
Aria mengerang saat sinar matahari menyakiti retinanya. Ia mengerjapkan matanya berulang kali, membiasakan terang yang memenuhi kamarnya. Perlahan ia menyandarkan punggungnya ke headboard.
Ia menghela napas. Perlahan Aria berdiri, menyeret paksa tubuhnya ke kamar mandi, membilas tubuh lelahnya agar sedikit merasa segar. Ia menikmati air yang mengalir dari atas kepalanya.
Setelah selesai, ia berganti pakaian. Saat ia keluar kamar, ia sudah disambut oleh kedatangan Franz. Pria itu berdiri bersama Mario.
“Ada apa?”
“Ada seorang wanita yang ingin bertemu dengan Tuan Muda. Pria ini yang memberitahukan alamat rumah ini.”
Aria langsung menatap Mario yang tertunduk. Wajahnya jelas sangat tidak suka. Aria sangat jelas memahami perasaan Mario. Mario bekerja dengan keluarga Merlisa, tentu saja pria itu akan memberitahukan dimana Kanva berada.
“Wanita itu yang menyelamatkan Tuan Mudamu,” ucap Aria tenang.
“Tapi dia sudah berbohong dengan statusnya dengan Tuan Muda.” Franz tampak protes.
“Franz, kamu akan terus mengikuti perintahku sampai Tuan Mudamu mendapatkan ingatannya kan?”
“Itu tidak perlu diragukan lagi,” ucap Franz.
“Bawa dia padaku,” ucap Aria.
Di tengah ruang tamu, Merlisa sudah duduk di sana. Ia dengan santai mengedarkan pandangannya. Rumah ini jauh lebih besar dari rumahnya yang jelas-jelas menurutnya sudah cukup besar.
Dekorasi ruang tamu yang sangat mewah. Ia diliputi oleh kejutan dan rasa iri.
“Apakah aku tidak salah masuk ke rumah orang lain?”
Maaf telah membuatmu menunggu lama,” ucap Aria. Ia berjalan turun dari tangga dengan anggun.
Merlisa yang terlihat terkejut langsung berdiri dari sofanya.
“Kamu?”
“Hai, maaf membuatmu lama menunggu.”
“Bukankah kamu sekretaris Arsel? Pantas aku curiga padamu. Rupanya kamu yang membawa Arselku.”
“Siapa Arsel? Aku tidak mengenalnya. Sebelumnya, aku sangat berterima kasih denganmu karena sudah menyelamatkan suamiku tapi aku tidak membenarkan tindakanmu yang memberi identitas baru untuk suamiku. Bahkan kamu berbohong padanya kalau kamu adalah tunangannya.”
“Apa yang kamu maksud dengan suamimu?”
“Tentu saja Kanva suamiku, yang kamu beri nama Arsel.”
“Tidak mungkin.”
“Kamu tidak percaya? Aku bisa memberitahumu surat nikahku.”
“Kamu!!!!” Geram Merlisa.
“Terima kasih, bagaimanapun aku sangat berterima kasih padamu. Aku akan selalu menyambutmu jika kamu datang ke sini.”
“Aku ingin bertemu dengan Arsel,” ucap Merlisa.
“Kanva, namanya Kanva. Dia masih tertidur.”
__ADS_1
“Hubunganku dengan Arsel tidak sedangkal yang kamu pikirkan. Aku sudah bertunangan dengannya bahkan dia juga sudah menjabat sebagai manajer umum di perusahaan ayahku.”
“Hubunganku dengannya juga tidak sedangkal yang kamu pikirkan. Merlisa, apakah ayahmu belum memberitahumu bahwa suamiku sudah keluar dari perusahaan ayahmu.”
“Apa?” Teriak Merlisa. Wanita itu seakan murka dan ingin mencakar wajah cantik Aria.
“Pintu keluarnya ada di sana, atau kamu ingin mencicipi teh terlebih dulu. Silakan.”
Aria langsung meninggalkan Merlisa yang masih terlihat cemberut. Aria tidak memedulikan teriakan Merlisa yang menyumpahinya. Ia saat ini hanya ingin bertemu dengan Kanva, suaminya.
Aria langsung masuk ke dalam kamar Kanva. Pria itu baru saja keluar dari kamar mandi hanya mengenakan handuk yang melingkar di pinggangnya. Memperlihatkan otot perutnya yang sangat atletis.
Aria langsung memeluk pinggang tersebut.
“Kanva, aku sangat senang. Aku sangat gembira. Aku benar-benar merasa Tuhan sangat baik padaku karena sudah mengembalikanmu padaku.”
Di tempat lain, rupanya Merlisa masih berada di ruang tamu. Ia menatap lantai atas dan matanya tertuju pada pintu yang baru saja Aria masuki. Ia merasakan dorongan kuat untuk pergi ke sana dan menerobos masuk, melihat apa yang terjadi di dalam. Namun ia hanya menatap pintu itu tanpa daya.
Ia lantas tidak tahan dan pergi ke lantai atas. Mengetuk pintu seperti orang kesetanan.
“Siapa di sana?”
“Ini aku,” ucap Merlisa.
Pintu itu terbuka dan menampilkan wajah Aria.
“Ada apa?”
“Aku ingin bicara dengan Arsel.”
“Ada apa?” Tanya Kanva yang kini sudah berganti pakaian. Aria langsung berbalik dan melihat Kanva yang kini sudah mengenakan kaos polos dan celana kain.
“Dia ingin bicara padamu,” ucap Aria lalu berjalan ke dalam kamar sementara Kanva berdiri di depan pintu.
“Merlisa?”
“Aku ingin bicara denganmu.”
Mereka pun pergi ke ruang tengah. Kanva menatap Merlisa.
“Apa yang ingin kamu katakan?”
“Arsel, kita sudah hidup beberapa bulan bersama dan aku selalu memperlakukanmu dengan baik. Meskipun aku salah karena berbohong padamu. Tapi apakah kamu merasakan hal yang sama denganku?”
Kanva mengangguk. “Awalnya aku marah padamu karena kamu sudah berbohong padaku tapi setelah aku pikir, jika bukan karena kamu, aku mungkin akan mati sejak lama.”
“Terlepas aku menyelematkanmu dan membohongi hubungan kita, bagaimana perasaanmu tentang aku? Arsel, aku benar-benar jatuh cinta padamu. Bahkan sebelum aku tahu bahwa kamu mempunyai istri makanya aku berbohong padamu. Arsel, bagaimana perasaanku padaku?”
“Aku menyukaimu tapi dengan rasa yang berbeda seperti sekarang kakak. Dari awal aku melihatmu sebagai adik perempuan,” ucap Kanva berterus terang.
Senyum dan kegembiraan awal Merlisa menghilang pada saat itu.
“Apakah kamu mengatakan itu hanya karena kamu sekarang sadar bahwa kamu memiliki seorang istri?”
“Tidak, aku mengatakan itu karena memang itulah yang aku rasakan.”
__ADS_1
“Tapi beberapa bulan kemarin. Kenapa aku tidak merasa itu bisa dipercaya sama sekali? Perlakuanmu waktu itu sangat manis sekali.”
“Aku sudah menikah. Itu tidak mengubah fakta bahwa aku sudah menikah meskipun aku kehilangan ingatanku. Buang perasaanmu,” ucap Kanva seolah itu sama sekali tidka berdampak untuk Kanva.
Kanva kembali kamarnya. Aria yang awalnya sedang membaca buku langsung menutup bukunya.
“Apa yang kalian bicarakan?”
“Hanya bicara biasa saja.”
Menyadari bahwa Kanva enggan untuk berbicara, Aria tidak menanyakan lebih lanjut.
“Aria,” panggil Kanva.
“Ya.”
“Izinkan Merlisa untuk tinggal sementara di sini. Dia tidak mempunyai keluarga di sini atau tempat tinggal.”
Aria mengerti maksud Kanva jadi Aria menyetujuinya. Hitung-hitung buat balas budi karena sudah memberi Kanva tempat nyaman selama ini.
Saat makan siang, bibi Ina menyiapkan makan siang. Waktu itu rupanya Yiren dan Aidan berkunjung. Semua orang duduk di meja makan. Begitu Kanva duduk, Merlisa bergegas duduk di sampingnya.
Aria satu-satunya orang yang belum datang.
“Aku akan memanggil Aria,” ucap Yiren. Tepat saat ia berdiri, ia mendengar langkah kaki mendekat dari tangga.
Yiren duduk lagi. Semua mat tertuju pada Aria ketika ia menuruni tangga. Kanva tertegun dan matanya terus menatap Aria ketika dia berjalan menuju meja makan perlahan.
Aria memancarkan keanggunan yang menawan dari ujung rambut sampai ujung kaki. Kanva menelan ludahnya dan menatap sosok mungil sampai Aria duduk di sampingnya.
“Maaf membuat kalian menunggu. Mari makan.”
Semua orang kemudian mengambil sendoknya dan mulai makan.
Aria merasakan bahwa sejak tadi Merlisa selalu menatapnya jadi ia tersenyum dan langsung bertanya, “Nona Merlisa, apakah ada sesuatu di wajahku? Kenapa kamu terus menatapku?”
“Kamu terlalu cantik,” ucap Merlisa sambil tersenyum canggung.
“Terima kasih. Nikmati makan siangmu.”
Aria pun mengambil udang yang akan diberikan untuk Kanva.
“Arsel tidak menyukai udang,” ucap Merlisa mengingatkan.
“‘Kamu tidak suka udang?” Tanya Aria.
Kanva mengangguk, “Ya, aku tidak menyukainya.”
Tanpa kata, Aria mengulurkan udang yang ia ambil ke piring Aidan sebagai gantinya. “Aku tahu kamu suka udang.”
Aidan langsung memakan udang pemberian Aria. “Ini sangat enak.”
Aria tersenyum dan kembali mengambilkan udang untuk Aidan. Kanva merasakan kecemburuan aneh.
“Aku juga ingin,” kata Kanva.
__ADS_1
Semua orang berbalik untuk melihatnya.