
Malam ini, Aria dalam perjalanan menuju sebuah resto untuk makan malam sekaligus membicarakan bisnis, memenuhi ajakan CEO Dava. Kebetulan Yiren tidak ikut, wanita itu memilih untuk berjalan-jalan mencari angin segar sendirian.
Aria baru saja turun dari taksi ketika melihat CEO Dava mondar-mandir di depan resto, sesekali melihat jam tangannya. Ia tersenyum lega ketika melihat Aria menghampirinya.
“Maaf telah membuat anda menunggu lama,” ucap Aria sedikit tidak enak.
“Tidak, aku baru saja tiba. Dan jangan bicara formal padaku.”
“Tapi—”
“Ayo masuk,” ajaknya menyentuh punggung Aria dan mengajaknya masuk ke dalam.
Rupanya Dava sudah memesan tempat di sana. Karena begitu mereka masuk, waiter menunjukkan meja untuk mereka.
“Kita makan malam dulu sebelum membahas pekerjaan,” ucap Dava lalu mereka pun memesan beberapa menu untuk makan malam.
“Anda sering datang ke sini?” Tanya Aria basa-basi setelah memesan beberapa menu.
Dava menggeleng. “Sudah aku katakan, jangan memakai bahasa formal. Panggil saja nama.”
“Tapi itu terdengar kurang sopan.”
“Kalau begitu panggil saja mas Dava.”
“Apa?” Aria sedikit terkejut namun ia mengangguk menunjukkan bahwa ia setuju.
Makanan pesanan mereka datang.
“Ayo kota makan dulu, Aria.” Senyum lebar Dara menular ke Aria. Jujur Aria juga lapar.
Aria baru saja meminum green tea miliknya ketika merasa Dava memperhatikannya. Ia mengangkat wajahnya dan tersedak.
“Hati-hati.”
Dava bergegas mengulurkan sapu tangannya yang buru-buru diterima Aria untuk mengeringkan bibir dam sedikit percikan di dagunya. Ia berusaha menghentikan batuk.
“Kamu kenapa, Aria?” Tanya Dava dengan khawatir.
“Uhuk…uhuk tid-huk uhuk tidak apa-apa.” Aria menutup bibirnya dengan sapu tangan milik Dava.
Batu ia Aria mulai mereda.
“Maaf,” ucap Aria.
“Kenapa malah meminta maaf?”
Aria tersentak merasakan sentuhan di punggung tangannya. Mendongak ia mendapati sorot penuh khawatir milik Dava.
Aria lantas buru-buru menarik tangannya karena merasa canggung. “Jadi mari kita bahas pekerjaan.”
“Aria…”
“Iya.”
“Aku rasa, aku menyukaimu, aku ingin kamu menjadi kekasihku.”
Mata Dava berbinar memandang Aria. Sarat akan harapan yang rasanya sulit dipenuhi oleh Aria.
“Maaf, saya…”
__ADS_1
“Tidak usah terburu-buru. Aku tahu ini terlalu cepat buat kamu. Bahkan aku mengungkapkan perasaan saya dengan dalih pekerjaan. Dava tertawa kecil, mengejek dirinya sendiri.
“Itu…”
“Tapi tenang saja, aku tidak akan mencampurkan adukkan perasaanku dan pekerjaan.”
Aria menunduk. Menarik napas sedalam mungkin.
“Jangan menolakku.”
“Anda tidak tahu siapa saya.”
“Mas…panggil aku mas. Lagi pula aku serius. Aku menduda hampir lima tahun. Dan aku pikir aku bisa mengakhiri kesendirianku bersamamu. Aku tidak peduli dengan masa lalumu.”
“Tapi—“
“Biarkan aku berusaha. Aku akan berhenti jika pada ujungnya aku menemukan kenyataan bahwa aku gagal mendapatkan kamu,” bisik Dava mengusap kepala Aria.
Satu minggu kemudian…
Dava benar-benar menempati janjinya. Ia memisahkan urusan antara pekerjaan dan perasaannya. Kesepakatan antara dirinya dan Aria akhirnya ditandatangani. Ini adalah kesepakatan yang selesai dalam satu bulan. Tapi saat ini diselesaikan dalam waktu sekitar dua puluh hari.
“Aria ada panggilan dari suamimu,” ucap Yiren.
Aria langsung mengulurkan tangan dan mengambil ponselnya dari tangan Yiren.
“Halo.”
“Ada apa denganmu?” Kamu baik-baik saja.” Kanva bisa merasakan ada sesuatu yang tidak beres dari suaranya.
“Kami sudah menandatangani kesepakatan dan kami larut dalam pesta sampai kepalaku pusing.”
“Jaga kesehatanmu di sana. Jangan sakit.”
“Merindukanmu,” ucap Kanva.
Sontak saja Aria langsung membeku untuk beberapa detik.
“Aku tahu kamu merindukanku.”
“Aku benar-benar merindukanmu setiap hari. Rasanya aku ingin terbang ke sana untuk melihatmu.”
“Aku akan segera kembali. Kanva, aku benar-benar mengantuk. Aku akan menutup teleponnya.”
“Baiklah. Aku mencintaimu.”
“Aku juga.”
Setelah menutup telepon, Aria kembali menenggelamkan kepalanya di balik selimut namun tiba-tiba Yiren menyibakkan selimutnya dengan paksa.
“Ada apa?” Gerutu Aria karena tidurnya kembali terganggu.
“Kamu tidak mendengarnya?” Tanya Yiren.
“Mendengar apa?”
“Dengarkan baik-baik. Sepertinya Aidan dan Lea sedang bertengkar.”
Aria memfokuskan pendengarannya. Mendengarkan dengan hati-hati, ia mengkonfirmasi bahwa itu memang suara Aidan dan Lea yang berdebat. Namun Aria tidak bisa memahami alasan perdebatan mereka.
__ADS_1
Matanya sudah tidak bisa membuka dan kepalanya pusing. Lagi pula pertengkaran mereka bukan urusannya.
“Jangan mengurusi urusan orang dan jangan menganggu tidurku,” ucap Aria yang langsung menggulung tubuhnya dengan selimut tebal.
Keesokan harinya, Aria bangun kesiangan. Yiren tidak membangunkan dirinya dan wanita itu juga sudah tidak ada di kamar hotel.
Aria dengan malas-malasan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Perutnya sudah lapar ia ingin segera makan.
Aria berjalan menuju ke kafetaria sendirian yang berada di lantai dua. Aria mengambil nampan dan mengambil beberapa makanan.
“Aria…”
Aria langsung tersenyum saat namanya di panggil. Dengan santai ia berjalan dengan nampan sarapan dan duduk di samping Aidan.
“Apakah tidurmu nyenyak?” Tanya Aidan.
“Ya,” ucap Aria. Ia lantas melihat ke arah Lea yang cemberut. “Apa yang salah dengan kalian?”
“Tidak ada.”
Lea tampak seperti dia ingin mengatakan sesuatu tetapi tidak jadi dan memilih menundukkan kepalanya dan fokus pada makanannya. Aria beberapa kali melirik ke arah Lea. Sementara Aidan duduk diam di sampingnya dan tidak terlihat mood yang baik.
Aria langsung menghambiskan makanannya dan saat ia hendak pergi, suara Lea membuatnya berhenti di tempatnya.
“Aria.”
“Ya.”
“Apakah kamu tahu Aidan masih mencintaimu sekarang?”
Jelas wajah Aidan langsung berubah begitu mendengar suara Lea. Aria memikirkan perdebatan mereka berdua tadi malam dan mengerti apa yang terjadi.
Aria tersenyum. “Kamu terlalu banyak berpikir. Kamu sudah menjadi istrinya bukankah itu berarti dia ingin menjalani kehidupan denganmu. Aku pikir kamu benar-benar salah paham. Aku dan Aidan sudah seperti keluarga, layaknya adik dan kakak.”
Lea langsung menghela napas panjangnya dan memijit keningnya yang berdenyut. “Aku mungkin banyak berpikir.”
“Jika kamu tidak yakin dengan hubunganku dengan Aidan. Aku bisa menjauhi Aidan.”
“Jangan! Jangan! Jangan karena aku hubungan kalian menjadi rusak.”
“Kamu sudah bertanya apa yang kamu khawatirkan. Apakah kamu masih khawatir?”
“Tidak. Maafkan aku. Maafkan aku Aidan, maafkan aku, Aria.”
“Jangan membicarakan masalah ini ke depannya.”
“Ya aku menyesal.”
“Baiklah, sepertinya hubungan kalian baik-baik saja. Kalau begitu aku akan pergi dulu.”
“Ya.”
Di tempat lain Kanva memanggil Franz. Pria itu sengaja meminta Franz untuk mengikuti kegiatan Aria di luar kota. Franz membawakan beberapa lembar foto Aria bersama pria lain yang tak lain dan tak bukan adalah Dava.
Di dalam foto tampak Aria dan Dava sedang makan malam berdua. Mereka juga berada di Taman kota. Dava tampak mengusap kepala puncak Aria.
Melihat perubahan ekspresi Kanva, membuat Franz sedikit takut.
“Apa yang mereka bahas selain pekerjaan?” Tanya Kanva dingin.
__ADS_1
“Itu…mereka…membahas….”
Mendengar ucapan Franz yang berbelit-belit, Kanva langsung menatap tajam ke arah Franz.