
Aria pergi ke salah satu mall terbesar di kotanya. Ia sedang sibuk mencari perintilan-perintilan buat acara kejutannya untuk Kanva. Tampak jelas sekali Aroa begitu berminat memilih kotak kado yang akan dijadikan tempat untuk kejutannya.
Tak hanya itu, rupanya Aria juga mampir ke toko tas, baju dan sepatu. Seharian itu, Aria mengelilingi besarnya Mall. Barang yang ia inginkan sudah ada di tangan dan rupanya perutnya juga sudah merasakan lapar.
Ia mampir ke sebuah kafe. Kafe itu sangat unik, di bawah diperuntukkan untuk toko baju dan aksesoris yang di atas di peruntukan untuk kafe.
Aria memesan kue dan juga es kopi. Aria benar-benar menikmati waktunya karena memang ia jarang keluar sendiri.
Tanpa Aria ketahui rupanya sejak tadi, Darel sudah mengikutinya dari Mall sampai ia berada di kafe. Pria itu selalu memperhatikan Aria sampai wanita itu keluar dari kafe.
Betapa terkejutnya dia, melihat saat Aria terjatuh karena mencoba menghindari sebuah motor yang melintas di trotoar.
“Aria, apakah kamu baik-baik saja?” Tanya Darel langsung menolong. Wajahnya terlihat khawatir.
“Aku baik-baik saja,” ucap Aria.
“Kita ke rumah sakit sekarang,” ucap Darel.
Aria tidak menjawab namun tiba-tiba ia pingsan yang membuat Darel semakin panik. Entah kenapa hati Darel langsung sakit melihat mata Aria yang menutup rapat.
Sepanjang perjalanan, Darel dipenuhi dengan kekhawatiran dan ketakutan. Setibanya di rumah sakit, Aria langsung di bawa ke ugd. Darel langsung memerintahkan dokter segera memeriksa Aria.
Di sana dokter langsung dan langsung menunjukkan kondisi Aria. Darel baru mengetahui bahwa kaki Aria terdapat darah mengalir yang sudah mengering. Darel terkejut karena ia tidak menyadarinya sebelumnya.
Setelah memeriksa tanda-tanda vital dan mengambil sampel darah. Aria langsung di usg. Darel kewalahan dengan isi otaknya dan juga perasaan yang tidak bisa dijelaskan ketika kandungan Aria sedang diperiksa.
Saat ia menunggu di luar, tiba-tiba ponsel Aria berdering. Itu adalah panggilan dari Kanva. Darel langsung mengangkat panggilan tersebut dan memberitahu tentang kondisi Aria saat ini.
Kanva datang setelah Aria sudah dipindahkan di ruang rawat inap. Sampai di depan kamar Aria di rawat. Kanva langsung menarik kerah baju Darel dengan murka.
“Apa yang kamu lakukan pada istriku?”
“Aku tidak melakukan apa-apa. Seseorang menyerempet Aria hingga jatuh, untung saja kandungannya tidak apa-apa.”
“Apa maksudmu?”
“Sebaiknya kamu di dalam, jika ingin mengetahuinya.”
Aria berbaring di tempat tidur, meskipun ia mendengar suara pintu terbuka. Ia sama sekali tidak memindahkan pandangannya dari perutnya. Sampai ia mendengar suara yang begitu akrab di telinganya.
“Aria.”
Lalu Aria merasakan sebuah tangan hangat yang memeluknya erat.
“Apa yang terjadi? Tidak bisakah kamu diam di rumah. Apakah kamu senang selalu membuatku khawatir?”
__ADS_1
“Maafkan aku. Aku pergi keluar hanya ingin memberimu kejutan.”
“Kejutan? Dan ya, kamu berhasil membuatku terkejut.”
Kanva benar-benar kalut, tapi untuk saja tidak ada luka yang terlalu parah. Hanya lecet di beberapa titik saja.
“Sebenarnya, aku ingin memberi kejutan ini.”
Aria memberikan sebuah hasil usg terakhirnya pada Kanva. Awalnya Kanva tidak mengerti, ia melihat hasil usg dan melihat ke arah Aria.
“Ini?”
Aria mengangguk dan tersenyum, “Ada Kanva kecil di sini.”
Kanva langsung terdiam tak ada ekspresi.
Sebelum Kanva masuk ke dalam kamar rawat inap. Darel memberitahukan bahwa Aria sedang mengandung anaknya. Tentu saja Kanva tidak percaya. Ia langsung memukul wajah Darel karena murka.
Keesokan harinya, Aria diperbolehkan pulang. Tentu saja pengawasan semakin ketat. Aria tidak diperbolehkan terlalu capek, pergi keluar dan melakukan hal apa pun. Yang bisa Aria lakukan adalah tidur, membaca novel dan menonton televisi.
Di tempat lain, Kanva menyuruh seseorang untuk menyelidiki apa yang dilakukan Darel dan Aria sebelumnya. Bukan Kanva tidak percaya dengan Aria namun ia hanya memastikannya saja karena otaknya selalu mengingat perkataan Darel.
Hanya butuh sehari, Kanva sudah mendapatkan beberapa bukti yang membuat hatinya hancur. Bukti dimana Aria dan Darel memesan sebuah kamar hotel dan terlihat berdua memasuki kamar hotel.
Prang!!!!!
“Presdir, ada apa?”
“Enyahlah!!!!”
Franz disambut dengan pandangan Kanva yang murka, ada jejak air mata di sana namun ekspresinya memiliki ekspresi menakutkan.
Melihat laptop yang hancur berkeping-keping di tanah, Franz memberanikan diri untuk berjalan ke arahnya. Franz mencoba untuk menenangkannya.
“Presdir, ada apa? Jangan bersikap seperti ini?”
“Apakah kamu tidak mendengar ucapanku? Aku bilang keluar!” Kanva berteriak marah.
“Baiklah, saya akan pergi.”
Franz langsung pergi baru saja ia menutup pintu, ia mendengar suara benda pecah terlempar ke lantai. Franz tidak berani masuk.
Kanva berdiri di dekat jendela, melihat pemandangan kota yang terlihat gemerlap oleh cahaya lampu. Ia berdiri di sana. Kepalanya sakit dan berdenyut.
Tangannya gemetar, ia tidak bisa mengendalikan luka yang ada di hatinya. Ia merasa seolah-olah ditikam oleh belati. Ia telah kehilangan semua kepercayaan pada cinta. Jika ia tidak menyelidikinya sendiri, ia bahkan tidak akan percaya dengan omongan Darel.
__ADS_1
Namun kenyataan tampaknya baru saja menamparnya keras.
Kanva bersandar di sofa, seolah-olah ia telah kehilangan pijakannya, jutaan pikiran terlontar dalam benaknya sepanjang malam.
Kanva tidak pulang ke rumahnya dan lebih memilih untuk menginap di apartemen yang ia miliki sebelumnya.
Pada saat yang sama, Aria terbangun di tengah mimpi dan menatap kosong sampingnya. Ia menatap jam di atas nakas. Ini sudah larut malam dan Kanva masih belum pulang. Aria terus berbaring di atas ranjangnya namun rasa kantuknya sudah lama hilang.
Karena ia tidak bisa tidur dan Kanva belum pulang. Aria memutuskan untuk meneleponnya.
“Halo, Kanva. Kenapa kamu belum pulang?”
Setelah hening sejenak, Kanva menjawab dengan suara serak, “Apakah kamu menyembunyikan sesuatu dariku?”
“Tidak. Aku sudah memberitahukan semuanya padamu.”
“Apakah kamu benar-benar yakin?”
“Ya, Kanva apa yang salah dengan suaramu? Apakah kamu sakit?”
Air mata mengalir di wajah Kanva saat ia berbaring di ranjang hotel. “Berhenti berpura-pura, Aria.”
“Kanva, ada denganmu? Katakan padaku apa yang membuatmu kesal.”
“Kamu berbohong padaku. Aria beraninya kamu membohongiku? Bagaimana bisa kamu memperlakukanku seperti ini?” Bentak Kanva.
Aria bergetar kaget, bingung mengapa Kanva marah besar padanya. Meskipun ia menyembunyikan kehamilannya, bukankah pada akhirnya ia memberitahukannya?
“Kanva, jika kamu marah karena aku menyembunyikan kehamilanku. Sungguh aku hanya ingin memberitahukanmu di waktu yang tepat.”
“Mengenai bayi yang ada di kandunganmu….kamu tidur dengan Darel san anak itu miliknya. Apakah kamu pikir aku tidak tahu?”
Aria akhirnya menyadari titik permasalahannya.
“Aku sama sekali tidak melakukannya. Anak ini milikmu.”
“Bisakah kamu membuktikannya?” Tanya Kanva.
“Aku tidak bisa tapi aku mengatakannya yang sebenarnya. Tidakkah kamu percaya padaku?”
“Aku tidak bisa mempercayaimu. Dia tidak akan mengatakan apa yang terjadi diantara kalian berdua jika dia tidak melakukannya. Aku juga sudah mengetahui rekaman saat kalian berdua memasuki kamar hotel.”
“Kanva, dia salah paham. Kamu juga salah paham. Aku…”
Aria langsung terbungkam saat panggilannya diputus secara sepihak. Aria buru-buru memberi pesan pada Kanva apa yang terjadi malam itu. Setelah itu, Aria kembali meneleponnya berulang kali tetapi Kanva selalu menolak panggilannya.
__ADS_1
Ia sangat kesal karena ia tidak bisa meluruskan kesalahpahaman ini. Ia kira Darel adalah pria yang paling susah dijelaskan namun Kanva jauh lebih susah.
Aria terus duduk di tempat tidur selama dua jam. Langit yang tadinya hitam berubah ada semburat warna cerah. Aria mulai menangis. Ia meraung tanpa henti.