Kristal

Kristal
Episode 23


__ADS_3

Aldi dan Venya pun pergi makan siang diluar. Di perjalanan mereka pun mengobrol.


"Mobil baru mulu lo ya." kata Venya.


"Enggak, ini mobil lama loh." kata Aldi.


"Di, gua itu udah kenal elo dari kecil lo Di dan, lo masih mau bohong sama gua?" tanya Venya.


"Dih, beneran Ve, ini mobil lama, gua beli dua bulan yang lalu.." kata Aldi.


Venya pun memukul pundaknya Aldi, dan berkata "Masih baru itu namanya.. Kalau lama itu udah lima bulan gitu misalnya.." katanya.


Mereka pun tertawa, "gitu dong, kan asik." kata Aldi.


"Apaan sih.. Oh iya, maaf ya Di, tadi gua main ngomong aja pas di konferensi pers.." kata Venya.


"Gak papa, santai aja. Nanti kalau masalahnya tambah runyam, gua tinggal pecat lo aja." kata Aldi.


"Ih jahatanya.." kata Venya.


"Tapi, elo tambah cantik aja ya?" kata Aldi.


"Ha?" kata Venya kaget dengan perkataan Aldi yang tiba-tiba.


"Serius, elo cantik banget tau gak, gua sampai kaget tadi melihat lo, gua pikir tadi entah siapa." kata Aldi.


"Emang dasar elo aja yang lupa sama gua." kata Venya.


"Astaga, gak percayaan banget sih lo, beneran, elo beda banget tau gak, tapi lo gak papa kan?" tanya Aldi.


"Ha? Maksudnya?" tanya Venya bingung.


"Ya, biasanya kan, kalau seseorang berubah menjadi sesuatu yang lain, mereka pasti berjuang dengan keras untuk merubahnya, atau terjadi sesuatu yang berat di hidupnya. Makanya gua nanya, apakah lo baik-baik saja? Elo gak perlu memaksakan diri, tampil apa adanya aja, elo kan bukan talennya ASP, jadi gak papa kok. Elo sudah cantik, tidak usah terlalu berusaha lagi.." kata Aldi.


"Gua tampar ya Di." kata Venya.


"Apaan sih, gua serius Ve, elo tidak perlu memaksakan diri, ya?" kata Aldi.


"Gua bukan dibayar dengan pujian kan Di?" tanya Venya.


"Enggak dong, pakai omongan aja kan?" kata Aldi.


"Maksudnya?" tanya Venya.


"Pakai ucapan terimakasih aja, makasih Ve, gitu.." jelas Aldi.


"Apasih, udah ah.. Nanti gua cinta sama lo gimana? Mau tanggung jawab?" kata Venya.


"Emang lo mau sama gua?" tanya Aldi.


"Ya, kan seandainya.. Belum tentu gua cinta kan?" kata Venya.


"Oh, maaf." kata Aldi kesal.


"Dih, kok kesal. Lagian, kalau gua cinta sama lo, apa lo mau tanggung jawab?" tanya Venya.


"Ha?" kata Aldi.


"Ha? Muncung lo! Pura-pura gak dengar lagi." kata Venya kesal.


"Gua beneran gak dengar Ve.." kata Aldi.


"Nye Nye Nye Nye.. Bacot." kata Venya tidak percaya dengan apa yang dikatakan Aldi.


Aldi pun mencubit pipinya Venya, "Imutnya." kata Aldi.


"Ah.. Sakit." kata Venya dengan manja. Mereka pun mengobrol sepanjang jalan.


Tidak beberapa lama, Mereka pun sambai di sebuah cafe.


"Silakan mbak, mas, pesanannya." kata pelawan cafe tersebut sambil memberikan menu.


"Em.., Na-


"Nasi cumi." kata Venya menyela perkataannya Aldi.


"Enggak, nasi ayam." kata Aldi sambil mengejek Venya.


"Saya pesan a--"


"Ayam goreng, ayam sambal, ayam krispy." Aldi pun menyebut semua menu makanan yang ada.


"Enggak, gua pesan minuman. Saya pesan ca-"


"Cappuccino." kata Aldi.


"Enggak, gua pesan coklat dingin." kata Venya mengejek Aldi.

__ADS_1


"Lah, bukannya tadi dari ca?" kata Aldi.


"Serah gua dong." kata Venya kesal. Aldi pun tertawa terbahak bahak.


Mereka pun mengulangi pesanan mereka dari awal.


Pada saat makanannya datang, mereka pun langsung melahap makanannya.


"Uwah, enak loh." kata Aldi setelah mengambil sosis dan mencelupkannya ke kuah cumi saos tiram.


"Masa?" kata Venya tidak percaya.


"Mau coba?" kata Aldi.


"Boleh." kata Venya.


"Coba aja." kata Aldi.


"Suapin dong.." kata Venya.


"Ha?" kata Aldi menatap Venya dengan sinis.


"Hei!" kata Venya kesal.


"Aduh, perut gua sakit." kata Aldi setelah tertawa terbahak bahak.


Aldi pun mulai menyuapi Venya.


"Mm.., Enak loh Di?" kata Venya.


"Tuh kan, gua gak bohong." kata Aldi sambil melap mulutnya Venya yang terkena saos tiram.


Tiba-tiba..


"Aldi?" kata seseorang.


Aldi dan Venya pun melihat ke arah sumber suara.


"Karin.." kata Aldi.


Yang memanggilnya adalah Karin. Karin datang dengan Raisor beserta adik dan orang tuanya untuk makan siang.


"Kamu bukannya.." kata Karin.


"Kenapa sayang?" tanya Raisor.


Karin tidak tahu kalau Aldi sudah pulang ke Forhes, dia mencoba untuk tetap tenang, walaupun banyak pertanyaan yang ada di kepalanya, untuk dia tanyakan ke Aldi.


"Eh, Venya." sapa Raisor.


"Bang.." kata Venya berdiri dan menyalam Raisor.


"Lagi kencan ya?" tanya Raisor menggoda.


Mata Karin pun langsung menatap Venya.


"Apaan sih!" kata Aldi menyela.


"Dih, bukan dia yang ditanya." kata Raisor.


"Ya, memang bukan." kata Aldi.


"Aldi kok.." kata Fitri dalam hatinya. Dia curiga dengan tingkahnya Aldi, matanya tiba-tiba saja menatap kakaknya yang sedang menatap Aldi.


"Jangan bilang kalau.. Enggak mungkin dong. Tapi.., barang-barang mahal yang didapat kak Karin, apa semua itu dari Aldi." kata Fitri dalam hatinya.


"Kalau gak kencan, kami boleh dong gabung, Venya?" tanya Raisor.


"Boleh kok bang." kata Venya.


Raisor dan yang lainnya pun duduk. Aldi berada di sampingnya Venya, Karin berada di samping Raisor, Aldi duduk di depannya Karin.


Di saat Raisor dan yang lainnya sibuk memesan, Aldi mencoba tersenyum ke arah Karin, namun Karin malah mengalihkan pandangannya dari Aldi.


"Waduh, marah loh dia." kata Aldi dalam hatinya.


"Gimana ya? Gua harus apa dong." kata Aldi berfikir keras di kepalanya.


Aldi pun menyentuh kaki Karin menggunakan kakinya, namun Karin tetap tidak mempedulikannya.


Mata Karin yang sibuk mengalihkan pandangan dan melihat ke arah Venya.


"Siapa sih tu cewek, kenapa dia makan bareng dengan Aldi, mana pakai acara mesra-mesraan lagi." kata Karin dalam hatinya.


Karin pun terus bertanya dalam dirinya, siapa cewek itu, apa hubungannya dengan Aldi, dan kenapa Aldi tidak memberi tahunya kalau dia sudah ada di kota Forhes.


"Wah, ini istri abang ya?" tanya Venya.

__ADS_1


"Lama banget nyadarnya loh, astaga.." kata Raisor.


"Maaf, hai kak.." kata Venya.


"Sayang." kata Raisor.


"Mmm?" kata Karin kaget.


"Itu, Venya nyapa kamu loh." kata Raisor.


"Oh, maaf. Karin." kata Karin.


"Venya." kata Venya.


"Ini sahabat Aldi dari kecil loh sayang, mereka kemana-mana selalu bersama loh." kata Raisor.


"Oh, gitu." kata Karin tersenyum tipis.


"Apaan sih bang." kata Venya.


"Kamu biasa makan siang dengan Aldi di sini?" tanya Karin.


"Enggak sih kak. Kami ke sini karena pengen makan siang aja, soalnya kan saya juga baru masuk ASP, jadi sekalian perayaan gitu, dan lepas kangen juga, karena kami sudah lama gak ketemu." jelas Venya.


"Masuk ASP?" tanya Karin kaget.


"Iya, aku masuk ASP, gantikan posisinya Rina." jawab Venya.


"Oh, begitu rupanya, pantesan Aldi pulang ya, soalnya ingin ketemu sama kamu toh." kata Karin.


"Apaan sih kak, enggak. Dia udah sudah bilang kok sama aku, kalau dia mau pulang, karena kerjaanya juga sudah selesai, bukan karena aku." kata Venya.


"Oh, dia bilang sama kamu?" kata Karin.


"Iya, dia bilang sama aku kak, nih, dia kasih aku oleh-oleh." kata Venya sambil menunjukkan kalung pemberian Aldi.


"Wah, cantik ya?" kata Karin.


"Ya, padahal aku sudah bilang gak usah, tapi dia gak mau dengar." kata Venya.


"Oh, gitu." kata Karin tersenyum.


"Apalagi, nikah la sama Aldi?" kata Raisor.


"Apaan sih, bang Raisor." kata Venya.


"Ih, kalian padahal cocok loh, ya kan sayang?" tanya Raisor ke Karin.


"Ha? Oh, iya.. Cocok kok." kata Karin tersenyum.


Makan siang pun selesai.


"Em, Rai." kata Karin pada saat perjalanan pulang le rumah.


"Iya?" tanya Raisor.


"Em.., aku boleh nanya sesuatu gak sih?" kata Karin.


"Boleh, apa sayang?" kata Raisor.


"Venya, sama Aldi sedekat apa sih? Apa mereka sudah pacaran?" tanya Karin.


"Kenapa?" tanya Raisor.


"Ha? Enggak, cuman penasaran aja. Soalnya aku rasa mereka kayak dekat banget gitu, apalagi kamu kenal sama Venya." kata Karin.


"Oh, itu. Venya dan Aldi itu.." kata Raisor.


Raisor pun menjelaskan hubungan Aldi dan Venya. Dari mereka kecil, sampai dewasa.


Sesampainya di rumah, Raisor pun pamit untuk balik kerja.


"Aku balik kerja dulu ya?" kata Raisor.


"Hati-hati." kata Karin.


Dan setelah Raisor pergi, Karin pun masuk ke kamarnya.


Dia pun menangis sehebat-hebatnya, dia sampai melemparkan bantal kemana-mana..


.......


.......


.......


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2