Kristal

Kristal
Episode 25


__ADS_3

Di kantin ASP Entertaiment.


"Dah, kita tinggal menunggu kabar dari Fitri." kata Sila.


"Makasih ya Sil." kata Aldi.


"Sama-sama bos." kata Sila tertawa.


Aldi pun tersenyum tipis.


"Sesayang itu ya lo sama Karin?" tanya Sila.


"Mmm.." kata Aldi.


"Kenapa gak lo bawa Venya untuk menjelaskan ke Karin saja? Bentar, Venya tahu gak sih masalah ini?" tanya Sila.


"Enggak, dia tidak tahu. Venya masih ada kerjaan, gua sudah memintanya untuk menggantikan posisi Rina secara tiba-tiba, gua tidak ingin merepotkannya lebih dari itu." jelas Aldi.


"Lagian, Venya tidak tahu apa-apa, dan semakin bahaya jika banyak yang tahu kalau gua ada hubungan dengan Karin, gua bisa Kehilangannya." sambung Aldi.


"Anjir, sejak kapan Aldi mau begini, biasanya dia hanya diam, tapi.." kata Sila dalam hatinya.


Aldi bukan lah orang yang suka berjuang mati-matian untuk seorang wanita, jika wanita tersebut memilih untuk meninggalkannya maka dia juga akan meninggalkannya. Karena dia tidak mau mengejar orang yang tidak mencintainya.


Tapi kalau dengan Karin, dia sampai meminta bantuannya Sila, dan bahkan dia tidak segan-segan mengatakan kalau dia mencintai Karin.


"Orang yang jarang mencintai perempuan dengan serius, tiba-tiba mencintai perempuan dengan serius, itu lumayan menakutkan ya." kata Sila dalam hatinya.


Setelah meminta pertolongan Sila, Aldi pun kembali ke ruangannya untuk mengambil kunci mobil, karena dia ingin pulang.


Di perjalanan menuju ruangannya, dia bertemu dengan Mei.


"Hai Aldi, bos ku.." kata Mei.


"Hai." kata Aldi sambil tersenyum.


"Kenapa? Kok cemberut tuh muka?" kata Mei.


"Enggak, gak papa." kata Aldi.


"Di, gak usah bohong lah. Gua aktris loh." kata Mei.


"Apa hubungannya?" kata Aldi.


"Jangan pernah berbohong dengan seorang pemain film, karena mereka tahu dari wajah lo, apakah elo berbohong atau tidak, karena mereka belajar mimik wajak." kata Mei.


"Apaan sih." kata Aldi sambil tertawa.


"Yuk." kata Mei sambil menarik tangannya Aldi.


"Mau kemana?" tanya Aldi.


"Ke kantin, gua lapar." kata Mei.


"Gua habis dari kantin, ajak yang lain lah.." kata Aldi.


"Uwah, lo berani nolak permintaan gua?" kata Mei syok.


"Bukan gitu." kata Aldi.


"Yaudah ayok." kata Mei sambil tersenyum ke arah Aldi.


Mereka pun pergi ke kantin.


"Buk, biasa ya." kata Mei.


"Oke." kata bu kantin.


"Al, pesan dong.. Kita bayar masing-masing kok, tenang saja." kata Mei.


"******.., saya pesan ayam krispy aja bu, gak usah pakai nasi ya bu." kata Aldi.


"Oke." kata bu kantin.


"Oke, sekarang cerita, ada apa?" tanya Mei.


"Gak ada." kata Aldi.

__ADS_1


"Bu, pinjam pisau dong." kata Mei.


"Buat?" tanya Aldi.


"Gua lagi ngerjain Film, dan gua jadi psikopat, gua berlatih mendalami peran." kata Mei.


"Buk gak usah." kata Aldi.


"Dih, kenapa?" tanya Mei.


"Nanti aja lo latihannya, oke?" kata Aldi.


"Oke, tapi lo harus certa, gimana?" kata Mei.


"Gua gak papa." kata Aldi.


"Buk!" panggil Mei.


"Oke, gua cerita." kata Aldi.


"Gitu dong, tapi elo jahat banget ya, emang lo pikir gua berani menusuk orang yang sudah menolak gua?" kata Mei.


"Maaf." kata Aldi tertawa.


"Ayo cepat, cerita." kata Mei.


"Gua mencintai seseorang, dia marah sama gua karena dia melihat gua makan dengan orang lain, jadi gua bingung harus gimana." kata Aldi.


"Ya, jelaskan dong ke dia." kata Mei.


"Dia gak menjawab telepon gua." kata Aldi.


"Rumahnya?" kata Mei.


"Em.." kata Aldi.


"Malu?" kata Mei.


"Enggak, cuman.." kata Aldi.


"Apa?" tanya Mei.


"Ya, dengar lah." kata Mei.


"Buktinya dia gak mengangkat telepon gua, apalagi gua mendatanginya, dia pasti tidak mau berjumpa dengan gua." kata Aldi.


"Uwah, eh, jangan pernah ramal hidup lo, elo bukan peramal. Dia gak mengangkat telepon dari lo, mungkin dia ingin melihat, sejauh mana lo akan memperjuangkannya." kata Mei.


"Kenapa harus dengan cara seperti ini? Bukankah itu akan membuat masalah tambah runyam?" kata Aldi.


"Al, yang buat masalah siapa?" tanya Mei.


"Gua." kata Aldi.


"Terus?" kata Mei.


"Ya, Tapi.." kata Aldi.


"Aldi, jika lo berbuat salah, jangan protes, karena semua itu terjadi karena salah lo, bukan karena keadaan.." kata Mei.


"Sekarang gua tanya deh, sejak kapan lo mendengarkan penjelasan dari orang yang telah berbuat salah sama lo?" tanya Mei.


"Enggak pernah kan? Elo langsung mendiamkannya, terus kenapa ketika lo berbuat salah, lo ingin di dengarkan? Elo saja tidak pernah mendengarkan orang lain." kata Mei.


"Maaf." kata Aldi.


"Jelaskan lah ke dia apa yang terjadi, jika dia sayang sama lo, dia akan mendengarkan lo." kata Mei.


"Jika tidak?" tanya Aldi.


"Jika tidak, maka ya sudah." kata Mei.


Di ruang latihan, semua grup musik yang diundang di AFE, berlatih dengan keras.


Sementara itu, Aina yang melihat mereka dari luar ruangan.


"Kapan ya, gua bisa kayak mereka." kata Aina dalam hatinya.

__ADS_1


Tiba-tiba


"Ngapain?" tanya Rina.


Tas!!


Karena Rina datang tiba-tiba, Aina yang terkejut reflek menampar Rina.


"Au.." kata Rina kesakitan sambil memegang pipinya.


"Ma-maaf buk." kata Aina.


"Enggak, gak papa. Kamu ngapain di sini?" tanya Rina.


"Sa-saya, saya lagi lihat yang lain latihan buk, untuk acara AFE nanti." jawab Aina.


"Pengen kayak mereka?" tanya Rina.


"Ha? Enggak, eh, em.." kata Aina gugup menjawab pertanyaan dari Rina.


"Jika kamu pengen kayak mereka, berlatihlah dengan keras, saya tidak akan mengatakan usaha tidak akan mengkhianati hasil, karena semua orang juga berusaha. Tapi, fokus saja berlatih, saya akan membantu kamu menjadi penyanyi terbaik." kata Rina.


"Beneran buk?" tanya Aina.


"Apanya?" tanya Rina.


"Ibu, beneran ingin membantu saya?" tanya Aina.


"Ha? Saya adalah manajer kamu, jadi itu sudah tugas saya." kata Rina.


Tiba-tiba..


"Jangan terlalu percaya dengannya, dia saja tidak bisa menangani para penyanyi ASP, sampai-sampai dia harus dijadikan manajer kamu, jadi tidak usah berharap apa-apa dengannya Aina, kamu hanya akan menyakiti diri kamu, karena apa, karena dia adalah orang yang tidak berguna." kata seorang pria.


"Maaf, saya tidak suka pembicaraan saya dengan manajer saya, tiba-tiba dipotong oleh seorang yang tidak saya kenal, jadi bisa pergi dari sini?" kata Aina.


"Aina, jaga bicara kamu, kamu itu bukan apa-apa di sini, paham?" kata pria tersebut.


"Heh, walaupun saya bukan apa-apa, anda lebih tidak ada gunanya di sini, karena apa, karena anda menanggung jawab semua aktor yang ada di ASP, saya bahkan bingung kerjaan anda apa sebagai penanggung jawab." kata Aina.


"Sudah pintar kamu bicara ya Aina, apakah ini diajari oleh Rina?" tanya pria tersebut.


"Sebelum saya menjawab pertanyaan anda, apakah anda hanya berani dengan orang yang berada di bawah anda?" tanya Aina.


"Dengan kak Naila? Apakah anda berani?" tanya Aina.


"A--"


Sebelum pria tersebut menjawab, Aina langsung menyela dan mengatakan "Ah, maaf. Saya lupa, mana berani seorang pembantu melawan tuannya." kata Aina.


Pria tersebut pun marah dan langsung melayangkan tamparan ke arah Aina. Namun, tamparan tersebut berhasil ditangkis, Rina langsung berhasil menangkap tangannya pria tersebut.


"Gua tidak akan marah kalau lo menghina gua, tapi kalau lo berani mengguit Aina, gua akan menghajar lo loh." kata Rina.


Aina pun langsung memeluk Rina dari belakang, dan mengejek pria tersebut.


Pria tersebut pun pergi dengan perasaan kesal.


"Maaf buk." kata Aina.


"Kenapa?" tanya Rina.


"Karena saya tiba-tiba memeluk ibu dari belakang, maaf." kata Aina.


"Tidak apa-apa, kan kamu juga perempuan, jadi tidak masalah. Tapi lain kali, jangan ladeni orang yang kayak begitu." kata Rina.


"Saya tidak akan meladeni orang yang seperti itu, jika dia tidak menyentuh orang yang berada di dekat saya buk." kata Aina.


"Jangan terlalu baik Aina, nanti kamu akan menyesal." kata Rina.


"Menyesal? Saya tidak pernah mempedulikan hasil yang saya dapat, saya hanya peduli dengan cara saya memilih." kata Aina.


.......


.......


.......

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2