Kristal

Kristal
Episode 30


__ADS_3

"Kamu kenapa sih? Apa ini ada hubungannya dengan Sari?" tanya Karin.


"Kamu memang orang yang sangat cantik ya." kata Aldi.


"Apa hubungannya?" kata Karin bingung.


"Aku cuman mau memuji aja kok." kata Aldi tersenyum.


"Yank, kamu ada salah sama aku karena tidak mengangkat telepon dari aku. Jadi, tolong serius sayang." kata Karin tersenyum ke arah Aldi.


"Baiklah." kata Aldi.


"Em.., kalau kamu bilang ini ada hubungannya dengan Sari, ya.. Kamu benar sekali. Tapi tidak itu saja yang membuat aku memisahkan diri dari keramaian." jelas Aldi.


"Apa lagi? Sari? Ya, kan pemecatan itu biasa dalam dunia pekerjaan kan? Kenapa kamu jadi kayak merasa bersalah?" tanya Karin.


"Ya, waktu kamu menerima cinta aku, pas di mobil, kan aku ada teleponan dengan Cristy, ingat?" tanya Aldi.


"Ya, aku ingat. Kenapa?" tanya Karin.


"Em.., kamu tahu apa yang kami bicarakan?" tanya Karin.


"Tidak, aku sibuk memikirkan bagaimana nasib aku sama kamu." kata Karin.


"Terimakasih." kata Aldi.


"Kenapa?" tanya Karin.


"Gak papa, mari kita lanjut. Intinya kami menuntut Sari bukan karena kekerasan yang dia lakukan, karena kami juga menganggap sebuah tamparan adalah hal yang biasa." kata Aldi.


"Biasa? Kalau ditampar untuk menjadi yang lebih baik, mungkin biasa, tapi kalau tamparan dalam arti yang lain, enggak dong?" kata Karin.


"Gini sayang, kalau di tempat lain aku gak tau, tapi kalau di ASP, itu adalah hal yang wajar, apapun motif dari tamparan tersebut, itu akan dianggap wajar." jelas Aldi.


"Kenapa?" tanya Karin.


"Karena di ASP ada satu prinsip yang lahir secara tiba-tiba, yaitu jika kamu ingin melakukan sesuatu yang buruk kepada ku, pastikan dulu, kamu berada di atas ku. Itu adalah salah satu kalimat yang dipercaya oleh anak-anak ASP. Artinya, jika kamu ingin berbuat seenaknya, jadilah yang terbaik." jelas Aldi.


"Berarti, jika seseorang membuly orang yang berada di bawahnya, itu akan dianggap wajar di ASP?" tanya Karin.


"Ya." kata Aldi.


"Ha?!" kata Karin kaget.


"Bercanda.." kata Aldi tertawa.


"Udah ah, malas tau gak." kata Karin ngambek.


"Maaf, maaf. Gini em.. Memang dalam prinsip seperti itu tapi kembali lagi kepada orangnya, nah.. Jika terjadi pembulyan, kalau dalam konteks omongan dan tamparan, itu akan dianggap wajar, tapi jika sudah lewat dari situ, maka kami akan benar-benar membuatnya menyesal atas apa yang telah dia perbuat. Begitu.." kata Aldi.


"Oh.., tapi kalau dalam konteks omongan sih aku mengerti lah. Tapi kadang omongan saja bisa membuat orang depresi berat sayang, bahkan sampai bisa membuat seseorang tersebut melakukan tindakan bunuh diri, apalagi sebuah tamparan." kata Karin.


"Ya, aku paham. Tapi, em.. ASP Entertaiment itu, selain digemari banyak orang, kami juga dibenci banyak orang sayang. Kamu paham lah." kata Aldi


"Ya, namanya juga bekerja di dunia yang melibatkan banyak orang, dan dari berbagai kalangan, muda, tua, bahkan masih anak-anak saja bisa mengakses hal tersebut, jadi aku paham lah soal itu." kata Karin.


"Jadi, itu dijadikan sebagai pelajaran." kata Aldi.


"Pelajaran? Apa?" tanya Karin.


"Yah, soal tamparan sama omongan tadi." kata Aldi.


"Pelajaran apa?" tanya Karin.


"Pelajaran yang bisa membuat kita tahan dihujat oleh orang diluar ASP, karena kita sudah dihujat habis-habisan di dalam ASP. Dan, yang menghujat adalah orang yang di atas kita." kata Aldi.


"Kalau yang menghujat di bawah kita, bagaimana?" tanya Karin.


"Dia akan di buly oleh semua orang yang berada di ASP, begitu." jelas Aldi.


"Ah.., begitu ya. Terus, kalau bukan karena masalah kekerasan yang dilakukan Sari, terus apa?" tanya Karin.


"Ya, aku hanya malas mengeluarkan uang untuk masalah kompensasi." kata Aldi


"Kompensasi?" kata Karin bingung.


"Ya, kompensasi karena aku memecatnya sebelum kontrak kerjanya habis." kata Aldi.


"Berarti karena kalian gak mau membayar, makannya kalian menuntutnya?" kata Karin.


"Tepat. Kami ingin menyelesaikan pada saat kekeluargaan nanti, di situ kami akan membuat perjanjian, kami akan tarik laporannya, jika kompensasi itu tidak jadi kami bayar, begitu." kata Aldi.


"Jangan-jangan, waktu Raisor dan Ghea ke ASP, apakah untuk melakukan hal tersebut? Tapi, kalian jadi membayarnya kan, kalau gak salah." kata Karin.

__ADS_1


"Iya, kami jadi membayarnya setelah tahu kondisi dari Sari. Tapi Raisor dan Ghea tidak tahu apa-apa soal itu." kata Aldi dengan nada yang berubah pelan.


"Dan, kamu merasa bersalah karena telah melakukan hal tersebut?" tanya Karin.


"Mmm.." kata Aldi.


"Makanya jangan aneh-aneh. Udah kaya juga, masih aja pelit. Berapa kompensasinya?" tanya Karin sambil menepuk jidat Aldi.


"58 Juta." kata Aldi.


Karin langsung menatap Aldi dengan kesal.


"Itu banyak loh sayang." kata Aldi.


"Tahu, tahu kok. Siapa bilang itu sedikit." kata Karin "terus masalah yang lain?" sambungnya.


"Apa?" tanya Aldi.


"Kan kamu bilang bukan cuman masalah Sari saja kan.." kata Karin.


"Oh.., ASP." kata Aldi.


"ASP kenapa?" tanya Karin.


Aldi pun bangkit dari tidurnya. Dia pun duduk dan menghadap Karin dengan serius.


"Aku ingin buang air, bentar ya." kata Aldi. Dia pun berdiri dan menuju ke toilet.


"Kok aku kesal ya.." kata Karin "baru kali ini ada orang mau ke toilet bikin aku kesal." sambungnya.


Karin pun berdiri dan masuk ke kamarnya Aldi. Dia pun membereskan kamarnya Aldi sembari menunggu Aldi selesai dari toilet.


Dan di saat Karin membersihkan kamarnya Aldi, dia menemukan sebuah laptop yang terletak di tempat tidur Aldi. Pada saat dia ingin memindahkan laptop tersebut tiba-tiba saja laptop tersebut menyala.


Pada saat Karin melihat isi dari laptop tersebut, tiba-tiba saja dia terduduk, dan tidak menyangka begitu banyak komen yang tidak pantas di akun official ASP Entertaiment dan akun sosial Aldi.


Isi komen yang ada di akun official ASP Entertaiment..


"Sampah.., Perusahaan sampah."


"Semoga perusahaan ASP hancur.. Di makan api, beserta orang yang bekerja dengan ASP."


"Jangan lupa, kalian pernah membunuh seseorang."


"Pembunuh.."


"Apakah kau sudah tidak punya hati.. Oh iya, saya lupa, kau kan binatang berwujud manusia, dasar bangsat."


"Banci! suara mu aja seperti itu, bencong."


"Asal kau tahu, kau tidak pantas hidup di dunia ini, mati saja.. Apakah kau pikir ketika kau mati, ada yang akan menangis?"


Karin pun tidak bisa bicara apa-apa, dia langsung menutup laptop tersebut.


Aldi pun masuk ke kamarnya "Ih sayang, jangan di sini, bauk.. Aku gak pernah bersihin." kata Aldi sambil tersenyum.


Karin pun menatap Aldi..


"Kenapa?" tanya Aldi "yank? Aku buat salah ya? Karin.. Aku sa--"


Karin langsung berdiri dan memeluk Aldi.


"Tidak berpura-pura lagi sayang.." kata Karin.


"Ha? Apaan sih?" tanya Aldi bingung.


"Mm.. Kalau kamu ingin menangis, menangis saja. Tidak apa-apa kok.." kata Karin sambil memeluk erat Aldi.


"Kamu kenapa sih?" tanya Aldi yang semakin bingung melihat tingkah laku dari Karin.


"Gak papa, lepaskan saja.. Aku di sini kok buat kamu, aku tidak akan pergi sayang.." kata Karin.


Mendengar ucapan tersebut, Aldi pun meneteskan air matanya, dan langsung memeluk erat Karin.


Flashback..


Karena Karin yang terus memaksa Sila untuk memberitahunya soal keberadaan Aldi, akhirnya Sila mengatakan dimana Aldi berada.


"Dia berada di apartemen jalan anggrek, depan minimarket, dia selalu berada di sana saat dia ingin sendiri.." jelas Sila.


"Kenapa dia melakukan hal itu?" tanya Karin.


"Aldi bukan orang yang menerima semua masalah dunia ini dengan senang hati, tidak seperti orang lain yang menganggap sebuah masalah adalah cobaan dari sang pencipta. Dia tidak, dia sangat benci dalam masalah.." kata Sila.

__ADS_1


"Dan sayangnya, profesinya selalu melibatkan masalah baginya.. Masalah Sari itu hanya salah satu masalah yang dia punya, masih banyak yang lain.. Dan seperti yang gua katakan, dia bukan orang yang hebat dalam menangani suatu masalah.." kata Sila.


"Terus kenapa kalian membiarkannya?" tanya Karin.


"Kami tidak bisa apa-apa Karin, dia tidak bisa diajak bicara, Ziya adalah orang yang paling dekat dengan dia saja, tidak didengarkannya, apalagi kami yang hanya orang lewat baginya." kata Sila.


"Ya.., Raisor kek, atau orang tuanya.." kata Karin.


"Karin, dia tidak mendengarkan siapapun kecuali dirinya sendiri. Yang bisa kami lakukan sekarang adalah mengawasinya dari jauh, karena kalau kami tidak mau terlalu memaksa, dia bisa salah mengartikan maksud kami. Jadi kami lebih baik mengawasinya saja, daripada dibenci olehnya.." kata Sila.


"Karena Dia bukan orang yang pandai mengartikan sesuatu.. Kami tidak mengatakan ini pada Raisor maupun orang tuanya, karena kami takut, mereka mengatakan sesuatu yang bisa membuat Aldi melakukan sesuatu yang tidak kami inginkan.." jelas Sila.


Flashback selesai..


Beberapa menit kemudian, setelah Aldi menangis di pelukannya Karin, dia pun tertidur di pelukan Karin.


Tiba-tiba saja telepon dari Karin berbunyi..


"Halo." kata Karin pelan karena takut membangunkan Aldi.


"Halo yank, kamu dimana?" tanya Raisor.


"Em.., aku, aku ada di.." kata Karin.


"Di mana?" tanya Raisor "halo.., halo sayang." sambungnya.


"Halo." jawab Karin.


"Halo, kamu ada di mana sayang?" tanya Raisor.


"Aku, aku minta maaf ya, sayang.." kata Karin.


"Maaf? Maaf kenapa?" tanya Raisor.


"Aku, Aku sudah.. Aku sudah selingkuh di belakang kamu, dan aku akan menikahi selingkuhan aku, aku akan meninggalkan kamu." kata Karin.


"Akhirnya.. Semua terjadi. Sesuatu yang sangat ku takutkan terjadi, seseorang yang ku sayang meninggalkan ku karena orang lain." kata Raisor dalam hati sambil meneteskan air matanya.


"Kalau aku boleh tahu, sama siapa kamu akan menikah?" tanya Raisor.


"Aldi." kata Karin.


"Aldi? Aldi adik aku?" tanya Raisor kaget.


"Iya." jawab Karin.


Raisor pun duduk karena tidak bisa menahan lagi rasa sakit yang ada di hatinya.


"Kenapa kamu mau menikah dengan Aldi?" tanya Raisor.


"Karena aku mencintai Aldi Rai." kata Karin.


"Tapi.., kalian kan jarang bertemu.." kata Raisor.


"Kami sudah selingkuh sejak kami pertama kali bertemu." kata Karin.


"Begitu ya.., apakah kamu sudah tidak menyayangi aku lagi? Rin, aku sangat mencintai kamu, apa kamu.. Apa.."


"Maaf Rai, aku tidak bisa meninggalkan Aldi." kata Karin menyela perkataannya Raisor.


"Begitu ya.. Em.., semoga kalian bisa bahagia ya.." kata Raisor.


"Mm.., sama-sama." kata Karin.


"Em.., Tapi, apa aku masih bisa berhubungan dengan kamu, sebagai teman gitu?" tanya Raisor.


"Maaf Rai, Aldi orangnya cemburuan.." kata Karin.


"Oh iya, aku lupa.. Dari kecil, dia selalu cemburuan orangnya, ternyata--"


"Rai, udah ya.. Aku akan blok nomor kamu, jadi selamat tinggal.." kata Karin.


Tuut, tuuut.. Telepon pun dimatikan oleh Karin.


"Mm.. Sela-- Minimal biarkan aku mengucapkan selamat tinggal Karin.." kata Raisor.


Air mata Raisor pun perlahan turun sedikit demi sedikit, walaupun dia berusaha menahannya, air mata tersebut tetap tidak berhenti..


.......


.......


.......

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2