Kuambil Apa Yang Menjadi Milikku

Kuambil Apa Yang Menjadi Milikku
18. Kembalinya Ingatan ?


__ADS_3

Aria tahu bahwa Merlisa hanya ingin hubungannya dengan Kanva merenggang maka dari itu dia menciptakan hal-hal yang bisa menyebabkan kesalahanpahaman. Tatapan Aria yang awalnya tajam kini menyipit karena kini ia tersenyum.


Ia meraih tangan Kanva. “Sayang bukankah kita harus melakukan bisnis. Sudah saatnya kita harus mempunyai anak.”


Kanva menyeringai setelah itu mereka berjalan pergi mengabaikan Merlisa. Merlisa hanya bisa tercengang. Ia berbalik hanya untuk melihat kedekatan mereka. Tiba-tiba ia menemukan fakta bahwa Aria bukanlah wanita biasa karena bahkan ia tidak marah setelah mendengarkan kata-kata jahatnya.


Ia mengepalkan tangannya dengan erat sehingga kuku-kukunya menancap tajam ke kulitnya.


Sebenarnya tidak hanya Merlisa yang kesal. Aria juga sangat kesal dan marah namun ia berusaha untuk menekan amarahnya sampai mereka memasuki ruang tamu. Ia langsung menyentak tangan Kanva yang memegang tangannya.


Kanva tercengang, ia tahu bahwa Aria sangat marah. Tidak pernah terpikirkan olehnya bahwa Merlisa akan mengatakan sesuatu yang sangat bisa merusak hubungannya dengan Aria.


“Sayang, aku berani bersumpah aku tidak pernah berbicara dengannya bahkan minum dengannya. Dia hanya bicara omong kosong.”


Aria berjalan ke atas dan mengabaikan penjelasan dari Kanva.


“Aria….”


“Sayang….”


“Honey….”


Aria langsung berbalik dan bersedekap dada. “Aku percaya padamu tapi pernahkah kamu berpikir mengapa dia mengatakan itu di depanku dengan sengaja? Kamu lah yang mengizinkannya tinggal di sini. Kamu sebaiknya memikirkan cara agar dia pulang ke rumah mereka sendiri dan pastikan dia tidak muncul di depanku.”


“Dia dan keluarganya adalah penyelamat hidupku. Aku tidak bisa mengusir mereka.” Kanva mencoba membantah gagasan Aria.


“Baiklah, ke depannya jangan menyentuhku dan tinggalkan gagasan kita memiliki anak.”


“Aku tidak…Aria…”


Aria langsung berjalan cepat ke kamarnya. Ia mengunci kamarnya dari dalam begitu ia masuk. Kanva mengejarnya namun rupanya ia tidak bisa membuka pintu kamarnya. Ia langsung bergegas ke ruang kerjanya hanya untuk menemukan kunci cadangan.


Ia segera membuka pintu kamar dengan kunci cadangan tapi segera setelahnya ia ditendang keluar. Ia mencoba masuk lewat jendela namun sama saja, Aria tidak memperbolehkannya masuk.


Pada akhirnya, Kanva berjalan ke ruang tamu dan duduk bersila di sofa. Ia kemudian merenung. Ia seakan sedang berkelahi dengan pikirannya sendiri.


Lalu ia mencoba untuk menelepon Yiren teman Kanva.


“Halo, Kanva ada apa?”


“Temanmu marah padaku. Kemarilah dan bujuk dia untukku.”


“Kenapa harus aku?”


“Karena kamu adalah satu-satunya harapanku.”


“Baiklah aku akan ke sana.”


...…....


...****************...

__ADS_1


Hanya menunggu beberapa jam saja, Yiren sudah datang ke rumahnya. Kanva langsung menceritakan situasinya. Alasan kenapa Aria marah. Yiren pun bisa menarik kesimpulan dan wanita itu tentu saja mendukung keputusan Aria namun di sini ia diminta untuk membujuk Aria. Betapa besar beban yang harus di pikul Yiren.


“Akan aku lakukan semampuku.”


Yiren pun berjalan ke lantai atas dan langsung mengetuk pintu kamar utama.


“Aria, ini aku. Yiren.”


Aria langsung membukakan pintu kamarnya dan langsung menarik tangan Yiren ke dalam.


“Yiren, apakah ibumu sudah sembuh. Terakhir kamu pergi begitu saja karena alasan kamu harus pergi ke rumah sakit.”


“Sebenarnya….ya itu…..ya ibuku baik-baik saja,” ucap Yiren agar ragu. Karena sejujurnya alasan Yiren balik lebih dulu bukan karena ibunya sakit. Lebih karena teman dekatnya yang kini menjadi pacarnya memintanya untuk segera kembali.


“Aria…aku ke sini karena ingin memberitahumu.”


“Apa? Aku sangat penasaran.”


“Aku sedang mencoba untuk berkencan.”


Aria melihat kegembiraan luar biasa di mata Yiren.


“Siapa pria yang beruntung itu? Apakah kalian sudah kenal sejak lama? Apakah dia baik?”


“Ya, aku mengenalnya sejak lama. Kamu juga pasti tahu. Dia orang yang baik.”


“Katakan padaku, siapa namanya?”


“Noah.”


“Ya.”


“Astaga, aku tidak percaya tapi aku bahagia mendengarnya.”


“Aria, Kanva memberitahuku tentang dia yang membuatmu kesal. Dia duduk di sofa sendirian untuk merenungkan dirinya ketika aku tiba di sini.”


“Aku tidak percaya dia akan merenungkan kesalahannya.”


“Itu benar, aku pikir dia sangat mencintaimu. Meskipun dia kehilangan ingatannya tapi dia masih mencintaimu seperti dulu. Tapi ada sesuatu yang aku tidak yakin apakah aku harus memberitahumu.”


“Katakan padaku,” ucap Aria, mendengarkan dengan penuh perhatian.


“Seseorang memberitahuku bahwa Kanva sudah mendapatkan kembali ingatannya.”


“Aku merasakan hal yang sama denganmu tapi untuk apa dia merasahasiakan dariku jika ia mendapatkan ingatannya kembali.”


Yiren mengangguk. “Makanya aku hanya bilang menebak-nebak.”


“Apakah aku harus mengujinya apakah dia benar-benar mendapatkan ingatannya kembali. Haruskah kamu membantuku?”


“Bagaimana?”

__ADS_1


Aria memberi intruksi agar Yiren mendekat. Yiren mencondongkan tubuh ke depan setelah itu Aria membisikkan sesuatu padanya. Mata Yiren langsung membulatkan dengan sempurna.


Setelah itu, Aria segera turun menemukan Kanva masih duduk di sofa dan tetap diam.


“Kanva.”


Kanva langsung mendongak, “Mengapa sangat lama?”


“Kami sedang mengobrol, sepertinya dia sangat marah padamu. Coba naik ke atas dan bujuk dia.”


Kanva segera meluncur ke atas setelah mendengar kata-kata Yiren. Yiren tersenyum dan langsung membuntuti Kanva. Ia bersembunyi di dekat pintu dengan tenang untuk menyaksikan apa yang terjadi.


Kanva memasuki kamar untuk menemukan bahwa Aria sedang bebaring di tempat tidur dengan tangan di atas perutnya dan memegang beberapa pil. Mata Kanva langsung melihat botol obat di sebelahnya.


Wajah Kanva langsung pucat.


“Aria….Aria…”


Kanva mencoba untuk membangunkannya namun Aria masih tetap diam. Air matanya sudah menumpuk di pelupuk matanya namun ia berusaha untuk tenang dan berpikir jernih. Dengan itu ia teringat Aria tidak akan bertindak konyol semacam ini.


“Cukup! Berhenti berpura-pura.”


Kanva mencoba menggelitik Aria. Aria langsung tersentak karena tindakan Kanva.


“Siapa yang berpura-pura?”


“Jika kamu tidak berpura-pura, mengapa kamu menggunakan obat ini dan mencoba menakutiku. Kamu pikir aku tidak cukup mengenalmu?”


“Apa yang kamu ketahui tentang aku?”


“Aku tahu karaktermu dengan baik.”


Aria lantas duduk tegak dan tersenyum. Kanva terjebak dalam permainannya.


“Memangnya seperti apa karakterku?”


“Kamu tidak akan melakukan percobaan bunuh diri.”


“Kenapa tidak?”


“Wanita penakut sepertimu tidak akan berani.”


Aria lantas menyipitkan mata. “Aku lapar. Katakan pada bibi Ine untuk menyiapkan makanan kesukaanku.”


“Steak dan juga mie goreng.”


“Ya, bawakan aku minuman anggur yang paling manis. Aku ingin minum.”


“Kapan kamu suka minum? Aku tidak mengizinkanmu untuk minum minuman yang beralkohol. Kamu bahkan tidak kuat bau minuman alkohol.”


Kanva langsung terdiam karena lidahnya tergelincir.

__ADS_1


“Kapan kamu mendapatkan kembali ingatanmu?” Tanya Aria menyelidik.


Yiren yang tadinya berada di luar kini ia langsung pergi untuk menemui Franz guna untuk bertanya mengenai keadaan Kanva.


__ADS_2