
Kanva semakin brutal menghentak. Aria hanya sanggup meremas tangannya sendiri ketika Kanva mencapai puncaknya. Aria tidak peduli dengan Kanva yang masih mengatur napasnya, ia tidak peduli dengan napasnya sendiri yang juga masih memburu. Ia hanya ingin memejamkan mata dan tidur.
“Aria…jangan tidur dulu. Aku masih mau kamu,” bisiknya pelan.
Aria hanya diam. Tidak ada tenaga untuk membantah. Pun ketika Kanva kembali memuai di sana, Aria hanya bisa menggigit bibir membiarkan akan bergerak menggapai kembali keinginannya.
“Astaga….” Gerutunya saat milik Aria berkedut mencengkeramnya.
“Bagaimana bisa kamu membuatku candu seperti ini, Ari…a…” desisnya mempercepat gerakannya.
Satu, dua, tiga lenguhan lolos dari bibir mungil Aria, menyusul lenguhan berikutnya. Kanva semakin cepat bergerak lalu mendadak ia menarik keluar miliknya, memiringkan tubuh Aria dan memasukkannya kembali. Kedua tangan Kanva mendekap Aria.
“Kanva…..”
“Bersama….”
Aria mengeluarkannya yang sudah membumbung tinggi, hingga pada akhirnya Kanva menggerung keras, meledak bersama.
Setelah aksi yang penuh panas dan panjang. Mereka saling mendekap.
“Kamu tinggal dan makan bersama Merlisa. Apakah kamu melakukannya bersamanya?”
“Tidak,” ucap Kanva.
“Apakah jamu benar-benar tidak merasakan apa pun untuknya?”
“Tidak.”
“Benarkah?” Tanya Aria sulit percaya.
“Apakah kamu tidak percaya padaku?”
“Ya,” jawab Aria. “Aku pernah melihatmu bercumbu di kantor dengan Merlisa.”
“Kamu pasti salah paham.”
“Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. Bagaimana aku bisa salah paham?”
Kanva langsung menempelkan ciuman manisnya di dahi Aria.
“Mungkin kamu melihatnya begitu, tapi aku bersumpah aku tidak pernah menyentuhnya kecuali berpegangan tangan.”
Mata Aria langsung menyelidik.
...…....
Aria tengah memilih camilan yang berderet di rak minimarket. Ia butuh cemilan untuk mengurangi kesal dan suntuknya setelah seharian bekerja.
Diambilnya beberapa snack favoritnya. Lalu ia kembali mendorong troli ke arah freezer. Memilih beberapa es krim yang dikemas dalam wadah-wadah besar.
“Aria?”
Aria langsung memutar tubuhnya ke arah suara yang berasal dari belakangnya.
“Aidan…”
__ADS_1
“Belanja?”
“Iya,” Aria meringis karena isi trolinya mirip selera anak-anak. Aneka camilan dan es krim.
“Sendiri?”
“Iya.”
Mata Aidan tampak berbinar.
“Maaf ya, kemarin sikap Kanva agak aneh.”
“Tidak apa-apa, aku yang salah. Mengajak istri orang keluar.”
“Tapi tidak apa-apa kan?”
“Seperti yang kamu lihat.”
“Jangan banyak main ke klub, kalau ada masalah cukup ceritakan pada orang terdekat.”
Aidan pun mengangguk. Pada akhirnya Aria dan Aidan mengobrol di minimarket. Duduk di depan teras sambil menikmati ramen cup dan juga kopi. Mereka saling membicarakan tentang pekerjaan, masalah hidup, dan juga hal random lainnya.
“Sudah waktunya, aku harus pulang.” Aria berucap setelah melihat jam tangan yang ada di pergelangan tangannya.
Aidan mengangguk dan menatap punggung Aria yang semakin memudar.
Ketika Aria tiba di halaman rumah, mobilnya perlahan melaju ke garasi. Ia turun dan pergi ke ruang tamu dengan masih mengenakan sepatu hak tinggi.
Ia ingin segera membersihkan dirinya namun matanya tak sengaja melihat Kanva yang sedang duduk di halaman samping rumah. Ia melihat punggungnya.
Senyum manis langsung tercipta di wajah mungilnya, ia berjalan menghampirinya dengan semangat.
Aria melangkah diam-diam. Ia melihat wanita berada di pelukan Kanva. Wanita itu adalah Merlisa yang sedang menangis. Aria berdiri di belakang pohon mengamati mereka berdua yang tidak saling bicara.
Aria terus mengamatinya sampai hatinya merasa jengkel. Lantas ia berinisiatif untuk memanggil Kanva dan hal yang tak terduga terjadi. Kanva menutup panggilannya. Karena itulah, Aria langsung berbalik meninggalkan merek berdua.
Berpura-pura tidak terjadi sesuatu. Ia kembali ke dalam rumah, menuju ke kamarnya untuk mandi dan mengganti baju.
Saat Kanva masuk, rupanya Aria sudah makan tanpa menunggunya. Kanva duduk di samping Aria.
“Kamu sudah pulang?” Tanya Kanva.
“Ya, kami dari mana saja? Kamu tidak menjawab panggilanku?”
“Aku pergi berjalan-jalan.”
Aria mengangguk lalu ia melanjutkan makannya. Ia mempertahankan ketenangannya, seolah-olah tidak melihat apa yang terjadi sebelumnya.
Setelah makan malam, kembali ke atas sama sekali mengabaikan Kanva.
Kanva yang merasa aneh atas sikap Aria langsung menyusulnya. Menerobos masuk dan langsung memeluk Aria dari belakang tapi apa yang ia dapatkan adalah penolakan.
“Apakah kamu marah?” Kanva mencoba bertanya.
“Tidak, aku tidak marah.”
__ADS_1
“Ekspresimu menunjukkan bahwa kamu marah namun kamu masih mencoba untuk menyembunyikannya?”
Aria mengabaikannya. Ia lantas melakukan kegiatan rutinnya sebelum tidur. Ia duduk di meja rias, ia memakai sheet masuk untuk wajahnya. Kanva kembali memeluknya dari belakang namun Aria memukulnya dengan sikunya sampai tepat ke selangkanngannya.
“Aduh!!!” Kanva menjerit kesakitan. “Kamu akan menderita jika sampai merusak barang milikku.”
“Tentu saja tidak, di luar masih banyak lelaki.” Aria lantas berdiri dan menuju ke ranjangnya.
“Maksud kamu apa? Apakah kami baru saja mengatakan bahwa kamu akan mencari pria lain?”
“Mungkin…aku cantik dan kaya. Seharusnya tidak terlalu sulit bagiku menemukan pria muda yang tampan yang aku inginkan.”
Kanva merasa harga dirinya sebagai suami di tantang.
“Sayang…aku tidak tahu kamu marah. Tapi apakah kamu harus melampiaskannya padaku? Oke aku salah meskipun aku tidak tahu kesalahanku apa. Aku minta maaf.”
Aria melepaskan sheetmasknya dan membuangnya ke tempat sampah. Ia lantas berbaring di ranjangnya.
“Sayang.”
“Kamu tidak salah. Kamu selalu benar. Kapan kamu pernah salah?”
Kanva mengulurkan tangannya untuk membujuk Aria. “Tidak ada gunanya kamu marah padaku.”
“Mengapa kamu tidak mengangkat teleponku?”
“Itu karena….” Kanva tahu pasti Aria akan marah besar jika ia mengatakan padanya bahwa ia bersama Merlisa pada saat itu, karena Kanva tahu Aria tidak menyukai Merlisa.
“Karena aku hanya berada di rumah. Aku merasa panggilan itu tidak terlalu penting.”
Kemarahan Aria semakin memuncak saat Kanva berbohong dengannya.
“Tidurlah, di ruang kerja.”
“Mengapa? Aku tidak ingin tidur di ruang kerja.” Kanva memprotes sambil naik di atas tubuh Aria.
Aria berusaha melepaskan dirinya sampai pada akhirnya ia kembali menendang barang milik Kanva yang berharga.
“Ahhh sayang.”
Aria lantas turun dari ranjangnya, mengambil pakaian yang akan ia kenakan untuk besok bekerja laku meninggalkan kamarnya.
Kanva menatap kamar tidurnya yang kosong, tidak yakin kenapa Aria benar-benar sangat marah. Ia berbaring sendirian di ranjang, merasa bosan karena tidak ada Aria di sampingnya.
Ia kemudian memutuskan untuk mencari ke mana istrinya tidur. Kanva menuju ruang kerja namun di sana rupanya kosong. Ia kemudian memeriksa kamar tamu namun rupanya di sana juga kosong.
“Apakah dia keluar?”
“Franz!!!!”
Franz langsung datang entah dari mana.
“Tuan Muda, ada apa?”
“Apakah kamu melihat Nyonya Muda?”
__ADS_1
“Tidak, aku tidak melihat Nyonya Muda.”
Kanva berbalik dan kebetulan Aria keluar dari dapur dengan segelas susu di tangannya. Aria berpura-pura tidak melihat dan mengabaikannya. Ia pergi ke ruang tamu. Sementara Kanva, ia merasa malu dan langsung naik ke lantai atas.