Kuambil Apa Yang Menjadi Milikku

Kuambil Apa Yang Menjadi Milikku
25. Perilaku Yang Bisa Menyakiti Perasaannya


__ADS_3

Aria tidak mengucapkan apa-apa, ia berjalan keluar ruangan meninggalkan Kanva sendirian tapi Kanva langsung mengejar Aria.


“Aria…” panggil Kanva tapi Aria tidak menjawabnya ia tetap berjalan menuju kamarnya. Sesampai di kamar, ia langsung mengunci kamar tersebut dari dalam sehingga membuat Kanva tidak bisa masuk.


“Aria…buka pintunya,” ucap Kanva sambil mencoba membuka gagang pintu, tapi percuma karena Aria menguncinya dari dalam.


“Aku tidak ingin berbicara padamu sampai kamu minta maaf pada Darel,” teriak Aria dari balik pintu.


“Apa kamu yakin bisa tidak bicara padaku?”


“Tentu saja.”


“Lalu kenapa kamu masih menjawab ucapanku?”


Aria langsung terdiam, akhirnya ia memutuskan tidak mengucapkan sepatah kata pun untuk menyahuti ucapan Kanva.


“Ayo lah sayang….buka pintunya.”


Tidak ada suara yang keluar dari bibir Aria, Kanva menghela napas lalu berjalan pergi dari sana. Dari dalam, Aria bisa mendengar langkah Kanva yang menjauh. Aria menghela napas lega lalu ia menuju kamar mandi untuk mandi.


Setelah lima belas menit, ia akhirnya keluar dengan baju tidurnya yang nyaman. Aria mengerutkan dahinya ketika melihat kamarnya gelap. Ia tidak ingat mematikan lampu. Karena malas menerka-nerka, akhirnua ia melemparkan tubuhnya ke kasur.


“Kanva menyebalkan,” ucap Aria kesal.


“Apakah aku semenyebalkan itu?”


Aria membulatkan matanya ketika mendengar sebuah suara di sebelahnya. Aria spontan teriak dan menggulingkan badannya sehingga ia jatuh ke lantai. Karena ia pikir baru saja mendengar suara setan.


Lalu tiba-tiba kamarnya menjadi terang. Kanva dnegan tergesa turun dari ranjang kemudian mendekati Aria.


“Kamu tidak apa-apa?”


“Sakit,” ucap Aria.


Lalu dalam hitungan detik Kanva menggendong Aria ala bridal style. “Akhirnya kamu berbicara.”


“Aku kira kamu setan,” ucap Aria kesal lalu Kanva menurunkan Aria di kasur.


“Memang ada Setan setampan diriku?”


“Dasar narsis!”


Aria masuk ke selimut dan memunggungi Kanva. Kanva tidak mengucapkan apa-apa. Ia tahu Aria masih marah soal tadi ia menonjok Darel kemudian ia berbaring di sebelah Aria. Kemudian Kanva memeluk tubuh kecil Aria.


Tidak lama kemudian Kanva mendengar dengkuran pelan Aria. Wanita itu sudah tertidur. Kemudian Kanva mencoba memejamkan matanya, tidak lama kemudian ia tertidur.


Keesokan harinya.


Aria membuka matanya perlahan, sinar matahari yang memasuki kamar membuat matanya silau. Aria menoleh dan mendapati Kanva tidak berada di sebelahnya, Aria mencoba duduk dan tersenyum kecil. Kemudian ia berdiri untuk mandi, tidak sampai dua pulih menit ia selesai.


Kemudian ia keluar kamar dan disambut oleh bibi Ine.


“Selamat pagi Nyonya Muda.”

__ADS_1


“Selamat pagi, dimana Kanva?”


“Tuan Muda mengatakan ia ada rapat penting pagi ini jadi tidak sempat membangunkan Nyonya Muda. Nyonya Muda, apakah anda ingin sarapan sekarang? Akan kami siapkan.”


Aria tersenyum sopan sambil mengucapkan terima kasih. Lalu ia berjalan menuju ruang makan. Aria duduk di meja makan, tidak lama kemudian ada beberapa pelayan membawa makanan yang berbeda-beda. Setelah semua makanan dan minuman di taruh di meja, Aria di tinggalkan sendiri.


Lalu Aria menikmati sarapannya sambil memikirkan seharian di rumah ingin melakukan apa saja lalu ia teringat sahabatnya, Iren. Aria mengambil ponsel yang diletakkan di meja makan sebelumnya kemudian memutuskan untuk menelepon Yiren.


“Yiren, ayo makan siang bareng! Sudah lama kita tidak ngopi-ngopi cantik.”


“Tentu saja, kebetulan ada cafe baru. Akan aku kirim alamatnya.”


“Oke jam berapa?”


“Jam sepuluh bagaimana? Tentu saja kita pergi ke Taman dulu untuk saling tukar pikiran.”


“Bilang saja kamu mau ngegosip. Oke jam sepuluh.”


“Taman biasa.”


“Ya. Kalau begitu kita ketemuan di sana,” ucap Yiren setelah mengucapkan selamat tinggal, Aria menutup teleponnya.


Ia melihat jam di ponselnya masih jam sembilan masih ada satu jam. Ia memutuskan ke kamarnya untuk mengganti bajunya. Setelah ia sudah mengganti baju, ia berjalan keluar kamar di sana ada bibi Ine.


“Nyonya Muda, ingin ke mana?”


“Aku ingin bertemu Yiren.”


“Sopir akan mengantarkan Nyonya Muda.”


“Tapi Nyonya Muda jika Tuan Muda tahu pasti….”


“Pastikan dia tidak tahu.”


Setelah tiga puluh menit, akhirnya ia sampai di Taman.


“Aria!!!!!”


Aria menoleh dan mendapati Yiren melambaikan tangannya. Aria langsung menghampiri Yiren.


“Wow, sudah lama kita saling kumpul begini. Aku ada kabar terbaru.”


Jika dua wanita saling bertemu tidak terasa mereka saling bertukar informasi. Dimulai dari curhatan mereka, kegiatan mereka, hobi baru, keresahan mereka dan berakhir acara gosip menggosip.


Dua jam kemudian mereka menuju ke sebuah cafe estetik yang baru saja buka.


“Ini baru saja buka dua hari yang lalu. Makanan di sini begitu enak,” ucap Yiren.


Mereka langsung memilih duduk dekat jendela. Setelah memesan makanan, Yiren langsung membuka tasnya dan memberikan sebuah undangan untuk Aria.


“Apa ini? Sebuah undangan pernikahan?” Ucap Aria begitu Yiren menyerahkan undangan tersebut dan begitu ia terkejut ketika membaca nama mempelai pengantin. “Kamu akan menikah?”


“Bagaimana? Kamu terkejut?”

__ADS_1


“Tidak hanya terkejut, bahkan aku sampai tidak bisa berkata-kata. Wah bahkan aku belum pernah melihat pacarmu itu.”


“Kamu makan siang tanpa mengajakku ya, Nyonya Muda Killian.”


Aria tiba-tiba mendengar suara Kanva di belakangnya, Aria menoleh dan mendapati Kanva sedang berdiri dengan senyumannya yang tampan sampai semua pengunjung cafe melirik Kanva namun pria itu tidak peduli.


“Kanva? Bagaimana bisa kamu ada di sini?” Tanya Aria, Kanva duduk di sebelah Aria.


“Karena kamu ada di sini,” jawab Kanva. Ia tersenyum miring kemudian ia menarik kursi Aria agar dekat dengannya tak hanya itu. Ia juga menarik pinggang Aria dan ia mengecup bibirnya.


“Aku merindukanmu,” ucap Kanva.


Yiren berdeham membuat mereka kembali fokus ke Yiren.


“Yiren, bagaimana kabarmu?”


“Baik.”


Kanva lantas melirik sebuah undangan yang ada di depan Aria.


“Ngomong-ngomong kapan kamu akan menikah?” Tanya Kanva.


“Seminggu lagi,” ucap Yiren santai.


“Aku berdoa, semoga kalian bahagia.”


“Terima kasih.”


Tiba-tiba ponsel Kanva bunyi. Kanva dengan kesal mengangkat panggilan tersebut. Ia akan memecat siapa saja yang meneleponnya ini.


“Apa?” Ucap Kanva dengan dingin tanpa melihat siapa yang memanggilnya.


“Presdir, nanti malam ada meeting penting.”


Kanva terdiam sejenak kemudian menatap wajah Aria.


Kanva benar-benar menghadiri rapat malam ini. Sementara Aria sibuk rebahan di kamarnya dengan semangkuk kentang goreng di tangannya. Entahlah nafsu makannya akhir-akhir ini mengalami kenaikan drastis.


Tiba-tiba ponselnya berdering dan rupanya nomor tak dikenal sedang meneleponnya.


“Halo,”


“……”


Aria langsung mengganti bajunya dan mengambil sebuah kunci. Bibi Ine yang melihatnya langsung bertanya kemana Aria pergi. Namun Aria yang terlanjur panik hanya menjawab seadanya saja.


Dan di sinilah Aria, di tempat karaoke.


“Apakah kamu Aria?”


“Ya, dimana dia?”


“Dia ada dalam sepertinya dia sedang frustrasi.”

__ADS_1


Aria melangkah maju dan melihat Darel yang tidak seperti biasanya.


__ADS_2