Studios datang menghampiri orang tuanya Jamster.


"Tante.." kata Widya (sekretaris JM Studios).


Widya pun memeluk mamanya Jamster sambil meneteskan air matanya.


"Bagaimana kondisi Jamster tante?" tanya Widya.


"Dia masih belum sadar, tante tidak tahu harus apa lagi Widya." kata mamanya Jamster menangis.


"Yang sabar ya tante, aku berharap Jamster baik-baik saja." kata Widya.


Widya pun melihat ke arah Vivi sambil mengatakan "Vivi?" katanya.


Vivi pun melihat dan tersenyum tipis ke arah Widya, setelah itu dia memalingkan wajahnya.


"Elo ngapain di sini?" tanya Widya.


"Gua lagi menjenguk Jamster." jawab Vivi.


"Jenguk?" kata Widya.


"Iya." kata Vivi.


"Kenapa?" tanya Widya.


"Ha?" kata Vivi bingung.


"Kenapa lo menjenguk Jamster? Bukankah elo sendiri yang meninggalkannya? Kenapa lo tiba-tiba peduli?" tanya Widya.


"Jamster bagian dari komunitas yang gua masuki, jadi gua rasa, tidak salah menjenguk salah satu anggota komunitas gua, dan walaupun gua sudah tidak lagi jadi istrinya Jamster, tapi gua tetap menganggapnya teman gua, jelas?" tanya Vivi.


"Bijak ya, pada saat lo meninggalkan Jamster, dia bolak-balik masuk rumah sakit karena kehilangan lo, elo tidak pernah muncul dihadapannya, dan sekarang.." kata Widya sambil melihat ke arah Vivi dengan tatapan sinis.


"Tante setuju dengan kamu Wid, ngapain kamu ada di sini? Silakan pergi dari sini.." kata mamanya Jamter mengusir Vivi.


"Oke, kalau itu kemauan tante, aku permisi." kata Vivi.


Vivi pun berjalan pergi, diikuti oleh Riska, Silvy, Chintya, dan Stella.


"Misi.." kata Riska menyenggol tubuhnya Widya.

__ADS_1


"Nyak, kalau Raka datang, bilang aku pulang ya nyak." kata Stella.


"O-oh, iya." kata Ailys sambil tersenyum tipis. Dia sudah tidak tahu harus apa.


Anak-anak Bintang Star Nine9 yang lain hanya bisa memalingkan wajah mereka.


"Kenapa kamu melihat saya seperti itu? Apa kamu juga tidak senang dengan saya?" tanya Widya ke Shopie yang terus melihatnya dari tadi.


Shopie pun berjalan mendekati Widya, namun Amir menghentikan Shopie.


"Ini rumah sakit Shopie, jangan buat keributan, paham?" kata Amir.


Di tempat lain, Vivi dan yang lainnya duduk di taman yang ada di dekat rumah sakit.


"Kalian tidak perlu ikutan pergi juga, gua gak papa kok. Itu hak orang tuanya Jamster buat mengusir gua." kata Vivi sambil tersenyum.


"Gua sih tidak tahu yang lain, cuman gua pergi bukan karena itu, gua pergi karena gua takut." kata Chintya.


"Takut kenapa?" tanya Vivi.


"Takut khilaf." kata Riska ketawa.


"Nah benar." kata Chintya ketawa bersama Riska.


"Itu siapa sih? Jijik banget gua, tingkahnya udah kayak pemain sinetron anjir. Taukan yang itu.." kata Stella.


"Sekretarisnya Jamster kan itu?" kata Silvy.


"Iya." jawab Vivi.


"Enggak, dia teman gua waktu kuliah." jawab Vivi.


"Kok gitu?" kata Riska.


"Gak tahu, semenjak gua cerai dari Jamster, dia kayak memusuhi gua gitu, gak tahu apa penyebabnya." kata Vivi.


"Oh, berarti semenjak elo cerai, dia berubah, dan dia mulai dekat dengan Jamster?" tanya Riska.


"Hmm.." kata Vivi sambil tersenyum tipis.


"Gua beliin jamur mau gak?" kata Stella.


"Apaan sih, gua gak papa. Gua dan Jamster udah gak ada apa-apa, dan gua juga sudah mengikhlaskannya kok, jadi terserah." kata Vivi.


Tiba-tiba air mata dari Vivi menetes seketika, saat itu Stella pun langsung merangkul sahabatnya tersebut.


"Sabar ya, semua pasti ada hikmahnya kok." kata Stella.


"Thanks." kata Vivi.


Di kantin kantor polisi, anggota pak Budi yang sempat cek cok dengan anak-anak ASP masih kesal dengan perlakuan anak-anak ASP.


"Pak Budi kenapa diam aja sih, kita benar-benar diremehkan loh sama mereka. Kita ini aparat, kita datang dengan baik-baik, tapi kenapa mereka malah kayak begitu, anjing." kata Dandi kesal.


"Gini Dan, bukan pak Budi tidak berani, cuman, kita hidup di dunia dimana sesuatu yang harusnya dihargai, bisa jadi tidak dihargai, kenapa? Karena menang kayak begitu." jelas Ria.

__ADS_1


"Betul, gua setuju. Sebelum kita melakukan sesuatu, kita harus lihat, dia siapa, kita siapa. Gini, Naila, cewek yang membanting lo tadi, elo tahu dia anak siapa?" tanya Saka.


"Siapa?" tanya Dandi.


"Bapaknya adalah kepala militer Either, dan ibunya adalah..." kata Saka.


"Siapa?" tanya Dandi.


"Bu Suci." kata Ria.


Mendengar hal tersebut, Dandi pun kaget. Karena bu Suci mamanya Naila, adalah seorang kepala kepolisian Either.


"Kalau gua jadi pak Budi, mungkin gua bakal nurut aja, kenapa? Karena gua tidak ingin kehilangan pekerjaan." kata Saka.


"Tapi kita melakukan tugas, buat apa kita takut." kata Dandi.


"Dan, jangan sok hebat lah Dan.." kata Saka.


"Gini Dan, terserah elo mau setuju apa tidak, tapi setidaknya gua udah mengingatkan lo. Gini, ada saat dimana elo harus memikirkan diri lo, karena hidup di dunia ini gak segampang yang lo pikir. Bukan berarti ketika lo menjadi seorang aparat, elo bisa melakukan tugas aparat sebagaimana yang tertulis, enggak Dan." Jelas Ria.


"Bukan hanya aparat, pekerjaan apapun. Intinya kalau lo masih anggota, gak usah banyak cakap." Sambung Ria.


"Kita masih bicara Naila lo, belum yang lain." kata Saka.


"Tapi, masa kita membiarkan mereka melakukan sesuatu yang mana, itu adalah tugas kita sebagai aparat kepolisian." kata Dandi.


"Yaudah, lakukan sesuka lo. Orang tidak akan tahu seberapa sakitnya kena pisau sebelum pisau tersebut melukai mereka." kata Ria.


Acara pernikahannya Aldi dan Karin selesai sebagaimana mestinya. Orang-orang masih belum tahu soal kasus kecelakaan tersebut karena Aldi melarang kasus tersebut dipublikasikan.


Aldi dan Karin beserta keluarga mereka menginap di hotel Bee.


Pada saat jam sudah pukul satu pagi, Aldi dan Karin masih bangun, mereka menonton acara tv.


Di saat lagi asik nonton, Aldi mengatakan "Yank, aku minta maaf ya." katanya.


"Maaf? Maaf kenapa?" tanya Karin.


"Maaf, karena ada masalah." kata Aldi.


"Apaan sih, gak papa. Walaupun aku agak kesal sih sama kamu." kata Karin.


"Maaf." kata Aldi sambil memeluk Karin.


"Lain kali, jaga emosinya ya." kata Karin.


"Iya." kata Aldi sambil mencium keningnya Karin.


.......


.......


.......


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2