
"Airi? Elo datang?" kata Raisor kaget.
Airi adalah sepupunya Raisor, mereka seumuran. Airi adalah seorang pasukan militer perempuan Either.
"Ya gua datang lah, soalnya adik sepupu gua menikah, masa gua gak datang." kata Airi.
"Gua pikir elo masih tugas, dan biasanya elo malas banget datang ke acara kayak ginian." kata Raisor.
"Enggak, gua lagi libur. Yah, gua pengen melihat wajah sepupu gua yang istrinya direbut oleh adik sendiri, itu adalah momen yang langka, jadi makanya gua datang." kata Airi.
"Uwah, blak-blakannya.." kata anak-anak komunitas Bintang Star Nine9 dalam hatinya.
"******, bukannya elo prihatin sama gua, malah ngejek" kata Raisor.
"Yah, gimana? Ketawain aja. Lawan lo anak ASP sih. Kecuali, Karin selingkuhnya sama orang yang berada dibawah lo, baru gua prihatin sama lo, ini sama pemiliknya ASP, wajar dong, Karin berpaling." kata Airi.
"Emang kekurangan gua apa sih Airi?" tanya Raisor.
"Oh, banyak." kata Airi.
"Apa?" tanya Raisor.
"Ini menurut gua ya." kata Airi.
"Iya." kata Raisor.
"Elo tidak sekaya Aldi, Elo tidak seasik Aldi, dan yang paling penting, elo tidak bi--"
"Saya tidak kamu siapa, tapi jangan katakan apapun, kalau tidak kamu akan menyesal." kata Vivi berdiri sambil menutup mulut dari Airi.
"Vivi." kata Raisor perlahan.
Airi pun menyingkirkan tangan Vivi secara perlahan sambil tersenyum ke arahnya.
"Lihat Raisor, masih banyak yang menyayangi lo, gua harap elo bisa melupakan Karin. Baru kali ini gua datang ke acara pernikahan yang dimana langitnya cerah tapi cuacanya mendung. Semoga yang bersedih bisa kembali tertawa. Permisi, oh iya, cantik nih, apalagi.." kata Airi sambil menunjuk Vivi.
"Doakan saja." kata Raisor sambil tersenyum.
"Apa sih." kata Vivi tersenyum tipis.
Anak-anak Bintang Star Nine9 pun terlihat kebingungan dengan kedekatan Raisor dan Vivi.
Raisor dan Vivi memang satu komunitas, tapi di setiap lingkungan pertemanan, pasti aja ada yang tidak akrab walaupun mereka satu lingkungan pertemanan, Raisor dan Vivi adalah contohnya.
"Cie.. Vivi." kata Chintya.
"Apaan sih." kata Vivi.
"Cepat banget Rai dapat penggantinya, kapan nikahnya nih?" kata Siska.
"Doakan saja yang terbaik." kata Raisor.
"Rai.." kata Vivi dengan manja.
"Rai.." kata Chintya menirukan Vivi. Semua pun tertawa terbahak-bahak.
Pada saat asik tertawa, Kaifa teralihkan dengan Silvy yang sedang diam dan memperhatikan sesuatu, Kaifa yang penasaran pun melihat ke arah yang dilihat oleh Silvy.
"Sila.." kata Kaifa dalam hati. Silvy yang sedang melihat Sila yang datang dengan anak-anak ASP lainnya.
"Oh iya, mereka kan bermusuhan semenjak Yani meninggal. Apa Silvy kagen dengan Sila ya?" kata Kaifa dalam hatinya.
Sila dan Silvy adalah sahabat waktu kuliah, mereka begitu dekat, namun setelah kematian Yani, mereka tidak lagi bicara.
Flashback..
__ADS_1
Di hari kematian Yani, Sila yang tengah bersantai di rumahnya, dikejutkan dengan kedatangan Silvy.
"Sila, mari ikut gua ke kantor ASP." kata Silvy.
"Ha?" kata Sila bingung.
"Udah ayo cepat, kita udah gak punya waktu." kata Silvy.
Silvy yang datang ke rumah Sila, mengajaknya untuk pergi ke kantor ASP.
"Bentar dulu, ngapain kita ke ASP, gua lagi libur." kata Sila.
"Kita harus mendatangi kantor ASP dan buat mereka bertanggung jawab." kata Silvy.
"Bertanggung jawab soal apa?" tanya Sila bingung.
"Mereka harus bertanggung jawab soal apa yang terjadi dengan Yani." kata Silvy.
"Sil, itu bukan salahnya ASP. Gua gak mau." kata Sila.
"Terus maksud lo, itu salah Yani?" kata Silvy.
"Sil, udahlah. Ini lagi dalam keadaan berduka." kata Sila.
"Apakah elo memihak ASP?" kata Silvy.
"Gua tidak memihak ASP, tapi ini bukan salah ASP." kata Sila.
"Terus salah siapa?" tanya Silvy.
"Salah Yani, ini salah Yani sendiri." kata Sila.
Sila pun ditampar oleh Silvy.
"Gua gak sangka elo adalah orang yang seperti ini, Sila." kata Silvy marah besar ke Sila.
"Gua tanya sekali lagi, apakah elo yakin dengan kata-kata lo barusan?" kata Silvy.
"Ya, emang itu salahnya Yani kok." kata Sila.
"Oke, mendengar apa yang lo katakan barusan, gua sangat menyesal telah mengagumi elo Sila." kata Silvy.
Mulai sejak itu, Silvy dan Sila tidak lagi saling bicara.
Flashbacknya selesai..
"Kak Sila.." sapa Chintya.
"Eh, Chintya.. Hai.." kata Sila sambil melambaikan tangannya.
Chintya pun berdiri dan menghampiri Sila dan anak-anak ASP lainnya. Dia pun menyalam mereka.
"Junior gua tuh Daf, gimana, cantik gak?" kata Rina.
"Oh, di kuliah?" tanya Dafa.
"Iya, Aina seniornya di organisasi, kalau Sila, Sila siapa sih?" kata Rina sambil tertawa.
"Aha.." kata Sila "lucu" sambungnya dengan muka datar.
Alhasil mereka pun tertawa.
"Acaranya udah selesai Chin (Sin)?" tanya Aina.
"Udah kak, kok lama sih datangnya?" tanya Chintya.
__ADS_1
"Itu, lagi ada kerjaan. Oh iya, nanti kamu datang ya, ke konser kakak." kata Aina.
"Kapan kak?" tanya Chintya.
"Dua minggu lagi, bisakan?" kata Aina.
"Bisa kok kak." kata Chintya.
"Beneran, nanti kamu gak datang?" kata Aina.
"Datang.." kata Chintya.
"Yaudah, kakak ke sana dulu ya." kata Aina.
"Oh iya kak." kata Chintya.
"Oh iya, Naila udah datang belum gak sih Chin?" tanya Rina.
"Gak tau sih kak, sepanjang aku duduk di sini, aku gak lihat kak Naila tuh." jelas Chintya.
"Oh gitu, yaudah. Kami ke sana dulu ya." kata Chintya.
"Iya kak." kata Chintya. Aina dan yang lainnya pun pergi, Chintya pun kembali bergabung dengan Raisor dan yang lainnya.
"Oh iya Chin, itu Sila senior lo di voli kan?" tanya Jamster.
"Iya. Kok lo tahu?" tanya Chintya.
"Itu, apa namanya, Sila itu satu angkatan sama kakaknya Vivi, jadi kakaknya pernah nunjukkan fotonya waktu dia ikut tim voli pas kuliah dulu. Jadi, gua meliha Sila, kayak pernah lihat, gitu." jelas Jamster.
"Oh gitu." kata Chintya.
"Sila jago gak sih main voli Chin?" tanya Riska.
"Jago banget." kata Chintya.
"Serius?" kata Riska.
"Serius, itu makanya gua sedih banget ketika kak Sila mutuskan untuk berhenti dari dunia voli. Padahal dia jago banget." jelas Chintya.
"Kenapa dia berhenti?" tanya Riska.
"Gak tahu." kata Chintya.
"Kok kalian gak tahu, bukannya kalian satu tim? Harusnya kalian tahu dong apa yang terjadi dengan rekan kalian." kata Silvy.
Semua pun tercengang melihat Silvy yang tiba-tiba bicara, dan membela Sila. Mereka terkejut karena mereka tahu kalau hubungan Sila dan Silvy sangat buruk.
"Kami sudah mencari tahu Sil, tapi kak Sila terlalu tertutup." kata Chintya.
"Sila yang terlalu tertutup atau kalian yang tidak peduli?" kata Silvy.
"Silvy." kata Raisor.
"Maaf." kata Silvy. Chintya pun tertunduk.
"Gak papa. Benar apa yang elo katakan, kami harusnya lebih berusaha lagi, kalau kami berusaha lebih keras mungkin kak Sila tidak akan meninggalkan dunia voli dengan cara seperti itu." kata Chintya.
"Manusia terkadang punya penderitaannya sendiri-sendiri, dan mereka yang punya kendali atas itu, mereka memilih kabur dan melupakannya, atau tetap berada di sana dan membenarkannya. Dan Sila sudah memilih jalannya, jadi tidak perlu mengingat masa lalu, kalau sampai sekarang aja, dia masih bernapas dengan baik." jelas Safa.
"Safa?!" kata mereka kaget melihat Safa yang tiba-tiba berada di depan mereka.
.......
.......
__ADS_1
.......
...Bersambung...