
Pada saat jam dua siang, Raisor dan Karin yang datang ke pengadilan untuk menghadiri persidangan perceraian mereka.
"Dengan ini, Raisor dan Karin resmi bercerai." kata hakim.
Tok, tok, tok..
Raisor dan Karin pun berdiri sambil bersalaman dengan hakim dan yang lainnya.
"Rin." kata Raisor sambil mengulurkan tangannya untuk bersalaman.
"Terimakasih atas semuanya Raisor." kata Karin sambil bersalaman dengan Raisor.
"Gua juga berterimakasih Rin, walaupun sebentar, tapi gua sangat senang karena pernah memiliki lo, terimakasih." kata Raisor.
"Sama-sama." kata Karin.
Karin pun menghampiri Aldi dan memeluknya. Karena tidak sanggup melihatnya, Raisor pun pergi dari sana.
Raisor pun berhenti di taman, dia duduk di taman tersebut sambil menikmati teh kotak.
Flashback..
"Karin sayang, lihat aku bawa apa?" kata Raisor sambil menunjukkan barang yang dia bawa.
"Wah.., teh kotak. Aku mau.." kata Karin berlari mengejar dan memeluk Raisor.
Flashback selesai..
"Apa enaknya sih teh kotak? Rasanya hanya rasa penderitaan." kata Raisor sambil meneteskan air matanya.
"Apa yang telah ku perbuat, sampai-sampai kau menyiksa ku seperti ini, tadir sialan." kata Raisor sambil menatap ke atas langit.
Tiba-tiba
"Raisor?" kata seorang.
Raisor pun menoleh dan berkata "Vivi?" katanya.
"Elo kok nangis?" tanya Vivi.
"Elo sibuk gak Vi?" tanya Raisor.
"Enggak sih, kenapa?" tanya Vivi.
"Gua mau cerita, gua rasa, elo lebih mengerti soal ini, jadi gua ingin minta saran, boleh?" kata Raisor.
"Boleh kok, tapi temani gua ke kantor dulu ya." kata Vivi.
"Oke, elo naik apa?" tanya Raisor.
"Mobil." kata Vivi.
"Nanti mobilnya, elo taruh aja di kantor ya." kata Raisor.
"Oke, yuk." kata Vivi.
"Yuk." kata Raisor.
__ADS_1
Di tempat lain, Sila yang pergi ke mini market untuk membeli beberapa snack., bertemu dengan sahabat lamanya.
"Sila." kata seseorang.
Sila pun menoleh dan melihat ke arah sumber suara. Dia pun kembali melanjutkan memilih snack yang akan dia beli.
"Yang mana ya.." kata Sila sambil memegang dua snack yang berbeda.
"Woi.." kata orang tersebut.
"Ah, ini saja." kata Sila pergi dari sana. Silvy pun menangkap tangannya Sila untuk menahannya pergi.
"Gua ingin bicara sama lo, apakah boleh?" tanya Silvy.
"Jika gua bilang tidak, apakah boleh lo melepaskan tangan gua?" kata Sila.
"Gua rasa tidak." kata Silvy.
Mereka pun duduk di depan mini market tersebut.
"Ada apa? Cepat katakan, karena gua tidak ada waktu." kata Sila.
"Ini soal hubungan Raisor dan--"
"Skip." kata Sila berdiri.
"Gua belum selesai bicara." tahan Silvy.
"Sil, bisakah elo berhenti mengurus masalah pribadi orang lain?" kata Sila.
"Mereka sahabat gua, gua tidak mungkin membiarkan hubungan mereka hancur, asal lo tahu, Raisor sangat depresi dengan apa yang terjadi. Apakah lo tidak ingin melihat mereka kembali rukun?" kata Silvy.
"Apa maksud lo?!" kata Silvy.
"Gak usah pura-pura bego Sil, Karin tidak pernah mencintai Raisor, dia hanya nyaman. Karena dia tidak menemukan seseorang yang bisa membuatnya nyaman, makanannya dia mau menjalin hubungan dengan Raisor, bukan karena dia cinta, dan elo tahu itu." jelas Sila.
"Tapi--"
"Sil, sampai kapan elo terus memberikan Raisor sebuah kepalsuan. Semua teman-teman kita juga tahu, kalau Karin tidak melihat Raisor sebagai seorang yang dia cintai, dan dia juga tidak menganggap Raisor sebagai suaminya, itulah kenyataan yang sebenarnya." kata Sila.
"Jadi, ketika Karin meninggalkan Raisor dan memilih orang lain, itu adalah hal yang wajar. Sekarang gua tanya sama lo, berapa banyak yang kaget ketika Karin dan Raisor bercerai? Bukan kaget karena dia ada hubungan dengan Aldi, berapa banyak?" kata Sila.
"Enggak ada, kecuali lo. Mereka hanya kaget, karena dia ada hubungan yang spesial dengan Aldi, hanya itu." jelas Sila.
Silvy pun terdiam dan tidak bisa berkata-kata.
"Satu lagi, daripada elo memikirkan hubungan Raisor dan Karin yang jelas-jelas akan berakhir, lebih baik elo memikirkan tentang diri lo, elo tambah kurus saja, apakah elo makan dengan baik? Ini ambil buat beli makan. Sudah ya, gua ada kerjaan, bye." kata Sila sambil meletakkan uang lima puluh ribu, dan mengusap kepalanya Silvy, setelah itu dia pergi.
Silvy pun melihat uang lima puluh ribu tersebut.
"Woi!" kata Silvy sambil mengejar Sila.
"Apa lagi sih.." kata Sila.
"Gua makan dengan terarur, dan gua juga punya uang, ini uang lo, gua bisa merawat di--"
"Sssst, berisik Silvy. Gua gak ada waktu, jadi.. Gua pamit dulu ya, nanti kita ngobrol lagi oke.. Da.." kata Sila sambil memeluk dan setelah itu dia masuk ke mobil dan meninggalkan Silvy.
__ADS_1
"Wah duit.." kata seorang cowok.
"Iya, ambil bro, lumayan tuh." kata cowok satunya. Mereka menukan sebuah uang lima puluh ribu tergeletak, dan uang tersebut adalah uang yang diberikan oleh Sila kepada Silvy tadi.
"Woi!" kata Silvy.
Kedua cowok tersebut pun melihat ke arah Silvy.
"Eh, sayang.. Eh, maaf Ada apa neng?" kata cowok tersebut.
"Sini, itu duit gua." kata Silvy merampas duit tersebut.
"Dih, diambil bro." kata cowok tersebut.
"Waduh, begini neng. Kan yang menemukan duit itu kami berdua neng, dan eneng tidak punya bukti kau duit tersebut, adalah duit eneng, jadi.. Balikin." kata cowok yang satunya.
"Kalau gua tidak mau kenapa?" tanya Silvy.
"Kalau gak mau sih, gak papa, ya kan bro" kata cowok tersebut.
"Iya, tapi eneng harus mau makan bareng dengan kita, gimana?" tanya cowok yang satunya.
Kaifa yang datang ke minimatket, melihat Silvy di ganggu orang lain, dia pun langsung bergegas mendatangi Silvy.
"Sil." kata Kaifa
"Kai.." kata Silvy.
"Ada apa?" kata Kaifa.
"Ini, mereka mau mengambil uang gua." kata Silvy.
"Apakah benar itu?" tanya Kaifa kedua orang tersebut.
"Tidak, itu uang kami lihat jatuh, terus dia bilang itu miliknya, kami tidak percaya, jadi begitulah yang sebenarnya terjadi." kata cowok tersebut.
"Gimana, neng mau gak?" tanya cowok yang satunya.
"Maaf, gua lagu sibuk, kalian makan siang saja dengan dia, permisi." kata Silvy sambil menunjuk Kaifa dan berjalan pergi ke dalam minimarket.
"Yah, gak asik. Cabut yuk bro." kata cowok tersebut mengajak temannya, mereka pun pergi meninggalkan Kaifa sendirian.
"Uwah, kenapa gua ingin menangis ya." kata Kaifa.
Di rumah makan, Raisor yang menjelaskan tentang kondisi rumah tangganya dengan Vivi.
"Jadi, sekarang elo sudah resmi bercerai dengan Karin?" tanya Vivi.
"Sudah." kata Raisor.
"Begitu ya, terus saran apa yang ingin lo minta dari gua?" tanya Karin.
.......
.......
.......
__ADS_1
...Bersambung...